Rabu, 23 November 2016

Godaan Menjadi Pribadi Biasa-Biasa Saja.

November 23, 2016 2 Comments
Sumber Gambar
Ujian terberat menjadi seorang Pemimpin adalah godaan untuk menjadi pribadi yang biasa-biasa saja.

Ahad minggu ini, saya terlambat menghadiri liqo. InsyaAllah alasannya syar'i. Tapi rasanya lega, setelah ikhtiar membiarkan Abi memacu motor dengan kencang sepulang kuliah demi bisa hadir liqo biar hanya di ujung waktu (biasanya saya minta pelan-pelan saja) dan rasanya benar-benar rezeki ketika di akhir kalimatul-murabbi, beliau mengatakan kalimat itu.

Sebait kalimat yang membuat hati tetiba disejuki embun.

Saya mulai meresapi kalimat itu. Mungkin benar, menjadi orang yang biasa-biasa saja di zaman seperti ini sungguh bukan pilihan yang bijak. Zaman ini membutuhkan generasi Islam yang lebih kokoh, bukan sekedar kokoh akidah, tapi kokoh yang kaffah. Segalanya : Ilmu,Pengetahuan, Pengabdian, Kepemimpinan, Skill,Ekonomi,dan fisik.

Maka generasi islam yang kokoh adalah muasal dari kesadaran tiap individu untuk menjadi muslim yang tidak lemah. Yang tidak mudah lelah. Yang pantang mengeluh pada amanah. Karena hakikatnya, kita sedang berjual-beli dengan Allah. Jual beli yang tidak akan pernah rugi. Kita menjual seluruh waktu, keringat, harta, rasa lelah,air mata hanya kepada Allah. Dan yakinlah, Allah pasti membayarnya dengan harga yang tidak pernah kita kira.

Menjadi pribadi biasa-biasa saja untuk zaman ini, adalah kesalahan. Saya tidak bicara dalam konteks "kesederhanaan", yang saya maksudkan adalah "membatasi diri". Iya, zaman ini membutuhkan kita yang punya prinsip kuat terhadap akidah sekaligus manfaat yang besar pada kehidupan. Zaman ini membutuhkan peran pribadi muslim yang tidak terbatas dalam bilik-bilik masjid, tapi juga mampu hadir di panggung-panggung politik, di ruang-ruang perkantoran, di balik sistem ekonomi, di kolom media, di kelas-kelas pendidikan. Pribadi muslim yang bukan hanya pandai membaca ayat, tapi juga mampu mengaplikasikan Islam sebagai sebuah agama yang sempurna untuk setiap detail kehidupan. Dan percayalah, kita tidak akan menjadi generasi harapan, jika godaan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja telah membuat kita duduk manis menonton zaman. 

Menjadi pribadi muslim adalah ikhtiar membangun jiwa Khalifah dalam diri kita. Jiwa khalifah yang hadir dengan segala kemampuannya, melangkahi batas-batas kekurangannya, mendidik diri dengan perjuangan, menguatkan hati pada pengorbanan, dan menuliskan namanya dalam tegaknya peradaban Islam di bumi ini.

Kita terlahir sebagai Khalifah. Pemimpin.
Maka sekecil-kecilnya peran yang kita lakoni dalam hidup ini, jadikanlah sebagai sebaik-baiknya jual beli antara kita dan Allah. Seperti halnya kita, adakah Allah akan membeli sesuatu yang biasa-biasa saja dari hambaNya, saat ada hamba yang lain menjual dirinya dengan kualitas sempurna?

Mari berbenah. 
___________________________________


Larut malam, meresapi makna sebelum tidur.  Salam. 

Jumat, 28 Oktober 2016

Perempuan Oktober

Oktober 28, 2016 0 Comments
Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kata Weh. Laki-laki uzur ini memiliki indra keenam untuk membagi lapisan langit menjadi halaman-halaman ilmu. Aku mengerti, itulah konstelasi zodiak! 
Pada iris kesepuluh ia berpaling padaku.

"Anak Muda, dirimu, lelaki Oktober. Sambaran api Mars dan dingin Pluto akan menjebakmu...."

Napasku tercekat.

"Engkau, laki-laki zenit dan nadir..."

_______________
Halaman 10 Edensor-nya Andrea Hirata telah membuat saya dilanda rasa istimewa karena terlahir di bulan Oktober. Meskipun saya tidak begitu dalam memahami keistmewaan salah satu bulan Masehi ini, tidak juga tertarik pada hal nonilmiah tentang ramalan zodiak, atau pencocokan karakter yang telah melalui beberapa penelitian psikologi, atau apalah....

Sebenarnya, hal sederhana yang mungkin terlalu dipaksakan untuk dikatakan istimewa tentang Oktober, adalah di sana lahir orang-orang mengagumkan -yang secara pribadi menurut saya-, merupakan sekian dari makhluk Allah yang keren. Termasuklah seorang penulis menakjubkan yang berhasil memahamkan saya tentang kedalaman hikmah islam dari berbagai aspeknya dengan bahasa selayak seorang ayah. Anis Matta. Semoga beliau senantiasa sehat, dilimpahi kebajikan dan kebijakan dalam hidup. 

Alasan berikutnya mungkin sedikit melankolis : Hujan. Iya, Oktober adalah saat tanah bumi yang tadinya kering, retak, sekarat, tetiba basah, hijau, dan hidup. Mungkin inilah titik iris dari zenit dan nadhir pada pergantian musim, dan di moment dua kutub musim ini saling beririsan,lahirlah saya ini,Perempuan Oktober : yang katanya terjebak di antara sambaran api Mars dan dingin Pluto... "wah, puistik sekali... hihi"

Saya mengira-ngira makna "sambaran api Mars dan dingin Pluto" adalah keadaan saat 2 hal yang saling berlawanan bertemu di satu garis dimana saya berdiri tepat di tengahnya. Apakah itu berarti saya adalah orang yang tertakdir bisa merasakan 2 hal yang berbeda dalam satu waktu? Semisal bahagia dan sedih bersamaan, menyukai sekaligus membenci, memaksa diri melupakan saat rindu berada di ubun-ubun, juga tersesat dalam paradoks keadaan. Ataukah ini sebab-musabab saya menyukai hal-hal tengah pada warna, rasa, dan aroma. Termasuk cinta saya yang abstrak pada pagi dan senja karena keduanya adalah titik temu pergantian malam dan siang. Hm....sepertinya butuh research lebih lanjut tentang korelasi antara bulan kelahiran dan karakter pribadi seseorang. Sebagaimana sifat dan karakter yang juga dipengaruhi oleh golongan darah. Sungguh ya, Fatabārakallahu ahsanul khālqiin... *merasa spesial. 

Oktober tahun ini adalah yang ke-26 dalam putaran hidup saya. Doa yang paling sering dirapal selalu adalah tentang kebaikan. Baik dalam agama, pada akhlak, pun  keluarga, dan kehidupan dunia akhirat. 

Terlahir di bulan manapun, tetap kita yang memutuskan menjadi apa. Berkarakter seperti apa. Berakhlak-bersikap seperti apa. Kecenderungan emosi dan gen bawaan telah dibingkai dalam fitrah oleh  sang Pencipta. Bukankah fujur dan taqwa pada diri tiap manusia ditanam sepaket dengan akal, hati dan jiwa, untuk mengenali mana baik dan buruk.  Karena pilihan selalu kembali pada kita, hendak jadi apa...

___________
Menutup Oktober. Salam. 




Jumat, 21 Oktober 2016

Menjaga Perasaan Istimewa Seseorang

Oktober 21, 2016 2 Comments
Manusia hidup dengan takdir sebagai makhluk sosial adalah sebuah hakikat. Setiap orang membawa takdir makhluk sosial dalam dirinya dengan bekal nalar dan perasaan yang Allah anugerahkan sama pada setiap diri. Nalar dan perasaan inilah yang menjadi batas sikap dalam membangun "hablumminannas"- hubungan sesama manusia. 

Sifat-sifat terpuji berupa saling menghormati, saling menghargai, saling tolong menolong sesungguhnya bermura pada satu titik dasar dalam diri seseorang, yaitu perasaan. Bahwa setiap orang ingin diperlakukan dengan dasar rasa yang sama. Persis halnya ketika kita sedang bercermin, pantulan apa yang ingin kita lihat seharusnya adalah apa yang kita tampilkan pada cermin tersebut. Sikap apa yang ingin kita terima dari orang lain adalah buah dari sikap kita kepadanya. Maka menjaga perasaan seseorang-tidak merendahkannya- merupakan salah satu prinsip dasar dalam membangun sebuah hubungan. 

Hal yang niscaya ada pada diri setiap orang adalah rasa ingin diistimewakan. Sesederhana apapun profesi, kedudukan, maupun strata sosialnya, setiap orang adalah istimewa. Kita bisa menemukan keistimewaan itu meskipun dari hal kecil yang ada padanya, lalu kemudian menjaga perasaan istimewa itu tetap ada. Jika kita mampu menjaga ini, maka hubungan baik berkepanjangan bukan hal yang rumit lagi. 

Tentang menjaga perasaan istimewa ini, sebuah kisah menakjubkan datang dari Mu'awiyah ibn Abi Sufyan,Sahabat Nabi SAW  yang amat terampil dalam hal kepemimpinan dan menjalin hubungan. Suatu ketika terjadi penyerobotan lahan 'Abdullah ibn Zubair di Hijjaz oleh budak dan pekerja Mu'awiyah. Tidak terima dengan perampasan itu, 'Abdullah ibn Zubair kemudian menulis surat untuk Muawiyah.

"Bismillahirrahmanirrahim. Dari 'Abdullah, putra dari sang hawari, penolong setia Rasulullah SAW, Azzubair Ibn Al-Awwam. Juga putra Dzatun Nithaqain, wanita yang bersabuk dua ketika membantu hijrah Sang Nabi, Asma binti Abu Bakar ; kepada Mu'awiayh ibn Abi Sufyan, anaknya Hindun, perempuan yang mencincang dan mengunyah jantung Hamzah, Paman Rasulullah. Ketahuilah! Tukang kebunmu telah memasuki kebunku. Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, kalau engkau tidak segera melarang mereka, aku akan punya urusan denganmu!" 

Di Damaskus, Muawiyah membaca surat itu sambil tersenyum pahit. Ditunjukkannya surat itu pada putranya, Yazid Ibn Mu'awiyah. "Bagaimana menurutmu, apakah kita perlu menjawabnya?"

Wajah Yazid memerah membaca surat tersebut kemudian berujar : "Menurutku, Ayah harus mengirimkan pasukan dengan kekuatan besar yang barisan terdepannya ada di Madinah dan ujung terakhirnya ada di di Damaskus. Mereka harus datang kembali dengan membawa kepala Ibnu Zubair!" 

Yazid melemparkan surat itu ke lantai,tapi Mu'awiyah dengan anggun segera memungutnya kembali.

"Aku memiliki sesuatu yang lebih baik dari itu,"  kata Mu'awiyah sambil tersenyum. Diambilnya pena dan kertas, lalu dia mulai menulis jawaban untuk Abdullah ibn Zubair dengan Khath-nya yang indah.

"Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan kasihNya tiada memilih. Yang Maha Penyayang, dan rasa sayangNya tak terbilang. Dari hambaNya, Mu'awiyah ibn Abi Sufyan, kepada Abdullah ibn Zubair, putra penolong Rasulullah yang setia, dan putra Dzatun Nithaqain yang mulia."

"Assalamu'alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh," kalimat pembuka tersebut ditulis Muawiayah denga cermat dan teliti. "Saudaraku," lanjutnya, "Sesungguhnya, jika ada bagian dari dunia ini yang menjadi milikku dan milikmu, lalu engkau meminta bagianku untukmu, pasti akan kuberikan semuanya padamu. Jika surat ini telah engkau terima, maka dengan demikian seluruh kebunku itu telah jadi milikmu. Demikian pula, semua tukang kebunku yang telah melanggar hakmu itu kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda maaf dariku. Wassalalmu'alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh."


Menerima surat itu, Abdullah ibn Zubair menitikkan air mata. Bergegas, disiapkannya kuda dan para pengiring perjalanan. Dia berangkat ke Damaskus untuk menemui Muawiyah. Begitu sampai di hadapan sang penguasa, Muawiyah segera membentangkan tangan dan berjalan tergopoh menyambut Ibnu Zubair. Mereka berpelukan. Ketika itu, Abdullah Ibnu Zubair mencium ubun-ubun Mu'awiyah lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Semoga Allah menjaga akalmu!" ujarnya, "Sungguh Allah telah memilihmu di antara orang-orang Quraisy untuk menduduki jabatan kepemimpinan ini!" Kisah ini ditulis oleh Ustad Salim A. Fillah dalam bukunya berjudul : Dalam Dekapan Ukhuwah, hal. 443.

_________

Kisah tersebut begitu dalam mengajarkan pada kita arti dari menjaga perasaan istimewa padi diri orang lain serta dampak besarnya bagi keberlangsungan sebuah hubungan. Sebab krikil masalah sudah menjadi sunnatullah sekaligus dinamika dalam setiap kebersamaan, maka kita butuh diri yang pandai menata sikap dan hati untuk dapat menjaga hubungan tersebut tetap utuh. 

Merasa diri lebih baik sesungguhnya adalah benalu dalam hubungan. Keterampilan menjaga perasaan istimewa seseorang selalu berbanding lurus dengan rasa hormat orang lain terhadap kita, sebagaimana merendahkan orang lain membuat kita juga nampak hina.

Jikapun kemudian persoalan yang timbul dalam kebersamaan tersebut kian rumit adanya, maka semoga kita masih memiliki kejernihan nurani untuk menyelesaikannya. Salam Ukhuwah. 

****
 Baca-baca, lalu menulis. 😊













Rabu, 05 Oktober 2016

Mengulang Rasa Kenangan

Oktober 05, 2016 0 Comments
Sumber gambar indah ini

Kurang lebih 16 tahun yang lalu, Dua gadis SD berusia 10 tahun yang belum tahu banyak tentang persahabatan berjalan bersama menuju Poleko,di siang hari yang terik, dengan bekal sebungkus Mie instan yang paling populer di masa itu ; Megah Mie. 

Poleko, mungkin adalah garis batas Pesantren tempat dua gadis itu tinggal. Di sana ada sawah yang di masa itu benar-benar luas. Untuk ukuran mereka yang masih kanak-kanak, melihat hamparan hijau sawah sejauh mata memandang adalah sebuah pemindahan objek dari gambar di kertas kepada realita sungguhan. Dan itu sangat menyenangkan. Buku pelajaran seni "menggambar" saat SD dulu selalu penuh dengan komposisi yang itu-itu saja : dua gunung, matahari di tengah, jalan berkelok menuju gunung, dan sawah di sisian jalan. Sudah. Itu saja. Ketika Dua gadis kanak itu memutuskan melihat sawah bersama, setelah sekian tahun menggambarnya, bisa kalian bayangkan.... bagaimana bahagianya... 😁😁😁

Tibalah mereka di sana. Sawah Poleko, pukul 1 siang lewat beberapa menit. Keduanya berjalan-jalan mengitari sawah di atas gundukan tanah yang juga adalah pijakan jalan bagi para petani. Mereka ribut melihat siput dengan mata bertonjolan lagi panjang,mereka riuh dihempas angin, dan mie instan yang dimakan mentah di rumah-rumahan petani saat itu, masih dapat mereka rasakan nikmatnya setelah 15 tahun berlalu. Tentu saja itu bukan rasa mie-nya, tapi rasa kenangan. 

Begitulah. Saat itu salah satu dari keduanya membuat janji, bahwa perjalanan mengesankan siang ini akan mereka ulangi kembali dan dengan bekal makanan yang lebih banyak,keduanya sepakat. 

Tapi setelah negara api menyerang dan kasus kopi sianida menjadi sinetron unggulan..... *eh,😅  setelah ujian akhir SD, kemudian masa pubertas SMP dan kerumitan masa-masa SMA berlalu, janji itu seperti menghilang. Tak ada yang mencarinya, meski kadang kenangan tentang liburan kecil siang itu selalu menyisakan senyum ketika mengingatnya.

Siapa yang tahu, kalau ternyata Tuhan menyimpan janji kedua gadis kecil itu dan memberikannya kembali untuk ditunaikan 16 tahun kemudian. Bukan di sawah Poleko. Dan bukan hanya mereka berdua. Tapi dengan anak-anak mereka. Sudah pasti, kehendak Tuhan-lah, 16 tahun kemudian si gadis kecil yang membawa mie instan itu telah memiliki 5 anak, dan temannya yang paling ribut saat melihat siput di sawah waktu itu telah memiliki 3 anak. 

Di sinilah janji itu tunai. Hari saat Tuhan mengizinkan keduanya mengulangi rasa kenangan di sawah poleko saat itu. Mengizinkan Saya dan Amma. 

Kami mengulanginya dengan melakukan perjalanan ringan ke kota,hanya sekedar melatih kaki saya menginjak pedal gas dan rem mobil, serta memutar stir kiri dan kanan. anak-anak ikut, tapi tidak dengan para bapaknya. Ini perjalanan yang real "Me time" buat kami. Sepanjang jalan kami bicara hal apa saja, rumah tangga, anak-anak, pendidikan,lalu kami menertawakan nasib sambil mengunyah cemilan. Makan siang hari itu Amma yang bayar, saya senyum-senyum saja mengingat dia juga yang membawa mie instan di sawah Poleko puluhan tahun silam. Sudahlah, dia memang terlahir sebagai dermawan, tapi karena dia wanita mungkin disebutnya Dermawanti. 😊

Dan saya, tidak lagi seribut saat melihat siput di sawah waktu itu. Mungkin terlalu banyak garam kehidupan yang saya cerna, membuat keceriaan yang dulunya pecah menjadi asin, lalu kemudian asing. Tapi bagaimanapun, seperti kata para bijak ; kebahagiaan adalah pilihan.



Mereka 16 tahun kemudian... 😁


Jadi, bahagialah dikehidupan yang hanya sekali ini. Bahagia yang sederhana. Seperti dua gadis yang mengelilingi sawah kala itu, yang berpikir bahwa hidup adalah hijau yang lapang.



Jumat, 09 September 2016

Tidak Mengenalmu (lagi)

September 09, 2016 0 Comments
Sumber Gambar

Setelah sekian luka, aku lupa cara menangisinya. 
Dan setelah habis cinta, aku tidak lagi tahu cara memulainya. 

Aku pulang saja, 
Diriku yang abu-abu telah pandai berpura-pura.
Sudah lama derita aku bawa dengan senyum.
Sekian waktu tawa hanya tuk menutupi luka.

Aku pulang saja,
Kau tidak mengerti aku.

Aku pulang saja,
Aku tidak mengenalmu. 

Saya Diam Saja.

September 09, 2016 0 Comments

Sekian waktu, saya memakai mulut saya lebih banyak dari tangan saya untuk mengeluarkan kata. Itu artinya, saya mulai lebih banyak bicara daripada menulis. Apa yang saya dapat? Rasa sakit bertubi-tubi.

Dahulu, menulis bisa jadi hal paling melegakan dari sederet masalah hidup yang lalu-lalang dikeseharian saya. Menulis sama dengan melepaskan, hanya saja tanpa suara. Tidak berisik. Tapi kemudian saya mulai bicara banyak hal, dan lupa tentang pribahasa dari kelas SD bertahun-tahun lalu : "Tong Kosong Nyaring Bunyinya".

Saya selalu menulis, untuk seseorang. Saat saya menyadari apa yang saya tulis tak pernah sampai -hanya sekedar melepas rasa yang menyesak di dada- saya kemudian mulai bicara. Ketika bicara, kata-kata seperti muntahan kotor keluar dari mulut saya. Itu menyakiti orang yang mendengarnya, dan saya pun mendapat rasa sakit yang lain. Dan karena bicara itulah, saya dan dia mulai saling menyakiti dengan cara masing-masing diri.

Saya tidak tahu mengapa juga menulis ini. Mungkin ini bagian akhirnya. Ketika seorang penulis menutup klimaks novelnya dengan satu tarikan kesimpulan. 

Sedang saya, inilah kesimpulannya : Saya diam saja. 

Minggu, 04 September 2016

Menjadi Sepasang Mahasiswa

September 04, 2016 3 Comments
Prinsip hidup no.26 : Realistis pada impian dan fleksibel pada kenyataan. 

Dari banyak prinsip sederhana berbahagia dalam hidup, salah satu yang paling saya suka adalah prinsip tentang "bersahabat pada ketidakpastian", karena dalam hal ini,sungguh menyatu 3 unsur penting rasa dekat dengan Allah AzzaWajalla, yaitu :  Khauf, Raja' dan Tawakkal.

Iya, saat ketidakpastian membelokkan alur dalam hidup saya,unsur kekhawatiran(Khauf) berselimut harapan(Raja') tiba-tiba saja mesra dengan Tawakkal dan prasangka baik padaNya. MasyaAllah,... saya tidak tahu mengapa, tapi mungkin itulah cara kerja hati yang selalu ingin percaya pada Rahman-Rahimnya Allah. 

Tahun lalu, saya mencoba mengusahakan pendidikan di luar negri dengan beasiswa. Setelah doa dan usaha tapi belum rezeki, saya mensyukuri satu hal : saya sudah mencobanya. Dan itu berarti saya tidak diam saja -berpura-pura menutup hati pada keinginan sendiri-. Saat seseorang menyerah sebelum mencoba, bukankah itu menyakitkan ??

Tiba di tahun ini, saya masih saja akan mencobanya. Berjuang itu tidak sekali tapi berulang-kali,itu prinsip saya yang lain. Tapi seseorang yang saya percayai dengan sangat,yang telah berjanji meletakkan bahagia dalam hidup saya, yang telah menghabiskan hampir 10 tahun hari-harinya bersama saya,tetiba saja menawarkan sesuatu yang manis : "Menjadi Sepasang Mahasiswa, di satu tempat yang sama, berangkat dan pulang kuliah bersama, serta saling menjaga tentu". 
Saya luruh. Dengan basmalah,saya ikhtiar menjalani alur ini dengan baik, InsyaAllah. 

Ada rasa galau ? Iya. Pasalnya kami memulai ini bukan dalam kondisi berlebih. Kadang-kadang saya menghitung angka-angka rupiah yang harus kami bayar selama 2 tahun akan datang. Tapi saya selalu percaya doa malaikat di langit dan di bumi pada mereka yang keluar menuntut ilmu. Indah pasti. 

Agustus kemarin kami telah memulai jalan kami. Ketidakpastian masih akan selalu ada,saya tahu itu. Tapi Allah selalu pasti dengan kemurahanNya, dan tidak ada alasan bagi saya untuk meragukanNya.
__________ 

Ah ya, seorang sahabat menanyakan tentang ingin jadi apa saya ini? Entahlah,jika saya menjadi tempat seseorang menemukan jawaban dan merasa nyaman, itu pun sudah cukup.

Ambisi berpendidikan tinggi ? Tidak juga. Tapi terkadang kita bisa menjawab ketidakpastian dengan memanfaatkan kesempatan yang lapang sebelum datangnya yang sempit. 

Namun hal paling mendasar tentang "menjadi apa" adalah kemanfaatannya.  Bagaimanapun, inilah prinsip yang diwariskan Rasulullah berabad-abad silam : Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak memberi manfaat. 
__________

Ujung malam. Refleksi diri. Membaca alur hidup. Kamar dingin. Anak-anak terlelap. Deru motor Rossi di Tv. Diam-diam saya menulis. Begitu saja.










Rabu, 31 Agustus 2016

Sepeda Hijau Kakak Fathi.

Agustus 31, 2016 1 Comments

Butuh kesabaran mengajarkan hal-hal besar kepada anak.

Sepeda. Itu adalah benda yang menjadi impian Kakak Fathi sekaligus kesempatan kami untuk mengajarkannya hal besar tentang impian. Tahun ini,Ia menabung dengan sangat ketat ketika saya menjawab harga sepeda yang Ia tanyakan kurang lebih 1 juta rupiah. Ia mulai berjualan di sekolah dan menabung hasilnya,juga lebih hemat soal jajan. Ia juga merelakan sepeda kecilnya dilepas dengan harga murah untuk tambahan uang tabungannya. Ramadhan lalu, saya dan Abinya berjanji akan menambahkan uang tabungannya untuk beli sepeda sehabis lebaran jika Ia berpuasa sungguh-sungguh. Dan puasa Kakak Fathi nyaris sempurna jika bukan karena demam tinggi. 

Selepas Ramadhan, impian itu belum juga terwujud. Uang tabungannya   masih sekitar 300ribuan. Sedang saya dan Abinya masih harus menyelesaikan prioritas kebutuhan yang lain. Kakak fathi dan saya kemudian membuat kesepakatan baru, sepeda itu insyaAllah akan jadi hadiah hafalan alQuran juz 30-nya. Ia dengan semangat menambah hafalan dan lebih sering muraja'ah. 

Berlalu 1 bulan, sama artinya bertambah waktu penantian terhadap sepeda. Ia mulai sering menghitung-hitung uang tabungannya. Bertanya-tanya apakah Abinya serius mau menambah uangnya jika kurang?. Dan malam hari,Ia mulai membicarakan wujud sepeda impiannya setiap kali sebelum tidur. 

Tibalah hari itu, kami mengajaknya membeli sepeda. Wajahnya berbinar, senyumnya sumringah. Dan hati kami lebih lega karena janji yang sudah tunai. 

Setelah membayar sepedanya, Ia langsung mengendarainya dengan semangat bersama Abi yang mengikutinya dari belakang. Saya tidak ingat di mana, tapi ia sempat berbisik mengatakan terimakasih.

Hari itu, Ia telah belajar dari impiannya. Tentang proses panjangnya. Dari jualan di sekolah,menabung, puasa, menyelesaikan hafalan juz 30,berdoa, lalu menanti waktu dengan sabar. 

Kami pun belajar,bahwa anak akan selalu punya impian dalam hidupnya. Dan orang pertama yang mengajarkan jalan panjang pada impian itu adalah kami, orangtuanya. Betapapun besarnya impian itu,tugas kami adalah meyakinkannya kalau Ia bisa mencapainya. Tugas kami adalah memberinya semangat saat ia berjalan menuju impiannya, dan menyediakan pelukan untuk lelah dan airmata di perjalanannya.  

Tidak ada impian yang mahal dan tinggi, jika kau punya hati yang kaya dan jiwa yang kuat,putraku.

Esok,Melangkahlah dengan yakin pada jalan hidupmu. 
Ada Allah sebagai penolongmu. Dan kami, selalu disisimu. 
______________________


Catatan untuk Sepeda Hijau yang kakak Fathi beli dengan bangga. 
31 Agustus 2016.


Selasa, 12 Juli 2016

Memahami Medan Pernikahan, Bukan Kegagalan.

Juli 12, 2016 2 Comments
Sumber Gambar


Ini tahun ke-9 kami. Saya dan suami. Bagaimanapun banyaknya bahagia yang kami rasa, ada saat di mana perasaan gagal begitu dalam menelan diri saya pribadi. Pertemuan dari rasa gagal yang saya rasakan dengan begitu banyak kenyataan pernikahan membuat sudutpandang tersendiri dalam pikiran saya. Perspektif yang mungkin masih jauh dari hakikat, tapi saya tetap mencoba memahaminya...

Setiap pernikahan akan punya masa "sakit", dan saya bahkan pernah "kritis". Saat Ibu Ainun meninggal dunia dan Pak Habibie begitu terpukul karena kehilangannya, saya memandangi foto Pak Habibie yang menangis lemah memeluk batu nisan istrinya sambil bertanya dalam diri saya : apakah Habibie dan Ainun juga pernah bertengkar hebat? Apakah mereka pernah merasa gagal menjalani pernikahannya? Apakah mereka pernah berpikir untuk menyerah? Bagaimana setia itu ada?

Ketika saya akan menikah, saya tidak tahu apa-apa kecuali bahwa pernikahan adalah riak tak berkesudahan. Iya benar, pernikahan punya defenisi jelas dan ilmu yang telah banyak menjadi kata-kalimat dalam buku-buku panduan hidup berumah tangga dengan ratusan-ribuan judul. Tapi hakikat pernikahan tidak akan kau dapatkan jika tidak menjalaninya. Karena pernikahan punya pola medan yang berbeda, seperti sidik jari manusia,setiap tangan memilikinya, tapi dengan bentuk pola yang berbeda. Mungkin itu disebut nasib,pun sebagian orang menamainya takdir. 

Riak ini, saban waktu hanya berbentuk ombak kecil, dan di waktu yang lain bisa berwujud tsunami. Di sinilah kadang segala teori pernikahan habis dihempasnya dan hanya menyisakan pilihan-pilihan sulit. Salah satunya adalah perceraian.

Jadi, apakah perceraian adalah kegagalan? 

Bagi saya, tidak. 

Karena pernikahan bukan Game. Pernikahan bukan permainan yang bisa kau hentikan di tengah pertarungan atau kau ulangi dengan "nyawa" baru jika kau gameover. Pernikahan adalah saat kau tetap melangkah dalam kesulitan, dan bertahan sampai akhir. Tidak satupun orang yang menikah yang tahu akan apa yang bakal dihadapinya. Semuanya melangkah menjalani medan takdirnya yang misteri. Maka perceraian bukanlah kegagalan, hanya jalan keluar dari medan yang tidak lagi dibingkai tujuan pernikahan : untuk Sakinah, agar Mawaddah, juga senantiasa Rahmah. Adakah disebut kegagalan bagi hal yang dihalalkan Allah sekalipun dibenciNya? Perceraian sungguh bukan kegagalan, sebab ia adalah pilihan terakhir, bukan rencana di awal.

Medan pernikahan setiap orang berbeda. Pola masalah dan kerumitannya juga tidak sama. Itulah mengapa tidak ada hak sedikit pun bagi kita untuk menuduh dan menghakimi setiap orang yang "terlihat" gagal dalam pernikahannya, karena kita tidak tahu medan yang ditempuhnya, mungkin di sana terjal, curam dan berbatu. Mungkin di sana ada musim kemarau panjang yang telah mengeringkan airmata atau musim dingin yang telah membekukan rasa. Kita tidak tahu itu.

Maka letak kegagalan itu sesungguhnya adalah bagi mereka yang menjadikan pernikahan sebagai permainan : yang tak berniat setia dalam suka dan duka, yang menyerah sebelum mencoba bertahan. Hanya bersenang-senang saja, persis ketika sedang bermain game. 

9 tahun dalam ikatan ini. Saya telah melihat banyak kejadian sekaligus kenyataan tentang pernikahan, yang kemudian membuat saya memikirkan banyak hal. Memikirkan banyak kemungkinan. Semoga Allah menjaga saya dan suami dari menjadikan ini sebagai permainan. 

Dan Allah adalah sebaik-baik penjaga. 

__________________________

Catatan 9 Tahun Pernikahan. 





Sabtu, 25 Juni 2016

Surat Rekomendasi dan Jalan Yang Masih Panjang.

Juni 25, 2016 0 Comments
Saya akan menyimpan ini dengan baik, bukan semata karena ia-nya surat rekomendasi. Tapi ini adalah tentang apa yang dipikirkan orang lain terhadap diri saya, sekaligus apa yang harus saya yakini tentang diri ini.

Bukankah, tidak semua hal tentang diri kita mampu kita lihat secara menyeluruh, dan tidak semua hal yang dilihat orang lain pada diri kita adalah hakikat diri kita sesungguhnya. 

Orang lain bisa menilai kita dengan mata, pengalaman, dan sudut pandangnya. Sedang kita, butuh kejujuran utuh untuk mengenali diri kita sendiri. 


Minggu, 12 Juni 2016

Kepada Kalian : Seluruh Alasan Bahagiaku.

Juni 12, 2016 4 Comments



Sebenarnyalah saya bukan seorang yang pandai mengucap perpisahan, jadi ini bukan untuk itu, mungkin hanya ucapan terimakasih, jika bukan untuk menutupi kehilangan.

Agustus 2013, saya melangkah masuk di gerbang itu.  Saya tidak tahu sebelumnya, bahwa dikemudian hari, ketika saya akan meninggalkan gerbang itu juga, akan ada ruang kosong di hati ini, rongga hampa yang tak saya tahu cara menutupinya.

Apa saya bagi kalian?
  Mungkin Ustadzah yang labil, sama sekali tidak dewasa, dan paling eksis urusan selfie dan foto bareng. Iyalah…. Saya selalu butuh foto wajah kalian untuk kenangan…. Sekedar menyimpan satu ingatan bahwa kita pernah bersama, di sana: sebuah masjid dengan karpet merah dan angin sepoi di suatu waktu.

Apa kalian bagi saya?
Hm, ini pertanyaan melankolis sepertinya. Kalian adalah ….  Seluruh alasan mengapa saya bahagia.

Iya, saya bahagia saat kalian bertanya apakah besok saya akan datang?
Saya bahagia, saat kalian khawatir jika saya tidak datang
Saya bahagia, saat kalian berlari menyambut hangat karena saya tidak masuk sehari/ duahari karena alasan yang tak henti.
Saya bahagia, saat kalian menyetor hafalan dengan sungguh-sungguh meski terbata-bata.
Saya bahagia, saat kalian menangis bercerita tentang keluarga kalian tanpa ada jarak di antara kita
Saya bahagia, saat kalian curhat tentang masalah di kamar asrama
Saya bahagia, saat kalian malu-malu berterus terang tentang cinta yang mulai merona
Saya bahagia, saat kalian bersemangat menghafal karena ingin dibuatkan nasi goreng special.
Saya bahagia, melihat kalian tidur pulas setelah berjuang menyetorkan hafalan satu halaman
Saya bahagia, saat kalian tampil cantik di hari khataman 30 juz
Saya bahagia, atas takdir menjadi bagian dari perjalanan kalian di SPIDI.

Seperti yang pernah saya katakan, apa yang lebih membahagiakan dari menemani seseorang mewujudkan cita-cita akhiratnya? Iya, bersama kalian itu mulia, karena kalian adalah calon pemikul Quran. Bersama kalian, syurga rasanya dekat, itulah mengapa berat untuk mengambil pilihan meninggalkan lingkaran bersama kalian.

Tapi, saya telah tiba di simpang jalan ini. Saya harus berjalan ke arah lain. Mungkin  sekali waktu saya akan menjumpai kalian di simpang jalan yang lain, sebab setiap kita punya jalan hidup masing-masing, semoga kita masih saling mengingat.

Yah, mohon maaf dan terimakasih untuk kalian. Tidak ada peluk cium, saya tidak suka perpisahan. Saya percaya, kita masih akan bertemu, entah sebagai ustadzah atau sekedar kakak perempuan yang merangkap orangtua “sementara” bagi kalian.  Apapun itu, seluruh hari bersama kalian adalah salah satu bagian terbaik dalam hidup saya.




Hafidzah kita tahun ini, Nurul Aqilah dan st. Wafiyah

bersama Ustadzah Dila

Gazebo kenangan...
sumber foto SPIDI
Yang selalu minta dibuatkan nasi goreng klo target hafalannya selesai.. Chae'


Di belakang layar sebelum tampil...

tawwa.... lengkap ustadzah yang dampingi berfoto....

Kiri-kanan :Cuwa, Aqila, Lulu, Izzah, Zahra, virdha, saya, ayu. Halaqah Pertamaku.

Iklil, Meli, Azizah, Nini, Obhy, Safirah

Masih di tangga masjid, tambah Nisa...

Terakhir kali, sebelum murajaah hafalan Mutqin.


Disamping Uswatun Hasanah, hafalan mutqin 5 juz


habis bagi-bagi hadiah untuk yang berpresatsi, masih ada Ustadzah Masrurah...

Bersama Ustadzah, sehabis perbaikan gizi (Minum Susu pagi-pagi)

Nyimak teman lagi Tasmi"

ini Nurul Najwah, picture favoritku.... salah satu santri yang bisa tembus 7 Juz dalam sebulan. MasyaAllah..

Awalnya mau narsis sendiri, tapi apa daya..... kalian selalu sadar kamera.

Santri Tahfidz terbaik : Ayu Azhari

mmm... ini sepertinya sebelum lomba gerak jalan 17 Agustus 2015

saya akan merindukan bagian ini : panen mangga dan makan bersama ..

Evaluasi hafalan mutqin...

kelompok Ustadzah Muthaharaeni, evaluasi hafalan mutqin


saya akan selalu mengingat kalian....

halaqah baru, saaaaaayyyyyaaaanngggg kalian semua... hikz.. hikz...
selepas Tasmi' Nadia Safwan, akir hafalan 30 juz. Berkah untuk kalian...

Tasmi' terakhir Syahnaz ... habis ini kita nonton Ketika Mas Gagah Pergi...


Prosesi Khataman Alya, nadia, Syahnaz, dan uswatun hasanah


Ustadzah dan santri yang dikhatamkan

kitaaaaa Semuaaaaa....

Makan coto di Mat'am, Syukurannya Nadia safwan

Khataman Virdha dan Fakhirah... berkah untuk kalian..

Beautiful Moment ...

Virdha Dwi Mulya, di hari bahagianya. dan saya lebih bahagia...
foto yang diambil diam-diam... selamat de. Nashihah Muqaffi..

bersama Dua Hafidzah yang baru saja terlahir : Fakhirah dan Virdha


adik2 kesayangan kuuuuu....

My Picture : Bayanganku, karpet merah, Alquran, pagi, kenangan ....

diajak  jka foto ini gang, bukan saya minta... heheh..

bilakah kalian adalah amal jariyahku? Semoga....

MasyaAllah, disaksikan langsung oleh syekh...

tetaplah tersenyum seperti ini meski jalan menjadi Hafidzah tidak selalu mudah...

kalian adalah saksiku di hadapan Allah SWT kelak....

dan saya selalu membayangkan, ketika kita saling mengunjungi istana-istana kita di syurgaNya..

Meli yang selalu tersenyum tulus, obhy yang manja, dan Nisa-ku tersayang.... Kalian harus jadi Hafidzah..



kita akan bertemu lagi InsyaAllah...

Juga  rekan-rekan Ustadzah
Ustdzh. Muthahharaeni, 
Ustdzh.  Mudarrisah, 
Ustdzh. Nur Fadhilah, dan 
Ustdzh.  Musbiqatul Khaerah. 

Terimakasih telah banyak memahami saya dalam salah yang tak habis-habis, mohon maaf untuk begitu banyak khilaf dan keegoisan saya dalam ukhuwah ini. Uhibbukunna Fillah...
  
Saya Pamit…..