Sabtu, 02 September 2017

Air Mata Rangga

September 02, 2017 0 Comments
Belum lewat semalam, dan ada yang tidak bisa menyembunyikan rindunya. Air matanya tumpah, isaknya terdengar sesak. 

Dulu, setiap kali ditinggal lama sama Abi, hanya saya yang melankolis seperti itu ;  malam uring-uringan tidak bisa tidur, ambil baju kaosnya yang masih bersisa aroma badannya untuk teman tidur, dan setiap menit menengok hp kalau-kalau si Abi mengirim pesan, biar cuman tulisan singkat : "bagaimana kabar de ?" 

Tapi, sifat melankolis itu ternyata menurun pada Rangga. Malam ini sebelum tidur ia menangis sesegukan sambil memeluk bantal gulingnya, alasannya ; "rindu sama Abi"....  dan saya ikut menangis bersamanya. 

Rindu dan air mata adalah sepasang bagi saya. Mungkin juga bagi Rangga. Jika kami rindu, selalu butuh air mata untuk melepasnya. Maka rasanya, kata-kata Ayyash termasuk diskriminasi sifat melankolis kami saat dia nyeletuk santai melihat Saya dan Rangga saling berpelukan dengan berurai air mata karena rindu sama Abi, katanya ; "kenapaki menangis? Saya juga rinduja sama Abi tapi tidak menangisja.... nda cengeng ja... " ucapnya santai sambil main game hp. 

Hikz hikz hikz............... apalahhhhhh nakk, ini bukan cengeng.... ini rinduuuuu....  😢😢😢😢😢😢😢😢😢

----------------------------

Setelah itu, Rangga tertidur di samping saya usai menangis. Tangannya masih memegang tissue, rasanya ini salah satu bagian terbaik saya bersama Rangga dalam hal berbagi perasaan. Untuk beberapa saat, saya menyadari bahwa anak-anak kita punya wilayah perasaan yang berbeda. Kakak fathi menutupi rindunya cukup dengan bertanya banyak hal tentang Abi, Rangga melepas rindunya dengan air mata, dan ayyash......  hhhh.... sepertinya bermain game sambil menahan rindu adalah cara yang keren untuknya. 😅😅😅

InsyaAllah, semua perasaan rindu ini bermuara pada kebaikan-kebaikan Abi yang melekat dalam hati mereka, pun hati saya.



Rangga dan rindu yang dibawa tidur. 


Larut malam, 2 september 2017.
dan saya, melepas rindu dengan menulis ini.


Jumat, 01 September 2017

Menerjemahkan Takdir.

September 01, 2017 0 Comments
Jika Allah menjawab doamu dengan ujian yang lain, mungkin sabar dan tabahmu adalah tujuannya, tapi kadang, itu semua bermuara pada dosa-dosa masa lalu, yang akan Allah putihkan.
***** 

_________Ini tentang kehamilan keempat yang sangat indah. Sangat sangat indah. Saya mendapatkannya usai kuliah martikulasi s2. Meski tidak direncanakan, tapi saya mensyukurinya, suami pun tidak kalah bahagianya. 

Usia 4 bulan kehamilan, dalam mimpi saya seorang ibu datang menyapa, entah siapa, ia hanya memberi nama. Katanya ; "beri anakmu nama Azhimah". Saat terbangun, saya tiba-tiba merasa bahagia. Firasat bahwa bayi dalam kandungan adalah bayi perempuan mulai muncul. Hm, dan itu membuat hari-hari kehamilan itu semakin berwarna.

14 Agustus 2017.

Itu lewat seminggu dari HPL. Saat berada di ruang operasi, dalam gigil dingin dan takut yang bercampur, saya pasrahkan semuanya. Doa-doa panjang, dan prasangka baik yang kucoba agar tak noda sedikitpun oleh bisikan2 syaitan, bahwa Allah Maha Mengatur. Segala pemberiannya adalah yang terbaik.

12.20.

Bayi Azhimah lahir. Tanpa tangisan. Tapi begitu ia dibawa keruang tindakan, suara tangisannya terdengar nyaring. Ah, saya mulai merindukannya lagi. Suara tangisan itu saban hari terngiang di kepala saya, dan berubah rindu yang menyesakkan. 

Bidan mendekatkannya pada saya, dan saya menciumnya. Singkat. Tapi dari singkatnya ciuman pertama dan terakhir pada bayi azhimah, hingga kapanpun, tidak akan hilang dari ingatan saya wajah kecil yang kebiruan itu, ia menangis sesegukan. Ah nak, ingin sekali kuulang saat itu. Mengapa tak kuciumi dirimu lama, ... mengapa hanya sebentar saja...

13.10.

Bayi azhimah dirujuk ke Rs. Wahidin bersama Abi. Sedang saya masih terbaring di ruang setelah operasi. Bidan mengatakan bayinya dirujuk, katanya insyaAllah semuanya baik-baik saja. Ada kelainan dan masalah pernafasan. Ia meminta saya berdoa saja, saya kembali berdoa, doa paling pasrah yang pernah saya pinta. Rabb.... berilah hamba yang terbaik, hamba terima segalanya. 

14.25.

Bapak menelfon dari Rs Wahidin. Ia meminta saya untuk bertawakkal. Penanganan terbaik sudah diusahakan para dokter. Bapak hanya ingin saya bersiap untuk semua kemungkinan. Ya Rabb.... air mata mulai luruh. Saya meraba perut tempat bayi Azhimah menghabiskan 41 minggu yang indah. Tiba-tiba saya dicekik kerinduan padanya saat saya mengingat masa kehamilan ketika meraba perut dan mendapatkan tonjolan kepalanya di sana. Saat saya merasakan detak jantungnya, tendangan-tendangan lembutnya, gerakan-gerakan kecilnya, saya mulai merindukan semua moment itu. Apakah waktu yang saya miliki dan bayi itu hanya 41 minggu kehamilan dan ia dalam  rahim saja? Ya Rabb.... afrig'alaynaa shabran.... afrig'alaynaa shabran... 

14.45.

Kata bapak itu waktu kematian yang dicatat dokter. Abi bersama rombongan kembali ke rs.Auri untuk memberi saya kesempatan mencium tubuh dingin bayi Azhimah. Rabb.... jangan biarkan hati hamba sedikitpun marah pada ketetapanMu. Ikhlaskan hati hamba ya Rabb... kuatkan hamba.... hanya itu kalimat yang berulang-ulang saya katakan dalam hati sambil menciumi bayi azhimah yang telah pucat. Abi mencium kening saya dengan air mata yang tumpah. "Semua pemberian Allah de, Allah berhak ambil kapanpun..." bisiknya lembut. Ah nak..... insyaAllah di syurga, insyaAllah di sana kita berkumpul. Tunggu Ummi dan Abi ya .... Hati saya berbisik di antara perasaan remuk dan air mata yang tak henti. 

Allahumma afrig'alaynaa shabran...



Hari ini. 2 minggu 5 hari setelah kepergiannya. 

Untuk pertama kali, saya meraba luka bekas secar di perut. Luka yang membuat kenangan dan ingatan tentang bayi azimah akan selalu hidup dalam diri saya. Luka yang akan membuat saya percaya bahwa Allah mengijabah doa-doa saya agar diberi anak perempuan shalihah meski disaat yang sama ia menjadikannya ujian yang berat. Luka yang akan membuat saya selalu mensyukuri apapun yang ada di sisi saya sekarang : suami yang selalu ada mendampingi hari-hari panjang ke depan, dan 3  mujahid penyejuk hati. Luka yang membuat saya lebih mendekatkan diri pada Allah, dan selalu percaya bahwa ketetapanNya adalah yang terbaik.

Hari ini, saya menerjemahkan takdir. Meski dengan luka, air mata, kehilangan, dan rasa sesak, takdir apapun, adalah pemberian Allah yang terbaik. Butuh hati yang lapang dan ikhlas untuk membacanya sebagai tanda cinta dari Allah Kariimm.

____________

Ditulis penuh rindu padanya. 
Azimah Nurulhafidzah. 
Abi dan Ummi. Hamil ade Azhimah 8 bulan. 

Ahlan waSahlan fi hayatinaa,...
Azhimah Nurulhafidzah.
InsyaAllah, kita berkumpul di syurgNya.



Minggu, 04 Juni 2017

Luka Pada Sore

Juni 04, 2017 0 Comments


Biar kusederhanakan sebab-sebab airmata luruh
Yang tersapu angin sore yang sepi
Mungkin hanya aku yang tahu, pada siapa luka membuat janji
Ah, bukan.
Kau juga tahu, meski kau tidak sepeduli aku
Tentang  siapa yang suci jadi saksi dari perih
Air matakah….
Lukakah…

Jika sore datang, mampirlah di teras rumah yang bunganya mulai patah pada pucuk
Tanyakan saja berapa banyak kisah yang ia minum dari bulir mata yang menetes di pucuknya
Turun membasah di tanah keringnya

Jika sore datang…
Carilah air mata pada angin.
Pada dirimu yang tidak selalu bening.

Menyesap Karma

Juni 04, 2017 0 Comments

Sumber Gambar

Di titik ini, biar kusesap bulir karma yang nanah darah
Dari begitu banyak koyak luka di masa-masa dulu itu
Bukankah sudah janji Tuhan, akan datang hari peluh seperti ini…

Di titik ini,
Biar kulihat nasib bekerja di sisian takdir
Tak kulawan
Tak kuhindar
Timpa aku, dan selesaikan semuanya.

Kamis, 25 Mei 2017

Di Sini Saja.

Mei 25, 2017 0 Comments

Hari ini, nama dan fotomu ada di mana-mana,..
Biarlah saya bersedih di sini saja, tempat kita saling berbagi banyak hal dalam kata.  Tempat kita saling mencari tulisan kemudian mengaguminya bersama.

Iis.
Terima kasih untuk semua kebaikan.

Saya masih saja sering membuka blog-mu, mencari tulisanmu yang berserak di antara nama-nama musim.  Mengagumi cara pandangmu terhadap sesuatu, menyukai bahasa kehidupan yang kau terjemahkan dari riak kenyataan.
Sementara kau seringkali memuji tulisan sederhanaku, apalah saya ini de…

Di suatu hari yang tak lagi terikat waktu, semoga Allah mengizinkan kita bertemu kembali, mungkin di atas dipan syurga, atau di beranda belakang istanamu, saat yang sama ketika suatu kali sepulang kuliah dan kita berjalan bersama berbicara banyak hal, apa saja….  Dan yang tersisa dari jenak waktu ternyata tetaplah senyummu yang purna.

Iis.
Bahkan setelah kematian, perjalanan tetaplah jauh.  Semoga senyummu tetap ada di sana. Sejauh waktu, sampai kita bertemu kembali.  







 Selamat jalan de,


semoga di KeharibaanNya, ada cinta yang penuh untukmu.

Minggu, 19 Februari 2017

Bertetangga

Februari 19, 2017 1 Comments
Sumber gambar

Saya sedang menggoreng ikan mairo yang dibalur tepung dan bumbu dasar bawang putih, merah, merica dan garam saat ingatan saya pulang pada tahun 1990-an ketika saya masih kanak-kanak. 

Ikan yang diolah seperti ini, -dulu ketika masih kanak saya sebut "ikan kambing-kambing" yang kemudian ketika saya telah menjadi ibu berganti nama menjadi ikan krispy biar anak-anak tertarik makannya,-  adalah ikan yang paling sering membuat saya bolak-balik membagikannya ke rumah tetangga. Bapak adalah seorang pecinta ikan, di hari-hari tertentu ia berpagi-pagi ke tempat pelelangan ikan, membeli banyak ikan, Mama mengolahnya dan kemudian memerintahkan saya, anaknya yang telah dipercaya tidak akan ceroboh menumpahkan ikan itu di jalan ketika mengantarnya ke tetangga. 

Jadilah saya saat itu kurir jasa pengantar. Ikan goreng, ikan masak, sayur bening, sayur santan, tempe, tahu, bassang, bubur kacang ijo,kolak,pisang goreng, ubi goreng, kapurung, barobbo... apa yang mama masak diantar ke tetangga, apa yang tetangga masak, saya antar ke rumah. Apa yang kami makan, tetangga juga makan. Apa yang tetangga makan, juga kami makan. Terkadang saat sedang bermain di pekarangan dengan anak -anak sekitar, ibu tetangga melongok dari jendela dapurnya.... 

"Rafiaaaaahhh.... lagi masak sayurka' ini nak, ke sini ki sebentar ambil sayur nah, bawakan mama ta'..."

Wuihh. Bahkan sebelum  sayur masak, saya sudah dikapling antar makanan..

Di masa itu juga, tetangga benar-benar jadi keluarga. Mama yang habis lahiran baru pulang dari rumah sakit bersalin, sudah dinanti sama tetangga di rumah. Mau apa? Tetangga itu membersihkan rumah saya dengan suka cita, seprei kamar diganti, ngepel, bahkan cucian kotor mama dari rumah sakit mereka cuci. 

Tetangga yang lain menyusul datang dengan membawa ikan dan sayur yang siap santap, kalau mengingat semuanya sekarang ini... masyaAllah, masa-masa itu indaaaahhh sekalii.

Sejak saya masih kecil, Mama sudah ngisi pengajian di mana-mana, kita anaknya yang sudah agak besar kadang ditinggal di rumah main sama anak anak tetangga. Pas waktu makan tiba, ibu-ibu tetangga yang memanggil anak mereka pulang untuk makan juga sering memanggil saya bersaudara yang ditinggal pergi pengajian sama Mama. Waktu itu, makan di rumah tetangga, seperti makan di rumah sendiri. 

Allahumma ya Allah...

Bagaimanapun, kebaikan yang Mama ajarkan pada kami adalah amal jariyah bagi beliau sekarang di alam sana. Nilai kebaikan yang dulu mama ajarkan tentang bertetangga harus tetap hidup meski di tengah krisis bertetangga saat ini yang membuat jarak bahkan lebih tinggi dari pagar rumah tetangga itu sendiri.

Semoga Allah melindungi kami dari keimanan yang ditolak karena menyakiti tetangga, dengan lisan dan prilaku, juga dari membiarkan mereka lapar saat perut kami kenyang.

Sabtu, 18 Februari 2017

Yang ke-Empat

Februari 18, 2017 1 Comments
Sudah pukul 00.00 ...

Mata belum bisa merem. Efek susah tidur karena tidak ketemu posisi nyaman buat tidur. Alhmdulillah, Allah ngasih rezeki lagi buat hamil anak keEmpat. Moga sehat ... moga juga kali ini si sholihah..

Saya sering mengingat-ingat dan membandingkan kondisi hamil anak pertama, kedua, dan ketiga... kok kehamilan yang keempat ini rada berat ya. Baru juga jalan 3 bulan, sudah berasa payahnya. 😵

Waktu hamil pertama, si kakak fathi, alhmdulillah.. anteng bawaanya.  Mual tidak, morning sick jarang, makan lancarrrr... yang kedua si kakak rangga juga demikian, pas yang ketiga si ayyash baru merasakan yang namanya mual berat. Itupun lewat trimester pertama sudah aman. 

Tapi yang keempat ini, masyaAllah... 
Lidah bawaannya pahiiitttt, tidak mual juga, masih bisa masak di dapur cuma jarang mau makan buatan sendiri, sering ngantuk, duduk bentar punggung pegal, berdiri bentar nungguin lauk yang digoreng juga kaki sudah keram. Bawaannya pengen bariiiing cantippp terus.. nempel sama si guling. Jadi jatuh cinta saja lihat Abi bolak-balik dapur masak, mencuci,dan menjemur. 😙😙😙

Oh ya apa kabar bunga-bungaku di teras dan halaman ya?  Belakangan jarang disiram, selalu ngandalin hujan yang turun sekali-kali..

yah, bagaimanapun payahnya kehamilan yang keempat ini, insyaAllah dijalani dengan syukur dan tawakkal saja. Kakak sepupu saya yang sudah punya 6 anak cerita kalau umur dan kehamilan juga berpengaruh besar. Beda katanya hamil anak pertama sama anak keenam... pokoknya makin kesini, kehamilan makin payah. Ya Allah.

Prediksi persalinan tanggal 8/8/2017, kurang lebih 6 bulan lagi. Tapi sudah gatal mau beli stelan sama perlengkapan bayi lagi.. 😁😁😁 ini termasuk hal paling menyenangkan selama proses kehamilan. Berburu pelengkapan bayi...

Alhmdulillah ala kulli hal... tidak boleh banyak ngeluh, ini jihad seorang perempuan. Peluk cium Abi yang sudah banyak meringankan kerja-kerja rumah, rajin mijit-mijit punggung yang selalu pegal, rutin buatkan susu,dan banyakkkk lagi. Sebaik balasan dari Allah Azzawajall ya sayang... 

*Kangen nulis di ruang tengah ini saja... makanya mampir dan curhat dikit.... 
Kebersamaan ini  sampai di syurga insyaAllah...