Minggu, 18 Oktober 2020

Hujan Oktober dan 30 Tahun Usia.

Oktober 18, 2020 0 Comments

 


Alhamdulillah, ada hujan turun hari ini. Hari yg sama 30 tahun yg lalu saya terlahir dari rahim ibu. 


Sudah sampai di sini usia saya. 

30 tahun menghirup udara kehidupan, merasai liku dan riak, diayun kenangan, dibuai bahagia, dan saban waktu diluluhlantakkan derita. 


Dari dalam kamar saya memandangi tetes hujan di jendela, hari ini dengan kepala berat dan tulang-tulang yang terasa remuk karena flu berat saya tetap ingin menulis ini. Karena ini adalah hari dimana sy meninggalkan usia 20-an tahun dan beranjak menjadi 30. 


Apa yg spesial dari usia 30? 


Bagi saya, itu adalah evaluasi penuh juga momentum paling tepat meninggalkan kenaifan masa lalu. 


30 tahun adalah titik temu antara realitas kehidupan dan harapan-harapan baru yang perlahan tumbuh dan membentuk peta baru kehidupan. Banyak hal mulai menuntut diperjuangkan dengan sungguh: pasangan, keluarga, karir, kualitas hidup, dan kualitas diri. Pada akhirnya, semakin dewasa seseorang, menentukan pilihan kehidupan tidak lagi bersandar pada ego diri. 


Ala kulli hal, saya mengucap hamdalah dan sholawat yg melimpah hari ini. 


Hamdalah untuk begitu banyak kebaikan yg Allah hadirkan dalam hidup, dan sholawat untuk harapan2 baru yang tetiba mendesir indah di hati. 


Terimakasih untuk diri ini, karena telah sampai di hari ini dengan baik dan masih tetap slalu tersenyum. 


30 tahun, terlahir dan memiliki orang tua mengagumkan dan saudara kandung yang istimewa dengan karakter masing2.


30 tahun, dan telah menghabiskan 14 tahun dalam pernikahan menakjubkan. Suami baik hati tapi slalu lupa hari ulang tahun istrinya. 😅


30 tahun, dan menjadi ibu 3 putra sholih dan 1 putri kecil yg menunggu kami di gerbang syurga insyaAllah. 


30 tahun, bertemu begitu banyak orang baik. Sahabat-sahabat arruhul jadid, teman kuliah S2 yang sudah seperti keluarga sendiri, rekan kerja, sahabat tarbiyah-liqo, Guru-guru, dan Murabbiyah-murabbiyah tangguh. 


30 tahun, semoga setelah hari ini... Kejutan indah akan hadir lebih banyak lagi. 

Semoga sabar dan syukur memenuhi hati menjalani hari-hari. 

Semoga lebih banyak orang baik yang hadir dalam peta hidup ini. 

Semoga ilmu dan amal tak pernah luput mengisi waktu.

Semoga segala pengalaman hidup mendidik menjadi lebih dewasa dan bijaksana. 

Semoga setiap impian perlahan terbuka jalan dan pintu takdirnya. 


Semoga....

Amiinn. 


Catatan di bawah rinai hujan oktober, 18-10-2020.



Sabtu, 18 April 2020

Catatan 12 Tahun Kakak Fathi

April 18, 2020 0 Comments
Sudah pernah saya katakan, menjadi Ibu adalah mengumpul paradoks rasa dalam satu waktu. Meskipun awalnya membingungkan dan buat kita seringkali tersesat dalam rasa bersalah, kita akan terbiasa dengan itu. 

Hari ini, si Sulung kakak Fathi berulang tahun. Ia beranjak menjadi pemuda aqil baligh, InsyaAllah. Namun, yang terjadi pada saya adalah pengalaman pertama membesarkan seorang pemuda. Tahu apa yang terjadi? 

Meskipun saya berulang kali menelaah buku-buku parenting, seni mendidik anak usia baligh, mencerna teori-teori psikologi anak, tetap saja, berulang kali saya terhempas dalam rasa bersalah. 

Saya jadi lebih sering mengomeli si kakak, dalam pikiran saya harusnya dia sudah dewasa, memahami baik dan buruk dengan utuh, tidak kekanak-kanakan karena slalu bertengkar dengan adik-adiknya, dia harus lebih banyak mengalah, dia harus lebih mengerti situasi dan kondisi... Yap! Pikiran saya sedangkal itu terhadapnya di usianya yang sekarang. 

Padahal... Ini adalah moment di mana ia belajar kenyataan-kenyataan hidup. Ia layak melakukan kesalahan karena sudah tugas orang tua mengajari ia resiko dan tanggung jawab dari pilihannya. 

Kakak Fathi juga berhak mengekspresikan dirinya. Lebih emosional dari sebelumnya, karena ia sedang melatih wilayah perasaannya, bukan hanya tentang sedih dan bahagia, tapi tentang mengapa ia merasakan itu. 

Kakak Fathi juga sudah punya dunianya sendiri. Ia punya wilayah yang berhak ia tutup atau buka untuk siapa yang ia kehendaki. Jika ia lebih senang dengan teman-temannya, lebih hidup jika sedang bermain, berkumpul, bercanda dengan mereka, maka tugas kami sebagai orang tua adalah memberinya kenyamanan hati untuk tetap merangkulnya dalam ikatan. 

Sungguh menjadi orangtua adalah takdir yang indah. Ketika kita dititipi amanah berupa makhluk hidup, yang memiliki akalnya dan hatinya sendiri.... Kita tidak berhak memperlakukannya sebagai benda milik pribadi. Ia lahir dari rahim kita ke dunianya sendiri. Kepada kehidupannya sendiri. Tugas kita hanya sebatas mengarahkan, mengenalkannya pada baik dan buruk, menguatkan pondasi akidah dan akar keimanannya, merangkulnya ketika ia merasa lemah, dan bukan malah mendikte langkah-langkah dan pergerakannya seperti mesin robot. 

Anak-anak kita manusia seutuhnya. Lahir dengan akal, hati, dan jiwanya. Ketika ia tidak sependapat dengan kita, itu tidak berarti durhaka. Ketika jalan pikirannya bersebrangan dengan keputusan kita, itu bukan pembrontakan. Jika langkahnya bukan di jalan yang kita kehendaki, selama itu tidak di luar garis syariat Allah, maka izinkan ia menemukan jalannya sendiri. 

Biiznillah, semoga kita menjadi orang tua yang tidak selalu merasa benar. Bersyukurlah, jika di malam hari seringkali kita disisipi rasa bersalah terhadap anak-anak kita, mungkin itu cara Allah berbisik pada kita untuk memohon petunjuk dalam proses mendidik mereka. Sebab, meski sel darah, kromosom, gen, dan air susu kita yang membentuk tubuhnya, namun hati mereka ada di tangan Allah. Dibolak-balik dengan kehendakNya, bukan kehendak kita. 

👦👦👦👦👦

Catatan 12 Tahun Kakak Fathi. 
Selamat mendewasa putraku. Kelak ketika engkau membaca ini, Ummi dan Abi meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kami sadari  selama membesarkanmu. 💕

Senin, 16 Maret 2020

Hening.

Maret 16, 2020 0 Comments
SG; Pinterest


Suatu kali engkau tersesat dengan begitu banyak wajah bertopeng,

senyum seringai yang mengaburkan baik dan buruk

juga lakon nasib yang patah di suatu senja

kemarilah..

mari kita menjadi teman di antara spasi kata yang tidak memerlukan bias waktu dan kepalsuan.

mari kita duduk menekuri hening, 
bersama buku, bersama aku.

*****

Rafiah Um. fathi.
Rindu duduk berdua dengan Qawwamku.

Minggu, 15 Maret 2020

Mencakapi Diri

Maret 15, 2020 0 Comments
SG; pinterest



Diriku, aku ingin kita berdamai saja.
Berhenti menjebakku pada angan yang terlampau tinggi, biarkan aku di sini saja. Menekuri waktu yang berjalan lambat, sendiri, tanpa basa-basi.

Diriku, aku ingin kau menepi.
Dari keramaian yang mendesak-desak hingga lupa bernafas tanpa sesak. Tidak mengapa memulai lagi, dengan nyaman. Tidak masalah jika langkahmu mundur, untuk melompat lebih jauh.

Diriku, aku ingin kesejatian.
Tidak lagi mengukur diri dengan kepalsuan orang lain yang memesona. Mari kita saling mengenal dengan lebih baik, perjalanan ke dalam diri mungkin panjang dan melelahkan, tapi jika kita saling menerima kita akan bertemu dengan utuh.

Diriku…
Mari kita memulai kembali dan hadapi semuanya dengan cara kita. Prinsip kita. Keyakinan kita.

*****
Larut malam, mencakapi diri yang mulai asing.

Perempuan Di Sisian Pintu

Maret 15, 2020 0 Comments

SG; Pinterest


Melangkahlah... hadapi dunia dengan bekal, pedang dan sayap yang kusisipkan. Hanya dengan itu Qawwamah-mu menjadi utuh.

Berangkatlah… dengan rindu untuk pulang. Ketika jalan tetiba berubah labirin menyesatkan, kenanglah suatu senja ketika kita menyeruput teh dan kopi hangat, tertawa oleh recehan canda yang biasa saja, dan hati kita paham apa itu bersetia.

Pergilah sayang… biarkan rumah menjadi istanaku. Dalam ruangnya yang teduh akan kukisahkan pada anak-anak kita tentangmu, yang bertaruh hidup di bawah terik, menggigil diguyur hujan, digigit sepi, disesaki rindu.

Sebab engkau adalah lelaki yang diamanahi  kekuatan memikul kehidupan orang yang engkau cintai,
dan aku adalah perempuan di sisian pintu.
Mengantarmu pergi dengan doa.
Menunggumu pulang; pagi, senja, malam.   

****


Maros, 15 Maret 2020. 
Hari ke 31 meyesap sepi.

Jumat, 14 Februari 2020

DI TIKUNGAN DOA

Februari 14, 2020 0 Comments

Bukan pada kata aku menemukan cinta
Pun tidak pada merah mawar
Atau puisi berkalung sendu

Satu-satunya
Tempat hatiku basah
Adalah rintik air mata di sujud sholatmu
Ketika lirih doa terucap namaku
Terbayang aku

Di tikungan doa
Cinta akan bertemu
Tanpa basa basi.
--------

#pergantian malam, 15 Feb' 20

Jumat, 10 Januari 2020

MENJADI TENANG

Januari 10, 2020 0 Comments


Pernahkan kita berfikir, mengapa Tuhan meletakkan ketenangan pada sesuatu yang tidak bisa kita ukur jumlahnya; harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, keturunan yang banyak, kecerdasan, dan lainnya.

Tuhan justru meletakkan ketenangan di antara dua rasa; pasrah dan cukup. Sabar dan Syukur.
Karena pada hal yang terukur jumlahnya, kita menjadi rakus memiliki.  Kita menjadi lapar melahap. Kita menjadi dahaga siang malam.

Sedang pada kepasrahan, kita mengakui diri sebagai hamba, yang memiliki Pengatur, yang siap diatur Tuhannya.

Pun pada rasa cukup, kita melipur lara dari begitu banyak kilatan kilatan duniawi yang melenakan. Kita mampu melapang dada, menutup mata dari milik orang lain yang penuh binar untuk kemudian memandangi syahdu pemberian Tuhan kepada kita.

Tidak ada yang lebih mengenali diri kita selain penciptanya.

Menjadi tenang adalah pilihan kita untuk berayun di antara dua rasa itu, atau tersesat di labirin mengejar fatamorgana yang pada akhirnya adalah fana.  

__________
larut malam, 11 Januari 2020

Kamis, 09 Januari 2020

Mengenang Masa Sulit

Januari 09, 2020 0 Comments
SG; Pinterest


Saya butuh menuliskan ini. benar-benar butuh.

Mungkin suatu hari, ketika saya membaca tulisan ini, hidup sudah banyak berubah, jauh lebih baik InsyaAllah.

Tapi ini benarbenar masa krisis persimpangan dalam hidup saya. Begitu banyak hal yang tarik menarik, begitu banyak impian yang bukannya makin cerah, malah meredup. Begitu banyak tujuan kian jauh digapai, justru proses semakin didaki, semakin melelahkan.
Saya tidak layak mengeluh, masih banyak orang yang jauh lebih susah hidupnya dibanding saya. satu-satunya yang paling saya syukuri, seberat apapun keadaan sekarang, saya tidak memiliki hutang yang membuat tidur tidak nyenyak dan nafsu makan raib. Alhamdulillah, Alhamdulillah.

lagi pula, setiap orang punya jatah masa-masa sulit dalam hidupnya, iya kan?
Saya butuh menuliskan ini, agar kelak ketika kehidupan semakin membaik, saya bisa mengingat keadaan sekarang meski hanya lewat tulisan tersirat yang tidak seutuhnya ini.  
InsyaAllah, tulisan ini akan membuat saya lebih bersyukur dan semakin kuat, bahwa saya pernah ada di posisi tak menyenangkan seperti ini dan saya akhirnya bisa bangkit dan menjadi lebih baik.

Saya ingin mengenang masa-masa sulit ini, sama seperti saya mengenang masa-masa bahagia dalam hidup saya.
kedua masa-masa itu, adalah warna.
Adalah tarbiyah kehidupan untuk saya.