Rabu, 31 Januari 2018

Taman Prasejarah Leang-leang : Tempat Sederhana Yang Kau Datang Dengan Hati

Januari 31, 2018 0 Comments

Ada kebiasaan buruk saya yang sebenarnya sangat childish untuk takaran usia kepala dua ini. Yaitu, merasa kurang perhatian lalu kemudian mencari perhatian dengan mengenaskan, contohnya : si Suami 2 bulan ini sibuk luar biassaaahhh, tidak terhitung jumlah malam saya tidur memeluk sepi dan siang saya harus menjadi single parent karena jadwal padatnya yang terus saja menginap di Takalar.

Nah, Desember tahun kemarin adalah finish kontrak kerjanya, itu artinya memasuki bulan Januari tahun ini harusnya dia sudah punya waktu luang untuk membayar semua rasa sunyi dan lelah yang saya rasakan, tapi nyatanya… dia malah menjadi Pewe’ di rumah.

Secara teori Mars-Venus, yah… seharusnya saya bisa bijak memahami kelelahannya juga, dia yang waktunya habis banyak di Takalar pastilah akan merindukan rumah, leyeh-leyeh sama anak-istri, menikmati masakan rumah, dan duduk-duduk santai di teras sambil nyeruput kopi, ya kan ? itu teori. T-E-O-R-I.

Nyatanya, dalam berumah tangga, teori hanya seperti rempah lengkuas yang tinggal mengering di lapisan terbawah lemari pendingin. Kau lupa dia ada, karena garam dan gula lebih banyak memenuhi waktumu.

Apa yang saya lakukan untuk mencari perhatian? Saya mogok masak. Fiuuuuhhhh…..
Saya pikir, mogok masak seorang istri bisa mengguncang dunia. Ternyata saya salah besar, toh sekarang banyak warung makan, yang sedia lauk –pauk apalagi, dan parahnya suami saya ternyata jago masak. Habislah saya. Tapi yah namanya harga diri, saya tetap lanjutkan mogok masaknya.
4 hari berlalu dan kami berdamai, suami berjanji mengajak saya dan anak-anak berkemah ke Tampobulu. Luruhlah hati saya. katanya kita berangkat hari sabtu. Hati saya senang.

Tapi drama belum selesai. Hari sabtu ternyata si Suami ada agenda mendadak dengan tingkat prioritas tinggi. Kakak Fathi yang sudah terlanjur senang dengan rencana berkemah menjadi tantrum menagih janji. Saya kemudian membujuknya untuk mengganti berkemah di Tompobulu menjadi agenda makan burger di PTB. Alhamdulillah, dia mau menerima.

Malam hari, rencana ke PTB nyatanya harus batal lagi karena hujan deras.   

Malam itu, anak-anak membuat jarak dengan kami. Tatapan mata mereka seperti tatapan mata rakyat jelata yang melihat politikus yang selalunya mengumbar janji. Tahu rasanya ditatap begitu?  Perih.
Kami tidur dengan saling diam-mendiamkan. Drama masih berlanjut.

Ahad usai shalat subuh, Suami tiba-tiba nyeletuk : ‘De, hari ini kosong, agenda yang ke Gowa ternyata jatuhnya hari Rabu”

Hati saya langsung saja kerlap-kerlip. Kesempatan nih. Kata saya dalam hati. Saya mulai menganalisa tempat wisata yang dekat,  mengesankan, tempatnya nyaman, pemandangan oke buat foto-foto, dan penting : tidak menguras lembaran rupiah. Jatuhlah pada Taman Prasjarah Leang-leang Maros.

Daaannnnnn……  here are some pictures of greatest journey :























Nah, satu pelajaran : terkadang di balik foto bahagia seseorang, ada banyak drama yang tersembunyi di sana.
 ______________________
Tempat-tempat sederhana bisa membuatmu bahagia lebih dari apapun jika kau mendatanginya dengan hati.

Salam, Ummu fathi.


Masih dengan hati yang binar.

Teman Kecil Yang Ditemui Dalam Kedewasaan

Januari 31, 2018 0 Comments


Sudah jauh sekali perjalanan kita. Wajah kita terus bertemu disisan takdir, wajah kecil, wajah remaja, dan wajah ibu. Kita mengalami banyak hal yang sebenarnya, berapa-kali pun kita bertemu dan bercerita, tidak semuanya bisa selesai.  

Banyak hal yang kita alami, sudah selayaknya masing-masing kita punya keputusan tentang apa dan mengapa kita masih berteman-bersahabat saat begitu banyak orang lain lalu-lalang dalam hidup kita.
Mungkin karena kita perempuan, maka selalunya yang dibutuh adalah cermin. Bukan tentang wajah, tapi kepribadian yang mendewasa.

Semua hal mungkin bisa kita bagi dengan pasangan hidup masing-masing, tapi ada bagian yang hanya bisa kita temukan makna potongannya pada seorang sahabat.

Saya mensyukirimu, mensyukuri semua sahabat yang saya dapatkan.

Semoga, saya tidak berubah untuk menjadikan kalian hal yang tidak begitu penting karena sebab falsafah hidup yang harus dijunjung tinggi.

Karena kalian tetaplah teman kecil yang kini ditemui dalam kedewasaan. Jika dulu kita hanya bermain dan tertawa, hari ini dan seterusnya kita masih bisa menyediakan pundak untuk luka dan cerita. Kita selalu punya ruang untuk bisa tersenyum bersama.



Salam. Opy.

Mengingat Hakikat

Januari 31, 2018 0 Comments

sumber : Pinterest

Belakangan ini, saya mulai memikirkan tentang waktu yang begitu banyak berlalu tanpa hal yang berarti. Selain mungkin hanya status-status di medsos yang dipaksakan nampak berarti dan kerap kali diperbaharui, tapi iman, apa kabar ???

Saya bertanya pada diri saya, untuk usia 28 tahun ini, apa yang paling ingin saya capai.
Jawabannya kembali pada satu hal yang bahkan telah belasan tahun hanya menjadi impian : seorang penulis. Dengan karya.

Semoga tahun ini, InsyaAllah.

Beberapa waktu dalam sunyi seperti ini, (malam saat semua orang tertidur dan saya masih harus bertatap muka dengan laptop dan serangkaian perangkat pembelajaran serta tesis) pikiran saya berkelana pada keghaiban-keghaiban.
Pada alam kubur, padang mahsyar, syurga dan neraka.

Seringkali saya menatap laptop dengan tatapan kosong, membiarkan isi kepala saya dipenuhi semua hal-hal itu. Lalu saya beristighfar, dan rasanya dunia tidak berarti lagi.

Sepertinya saya sedang berada pada wilayah kesadaran akan hakikat. Pada sebuah buku yang pernah saya baca, berada pada kondisi ini sebaiknya harus kuat pemahaman pada ‘Tawazzun”-Keseimbangan.

Bahwa pemahaman pada keseimbangan hidup menjadikan kita tidak pincang mental dalam menghadapi gejolak pergerakan hidup.  Syukurilah jika tetiba hati dan pikiran kita diingatkan akan akhirat dan kita kembali tersadar tentang pejalanan kita yang hanya sementara, lalu ibadah kian baik tanpa melepas dunia tempat kita masih berpijak saat ini.

Bahkan jika esok telah kiamat, bukankah kita masih saja disuruh menanam hari ini?
Saya kemudian mencerna nasihat untuk menjadi sebatas musafir dalam hidup. Bahwa  sesingkat-singkatnya perjalanan sebagai musafir, kita akan bertemu teman dalam perjalanan ( Suami, anak, saudara, sahabat, keluarga, tetangga) maka berbuat baik pada mereka adalah bekal. Itulah mengapa islam mengatur hak dan kewajiban dalam ukhuwah, muamalah, juga dalam membina keluarga.

Menjadi musafir juga akan membutuhkan makan dan pakaian.  Lalu Allah SWT mengatur hukum halal-dan haram, agar kita tidak membawa pulang bekal yang berat dari kezhaliman memakan harta yang bukan hak kita.

Keterampilan hidup juga sangat penting bagi seorang musafir. Maka Allah mengaruniakan bermacam-macam bakat pada diri hambaNya, agar ia hidup dengan memaksimalkan diri sebab tanggung jawab khalifah fil Ardh telah menjadi takdir penciptaannya.

Sungguh, memikirkan semua itu membuat saya kembali luruh dalam cinta pada-Nya. Allah. SWt menciptakan hambaNya tanpa sedikit pun kezhaliman. Ditanamkannya fujur dan taqwa dalam diri tiap insan agar mereka mampu mengenali yang benar dan salah dengan alami sehingga lebih mudah untuk mengenali penciptaNya.

AllahuRahman.

Bimbing hamba untuk senantiasa berlaku seimbang dalam hidup. Ketika Akhirat menjadi tujuan tapi tidak membuat kami lalai dari hak-hak kehidupan dunia yang telah Engkau Atur, dan jadikanlah dunia ini hanya di tangan kami, bukan di hati.
________________
Ummu fathi,
larut malam. Sendiri. Hujan.

Perjalanan Panjang Untuk Kembali Menjadi Asing

Januari 31, 2018 0 Comments

Sudah banyak waktu kebersamaan kita. Tapi sepertinya, semakin jauh kita bersama semakin asing saja rasanya. Apa yang salah dengan kita? dengan perjalanan kita?

Prinsip. Sudut pandang.

Siapa yang lebih tahu tentang prinsip mana yang lebih benar dari siapa.atau sudut pandang mana yang lebih bijak dari siapa…

Kau boleh berubah. Tidak ada yang membatasi dirimu untuk menjadi apa dan mengapa. Karena perubahan dalam hidup adalah keniscayaan. Hanya saja, menurutku, orang-orang berubah dengan metamorphosis yang indah,  mengapa kau malah bersembunyi dalam cangkang pikiran dan falsafah hidupmu yang rumit itu.

Benarlah.

Orang-orang lalu-lalang dalam hidup kita, berteman, bersahabat, lalu kemuadian menjadi asing oleh waktu. Ah iya, seberapapun besar kita mencintai orang-orang, menyayangi mereka, pada akhirnya kita pulang dalam kesendirian. Kecuali doa-doa yang mungkin tak sengaja keluar dari ketulusan yang selama ini telah kita lupa dari mana datangnya.

Saya hanya ingin jujur tentang sedikit rasa kecewa. Saya menyebutnya dengan : “kekecewaan psikologis”.

Orang seperti saya, yang punya wilayah perasaan melankolis yang cukup luas ternyata belum siap untuk memahami baik tentang waktu adaptasi yang dibutuhkan seseorang untuk sekedar menjawab rindu bertahun-tahun lamanya.

Atau hanya saya saja yang berlebihan dengan rasa rindu itu, tapi bagimu rindu hanyalah pertemuan kecil yang buang-buang waktu dan tidak lagi sesuai dengan falsafah baru kehidupanmu.

Tidak mengapa, teman.
Semua orang akan berubah pada akhirnya.

Sumber Gambar : Pinterest
Sebagian orang berubah menjadi semakin dekat, dan sebagian lainnya menempuh perjalanan panjang untuk kembali menjadi asing. Seperti dirimu itu.

Kau Boleh Pulang Kapan Saja

Januari 31, 2018 0 Comments


Kau boleh pulang kapan saja
Tak perlu kau bawa intan berlian
Atau rupa-rupa hiasan dunia
Aku menunggumu dengan doa seperti dulu itu

Kau putraku
Yang tangis kecilnya memecah malamku
Yang gerakan kecilnya mencuri tidur siangku
Yang namanya menguasai aksara doa-doaku
Mengapa kau tak lagi pulang padaku?

Kelak kau datang
Ada wanita tua tergugu di tepi jendela
Sendiri mencicipi sunyi
Sementara angin mengusap lembut rambut kelabunya.

Kau boleh pulang kapan saja
Mata rabunnya mengenali aroma dewasamu
Tangan ringkihnya tak rapuh memelukmu
Sebab rindunya telah habis kau bawa lupa

Pulanglah nak.
____________
Rafiah. 17 Januari 2018.

Pada Hujan Kenangan Pulang

Januari 31, 2018 0 Comments





Terakhir kali rindu menjadi pilu
Saat hujan habis desember itu
 Kau tidak jua datang
Sementara luka setia pada waktu

Mengapa selalu pada hujan kenangan pulang
Pada rinainya matamu hadir
Pada dinginnya senyummu beku di ingatan
Dan aku lupa
Mengapa aku mengingatmu.
_____________

Rafiah


17 Januari 2018.

Percaya Pada Ketulusanmu.

Januari 31, 2018 2 Comments
sumber : Pinterest

Sudah sampai di mana saya dengan semua kalimat yang dipaksakan bijak saat berbicara denganmu?

Lihatlah ujian, begini banyak, begitu melelahkan. Sedang yang kau datangi hanyalah seorang “saya”, yang bahkan belum penuh untuk jujur tentang diri yang serasa hidup dalam cangkang kosong.

Hari ini saya membawamu pulang pada ujian-ujian para Nabi dan Rasul, tentang paradoks dari wajah ujian yang mereka hadapi. Tapi ada rasa malu yang menyelusup ringan, tentang bagaimana saya jika berdiri di wilayah ujianmu, mungkin mengunyah nasehatku sendiri akan sama rasanya seperti mengunyah batu.

Jangan percaya saya.

Percaya saja pada ketulusanmu, kau terlahir dengan itu, mungkin itu sebabnya nama dari ujianmu hanyalah penerimaan dan tawakkal.

Lalu Allah pertemukanmu dengan saya ini, yang selalunya lebih bijak pada orang lain dari pada diri sendiri. Mungkin itu sebabnya kita selalu di sisian jalan yang sama, agar saya menjadikanmu cermin untuk tidak lupa diri.

Selamat untuk begitu banyak CintaNya kepadamu. Bukankah Dia mencintai hambaNya dengan ujian?

Salam.
________________


Larut malam di pergantian bulan yang indah. 

Kamis, 18 Januari 2018

Belum (akan) Pergi.

Januari 18, 2018 0 Comments


Jangan menyuruhku pergi, 
Menuduhku tidak bertahan,
Mencurigaiku tak mampu disisimu.

Aku akan pergi, 
Jika memang tak lagi ada yang bisa kupertahankan
Dan ketika berada disisimu menjadi sebuah kesalahan.

Aku akan pergi.
----------------------------------------

Hancur, tepat di sini. 29 Mei 2016.

Minggu, 14 Januari 2018

Teras UNHAS- Menjadi Orang Tua yang Meremaja.

Januari 14, 2018 0 Comments
Hari ini ujian akhir final semester III, Alhmdulillah. Semester berikutnya tinggal menyusun tesis. Semoga Allah Azzawajall mengaruniakan kami kesehatan dan kelapangan rezeki untuk menyelesaikan tahap pendidikan ini, dan semoga ilmu kami menjadi ilmu yang bermanfaat, amal jariyah untuk kehidupan selanjutnya.

Di perjalanan pulang, Suami menawarkan untuk jalan-jalan melihat wajah baru "teras" UNHAS- yang sebenarnya sudah lumayan lama wajah barunya-  yang selama ini terlewat saja saat bolak-balik kuliah ke Pasca-UMI. 

Jadi, Yah.... sekali lagi postingan kali ini akan penuh dengan wajah saya dan suami. Blog ini benar-benar jadi pengalihan eksistensi dunia maya yang coba saya minimalisir. Di sini lebih nyaman untuk menyimpan semua kenangan, tanpa berisik notifikasi, atau nyinyiran orang lain yang hanya Allah yang tahu hatinya.

Oh ya, ternyata salah satu bagian terbaik menjadi orang tua adalah : menikmati keremajaan cinta. Mungkin seperti yang kami lakukan ini 😄😄😄:

💗 Kami 💗







Yang ini ngambil fotonya sambil nahan malu, merasa mata semua pengguna jalan raya depan Unhas sedang tertuju pada kami. Sudah ah.... banyak yang liat..



Sini atuh, kurapikan dulu kancing bajunya ... 😄













Pernah merasakan menjadi orangtua yang meremaja ?
itu bukan norak.
hanya seperti seorang nenek tua yang tetiba senang pada petualangan alam.
Sebagian oang mungkin mengatakan "lupa umur", sementara sebagian yang lain menyebutnya : "wonderful women"

Tapi apapun yang dikatakan orang-orang, si nenek tua hanya ingin bilang :
"saya bahagia".