Sabtu, 19 Mei 2018

Kemungkinan Takdir.

Mei 19, 2018 0 Comments

SG : Pinterest

Saya kadang-kadang merasakan nyeri di bekas jahitan sesar kelahiran adik Azhimah. Rasa nyeri itu hadir bersamaan rindu yang teramat sesak. Nyeri dan rindu itu selalu memulangkan saya pada mimpi-mimpi yang hadir di malam-malam saya selama menanti hari lahirnya.

Acondroplasia. Begitulah dokter kandungan menyebut jenis kelainan genetic yang dilihatnya saat saya melakukan periksaan USG di kehamilan 7 bulan. Katanya, “ini adalah bawaan genetic”, saya menyanggah bahwa dalam gen keturunan saya dan suami tidak ada genetic seperti itu. Saya juga menanyakan kemungkinan dari makanan atau hal lainnya, tapi dokter menjawab, satu-satunya alasan adalah bawaan genetic.

Saya pulang dengan hati yang tak ubahnya ranting patah. Saat itu, saya menjalani USG tanpa didampingi suami, saya terus saja menangis dan mencoba menguatkan diri saya untuk menceritakan hasil pemeriksaan ini pada suami. Malam itu, sesampainya di rumah, suami langsung menanyakan tentang bayi dalam perut dan saya menjawab tegar –awalnya-, tapi tak lama air mata saya tumpah. Ia mengambil foto hasil USG dari tangan saya yang lemah dan mencium foto itu lembut, lalu mengelus perut saya dan juga menciumnya. “apapun itu de, ini anak kita, kita besarkan sama-sama.” Saya lega mendengar kalimat sederhana itu, tapi rasa sedih tetap saja tidak berkurang.

Hari-hari selanjutnya, saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa, saya membaca ayat-ayat ruqyah pada sebotol air minum dan meminum sambil mengusapkan air itu ke perut saya. Saya tidak lagi berani USG, alih-alih rasa tawakkal saya semakin kuat. Kadang-kadang, saat sendiri, saya duduk tenang dan berbicara pada bayi di perut saya tentang bagaimana saya akan membesarkannya. saya berjanji untuk membuatnya berarti, membuat hidupnya tidak kalah bahagia dengan kehidupan orang-orang dengan kondisi normal, orang-orang mungkin akan melihatnya cacat tapi saya mengatakan itu tidak mengapa jika di mata Allah SWt dan penduduk langit dia adalah hamba yang Taqwa. Saya berbicara padanya dengan keyakinan utuh bahwa dia menyimak.      

Saya mulai lebih menerima. Ketika saya memikirkan kemungkinan karir saya ke depan –tepatnya impian-impian saya- dengan harus membesarkan anak yang kemungkinan besar akan lahir cacat, saya kemudian mengatur ulang semua rencana hidup saya. Saya perlahan mulai menyimpan impian-impian saya dalam kotak kosong di sudut hati saya dan berjanji untuk tabah menguncinya dan tidak membukanya lagi.

Saya kemudian mulai berpikir untuk menjadi “perempuan rumah” yang akan mengasuh bayi kecil itu sepenuhnya. Saya menghibur diri saya, bahwa saya bisa punya lebih banyak waktu untuk menulis novel, atau puisi, atau apa saja. Juga, lebih banyak waktu untuk duduk menekuri senja dan mengingat hakikat duniawi dan kehidupan haqiqi akhirat. Saya pasrah dalam hati yang perlahan lapang.

Lalu di kehamilan Sembilan bulan, mimpi-mimpi itu datang. Saya berulang kali mimpi akan melahirkan dan ternyata baju-baju dan perlengkapan bayi saya belum siap. Dalam mimpi itu, saya memegangi perut saya yang buncit dan bergegas ke toko perlengkapan bayi untuk membeli baju-baju mungil, tetapi kemudian saya terbangun.

Awalnya, saya berpikir itu mimpi yang biasa saja, meskipun pada akhirnya saya ke toko perlengkapan bayi dan melengkapi semua kebutuhan itu. Tapi ketika mimpi itu terulang lagi dan lagi, saya mulai curiga. Semacam firasat aneh, saya berpikir akan ada yang tidak beres dalam proses persalinan nanti.   

Saya kembali memanjangkan sujud-sujud saya, doa-doa saya rapal siang malam. Keputusan dokter untuk melakukan operasi sesar membuat saya merasa lebih dekat dengan kematian, mungkin saja mimpi ketidak-siapan itu adalah untuk diri saya agar lebih bersiap.

Pada akhirnya, ketika bayi Azhimah meninggal sesaat setelah lahir, saya tahu mimpi-mimpi itu untuk membuat saya memahami arti kata siap.

Ketika saya siap hamil, saya tidak siap untuk mengandung bayi dengan status Acondroplasia, tapi ketika saya siap dengan semua itu, Allah SWt malah mengambilnya dengan begitu cepat.

Apa yang ingin saya tuliskan sesungguhnya adalah :bahwa siap tidak siap, takdir selalu datang tepat pada garis yang tertulis di Lauh Mahfudz. Takdir tidak pernah menunggu kesiapan kita, tapi menuntut penerimaan kita yang utuh padanya. Bahkan ketika kita telah demikian siap menghadapi sesuatu itu, takdir malah berbelok ke arah yang tidak terduga, lagi-lagi kesiapan penerimaan kita diuji.

Kehidupan akan selalu seperti itu. Saya meyakinkan diri, bahwa kematian bayi Azhimah adalah proses pendidikan paling hebat yang Allah karuniakan untuk saya dan suami. Hari ini, ketika saya menuliskan ini dengan hati perih, satu pelajaran tentang hidup telah tertancap dalam dan menjadi-akar-akar keyakinan. Esok, seterjal apapun jalan hidup, satu-satunya yang harus saya siapkan adalah kesiapan itu sendiri. Kesiapan untuk menerima kehendak Allah SWt dalam prasangka terbaik tentang ke-Maha Pengasih-Nya pada hamba-hambaNya, Kesiapan untuk menerima takdir dengan ikhtiar, dan kesiapan untuk berlapang dada pada kenyataan.

Sebab seperti saat persalinan, ketika masing-masing kita mendorong diri untuk keluar dari rahim, saat itulah sesungguhnya kita telah siap untuk semua kemungkinan takdir yang akan kita jalani.

Allahu Musta’an.

Rabu, 14 Maret 2018

Pakaian Koyak

Maret 14, 2018 0 Comments
SG : Pinterest


Dulunya, saya pikir tidak apa-apa menandai pasangan di media sosial seperti Facebook. Lumrahlah itu, banyak orang senang melakukannya, terlihat romantis dan kompak.

Sampai saya akhirnya tiba di suatu moment ketika melihat salah satu akun teman menandai suaminya dengan video ceramah dan artikel bertema ; nafkah, kecenderungan suami pada ibunya sehingga tidak adil, dan lainnya.

Entah mengapa, terbesit begitu saja dipikiran saya tentang ; Mungkin si suaminya kurang memberi nafkah…. Mungkin suaminya tidak adil dalam bersikap antara ibunya dan istrinya.

Pikiran seperti itu terbesit begitu saja saat di kesempatan lain, saya melihat akun suami teman menandai istrinya dengan artikel semacam cara merawat tubuh. Yeah… jangan ditanya apa yang saya pikirkan, jelas sekali rasanya si suami teman itu sedang mengatakan lewat postingan yang menandai istrinya : “Gini kek, jangan kayak upik abu mulu… “

Entah saya saja, ataukah ada orang lain yang berpikiran sama dengan saya, tapi sejak menemukan perasaan dan pikiran seperti itu, saya merenung. Betapa sangat mudah bagi kita membuka aib-aib pasangan kita hanya dengan menggerakkan jemari kita menshare status, artikel, bahkan video ceramah pada pasangan kita, yang sebenarnya secara halus (bisa saja) mengoyak perasaan pasangan. Menjatuhkan wibawa dan harga diri pasangan.

Beberapa orang bisa saja melihatnya sebagai sebuah romantisme, tapi sebagian lainnya bisa juga melihatnya sebagai sebuah penampakan aib yang terselubung.

Bagaimanapun, masing-masing kita adalah pakaian bagi pasangan kita. Jangan sampai kita menjadi “pakaian koyak” yang menampakkan kekurangan pasangan karena kurang bijak dalam hal menandai pasangan di media sosial.

Tahu kan ‘Pakaian koyak”? itu tuh… yang biasanya jadi cadangan buat bersihkan kotoran di lantai. Tidak ada orang yang menyimpan pakaian koyak di tempat yang terhormat. Jadi jika pasangan mulai tidak menghormati,  menghargai, dan peduli pada kita, jangan-jangan kita telah menjadi “pakaian koyak” itu tanpa kita sadari. 

Salam.
Larut Malam, nasyid dan halaman terakhir tesis. 15 Maret 2018.

Minggu, 25 Februari 2018

Hari Baik di Kafe Bukit Rammang-Rammang

Februari 25, 2018 0 Comments
First Time


Hamdalah untuk hari yang baik ini.

Ini pengalaman kedua menjadi pembicara dan membawakan materi workshop. Pertama kalinya seingat saya tahun 2012, saya menjadi pemateri seminar di hadapan mahasiswa s1 Yapim  Maros. Waktu itu tema seminar "Membangun Cinta" harusnya dibawakan oleh suami, tapi dia ngelesssss katanya saya saja yang bawakan materi, lebih sepadan, lebih ngena, lebih dan lebih lain... , padahal itu modus karena jika dia bicara cinta akan terasa seperti kumur-kumur air garam. đŸ˜‚đŸ˜‚đŸ˜‚

Alhamdulillah, workshop dengan tema "Remaja Muslimah Mandiri" di Rammang-rammang hari ini, berjalan asyik dan lancar. Mungkin karena audiensnya dari kalangan remaja jadi tidak begitu keki, seperti bicara depan mahasiswa yang lebih kritis cara berpikirnya. Lokasi workshopnya juga keren, di kafe bukit dengan alam terbuka, kiri kanan depan belakang pemandangan hutan batu Rammang-rammang.... MasyaAllah. 

Saya sengaja membawa serta semua anak-anak di moment ini, InsyaAllah mereka bisa lihat Umminya dari sudut pandang yang berbeda. Ummi yang biasanya suka ngomel di rumah, kadang mau makan disuruh ngambil sendiri, pakaian kotor harus ada di keranjang jangan digantungan, kamar harus bersih sebelum pergi sekolah, de el el... 

Hari ini mereka lihat Ummi bicara tentang kemandirian, meskipun cuma duduk di belakang bersama Abi, tapi saya yakin anak-anak mendengar semua yang saya bicarakan di hadapan kakak - kakak remaja itu.  

Bahwa apa yang dilakukan Ummi di rumah dalam menerapkan disiplin dan kemandirian itu, adalah bekal apa yang akan Ummi bagi di luar rumah. Karena sungguh, sulit sekali berbicara tentang sesuatu yang kita masih jauuuhhhhhhh darinya. 


Alasan lain membawa anak-anak dalam kesempatan seperti ini agar mereka punya gambaran tentang apa yang dilakukan Ummi di luar rumah ketika kadang-kadang mereka harus ditinggal dan tidak boleh ikut. Gambaran sederhana tentang kegiatan ini bisa membuat mereka lebih lapang dada saat ditinggal, mereka tahu Umminya tidak sedang keluyuran dan meninggalkan anak-anaknya di rumah dengan tega.

Selain materi tentang kemandirian, kegitan ini juga dirangkaikan dengan pelatihan skill pembuatan bros dari pita. MasyaAllah, anak-anak remajanya pada kreatif semua, jadi meskipun saya ngajarnya cuma dasar saja, mereka bisa berkreasi memadukan pita-pitanya. Hasilnya cantippp. 

Ala kulli hal, terima kasih buat Ade azizah yang memilih saya untuk kegiatan spesial ini, terima kasih juga untuk Suami yang sudah banyak repot untuk saya mulai dari menemani saya begadang persiapkan materi sampai ikut terlibat menjaga anak-anak selama saya berkegiatan. Terima kasih untuk semua doa dan dukungan dari teman-teman semua. 


Ini beberapa kenangan yang bisa saya bagi di sini : 







Hasil pelatihan singkat pembutan bros dari pita : 






Pembagian sertifikat dan foto bersama

Dan Kami... 




Jumat, 09 Februari 2018

Pendidikan Mahal dan Harga Moral yang Hilang.

Februari 09, 2018 1 Comments
Sumber Gambar : SPIDI

Saya seorang Guru di sebuah sekolah berbasis Islamic Boarding School, Sekolah yang juga tempat saya menempuh pendidikan Tsanawiyah/SMP dan Aliyah/SMA.

Di sekolah ini, saya telah mengahbiskan 3 tahun pengabdian sebagai Pembina Program Tahfidzul Quran sejak  tahun 2013-2015, lalu di tahun 2016 hingga sekarang saya mengabdikan diri di kelas regular dengan mata pelajaran Bahasa Arab dan PAI.

Tulisan saya kali ini hanyalah remah kecil dari persoalan dunia pendidikan yang… MasyaAllah. Tulisan ini juga adalah respon dari begitu banyak pertanyaan tentang Sekolah Islam yang mulai memasang harga tinggi.

Belakangan ini, di banyak tempat, sekolah-sekolah Islam mengalami transformasi yang luar biasa. Para cendikia Islam melakukan banyak renovasi dalam bidang pendidikan, secara garis besar tujuan utama meraka adalah merubah paradigma pendidikan islam (yang dalam hal ini pesantren) sebagai sebuah tempat pelaksanaan pendidikan yang tradisional, kumuh, dan terbelakang menjadi sebuah lembaga pendidikan yang  maju, modern, dan layak menjadi pilihan utama (bukan lagi altenatif).
Timbal-baliknya adalah : Sekolah Islam Terpadu, Islamic Full Day,  dan Islamic Boarding School atau apapun namanya,  mendapat kesan sebagai   sekolah yang Mahal. Pendidikan Mahal.
Sekolah tempat saya mengajar termasuk salah satu yang mengalami transformasi tersebut. Lingkungan sekolah ditata demikian rupa, fasilitas, sarana-prasarana diupayakan untuk diberikan yang terbaik, guru-guru diberikan ruang lebih luas untuk menggali potensi diri dan pengalaman mengajar yang lebih mengesankan dengan menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya. Seluruh Transformasi tersebut akhirnya tidak lagi bisa ditawar dengan harga yang murah.  Lagi-lagi : Pendidikan Mahal.

Baiklah, mari kita hitung Pendidikan yang Mahal itu lewat sebuah pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri.

Salah satu orang tua murid, mengeluarkan anaknya dari sekolah ini. Ia mengaku jujur  alasannya adalah  mahalnya biaya pendidikan yang ada. Sebagai Pembina saat itu, jujur kami melepasnya dengan rasa yang berat, karena proses pembinaan masih sedang berlangsung, anak tersebut belum utuh memahami tentang hakikat agamanya, jalan hidupnya, dan prinsip-prinsip yang harus kokoh ia pegang.  Kami melepasnya seperti melepas sebuah ladang amal sholeh yang demikian besar.

Berlalu waktu, sang Ibu datang kepada kami. Ia bercerita tentang anaknya dengan sekolah barunya dan tuntutan yang banyak. Anak itu  meminta dibelikan sepeda motor, tentunya yang masuk kategori keren di mata teman-teman sekolahnya. Ia juga meminta smartphone, tentunya juga yang keluaran baru biar terlihat kece’. Pakaiannya harus slalu gaya, pergaulan menuntut itu semua.

Nah, berapa banyak biaya yang habis untuk setiap permintaan anak tersebut ? itu belum termasuk harga dari kegelisahan orang tua tentang apa yang anak perempuannya kerjakan di luar sana dengan teman-temanya, tentang sholat yang tidak lagi terjaga, tentang al-Quran yang dilupakan, tentang sopan santun dan rasa hormat yang kian menipis, tentang MORAL YANG HILANG.

Sungguh, bukan pendidikan yang mahal, tapi konsep pembentukan karakter.

Di Islamic Boarding School yang kesannya mahal itu, sama sekali bukan tentang adanya AC di ruang-ruang kelas, banyaknya fasilitas yang tersedia, atau gedung-gedung asrama yang seperti hotel,  tapi adanya PEMBENTUKAN KARAKTER dan KETERJAGAAN MORAL yang sedang diupayakan. Adanya rasa aman bagi orangtua bahwa anak yang dirindukannya tengah bangun shalat tahajjud berjamaah bersama teman-temannya, ia tidak melewatkan hari tanpa shalat wajib,  dhuha, dan tilawah. Bahwa ketika orang tua tersebut melihat anak tetangga hamil di luar nikah, atau berkata kurang ajar pada orang tua, atau tidak lagi pernah terlihat shalat, ia tahu bahwa anaknya sedang berada di sebuah sekolah, dengan teman-teman yang baik, dan Guru serta Pembina yang menyanginya dengan penuh, yang meluruskan langkahnya, yang membentuk sikap dan tutur katanya, yang menyadarkannya akan hakikat penciptaannya.

Adakah harga yang mahal untuk Shalat yang terjaga, untuk setiap hafalan Qur’an yang ia tartil, untuk tahajjud yang mengangkat derajat ?

Saya pernah bertemu dengan seorang Ibu yang menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Gaji suaminya jauh dari cukup untuk biaya sekolah yang harus dibayar, dan sang Ibu berjualan kue tradisional untuk membatu suaminya. Alhamdulillah, anaknya menamatkan sekolah bahkan menjadi siswa dengan prestasi terbaik di hari penamatannya.

Si Ibu berkata : "niat saya adalah menjaga anak ini. Memberinya pendidikan yang terbaik."

Saya kira, dari niat itulah Allah melapangkan rezkinya untuk bisa membayar rupiah-demi rupiah biaya pendidikan anaknya. Allah memberi jalan yang baik bagi setiap niat yang baik, Lupakah kita tentang itu?
Silahkan berhitung tentang Pendidikan  Mahal, dan Harga Moral yang hilang.
_____________
Tulisan ini murni sudut pandang saya sendiri, tanpa membawa nama Lembaga.

Pilihan untuk menyekolahkan anak di tempat yang mahal atau di tempat yang “terjangkau” adalah murni hak setiap orang tua, yang menjadi hak anak dan kewajiban bagi setiap orang tua adalah : memberikan pendidikan yang terbaik.
Dan Allah-lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki.

 ( QS. Surah Al-Isro : 30)
____________
Ujung Malam. Di halaman ke 78 tesis pendidikan karakter berbasis Islamic Boarding School., dan saya membuka halaman blog dan menulis ini.   

Rabu, 31 Januari 2018

Taman Prasejarah Leang-leang : Tempat Sederhana Yang Kau Datang Dengan Hati

Januari 31, 2018 0 Comments

Ada kebiasaan buruk saya yang sebenarnya sangat childish untuk takaran usia kepala dua ini. Yaitu, merasa kurang perhatian lalu kemudian mencari perhatian dengan mengenaskan, contohnya : si Suami 2 bulan ini sibuk luar biassaaahhh, tidak terhitung jumlah malam saya tidur memeluk sepi dan siang saya harus menjadi single parent karena jadwal padatnya yang terus saja menginap di Takalar.

Nah, Desember tahun kemarin adalah finish kontrak kerjanya, itu artinya memasuki bulan Januari tahun ini harusnya dia sudah punya waktu luang untuk membayar semua rasa sunyi dan lelah yang saya rasakan, tapi nyatanya… dia malah menjadi Pewe’ di rumah.

Secara teori Mars-Venus, yah… seharusnya saya bisa bijak memahami kelelahannya juga, dia yang waktunya habis banyak di Takalar pastilah akan merindukan rumah, leyeh-leyeh sama anak-istri, menikmati masakan rumah, dan duduk-duduk santai di teras sambil nyeruput kopi, ya kan ? itu teori. T-E-O-R-I.

Nyatanya, dalam berumah tangga, teori hanya seperti rempah lengkuas yang tinggal mengering di lapisan terbawah lemari pendingin. Kau lupa dia ada, karena garam dan gula lebih banyak memenuhi waktumu.

Apa yang saya lakukan untuk mencari perhatian? Saya mogok masak. Fiuuuuhhhh…..
Saya pikir, mogok masak seorang istri bisa mengguncang dunia. Ternyata saya salah besar, toh sekarang banyak warung makan, yang sedia lauk –pauk apalagi, dan parahnya suami saya ternyata jago masak. Habislah saya. Tapi yah namanya harga diri, saya tetap lanjutkan mogok masaknya.
4 hari berlalu dan kami berdamai, suami berjanji mengajak saya dan anak-anak berkemah ke Tampobulu. Luruhlah hati saya. katanya kita berangkat hari sabtu. Hati saya senang.

Tapi drama belum selesai. Hari sabtu ternyata si Suami ada agenda mendadak dengan tingkat prioritas tinggi. Kakak Fathi yang sudah terlanjur senang dengan rencana berkemah menjadi tantrum menagih janji. Saya kemudian membujuknya untuk mengganti berkemah di Tompobulu menjadi agenda makan burger di PTB. Alhamdulillah, dia mau menerima.

Malam hari, rencana ke PTB nyatanya harus batal lagi karena hujan deras.   

Malam itu, anak-anak membuat jarak dengan kami. Tatapan mata mereka seperti tatapan mata rakyat jelata yang melihat politikus yang selalunya mengumbar janji. Tahu rasanya ditatap begitu?  Perih.
Kami tidur dengan saling diam-mendiamkan. Drama masih berlanjut.

Ahad usai shalat subuh, Suami tiba-tiba nyeletuk : ‘De, hari ini kosong, agenda yang ke Gowa ternyata jatuhnya hari Rabu”

Hati saya langsung saja kerlap-kerlip. Kesempatan nih. Kata saya dalam hati. Saya mulai menganalisa tempat wisata yang dekat,  mengesankan, tempatnya nyaman, pemandangan oke buat foto-foto, dan penting : tidak menguras lembaran rupiah. Jatuhlah pada Taman Prasjarah Leang-leang Maros.

Daaannnnnn……  here are some pictures of greatest journey :























Nah, satu pelajaran : terkadang di balik foto bahagia seseorang, ada banyak drama yang tersembunyi di sana.
 ______________________
Tempat-tempat sederhana bisa membuatmu bahagia lebih dari apapun jika kau mendatanginya dengan hati.

Salam, Ummu fathi.


Masih dengan hati yang binar.

Teman Kecil Yang Ditemui Dalam Kedewasaan

Januari 31, 2018 0 Comments


Sudah jauh sekali perjalanan kita. Wajah kita terus bertemu disisan takdir, wajah kecil, wajah remaja, dan wajah ibu. Kita mengalami banyak hal yang sebenarnya, berapa-kali pun kita bertemu dan bercerita, tidak semuanya bisa selesai.  

Banyak hal yang kita alami, sudah selayaknya masing-masing kita punya keputusan tentang apa dan mengapa kita masih berteman-bersahabat saat begitu banyak orang lain lalu-lalang dalam hidup kita.
Mungkin karena kita perempuan, maka selalunya yang dibutuh adalah cermin. Bukan tentang wajah, tapi kepribadian yang mendewasa.

Semua hal mungkin bisa kita bagi dengan pasangan hidup masing-masing, tapi ada bagian yang hanya bisa kita temukan makna potongannya pada seorang sahabat.

Saya mensyukirimu, mensyukuri semua sahabat yang saya dapatkan.

Semoga, saya tidak berubah untuk menjadikan kalian hal yang tidak begitu penting karena sebab falsafah hidup yang harus dijunjung tinggi.

Karena kalian tetaplah teman kecil yang kini ditemui dalam kedewasaan. Jika dulu kita hanya bermain dan tertawa, hari ini dan seterusnya kita masih bisa menyediakan pundak untuk luka dan cerita. Kita selalu punya ruang untuk bisa tersenyum bersama.



Salam. Opy.

Mengingat Hakikat

Januari 31, 2018 0 Comments

sumber : Pinterest

Belakangan ini, saya mulai memikirkan tentang waktu yang begitu banyak berlalu tanpa hal yang berarti. Selain mungkin hanya status-status di medsos yang dipaksakan nampak berarti dan kerap kali diperbaharui, tapi iman, apa kabar ???

Saya bertanya pada diri saya, untuk usia 28 tahun ini, apa yang paling ingin saya capai.
Jawabannya kembali pada satu hal yang bahkan telah belasan tahun hanya menjadi impian : seorang penulis. Dengan karya.

Semoga tahun ini, InsyaAllah.

Beberapa waktu dalam sunyi seperti ini, (malam saat semua orang tertidur dan saya masih harus bertatap muka dengan laptop dan serangkaian perangkat pembelajaran serta tesis) pikiran saya berkelana pada keghaiban-keghaiban.
Pada alam kubur, padang mahsyar, syurga dan neraka.

Seringkali saya menatap laptop dengan tatapan kosong, membiarkan isi kepala saya dipenuhi semua hal-hal itu. Lalu saya beristighfar, dan rasanya dunia tidak berarti lagi.

Sepertinya saya sedang berada pada wilayah kesadaran akan hakikat. Pada sebuah buku yang pernah saya baca, berada pada kondisi ini sebaiknya harus kuat pemahaman pada ‘Tawazzun”-Keseimbangan.

Bahwa pemahaman pada keseimbangan hidup menjadikan kita tidak pincang mental dalam menghadapi gejolak pergerakan hidup.  Syukurilah jika tetiba hati dan pikiran kita diingatkan akan akhirat dan kita kembali tersadar tentang pejalanan kita yang hanya sementara, lalu ibadah kian baik tanpa melepas dunia tempat kita masih berpijak saat ini.

Bahkan jika esok telah kiamat, bukankah kita masih saja disuruh menanam hari ini?
Saya kemudian mencerna nasihat untuk menjadi sebatas musafir dalam hidup. Bahwa  sesingkat-singkatnya perjalanan sebagai musafir, kita akan bertemu teman dalam perjalanan ( Suami, anak, saudara, sahabat, keluarga, tetangga) maka berbuat baik pada mereka adalah bekal. Itulah mengapa islam mengatur hak dan kewajiban dalam ukhuwah, muamalah, juga dalam membina keluarga.

Menjadi musafir juga akan membutuhkan makan dan pakaian.  Lalu Allah SWT mengatur hukum halal-dan haram, agar kita tidak membawa pulang bekal yang berat dari kezhaliman memakan harta yang bukan hak kita.

Keterampilan hidup juga sangat penting bagi seorang musafir. Maka Allah mengaruniakan bermacam-macam bakat pada diri hambaNya, agar ia hidup dengan memaksimalkan diri sebab tanggung jawab khalifah fil Ardh telah menjadi takdir penciptaannya.

Sungguh, memikirkan semua itu membuat saya kembali luruh dalam cinta pada-Nya. Allah. SWt menciptakan hambaNya tanpa sedikit pun kezhaliman. Ditanamkannya fujur dan taqwa dalam diri tiap insan agar mereka mampu mengenali yang benar dan salah dengan alami sehingga lebih mudah untuk mengenali penciptaNya.

AllahuRahman.

Bimbing hamba untuk senantiasa berlaku seimbang dalam hidup. Ketika Akhirat menjadi tujuan tapi tidak membuat kami lalai dari hak-hak kehidupan dunia yang telah Engkau Atur, dan jadikanlah dunia ini hanya di tangan kami, bukan di hati.
________________
Ummu fathi,
larut malam. Sendiri. Hujan.