Kamis, 14 November 2019

Memilah-milih Teman.

November 14, 2019 0 Comments



Belakangan ini, saya banyak berpikir tentang pertemanan. Itu karena beberapa hal mulai mengusik prinsip dan ketenangan saya pribadi.

Jadi sebenarnya, saya bukanlah tipe pemilih teman. Bagi saya, semua orang InsyaAllah baik, terlepas dari segala kekurangannya. Toh, semua orang tdk ada yang sempurna. Prinsip saya, kalau dia bukan orang baik, itu bisa jadi lahan dakwah. Nasehat menasehati juga ibadah.

Tapi kemudian, negara Api menyerang...

Saya seperti tembok yang dilempari hujatan karena membentengi seorang teman yang slalu saja jatuh di lubang yang sama. Persoalan yang sama.

Lalu saya mulai mengevaluasi hubungan pertemanan yang ada, apakah selama ini saya kurang memberi nasehat? Ataukah ada faktor karakter yang memang sulit diubah?

Sejujurnya, prilaku paling saya benci dalam pertemanan adalah muka dua. Siapapun tentu tidak suka ini.

Karenanya., betapapun pahit kejujuran saya slalu berusaha menyampaikannya. Terlebih nasehat, tidak semua teman menerima dirinya dikatakan bersalah, apalagi untuk membuka hati menerima nasehat. Untuk resiko menasehati seperti ini, tentunya kadang, harus dibayar dengan kebencian orang lain kepada kita.

Atau ucapan semisal ini : "Helleh, jangan mi nasehati ka, kau juga nda beres jko"...

Saya menasehati bukan juga karena merasa lebih baik,....
Sungguh Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di dalam hati. Terkadang juga saya malu, kalau bukan karena PemurahNya Allah, aib aib saya yang seluas langit dan bumi pastilah membuat saya malu bahkan untuk bertemu dengan manusia lain.

Apa yang saya tulis ini adalah bentuk pelepasan diri saya dari tekanan yang mulai tidak nyaman.

Sepertinya, saya harus lebih banyak istigfar.
Kalaulah niat awal saya untuk membangun hubungan pertemanan untuk sama-sama menjadi lebih baik, namun tidak seperti yg diharapkan, Semoga Allah mengampuni kelalaian saya.

Semoga segala ikhtiar saya tidak menjadi pembenaran untuk menghujat kegagalan saya karena tidak mampu mencegah setiap masalah yang terjadi.

Saya hanya bisa mengambil pelajaran untuk tidak lagi terlibat dalam apapun yang bukan urusan saya.

Meskipun orang-orang dinilai dari siapa dia berteman, tapi saya berlepas diri dari setiap prilaku yang kebal akan nasehat, dari setiap kata yang selalu mencela, dari setiap kemunafikan yang seringkali menusuk dari belakang, dari setiap cerita bohong yang terus diumbar, dari setiap ketulusan palsu, dari setiap penghianatan terhadap kebaikan yang telah diberikan....

Dan dari setiap diri yang terus merasa benar.

🍀🍀🍀🍀🍀
Kamar pink, ketika cara melepas penat terbaik adalah dengan menulis.

Selasa, 02 April 2019

Wanita dan Pekerjaan Yang Nyaman.

April 02, 2019 0 Comments
Ada satu percakapan dengan seorang adik junior suatu kali..

"Kak ophy, pilih mana, kerja di tempat yang gajinya tinggi, atau di tempat yang nyaman di hati tapi gaji biasa saja..."

"Yang nyaman doong." jawab saya mantap

"why? Coz money is not important?"

"yaelah, bukaannn... Uang juga penting tau, tapi rasa nyaman jauhh lebih penting, karena kita seorang perempuan, apalagi seorang Ibu, tempat kerja yang nyaman tidak akan se-melelahkan dari tempat kerja yang dipenuhi ambisi, sikut-menyikut, saling jilat demi pangkat, meskipun gajinya bisa buat kamu keliling bumi."

"Memangnya kenapa kalau seorang Ibu bekerja di tempat yang gajinya tinggi?"

"Ini bukan persoalan gaji tinggi ya dekk, ini soalan rasa nyaman. Jadi begini, wilayah kepemimpanan wanita yang paling utama adalah keluarganya, rumahnya, anak-anaknya.  Lalu kemudian dia bekerja, separuh harinya habis di tempat kerja, kalau tempat kerjanya tidak nyaman, tdk ada rasa kekeluargaan, sikut sana sikut sini, individualis, pekerjaan yang tadinya ringan akan berubah beban berat karena atmosfir tidak nyaman yang ada. Lalu beban kerja itu terbawa ke rumah, coba deehh... Disenggol dikit sama suami atau anak bakalan pecah perang dunia..., trus kalau keluarga berantakan, gaji tinggi apa gunanya?"

Tempat kerja yang nyaman besar skali pengaruhnya bagi rasa bahagia seorang Ibu yang bekerja di luar. Ibu yang bahagia akan menularkan bahagia ke keluarganya bahkan di saat lelah sepulang kerja sekalipun. Sesederhana itu.

Tapi itu kalau kita masih punya opsi atau pilihan, gimana kalau tidak ada pilihan selain tempat kerja itu?

Ya, buat itu nyaman dan menyenangkan.

Seringkali, rasa tidak nyaman itu bukan karena atmosfer tempat kerja, tapi karena kemampuan adaptasi kita yang rendah terhadap lingkungan kerja. Ketidakmampuan kita cair pada karakter yang berbeda-beda di tempat kerja. Mudah baperan, dikit-dikit tersinggung, merasa semua kalimat tertuju untuk menjatuhkannya...

Intinya, bekerjalah di tempat yang nyaman, atau buat dirimu nyaman. Soalan gaji, syukuri seberapapun...

Oh ya, ada satu nasehat bijak tentang gaji, tapi saya lupa baca di mana :

"Jika kamu bekerja dengan kualitas kerja yang di gaji 5 juta misalnya, tapi kamu hanya menerima gaji 2 juta, maka Allah Swt akan cukupkan sisanya dengan rezeki yang lain, tapi jika kamu menerima gaji 5 juta dan kualitas kerjamu hanya patut mendapat gaji 2 juta, maka lihat saja... Gajimu akan habis pada hal-hal semacam ditimpa penyakit atau musibah lainnya."

Lagi pula, besarnya gaji tidak selalu membuktikan kapasitas seseorang, kualitas kerjanyalah yang membuat seseorang punya nilai di mata orang lain.

Jadi, mulai sekarang bekerja dengan kualitas ya, buat diri nyaman, niatkan kerja karena ibadah.

🌷🌷🌷🌷


Tulisan ini dibuat untuk jadi pengingat diri, semoga setiap lelah berakhir berkah.

Selasa, 26 Maret 2019

Potensi Kita Berbeda, nak.

Maret 26, 2019 0 Comments
Salah seorang teman kakak Fathi menjadi juara dalam sebuah Olimpiade.
Sepulang sekolah, ia menceritakannya dengan semangat.

Matanya berbinar, mewakiki banyak rasa kagum yang tak dapat dibahasakannya. Saat itu, kami berdua sedang di dapur, sambil menggoreng ikan saya menyimak dia bercerita.

"Ummi, saya bisa juga begitu?" Tanyanya, mencurigai diri tidak mampu sekaligus berharap untuk mampu.

"InsyaAllah, Kita bisa lebih dari itu nak..., 
Tapi sini dulu.. Kita bicara hal penting.... "
Saya berhenti menggoreng ikan. Lalu kami duduk berhadapan, ini adalah posisi di mana Kakak Fathi tahu akan ada pembahasan penting yang harus ia cerna dan pahami dengan baik.

"Begini nak, Allah Swt memberi tiap
manusia potensi dalam dirinya, tahu potensi? Semacam bakat, kemampuan, kecenderungan. Misalnya Kakak Fathi punya potensi main bola, Adek Rangga punya potensi berdagang, dan Adek Ayyash.... Mmmm... Potensi adek ayyash apa ya?" 

"Minta uang jajan" jawabnya spontan sambil tertawa.

"Bukan, Minta uang itu bukan potensi, itu kebiasaan..." jawab saya ikut tertawa. 

"Nah, Karena potensi tiap orang berbeda, maka mereka akan sukses dengan cara berbeda sesuai dengan potensinya. Kakak Tidak perlu mengejar kesuksesan seperti yang dicapai orang lain, karena itu akan sangat melelahkan. Kakak cukup bekerja keras terhadap potensi yg kakak miliki, dan mengerjakan semua itu dengan senang hati. Bukan karena ingin seperti orang lain, tapi karena Kakak bahagia dengan potensi yg telah Allah karuniakan dalam diri kakak"

Kakak Fathi Menyimak.

"Hari ini, teman Kakak Fathi sukses di Olimpiade, mungkin besok Kakak Fathi Sukses Menjadi pemain bola"

"Jadi, jika orang lain sukses, berhasil, kita bersyukur untuk mereka dan ikut senang. Tapi tidak boleh menjadikan diri rendah. Kakak Fathi mungkin tidak bisa ikut Olimpiade, Tapi Kakak  punya potensi lain yang bisa membuat kakak sukses juga."

Fathi mengangguk. Saya mulai masuk pada pembicaraan prinsip.
"Nah, nak.... Pada dasarnya, semua orang punya potensi. Tapi sebaik-baik potensi adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Bukan untuk sekedar dibanggakan saja."

"Contohnya?"

Contohnya, Suatu hari Kakak fathi sukses jadi pemain bola, apa manfaat yg kakak fathi berikan pada orang lain dengan kesuksesan itu?

"Mmm... Bersedekah ummi, pemain bola dapat gaji toh? Bisa dipakai bersedekah..."
"MasyaAllah, Tabarakallah."

Jadi seperti itu ya nak. Kita boleh kagum pada kesuksesan orang lain, tapi ingat.... Diri kita juga dapat sukses dengan potensi yg Allah berikan. Tidak semua kesuksesan yang orang lain capai bisa kita capai. Jalan kita berbeda, kecenderungan kita berbeda, keinginan kita berbeda, jadi cukup kenali apa yg kakak suka, potensi kakak apa, dan mulailah berusaha dengan itu.

Intinya, potensi apapun yang kita miliki, tujuannya adalah bermanfaat untuk orang lain. Banyak orang punya potensi, sukses, namun mati tinggal nama. Karena Ia tidak mewariskan kebaikan dari potensi yang dimilikinya.

Fathi mengangguk.
Wallahu A'lam Bishshawab.
Salam Rindu Untuk Abi. Doakan saya jadi Ibu yang baik untuk generasi kita.珞
Rafiah Um Fathi


Seribu Tawa di Polman

Maret 26, 2019 0 Comments
Karena wanita butuh waktu bersama teman-temannya, ... Hamdalah, liburan RJ ini pun terwujud.
Polman, durian, langsat, pinrang, palekko, sungai, laut, dan tawa.

Menunggu mobil jemputan.. Muka bengkak semua, masih subuhhh sdh siap mau berangkat..

Bismillah, perjalanan dimulai..

Berteduh makan bekal siang di Pare-pare. 


berfoto sekaliannn..




seriusss panen durian ^_^

yeahhh... kapurung di puncak bukit



















silaturrahim ke Kak Tima sayangg



Alhmdulillah untuk moment tak terlupakan ini.