Rabu, 31 Desember 2014

Hari Pertama, Sebuah Catatan.

Desember 31, 2014 2 Comments

● Ini tetaplah hari yang sama, entah tanggal atau tahun yang berganti, sesungguhnya, kitalah yang menjadikan suatu hari menjadi berbeda.

Jadi, hidup sebenarnya adalah perjalanan pulang. Pulang pada kampung halaman tempat orang tua pertama kita menjalani hidup sebelum terusir : Adam & Hawa. Ya, syurga harusnya adalah kampung halaman kita sebenarnya. Bagaimana bisa kita lupa tentang syaitan yang membuat orangtua kita terusir, sementara kita jadikan ia sahabat di perjalanan pulang ini.... Padahal jauh sebelum kita lahir, setan bahkan telah bersumpah akan membawa kita ke neraka, menemani mereka meneguk nanah, menelan buah berduri, sambil abadi dilalap api.

Pernahkah kita memikirkannya saat kita habiskan waktu dalam kesia-sian? Bukankan itu mubadzir waktu? dan kita tahu, seorang mubadzir tidak lain adalah teman si makhluk api.

I'maluu maa syi'tum. Kerjakanlah apa yang ingin kau kerjakan. Itu potongan ayat di surah Al-fushilat, jika kau ingin tahu. Pakailah sedikit waktu yang ada padamu untuk merenunginya. Setelah Allah SWT dengan maha kuasaNya menyempurnakan kita, manusia, dengan akal, hati, dan jiwa, kemudian  menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang yang haq dan batil, lalu diserahkanNya segala pilihan pada kita. Ya, kerjakanlah apa yang ingin kau kerjakan.

Setelah berlalu hari-hari dunia, akan tiba hari pembalasan. Segalanya, seluruhnya, tanpa terkecuali.

Hari ini, setelah semalam langit penuh kembang api, perayaan katanya, semoga kita tidak lupa tentang perjalanan pulang kita.

Mungkin sudah dekat waktu kita,
Tapi tak pernah kita tahu, kampung halaman mana yang kita tuju.

Selamat berbenah diri.
___________
Catatan untuk diri pribadi. 

Minggu, 23 November 2014

Adik Perempuan Disisa Kenangan.

November 23, 2014 0 Comments

Kuharap, sehari tidak begitu terlambat untuk tulisan seperti ini di hari perayaan hidupmu. Sejujurnya, terlalu banyak jeda saat menulis ini. Beberapa kali, sebaris kalimat kuhapus, rasanya bukan itu yang ingin kutulis. Tak lama, sepotong paragraf kembali kuhapus, sepertinya ada yang salah dibalik huruf-huruf kecil ini. Cukup lama tanda koma menggantung di ujung kata hingga aku menyerah pada kenyataan sebenarnya, tentang :
"Aku kakak perempuanmu yang tidak tahu banyak tentangmu".

 Ya, saat aku menyadari itu, aku tahu, aku sedang berdiri di wilayah melankolis perasaanku. Sebagian diriku mulai melangkah pulang pada masa lalu, pada waktu yang entah terasa hanya seperti bayang-bayang mimpi. 

Dulu itu, apakah kita terasa seperti kakak beradik? Aku tidak banyak peduli tentangmu, duniaku terlalu ramai oleh orang lain. Dan kupikir, kau baik-baik saja. Kau punya banyak teman, mereka menyayangimu, aku tahu itu. Di kehidupan ketika kita masih santri, kau berada dalam kelas yang dipenuhi kawan yang heroik dalam hal melindungi teman. Kalian kompak, Satu menangis dan yang lain membalas. Satu dianggap salah, dan semua menerima hukuman. Satu berprestasi, dan kalian menyebut diri kalian hebat.

Yah, Kau berada di kelas yang tepat untuk seorang adik perempuan yang memiliki kakak yang rumit sepertiku. Apa yang bisa kuingat tentangmu? sungguh tidak banyak. Kecuali hal sederhana, tentang kecintaanmu pada masakan mama.

Mungkin kau lupa, di suatu malam kau menjelajah tiap-tiap kamar asrama yang teramat panjang itu untuk mencariku yang sebenarnya sedang duduk santai di teras masjid putri. Aku melihatmu dari jauh, mengetuk tiap pintu asrama dan bertanya "ada ophy di situ? belumpi makan, basi lagi ini nanti makanan." 

Saat melihatmu berhenti di sebuah kamar dan tidak keluar dalam waktu cukup lama, aku tahu, kau telah mempersilahkan teman-temanmu menyantap habis jatah makan malamku sambil mengomel tentang bagaimana aku sering mengabaikan makanan yang dikirim mama dan membiarkannya basi, tentang aku yang tidak tahu mengahargai jerih payah mama yang tiap hari membawakan makanan untuk kita.

 Aku tahu itu, sebab pagi esoknya, teman-temanmu memuji masakan mama, dan bilang : "kak ophy, besok-besok jangan mki lagi makan malam nah, supaya na bawa ke asramaku lagi uty makananta."

 Waktu di antara kita benar singkat. Tak banyak kenangan yang bisa kuingat dengan baik, aku tidak tahu apa kita pernah tertawa bersama di saat itu? Aku tidak bisa mengingat dengan jelas, apa aku pernah membuatmu merasa disayangi sebagai seorang adik, kita terlalu sering bertengkar, kadang kala aku merasa kau benalu, dan bisa kupastikan, aku jarang sekali tulus padamu.

 Saat kau berangkat ke jakarta untuk melanjutkan SMA di sana, sesekali aku masuk ke kamar tempat kita menghabiskan waktu istirahat bersama selama sekian tahun. Aku mengusap-usapkan tangan ke sprei bermotif bunga yang warnanya kian kusam itu, dan aku merasakan butiran pasir. Aku tersenyum sesaat, aku ingat bagaimana kau begitu gelisah jika mendapati tempat tidur yang dihinggapi butiran kotoran. Kau akan sibuk mengibaskan sarung untuk membersihkannya dan tidak peduli aku sewot mengataimu "beh, de'e, samanna tuan putri mau tidur." Detik itu, aku merindukanmu.

Tapi aku tidak pernah menelfonmu, aku terlalu sibuk menyalahkan takdir yang membuat hidupku pecah berantakan.

 Saat mama kembali ke sisiNya, kau beruntung sekali. Kau berada di dekatnya. Melihatnya di saat-sat terakhirnya, itu adalah hal yang menguras habis penyesalan dalam diriku.

 Hm, dek.
 Aku tidak tahu akan menulis sebanyak ini, Usiamu 22 tahun, dan aku seperti hidup denganmu hanya beberapa hari saja. Sama sekali tidak benar aku hanya peduli pada fakihah saja, kalian berdua adik perempuan terbaik yang pernah kumiliki. Hanya saja, kau tahu, cinta dan kasih sayang punya wajah dan bentuknya sendiri. Ada cara yang tidak bisa sama untuk menyatakannya.

 Kau adik perempuan yang kuat. Kau tabah dalam menuntut ilmu di perantauan. Kau pandai menjaga derita hingga bapak ataupun aku tak pernah ingin kau buat khawatir.

 Itulah dirimu, kau tahu bagaimana selalu tampak baik-baik saja.

 Maaf,
 Tidak banyak yang kuberi sebagai seorang kakak. Tapi tetaplah jadi adik perempuanku yang baik. Di usiamu ini, kedewasaan adalah keniscayaan. Semoga.
 ___________________________

Sehari, di sepenggal usia yang menggenap bijak. 23 November 2014. 21:53.

Seluruh kenangan : Ophy- jeng Uty..

Kamis, 06 November 2014

Dari Rasa Pagi Ini.

November 06, 2014 0 Comments
Bilakah,
Kuikat jarakjarak jauhmu dalam simpul rinduku
Jadi satu, jadi erat
Seperti kau dan bayangmu di musim panas tahun lalu
Yang kupandangi dengan rasa tersesat.

Bilakah,
Izinkan aku untuk itu. 

Jumat, 24 Oktober 2014

Bagi Seorang Ibu,

Oktober 24, 2014 0 Comments
Saat menjadi ibu,  satunya hal yang paling kuingin adalah umur yang panjang.

Tapi bagi seorang ibu,  umur tak pernah panjang saat bayi yang baru saja ditimangnya kini menjadi pemuda dengan ransel dan jaket dewasanya.Kupikir,  waktu tak pernah panjang bagi seorang ibu. Bahkan jika umur kaum Nabi Nuh dilimpahkan padanya,  sebab Ibu,  tak pernah cukup percaya bahwa anaknya akan baik-baik saja tanpanya.

Entah...

Minggu, 19 Oktober 2014

24 Tahun.

Oktober 19, 2014 0 Comments
Saya bahagia. 
24 tahun, dan Tuhan dengan Maha Baik-nya memberi saya kado yang sempurna.

Qawwam yang penyayang.


Pelipur lara yang sholeh.

Kakak Fathi

Yusuf El Rangga

Yahya Ayyash

Sedalam syukurku Rabby,
kumpulkan kami dalam dekapanMu,  di luas syurga firdausMu.

Rafiah,
18 oktober 2014.
Mendung,  rintik,  musim hujan tiba.

Rabu, 24 September 2014

Perempuan Yang Terluka

September 24, 2014 0 Comments
Sumber Gambar

Malam, seperti biasa adalah spasi paling nyaman dari waktu yang kumiliki. Novel Hosseini belum juga khatam kubaca, tidak seperti biasanya ketika novel seperti itu bisa demikian menghanyutkan..

Ada perempuan yang datang siang tadi padaku. Pucat wajahnya bercerita lebih dari yang bisa dikatakannya. Yah, perempuan paling bisa bercerita dalam diam, hanya dengan tatap mata, hanya dengan helaan nafas, atau wajah tergugu bisu.

Jadi, apa yang diceritakan perempuan itu?

Luka.

Luka yang kian hari kian nganga, perih ditahannya bulan demi bulan, sebentar lagi luka itu berumur Satu tahun. Demi melepas sedikit dari sakitnya ia kemudian datang dan bercerita. Tentang lelaki yang dicintainya, tentang perempuan yang mencintai lelakinya, tentang penghianatan pahit yang dihadapinya. Satu-satunya yang ganjil dari semua kenyataan yang terjadi padanya, adalah : perempuan itu tidak menangis. Tidak sekalipun.

Bagaimana kau bisa bertahan? Sudah demikian memuakkannya suamimu itu. Kataku padanya.

Ia menoleh pada putra kecilnya.

"Demi dia". Katanya. Datar. Dingin.
_____

Lemah dan kuat adalah hal berlawanan yang perbedaannya menjadi tipis melapisi perempuan.

Demi anak katanya. Alasan itu membuatnya terlihat lemah, terkesan tidak berdaya. Tapi justru karena alasan itu Ia kuat.

Bagi perempuan, kelemahan bisa jadi kekuatan terbesarnya. Alasan bagi seorang perempuan bertahan dalam rasa sakit bisa saja hanyalah hal sederhana, semisal kenangan. Sebabnya banyak perempuan terlihat naif menahan derita, dicemoh bodoh karena bertahan, dianggap tidak berdaya karena tidak melawan.

Hei, ada satu rahasia kecil dari perempuan yang terluka.

Menunggu.
Ya, perempuan amat sangat pandai menunggui nasib. Jadi, bijaklah untuk tidak beradu klimaks takdir dengan perempuan, mereka selalu menang di akhir.  Karena perempuan yang terluka tahu bagaimana bertarung dengan derita.

Seperti perempuan yang datang padaku itu, katanya, ia bertahan semata memberi kesempatan. Bukan apa, saat tiba waktunya ia memutuskan untuk pergi, ia tak akan kembali.

Meski dunia memohon padanya.
_______

Perempuan yang terluka, selalu memulai pertarungan derita dengan bertahan, lalu memaafkan, kemudian melupakan.

Setelahnya, melanjutkan hidup dengan baik. Pun, itu Aku.

Sunyi malam,
Memikirkan perempuan itu, dan memikirkan perempuan seperti apa aku ini, ketika luka menghampiri.
24' 9 '14

Selasa, 09 September 2014

Episode Terakhir.

September 09, 2014 0 Comments


Episode terakhir The Fierce Wife. Dan ini adalah adegan percakapan yang paling nyentuh....
_____________

"Kau selalu bertanya apa artinya 10 tahun pernikahan kita? sekarang aku baru bisa menjawab, itu adalah saat paling bahagia dalam hidupku.

Aku tidak tahu mengapa aku bisa melukaimu dan mengatakan aku tidak mencintaimu lagi. aku tidak memohon kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau mengizinkanku menebusnya, aku akan habiskan sisa umurku untuk mencintaimu, mencintai putri kita.

Jika saja aku boleh meminta untuk menukar seluruh hari yang kumiliki dengan 1 hari saja.

Bukan hari yang istimewa, cukup satu hari yang biasa.

Kau memasak dan aku bermain ayunan dengan putri kita. Saat pulang kantor dan masuk rumah, kau segera berseru "kau sudah pulang?" dan aku mencium aroma masakan sayurmu yang lezat. Kita duduk berdua di sofa, menonton tv yang membosankan, dan aku mendengarmu mengeluh tentang harga sayur yang mulai naik, tetangga yang pindah, danp lainnya. Juga, kita bisa beristirhat 8 jam sehari.

Cukup hari biasa seperti itu. Dan kalaupun aku meninggal, aku ingin dengan hari-hari yang seperti itu."
_____________

Tapi, jawaban An Zhen membuat prediksi klimaks saya berantakan.
_____________

"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa kembali semula lagi..."
_________________

Hm, saya tidak bisa bayangkan penyesalan orang yang menghancukan rumah tangganya sendiri setelah sekian lama...

Sekian. :)

Kamis, 04 September 2014

Semisal Jarak Cahaya

September 04, 2014 0 Comments

Kadang kala, kita butuh jarak untuk menghidupkan cinta. Seperti jauh matahari yang menghidupkan tanaman ...

Tapi dengan cahaya, bukan sepi yang sekarat. 

Gadis Agustus dan Ice Cream.

September 04, 2014 0 Comments
Saya tidak lupa, hanya saja seringkali terlambat...

Jadi, kau sedang berbahagia. Beberapa orang tidak sepandai dirimu untuk berbahagia dengan hal kecil nan sederhana semisal menikmati ice cream di halaman TK bersama 2 gadis kecil. Sekali waktu, tentu, saya juga akan belajar cara merayakan bahagia seperti itu. :)

Agustus.

Kau berganti usia pada bulan dimana musim berganti juga. Itu hal yang manis. Dan kukira, Takdir selalu manis untukmu.

Untuk merayakan bahagiamu, ada selembar kertas kado berwarna hijau dengan motif bunga bertebaran penuh menunggu direkat dengan benda-benda kenangan. Tapi sebaris doa di ujung salam rakaat maghribku semoga mencukupi rupa-rupa hidupmu. :)

Doa tentang keberkahan. Dan keberkahan selalu lebih dari cukup.

Untukmu, Aisyah Istiqomah Marsyah.

________
Melihatmu menikmati ice cream, kukira kau perempuan paling bahagia sekarang... :)

Rabu, 20 Agustus 2014

Gadis Pemikul Qur'an.

Agustus 20, 2014 0 Comments



Kadang kala kau akan menemukan kedangkalan dirimu dari orang yang kau kira biasa saja, dan memang, Tuhan tak sekalipun memberi kita hak untuk merasa lebih baik dari siapapun, bahkan dari seorang pendosa.

___________

Saya tidak tahu harus memulai dari mana tentang ini. Tetapi karena saya merasa “hilang” oleh sebuah niat manis gadis yang ingin menjadi hafidzah, rasanya tidak bijak untuk mengabaikan ini.

Gadis itu menitikkan air mata ketika saya bertanya tentang motivasinya menjadi hafidzah, sedang bacaan Qur’annya masih jauh dari sempurna, lidahnya kelu di antara makhraj dan kaku mengenali hukum tajwid.  

Gadis itu menjawab, tidak kurang tidak lebih :

“Orang tua saya berantakan kak. Ibu shalatnya tidak jelas, ayah sering mabuk-mabukan. Saya ingin, jika bisa, menolong mereka ke syurga dengan menghafal Qur’an. Saya tidak mau sendiri...”

Jleb!!

Gadis ini, .....

Dia memikirkan dirinya di hari pembalasan. Mungkin dibayangkannya ketika Malaikat mengantarnya ke gerbang syurga sementara ibu ayahnya meronta-ronta di tepi jurang neraka, dia tidak ingin sendiri ke syurga......

Tapi niat mulianya tidak berkesan di hati orangtuanya, ketika ia putuskan masuk Tahfidzul Quran lii Banats  sang ibu memperingatinya, : “kau tidak bisa... masuk saja ke kelas IPA.” Gadis ini kukuh, Si Ibu kembali berkata, dengan sedikit ancaman : “ya, masuk tahfidz  sana, kalau 5 bulan tidak ada hasil kamu harus masuk kelas IPA !”

“kak....  tolong bantu saya” ujarnya lirih, memohon.
___________

Begitulah....

Tiba-tiba saja saya demikian bersyukur sebagai Ustadzah di Tahfidz ini, menjadi bagian dari perjalanan cita-cita akhirat adik-adik hafidzah. Inilah puncak makna menjadi pemikul al-Quran.
Saya benar bersyukur untuk itu. 

Kamis, 31 Juli 2014

Maaf, Jika hanya maaf.

Juli 31, 2014 0 Comments
Gaza, Palestina.
Kalaulah sesungguhnya kita bersaudara dalam satu tubuh keimanan, saya benar tidak tahu macam apakah saudara seperti saya ini? Selain doa kusut yang entah mengapa tak jua mampu sebening perjuangan kalian, saya tak lagi tahu apa yang seharusnya dapat saya lakukan.

Dan lagi, meski porak poranda, kalian berjarak sejengkal dari syurga. Apalah saya.....

Ini maafku yang kesekian kalinya...

Maaf pada persaudaraan yang membiarkan kalian sendiri berdarah-berairmata. Maaf pada sedikitnya yang dapat kami beri sedang kalian melepas nyawa demi tanah suci itu. Maaf pada lemahnya kami dalam julukan negara muslim terbesar di dunia.

Maaf, karena kami hanya mampu mengulang maaf...

____________===

Rabu, 30 Juli 2014

Pamit.

Juli 30, 2014 0 Comments

Nenek,

Ada doa kutitip pada krikil-krikil jalan, sawah yang menghijaukan mata dan langit biru putih di perjalanan pulang ini.

Ketika ringkih tanganmu melepas pamitku, aku janji akan datang. Menguapkan rindumu yang sepi dalam rumah panggung yang berderit oleh angin pedesaan Bone.

Nenek, aku pulang.

•••••••••••


Selasa, 29 Juli 2014

Kapan kita bertengkar, Jan?

Juli 29, 2014 1 Comments

Saya kira, pertemanan adalah selalu tentang 2 laku: pertengkaran dan kasih sayang.

Namun berlalu waktu dalam putaran tahun, saya mengenal teman yang dengannya tidak sekalipun saya bertengkar. Entah karena sejak saling kenal kami tidak begitu dekat, tapi satu hal tentangnya yang mestinya adalah alasan di balik tidak adanya pertengkaran di antara kami : dia selalu bisa menerima apa adanya kita, tanpa lupa mengatakan hal semestinya yang baik bagi kita.

Dan saya belajar untuk itu. :)

Terimakasih untuk persaudaraan ini, Nur Jannah Darwis.
______________________

Rafiah, bone 30 juli 2014.

Dan karena kau selalu memaafkan, sekali lagi, maafkan 5 hari yang berlalu tanpa ucapan di hari spesialmu.

Barakallah fii umruk.  Semoga umur berkah, dilimpahi kebaikan hidup, dan jodoh yang indah. :)
___________________<________¶








Kapan kita bertengkar, Jan? 
^_^

Senin, 28 Juli 2014

The Pink Moment.

Juli 28, 2014 3 Comments

Mungkin ini bukan tulisan penting. Hanya baris-baris kata pengikat kenangan...
____

Semuanya bermula ketika si gadis manis itu duduk di samping kak miftah dalam mobil yang mengangkut rombongan ke bandara menjemput presiden tercinta, Anis Matta.

Sebenarnya, tidak apa-apa (bohong!), tapi di waktu yang sama, saya dengan pasrah duduk numpang di mobil rombongan lain tanpa tahu kalau di mobil sebelah ada apa-apa.... (menghela nafas...)

Dalam perjalanan, ada yang bertanya ke saya, "ophy, knapa di sini? itu tadi kak miftah bawa mobil kosong kursi depan di sampingnya...."

Saya jawab dengan sotta : "na samaki yudi duduk di depan.."

Sampai di bandara..... Sambil menunggu presiden AM datang....

Si gadis manis pecinta pink datang menghampiri dengan wajah mekar ceria...

"kak ooophyy.... di mobil manaki tadi?"

"di mobil ust. darwis sama jannah.."

tanpa bersalah dia nyeletuk bigini...

"wuih, sama mobil ka tadi kak miftah..."

(waduh, perasaan mulai rada tdk enak inii..)

"iya? padahal mauka jg itu ikut di mobil situ, tapi penuhmi kuliat..."  saya jawab sambil tahan-tahan perasaan.

"na tidak penuhji kak ophy, kak miftah bawa mobil trus yudi pindah di mobil lain..." jawabnya, masih dengan wajah ceria.

"jadi kosong itu kursi di samping kak miftah?

"hihihi.... saya duduk di samping kak miftah... " jawabnya bangga.

glekk !!!!

Dan semua akhwat, ibu-ibu, yang saya kenal dan tidak saya kenal tertawa habis melihat muka merah saya yang senyum-senyum tidak jelas menahan air mata....

"aiiiiihhhhhh.... hati-hati ophy, tanda tanda mi itu.."

Saya cuma bisa diam. Dari jauh saya menatap kak miftah yang sedang sibuk mengatur rombongan dengan tatapan seperti adegan sinetron sambil berucap dalam hati...

"hm, begituki nah, pantas tidak na panggilka ke mobilnya, trrnyata duduk sama ainun!!!"
_________

Ya, gadis manis yang suka buat patah hati itu namanya Ainun.

Saya tidak akan lupa, hal semacam bercanda tentang suka pada kak miftah pernah Ainun katakan terang-terangan di hadapan saya. Nyessekk!!

Saya pernah bilang begini : "ainun, Pak Anis matta keren-keren anak lelakinya..."

Dijawabnya entah bercanda, entah apa...

"aih, lebih kusukaji kak miftah..."

Nyut-nyut, puyeng!!!!

Sebenarnya, tipikal macam gadis bernama Ainun mudah dipahami. Dia senang bercanda. Jadi mudah menerima hal hal semisal dia mengatakan suka pada kak miftah tanpa merasa kami sedang rebutan untuk memiliki seseorang. :)

Jadilah, di mana-mana, pada moment dakwah, LT3B, pemilu, Odoj, ngejus di PTB, ataupun agenda2 struktur, saya dan ainun bisa tetap saling mencanda tanpa menyakiti. Kami punya kenangan sendiri...

Apapun yang saya tuliskan ini, kabar baiknya adalah ainun akan segera menikah.... Itu berarti Saya dan kak miftah akan baik baik saja..... Amiiinn.
hahahah, (tertawa merdeka).
__________

Teriring doa tulus, dng siapapun ainun menikah, semoga bahagia. :)

Saya akan selalu rindu canda tawanya.





Ramadhan Tanpa Janji

Juli 28, 2014 0 Comments
Ramadhan Mubarak
Ada yang pergi tanpa janji tuk kembali, beberapa orang tidak peduli tentang itu, sebagian mengemis doa untuk bertemu kembali.

Dan aku, dalam penyesalan yang dalam... tentang Ramadhan yang pergi sebelum habis nista tuk disuci. Selain lapar-haus di siang terik, dan rakaat malam yang berdiri dalam kantuk nan jarang khusyu'.
__________
2 hari setelah Ramadhan.

Rabb, pertemukan kami kembali.

Selasa, 22 Juli 2014

Rindu yang Asing

Juli 22, 2014 0 Comments
Gambar
Malam ini, 01.05. Hati saya dipenuhi rindu yang asing. Seperti rindu pada rumah yang lama ditinggal, seperti rindu pada suatu tempat di suatu waktu. Seperti merindukan satu bagian penting dalam kehidupan saya yang tak sekalipun pernah saya temui. Mungkin semisal rindu seorang anak perempuan pada ayah yang tak pernah dilihatnya.

Rindu yang asing.

Tapi ketika saja saya ingin memakai mukena putih dan bersujud lama pada sajadah coklat itu, saya mengenali rindu ini.

Rindu yang seringkali terbuang oleh sibuk dunia. Saya tahu, sepi malam adalah kehidupan bagi cinta sebuah jiwa pada Rabb-nya. Hanya kali pertama malam ini, rindu itu menguat. Menarik, mendesak, mengiang-ngiang, dan saya pasrah untuk jatuh menghamba sebagai selemah ciptaan. Berkarat dosa nan menghiba ampun.

Saya tahu rindu ini.
Meski ia asing.....................

Senin, 21 Juli 2014

Dengan Caramu.

Juli 21, 2014 0 Comments

Sebenarnya, kau lelaki yang tidak romantis. Selalu lupa tanggal ulang-tahunku juga hari pernikahan kita. Kau juga masih harus belajar banyak tentang memberi kejutan, perempuan suka itu. Tapi, di malam kau terbangun dan menyelimutiku dengan baik, atau saat kau berterimakasih untuk masakanku yang biasa-biasa saja, atau saat kau mengecup keningku yang sedikit basah oleh keringat lelah.... Aku tidak bisa mengelak lagi.

Aku mencintaimu. Dengan caramu. Dengan hatiku.

♥♥♥

Sumber Gambar

Senin, 14 Juli 2014

Aku, Setiaku.

Juli 14, 2014 0 Comments
Tiba waktuku kelak, aku ingin pulang sebagai bidadari. Maka jangan tanyakan setiaku, sebab ia telah sampai pada bilik istana syurga kita kelak.

Kamis, 10 Juli 2014

Fathi Untuk Palestina.

Juli 10, 2014 0 Comments

Fathi :

"Ummi, kalau sudah jadi pesawat tempurku di Jerman, mauka ke Palestina nah..."

Wahai Palestina, sungguh putraku masih amat belia. Maafkan ia tak menggenggam batu mengusir mereka dari tanahmu, tapi di hatinya, telah ada namamu. Di jiwanya ada tekad membebaskanmu. Jika tiba waktunya, Ia akan menjadi putramu jua, kelak.
__________________

12 Ramadhan 1434 H, sesaat setelah mendengar cita kakak fathi .

Rabu, 09 Juli 2014

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi?

Juli 09, 2014 0 Comments



Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita tentang rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yg dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman sehari-hari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak, tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?

Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel, lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuh-tubuh yang terbongkar

Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop dan televisi Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orang-orang di negeriku masih saja mengernyitkan kening;

“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina? Persoalan di negeri sendiri menjulang!” Mereka bersungut-sungut tak suka, Membatu. 
Tak jarang terpengaruh menuduh pejuang kemerdekaan Palestina yang membela tanah air mereka sendiri sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka: Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini

Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!

Kita tak bisa hanya diam menyaksi pagelaran mahanazi, sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna dan bercanda di ruang keluarga

kita tak bisa sekadar menampung pembantaian-pembantain itu dalam batin atau purapura tak peduli
Seorang teman Turki berkata:

"mereka yang membatasi ruang kemanusiaan dengan batas-batas negara, sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab belum tibakah masanya bagi kalian bersatu, membuka hati, berani berhenti mengamini nafsu Amerika yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon, apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu nyata? Sebab tak pernah kami dengar PBB mengutuk dan memberi sanksi pada mahanazi teroris zionis Israel yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban dari wajah dan hati dunia


Apakah kalian, apakah kita tak malu,
Pada para syuhada;

Flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu: menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih, memberi meski sedikit apa yang kita punya dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?
Tentang Palestina yang bersemayam kokoh di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus dari penglihatan dan ingatan, airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

----
#SpiritOfRamadhan
#PrayForGaza


Helvy Tiana Rosa

Minggu, 06 Juli 2014

Mari Kita Menjadi....

Juli 06, 2014 1 Comments

Mari kita menjadi Cinta.
Dipelayaran bahtera ini. Dunia Akhirat.

Mari kita menjadi rumah.
Tempat berdiri peradaban dan generasi dengan doadoa lisan keibuanku, dan prinsipprinsip ke-ayah-anmu.

Mari kita menjadi sepasang janji.
Yang tak khianat. Yang utuh tuk saling melengkapi.

Mari kita menjadi syurga.
Tempat kembali paling dirindu dari lelah waktu

♥♥♥♥♥♥

7 juli kita,
Mengenang hari  Walimatul 'ursy 7 tahun yang lalu.
Saat fajar merekah, 10 Ramadhan 1434

Rabu, 02 Juli 2014

Kampung Halaman Sesungguhnya

Juli 02, 2014 0 Comments

Meski kita dari tanah,  muasal kita adalah syurga. Tempat Bapak-Ibu kita meniti sejenak hari-hari sebelum akhirnya terusir. Ya, Bapak-Ibu kita: Adam dan Hawa.

Maka lahirlah kita dalam keterusiran di bumi ini,  anakanak manusia. Tiap seorang dari kita lahir akan disambut dengki sumpah syaithan agar menemani mereka dilalap apiapi neraka, dosa demi dosa sesungguhnya  bukan agar kita terusir dari syurga,  tapi agar kita tak kembali ke syurga,  tanah kampung halaman kita.

Jadi, sedang apa kita dengan syaitan itu?

Tidakkah terasa olehmu, kadangkala kita tertawa tebahak bersamanya. Sedang para malaikat mendidihkan neraka dengan panas paling murka. Untuk anakanak adam yang merasa indah tentang dosa dan tak dapat memahami bahwa syaitan adalah musuh yang nyata.

Kita tidak tahu,  berapa lama lagi kita dalam pengusiran ini. Bahwa Allah menjadikan kita khalifah  di bumi adalah sebentuk Rahman-RahimNya. Bagaimanapun besar dosa,  Allah selalu rindu taubat kita,  itulah mengapa dijadikan syurga seluas langit dan bumi, tingkat demi tingkat dari penjuru pintupintu amal, untuk menyambut kita dihari ketika Dia telah memanggil hambahambaNya pulang ke kampung halaman sesungguhnya.

Masih adakah kita menjadikan syaitan teman karib dalam perjalanan pulang?

__________________________

Ramadhan 1434 H.
Selepas sahur, memikirkan anakanak Gaza.

Selasa, 17 Juni 2014

Paradoks Hati

Juni 17, 2014 0 Comments


Jangan datang sekarang.

Rindu belum cukup manis untuk luka yang kian asin kau garami. Dan waktu,  belum jua jujur tentang banyak kenangan yang ia curi pada malam-malam dingin dari bawah bantalku, lewat mimpi-mimpi yang menangis tanpa kutahu mengapa.

Jangan datang sekarang.

Bibirku masih saja kelu menggaris senyum,  sementara telah janji dada ini pada diri,  untuk menamparmu dengan senyum paling dendam,  seperti sesak air mata yang kau tumpah di bawah bayang senja saat kau pergi. Dulu.

Jangan datang sekarang.

Masih kurang keriput di wajahku untuk mengatakan padamu bagaimana lama kau pergi dariku. Bagaimana aku menua dalam rasa yang saling berkhianat : rindu dan benci.

Jangan datang sekarang.

Sebab hatiku dipenuhi rindu,  sedang ingin kutemui kau dalam benci yang utuh.
_____________
Rafiah, pukul 00.56

Sabtu, 31 Mei 2014

Namanya Sabariyah

Mei 31, 2014 3 Comments

Bismillahirrahmanirraahim...

Bila tiba dirimu pada tulisan ini, bacalah dengan baik. Carilah bahasa yang lebih indah dari yang bisa kutuliskan, sebab sungguh, ini adalah tentang seseorang yang keindahannya tidak lagi dapat kukata dengan bahasa-bahasa...

***
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, 
“Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)


***

Namanya Sabariyah.

Ia gadis manis dengan alis mata hitam yang bersembunyi malu di balik kaca-matanya. Senyumnya menawan, tidak ada yang akan meragukan itu. Tiap kali melewati kebun satu- tempat ia setiap harinya menghasbiskan paruh waktu dengan sapu lidi dan tong sampah yang hampir seukuran dirinya- aku selalu memilih jalan yang bisa melewatinya dalam jarak dekat, sekedar untuk memberi salam.

Kurang lebih Enam bulan aku menghabiskan pagi di kampus, menerima lembar-lembar hafalan Qur’an santri, kecuali Najwah- yang Alhamdulillah dapat menghafal 7 lembar al-Quran dalam sehari dan Nadwah yang telah khatam menghafal dan sedang muraja’ah 5 juz- aku menemukan kekaguman yang lain, pada seorang gadis cleaning service berusia 16 tahun.
Namanya Sabariyah. Kukatakan sekali lagi, semoga kalian mengingatnya dengan baik.

2  hari lalu, usai menyapu dedaun kering di sekitar Gazebo –rumah-rumahan tempat aku menerima hafalan santri- ia duduk istirahat di dekatku. Ia melempar senyum, dan memperhatikan bagaimana adik-adik santri menghafal ayat-ayat al-Quran. Kami berbicara sebentar sampai ia mengutarakan niatnya untuk ikut menghafal, dan ya, siapa aku sehingga layak menolaknya? Kujawab iya, dan dia tersenyum manis. Sangat manis...

Pagi ini, belum selesai ia dengan sampah daunnya saat ia melihatku datang dan langsung beranjak menghampiriku. Kupikir ia ingin aku men-tahsin bacaannya dahulu sebelum ia menghafal sebagaimana  adik santri lain, kupikir bacaan al-Qurannya masih perlu perbaikan, tapi seketika ia mulai menghafal, aku takjub. Saat kukira ia hanya akan menghafal beberapa ayat saja, aku tertegun ia menghadapkan 2 halaman utuh dengan bacaan yang fasih. Lalu aku menatap sapu yang ia simpan di dekatnya, tiba-tiba saja aku malu pada diriku.

Hingga aku menulis ini, tak henti senyumku. Aku memikirkan bagaimana aku menghafal dulu, sambil mengurus Fathi yang masih berusia 3 bulan, tiap tiga kali sepekan, pada pagi atau sore hari, aku menggendong fathi kecil berjalan menuju kampus, demi menghadapkan beberapa lembar hafalanku. Saat melihat gadis ini menyapu sampah-sampah sambil mengulangi ayat yang akan ia hafal yang telah ditulisnya pada selembar kertas, aku dibakar cemburu. Bagaimana Allah tidak mencintainya?

Namanya Sabariyah. 
Gadis yang mengingatkanku tentang bidadari syurga dari kehidupan bumi.







  Malam, Melepas Mei dengan senyum, 31 Mei 2014.
Rafiah. H