Rabu, 24 September 2014

Perempuan Yang Terluka

September 24, 2014 0 Comments
Sumber Gambar

Malam, seperti biasa adalah spasi paling nyaman dari waktu yang kumiliki. Novel Hosseini belum juga khatam kubaca, tidak seperti biasanya ketika novel seperti itu bisa demikian menghanyutkan..

Ada perempuan yang datang siang tadi padaku. Pucat wajahnya bercerita lebih dari yang bisa dikatakannya. Yah, perempuan paling bisa bercerita dalam diam, hanya dengan tatap mata, hanya dengan helaan nafas, atau wajah tergugu bisu.

Jadi, apa yang diceritakan perempuan itu?

Luka.

Luka yang kian hari kian nganga, perih ditahannya bulan demi bulan, sebentar lagi luka itu berumur Satu tahun. Demi melepas sedikit dari sakitnya ia kemudian datang dan bercerita. Tentang lelaki yang dicintainya, tentang perempuan yang mencintai lelakinya, tentang penghianatan pahit yang dihadapinya. Satu-satunya yang ganjil dari semua kenyataan yang terjadi padanya, adalah : perempuan itu tidak menangis. Tidak sekalipun.

Bagaimana kau bisa bertahan? Sudah demikian memuakkannya suamimu itu. Kataku padanya.

Ia menoleh pada putra kecilnya.

"Demi dia". Katanya. Datar. Dingin.
_____

Lemah dan kuat adalah hal berlawanan yang perbedaannya menjadi tipis melapisi perempuan.

Demi anak katanya. Alasan itu membuatnya terlihat lemah, terkesan tidak berdaya. Tapi justru karena alasan itu Ia kuat.

Bagi perempuan, kelemahan bisa jadi kekuatan terbesarnya. Alasan bagi seorang perempuan bertahan dalam rasa sakit bisa saja hanyalah hal sederhana, semisal kenangan. Sebabnya banyak perempuan terlihat naif menahan derita, dicemoh bodoh karena bertahan, dianggap tidak berdaya karena tidak melawan.

Hei, ada satu rahasia kecil dari perempuan yang terluka.

Menunggu.
Ya, perempuan amat sangat pandai menunggui nasib. Jadi, bijaklah untuk tidak beradu klimaks takdir dengan perempuan, mereka selalu menang di akhir.  Karena perempuan yang terluka tahu bagaimana bertarung dengan derita.

Seperti perempuan yang datang padaku itu, katanya, ia bertahan semata memberi kesempatan. Bukan apa, saat tiba waktunya ia memutuskan untuk pergi, ia tak akan kembali.

Meski dunia memohon padanya.
_______

Perempuan yang terluka, selalu memulai pertarungan derita dengan bertahan, lalu memaafkan, kemudian melupakan.

Setelahnya, melanjutkan hidup dengan baik. Pun, itu Aku.

Sunyi malam,
Memikirkan perempuan itu, dan memikirkan perempuan seperti apa aku ini, ketika luka menghampiri.
24' 9 '14

Selasa, 09 September 2014

Episode Terakhir.

September 09, 2014 0 Comments


Episode terakhir The Fierce Wife. Dan ini adalah adegan percakapan yang paling nyentuh....
_____________

"Kau selalu bertanya apa artinya 10 tahun pernikahan kita? sekarang aku baru bisa menjawab, itu adalah saat paling bahagia dalam hidupku.

Aku tidak tahu mengapa aku bisa melukaimu dan mengatakan aku tidak mencintaimu lagi. aku tidak memohon kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau mengizinkanku menebusnya, aku akan habiskan sisa umurku untuk mencintaimu, mencintai putri kita.

Jika saja aku boleh meminta untuk menukar seluruh hari yang kumiliki dengan 1 hari saja.

Bukan hari yang istimewa, cukup satu hari yang biasa.

Kau memasak dan aku bermain ayunan dengan putri kita. Saat pulang kantor dan masuk rumah, kau segera berseru "kau sudah pulang?" dan aku mencium aroma masakan sayurmu yang lezat. Kita duduk berdua di sofa, menonton tv yang membosankan, dan aku mendengarmu mengeluh tentang harga sayur yang mulai naik, tetangga yang pindah, danp lainnya. Juga, kita bisa beristirhat 8 jam sehari.

Cukup hari biasa seperti itu. Dan kalaupun aku meninggal, aku ingin dengan hari-hari yang seperti itu."
_____________

Tapi, jawaban An Zhen membuat prediksi klimaks saya berantakan.
_____________

"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa kembali semula lagi..."
_________________

Hm, saya tidak bisa bayangkan penyesalan orang yang menghancukan rumah tangganya sendiri setelah sekian lama...

Sekian. :)

Kamis, 04 September 2014

Semisal Jarak Cahaya

September 04, 2014 0 Comments

Kadang kala, kita butuh jarak untuk menghidupkan cinta. Seperti jauh matahari yang menghidupkan tanaman ...

Tapi dengan cahaya, bukan sepi yang sekarat. 

Gadis Agustus dan Ice Cream.

September 04, 2014 0 Comments
Saya tidak lupa, hanya saja seringkali terlambat...

Jadi, kau sedang berbahagia. Beberapa orang tidak sepandai dirimu untuk berbahagia dengan hal kecil nan sederhana semisal menikmati ice cream di halaman TK bersama 2 gadis kecil. Sekali waktu, tentu, saya juga akan belajar cara merayakan bahagia seperti itu. :)

Agustus.

Kau berganti usia pada bulan dimana musim berganti juga. Itu hal yang manis. Dan kukira, Takdir selalu manis untukmu.

Untuk merayakan bahagiamu, ada selembar kertas kado berwarna hijau dengan motif bunga bertebaran penuh menunggu direkat dengan benda-benda kenangan. Tapi sebaris doa di ujung salam rakaat maghribku semoga mencukupi rupa-rupa hidupmu. :)

Doa tentang keberkahan. Dan keberkahan selalu lebih dari cukup.

Untukmu, Aisyah Istiqomah Marsyah.

________
Melihatmu menikmati ice cream, kukira kau perempuan paling bahagia sekarang... :)