Rabu, 16 Desember 2015

Istri, Antara Rumah Tangga dan Dakwah.

Desember 16, 2015 0 Comments




Telah menjadi kenyataan umum, dalam proses menuju pernikahan pihak ikhwan dan pihak akhwat saling mempertanyakan keadaan masing-masing. Hal yang lumrah untuk menjadi pertanyaan dari pihak akhwat selain masalah iman juga pekerjaan, kemungkinan nafkah yang dapat diberikan pihak ikhwan setelah menikah. Hal ini sangat relevan dengan kewajiban yang secara jelas tertulis dalam AlQuran, bahwa kaum lelaki dilebihkan atas kaum perempuan oleh harta yang mereka nafkahkan.

Sebaliknya, banyak terjadi pihak ikhwan cenderung mempertanyakan kondisi akhwat dalam hal kemampuan menangani pekerjaan rumah. Memasak, mencuci, dan sederet hal lain menyangkut kerja rumah tangga. Padahal, sejatinya, kewajiban seorang istri hanya 2 : melayani suami & mendidik anak.

Jika peran atau kewajiban seorang suami tertulis jelas dalam Alquran, maka kewajiban seorang istri menjadi luas maknanya saat dikatakan “taat pada suami”. Sehingga menjadi kelaziman di mana istri menjadi penanggung jawab penuh semua pekerjaan rumah tangga atas nama “ketaatan” tersebut. Kerja-kerja rumah tangga yang terlihat sepele itu sesungguhnya telah menguras banyak tenaga seorang istri yang berakibat tidak maksimalnya istri saat melayani suaminya dalam hal jima’. Ketidakpuasan ini seringkali menyulutkan masalah baru dan meletakkan titik salahnya di pundak istri. Sama halnya pada kewajiban mendidik anak. Dalam keadaan lelah setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah, waktu untuk mendidik anak menjadi tidak optimal. Terlebih di tahun-tahun pertama seorang anak di mana ibunyalah yang menjadi madrasah pertama baginya.

Dua kewajiban utama ini akhirnya tidak terpenuhi secara benar akibat kelaziman tradisi yang mewariskan seluruh kerja rumah tangga di tangan istri. Membersihkan rumah, memasak, mencuci, menyetrika, jika masih dikategorikan sebagai bentuk pelayanan terhadap suami maka hendaklah itu ditangani dengan tenaga pembantu, cukuplah istri menjadi pengatur, bukan pembantu. Sehingga tenaga dan waktu yang dimiliki istri terpusat pada kewajibannya yang utama, terlebih jika ia adalah aktivis dakwah, maka potensi SDM yang dimiliki dakwah ini tidak terkungkung oleh kerja seorang pembantu.

Kita tentulah sudah membaca sepenggal kisah ketika seorang sahabat datang menemui Khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan istrinya. Setibanya di rumah Khalifah, ia mendengar istri Umar bin Khattab mengomel lebih dari istrinya dan Umar diam saja. Ketika ditanya mengapa Beliau diam saja padahal ia adalah seorang yang tegas dan keras, Umar bin Khattab menjawab : ” sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku, karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Istriku memasak makananku.  Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi. ”

Menelisik lebih jauh mengenai peran seorang istri dalam pandangan madzhab, maka akan kita temukan Lima madzhab terkemuka (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanabilah dan Az-Zhahiri) kesemuanya sepakat bahwa kerja rumah tangga bukanlah kewajiban seorang istri. Bahkan menghadirkan pembantu adalah juga bagian dari kewajiban suami. Maka, jika suami belum mampu secara financial untuk mengahadirkan pembantu, maka wajib baginya untuk mengambil alih sebagian dari pekerjaan rumah tangga tersebut dan tidak membebankan keseluruhannya kepada istri.

Berikut kutipan dari Madzhab Hanafi :
Imam Al-Kasani dalam Kitab Al Bada’i menyebutkan bahwa seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah,lalu istrinya enggan memasaknya,maka si istri tidak boleh dipaksa.Sebab suaminya harus membawa makanan yang siap santap.
Dalam Al Fatawa Al Hindiyah fii Fiqhil Hanafiyah disebutkan bahwa jika seorang istri berkata ”saya tidak ingin memasak dan membuat roti”, istri tidak boleh dipaksa,dan suami harus memberinya makanan siap santap atau mencari pembantu untuk memasak.
Adapun pada Madzhab Syafi’i :
Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy -Syirazi menyebutkan bahwa tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk pelayanan lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.
Kerja Dakwah Menanti.

Setelah mengurai kewajiban utama yang dimiliki seorang istri, kiranya akan lebih mudah bagi kader pasangan suami istri untuk  melangkah menjawab panggilan dakwah. Suami akan lebih ringan melepas istrinya mengisi liqo, menghadiri rapat struktur, kegiatan salimah, dan serangkaian agenda dakwah yang lain tanpa harus mempermasalahkan rumah yang berantakan, cucian menumpuk, makanan belum terhidang, dan sekelumit kerja rumah tangga yang belum terselesaikan.

Sesungguhnya, tulisan ini lebih ingin menekankan pada pengembalian kewajiban utama seorang istri, yakni melayani suami dan mendidik  anak. Merefresh kembali pemahaman suami akan letak kerja rumah tangga yang tidak seharusnya berkarat di tangan istri.

Mungkin akan lebih bijak bagi seorang suami untuk melihat potensi yang dimiliki istrinya berkaitan dengan aktivitas dakwah, bukan kemampuan kerja seorang pembantu. Bagaimanapun, kerja rumah tangga meskipun telah menjadi kelaziman untuk dikerjakan oleh istri, namun itu adalah bernilai sedekah baginya. Bukan kewajiban.   Wallahu ‘alam .....

Rafiah. H
Sabtu, 20 April 2013

Sabtu, 07 November 2015

Hati Seorang Suami

November 07, 2015 0 Comments

Niatnya, malam ini mau bersantai saja. Tapi si “White” tidak berhenti bunyi dan nyaris meraung-raung…saya mulai curiga, pasti ini grup RJ di whatsapp.  Benar saja, ternyata ada topik panas di sini. Pantas… emak-emak dari segala penjuru bumi berkumpul “marukka” di grup… oh, ternyata… ini tentang poligami. Dan saya tersenyum saja membaca satu-satu percakapan di grup ini, senyum seorang wanita dewasa. (jiaaaaaaahhhhhh….. hahahah.. )

Habis baca-baca itu, tangan langsung gatal mau menulis. Tapi ini bukan poligami yah, terlalu berat bahasannya klo itu. Lagi pula saya bukan pakarnya…  tapi saya slalu berdoa semoga saya bukan korbannya.  ; )

Jadi ini tentang sebuah kalung emas dan hati seorang suami…

Beberapa tahun yang lalu, saya mampir di toko emas di Maros, niatnya mau ngecek-ngecek harga emas, (nanti klo saya tulis mau beli emas dibilangnya somboooooong…) heheh…  

Di toko emas itu terjadi percakapan yang entah mengapa, tersimpan begitu saja di memori saya, meninggalkan kesan manis dalam hati saya.

“tinggal di manaki?” tanya bapak penjual emas mulai akrab.

“di Pesantren Darul Istiqamah Pak…”

“oh.. beberapa hari yang lalu ada juga ustadz dari pesantren datang ke sini beli emas, nambilkan istrinya kalung 10 Gram,  nabilang “35 tahun ma hidup sama istriku na belum ada kukasi apa-apa, lamami juga kodong hidup menderita sama saya, lama mi kuniatkan mau belikanki sesuatu na baru kesampaian. Biarmi kubelikanki ini, supaya senang-senang tong kodong perasaannya, kapan-kapan besok matika, bisa na jual lagi untuk kebutuhannya…”

Glek!

Mungkin tidak semua, tapi hati seorang suami kurang lebih seperti ustadz yang membeli emas 10 gram dengan sepenuh hatinya itu. Iya, itu adalah hati yang menunggu sekian puluh tahun untuk bisa berterima kasih dengan layak kepada istri yang telah setia kepadanya. Dan kita, (saya nunjuk diri sendiri sajalah..) terkadang menuntut bertubi-tubi kepada suami, menuntut perhatiannya yang terkadang tidak lagi hangat, menuntut waktunya yang habis mencari nafkah untuk hidup kita yang lebih layak, menuntut hatinya yang saban waktu kita curigai tidak setia, menuntut begitu banyak hal yang sebenarnya…. Sungguh sebenarnya, sangat ingin ia berikan bahkan sebelum kita memintanya. Hanya saja, ….. kita kurang sabar memberinya waktu.

Hati seorang suami, mungkin tidak serumit hati istri.

Di sana ada kesederhanaan dalam perasaan, tidak seperti hati istri yang bisa berganti 4 musim dalam satu waktu, tapi percayalah, dan cobalah tetap percaya, dalam kesederhanaan perasaannya, ada letupan kejutan yang ia simpan.

Menunggu waktunya tiba.
______________________________________________________________________________

kawan-kawan RJ, pada akhirnya…. setelah materi poligami yang kita bahas itu sampai mengeluarkan emoticon bom, pisau, dan pistol….. semoga tulisan  ini bisa membuat kita tersenyum lebih manis pada suami kita yak!

Senin, 05 Oktober 2015

Jangan Sakiti Istrimu, Nak.

Oktober 05, 2015 0 Comments
Kalian semua anak lelakiku yang baik. Meski aku tidak tahu cara menjadi ibu yang baik, tapi dalam doa, aku selalu meminta kalian menjadi lelaki yang baik, di mana pun dan kapan pun.

Entah berapa tahun akan datang, ketika kalian telah menikah, dan menjadi suami dari istri pilihan Allah,sungguh Ummi berpesan, jangan sekalipun menyakiti wanita di sisi kalian,meski dengan kata, terlebih dengan tangan dan kaki.

Sepenat apapun, letih dan lelah kalian mencari nafkah, itu tidaklah lebih derita dari istri kalian yang mengandung dan melahirkan anak kalian. Rasa sakit yang di deritanya ketika proses melahirkan sungguh berpuluh kali lipat rasa sakit yang bisa ditanggung oleh lelaki, bahkan yang mengaku terkuat sekalipun.

Wanita yang berada di samping kalian,bekerja siang dan malam di tiap-tiap ruang rumah kalian, kerja yang tidak ada habis-habisnya. Jika terbetik sedikit saja dalam fikiran kalian,bahwa pekerjaan seorang istri di rumah itu ringan, cobalah meliburkan istri kalian. Bebaskan ia sehari dari rumah, biarkan ia menikmati harinya. Dan kalian, bangunlah di pagi hari, mulailah menyiapkan sarapan, memandikan anak, menyiapkan anak ke sekolah, mencuci piring, mengepul pakaian, menjemur, melipat, menyapu, mengepel, merapikan rumah, menyetrika, memasak,melerai anak yang berkelahi, melayani anak yang minta ini itu,menyuapi anak, membantu anak mengerjakan PR, mengajarkan anak mengaji,bahkan sebelum itu semua selesai kalian lakukan, kalian akan menyerah.

Jika istri kalian berbicara penuh amarah, bijaklah untuk mendengarnya. Jangan coba menghentikannya dengan melemparkan sesuatu kepadanya, atau menamparnya, terlebih menendangnya seperti sampah. Betapapun lancang istri kalian berbicara, betapapun tidak sopan apa yang dikatakannya, kalian adalah suami, dan suami mengambil MITSAQAN GHALIZA dari Allah untuk melindungi istrinya, bukan menyakitinya. Maka menyakiti istri, sesungguhnya adalah kedurhakaan kepada Allah.

Kalian tidak perlu memperlihatkan kekuatan kalian dengan memukul atau menyakiti istri kalian, sebab yang paling kuat adalah yang bisa menahan dirinya dari menyakiti istrinya, makhluk lemah yang Allah titipkan kepadanya.

Anakku,

Wanita sungguh bisa membenamkan perasaannya lebih dalam dari yang kalian kira. Jangan biarkan istri kalian hidup di sisi kalian dengan penuh kepura-puraan. Kalian kira istri kalian hidup bahagia dan penuh cinta bersama kalian, tapi sebenarnya, jika saja bukan karena anak-anak di antara kalian, dia tidak akan lagi mau melihat wajah suaminya.

Atau mungkin kalian tidak tahu, jika kalian menyakiti istri kalian, kalian sesungguhnya kalian juga telah menyakiti anak-anak kalian. Betapa banyak istri yang tidak bisa membalas perlakuan suaminya kepadanya dengan melampiaskan rasa sakit itu kepada anak-anaknya. Sudah banyak terjadi, sungguh sudah banyak.

Anakku,

Kelak, jadilah suami yang baik. Dengan hati kalian, bukan dengan tamparan dan tendangan tak berperasaan. Cukup itu saja.

Rabu, 30 September 2015

Suatu Siang Di Desa Ampekalle.

September 30, 2015 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahim….

Bersama Keluarga Baru... :)
Kalau sudah terlanjur mampir di sini, saya harap kalian tidak merasa tersesat dan menyesal… heheh, jadi, selamat membaca…..

Kali ini tulisan ringan saja, tapi karena secara pribadi ini mengesankan, jadilah saya abadikan di ruang ini.

Beberapa minggu lalu, yang minggunya sudah agak kelamaan sebenarnya, sebelum Idul Adha-lah, Suami saya yang penyayang dan baik hati itu mengajak jalan-jalan ke sebuah Dusun tempat penelitian *S3-nya. (yang pake bintang itu mengandung dusta pemirsa) heheh..

Waktu mengajak katanya : ” tempatnya cantik de, ada dermaganya, ada rumah-rumahan bisa duduk-duduk santai, lautnya bersih, sekalian silaturrahmi ke ketua kelompok Bakko Lestari, sudah lama itu nasuruhka ajakki ke sana jalan-jalan…”

Dari hal-hal yang dipaparkan dalam bujukannya, saya sebenarnya lebih tertarik ke pemandangan yang menjanjikan itu ketimbang silaturrahimnya… ups! Dan jadilah, saya bersiap-siap dengan sepenuh hati. Memilih baju biru muda dengan motif  polkadot dan dipadu jilbab biru muda polos, niatnya sih biar lebih berpadu sama latar lautnya kalau nantinya berfoto di sana. (Ketahuankan, niatnya memang mau pergi menghabiskan memori kamera) -_-‘

Rencana berangkat pagi-pagi bergeser ke  jam 10.20, karena rapat di kampus. Kami berangkat dengan motor milik kakak ipar, hari itu udara panas sekali, tapi di hati rasanya adem dan berbunga-bunga. Begitulah saya kalau di ajak kemana-kemana, Sukkaaaaaaaa skaliii….

Di jalan, kami mampir beli cemilan-cemilan untuk teman santai nanti di sana, Kak Miftah juga tidak lupa beli oleh-oleh buat ketua kelompok Bakko Lestari. Setelah perjalanan yang cukup lama, di bawah terik matahari yang menyengat, tibalah kami memasuki perkampungan pesisir.

Kak Miftah mulai melambatkan laju motornya, sesekali ia turun dari motor untuk ambil gambar sebagai dokumentasi penelitiannya, saat melihat pemandangan perkampungan di sana  rasanya mulai agak sedikit curiga, jangan-jangan tempat yang katanya cantik itu bakalan jauh dari harapan.

Sepanjang jalan, karena ini musim kemarau yang sangat,  inilah yang saya lihat : Sawah-sawah kering kerontang, ternak-ternak kurus dan kelelahan, bapak-bapak masyarakat banyak yang duduk bertelanjang dada berteduh di bawah rumah panggung mereka sambil mengibaskan kipas ala kadarnya untuk mengusir panas, kolam-kolam ikan mengering, dan bau amis bangkai ikan benar-benar membuat layu bunga-bunga yang tadinya bermekaran di hati saya. Rasanya benar-benar fatamorgana………

Tibalah kami di tempat tujuan. Dusun Binanga Sangkara Desa Ampekalle Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.  Untuk  pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat ini setelah 25 tahun saya hidup di Maros,  padahal ini masih bagian Maros, tapi rasanya jauuuuuuuuuuuuhhh skali, tiap kali motor berbelok, saya kira sudah sampai! ternyata masih ada belokan lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Seperti saya sedang datang ke “Negri Far Far Away” dalam serial kartun Shrek. Hahahah…

Setelah memarkir motor di kolong rumah warga, kami menuju dermaga. Kapal-kapal nelayan banyak yang bersandar karena air laut surut, bahkan sampai di ujung dermaga semuanya kering. Pupuslah harapan saya untuk berpose cantik dengan latar belakang laut, kenyataannya yang saya dapati hanyalah anak-anak kepiting yang sedang bermain petak umpet dari satu lobang ke lobang yang lain, saya melihat mereka dan membayangkan Mr. Krabs dari Bikini Bottom sedang menikmati musim panas, yah, mungkin semacam inilah sebenarnya.

Ini beberapa gambar saja yang saya ambil, sekedar jadi kenangan kali pertama menginjak kaki di “negri Far Far Away” dusun Ampekalle itu…

kering..



Kering lagi...

Masih kering...

Kering Juga...

Lumayanlah...

Hm, yang di atas itu sebenarnya tulisan pembuka saja. Inilah Kesannya…

Setelah puas bersantai di dermaga, kami menuju rumah ketua kelompok Bakko Lestari. Ia-nya seorang ibu, namanya ibu Jamilah. Begitu kami datang, MasyaAllah, sambutannya, kami bersalaman dan ia langsung saja terasa hangat bagi saya. Wajahnya tak henti berbinar, kami dihidangkan makan siang dengan menu kepiting hasil budidayanya.  Hari itu, ada beberapa ibu-ibu yang sedang mengerjakan kepiting, mereka memisahkan daging dari cangkangnya untuk diolah selanjutnya. Sambil memilah kepiting, Ibu Jamilah bercerita, katanya “Alhmdulillah sekarang jalan sudah bagus, dulu itu, waktu Pak Miftah dan Bang Cawi masuk ke sini untuk melatih kita-kita, jalanan itu masih jelek. Alhamdulillah, ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sini kasi’ kita ilmunya untuk olah kepiting jadi kripik, ajar kita cara membibit bakau juga”.

Yah,  beginilah orang-orang yang mensyukuri kehadiran kita dalam hidup mereka. Saya mengerti mengapa suami saya lebih suka kerja-kerja lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ketimbang jadi PNS atau karyawan kantoran, ternyata,  pekerjaan seperti ini lebih menghidupkan kehidupan. Pekerjaan yang lebih banyak mengundang doa-doa dari orang-orang yang berterima kasih atas ilmu yang sebenarnya tidak banyak tapi bersedia diajarkan, pekerjaan yang membuat hidup orang lain lebih memiliki arti, nilai, dan martabat. Benarlah yang dikatakan Rasulullah, sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat.

Sepulang dari sana, di atas motor, saya memikirkan tentang pekerjaan suami saya. Bahwa nafkah, ternyata tidak selalu adalah materi. Nafkah juga, adalah saat suami memiliki waktu untuk membahagiakan istri, (seperti mengajak saya jalan-jalan, heheh), juga, mengajari makna dan arti kehidupan dengan cara yang lembut, atau lebih dari itu, nafkah adalah ketika doa-doa mengalir untuk kita dari orang-orang yang merasakan manfaat dari pekerjaan mencari nafkah itu sendiri.

Seperti hari itu, saya merasa mendapat keluarga baru, keluarga yang akan saling mendoakan dalam kebaikan. 


                                 

Bersama bu Jamila


Semoga senantiasa dilimpahi keberkahan untukmu, bu Jamilah dan keluarga. 
Dari kami, Sekeluarga.
 

Selasa, 08 September 2015

Antara Hokage dan Pesawat Tempur.

September 08, 2015 0 Comments
Impian tak terbatas itu

Anak-anak kita mulai banyak bertanya, hal biasa yang sepele juga hal rumit yang kadang hanya bisa dijawab dengan senyum. 

Beberapa hari yang lalu, kakak fathi bertanya sesuatu, tentang "apa itu mimpi tak terbatas?"

Sebenarnya, saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. "Mimpi tak terbatas" adalah hal yang kupunya tapi belum juga menjadi nyata. Iya, masih begitu banyak mimpi, tapi juga begitu banyak batas yang belum terurai. Mungkin belum banyak ikhtiar dan amal yang bisa mengangkat doa-doa tentang mimpi itu, mungkin...

Tapi, pertanyaan kakak fathi, adalah satu titik menakjubkan dari usianya. Ketika saya hanya menjawab dengan senyum, ia kemudian menimpali... 

"Ummi, itu mimpi tak terbatas seperti Naruto yang mau jadi Hokage?"

Mmm, Naruto yang mau jadi Hokage. Itu contoh sederhana yang paling mengena baginya. Saya sadar, saya terlambat mengenalkan mimpi tak terbatas dari Shalahuddin Al Ayyubi yang merebut kembali al Quds dari tangan Salibis,tentang Muhammad al Fatih sang penakluk Konstantinopel,tentang mimpi sang mujahid syeķh Ahmad Yasin yang benar tak terbatas cacat fisik dirinya, tentang sesipapun dalam sejarah cahaya islam telah mengukir mimpi mereka menjadi tak terbatas. Saya benar benar merasa terlambat untuk itu. 

"Ummi,..."

"Iye...."

"Mimpi tak terbatasku saya mau buat pesawat tempur.."

Hm, nak... semoga kau bisa mewujudkan apapun mimpimu. Sudah lama doa-doaku dirajai namamu,hingga  lupa berdoa untuk diriku sendiri. 

"Ummi, apa kita mimpi tak terbatas ta'?"

Ah... Sekali lagi, saya hanya bisa tersenyum. 
Kiranya, impian tak terbatasku adalah segala impian besarmu nak... 

 Hiduplah dengan baik. :)



Minggu, 16 Agustus 2015

17 Agustus Kita.

Agustus 16, 2015 1 Comments
Beberapa hari ini, adik santri pada rame' latihan gerak jalan, dari masjid saya memandangi mereka lamat-lamat, dari setiap hentakan kaki mereka yang masih kaku dan belum kompak itu, kenangan memutar perlahan, dan saya mulai tersenyum mengingat semuanya.

17 Agustus kita.

Saya tidak bisa mengingat dengan jelas sebenarnya, bagaimana nama "ArRuhul Jadid" tersemat pada kelas kita. Seingat saya, setiap tahun, di acara 17 Agustus, kita akan terbagi berdasarkan kelas untuk kegiatan berkemah, dan di kesempatan itu juga, setiap kelas memberi nama untuk kelompoknya, dan kita dengan semangat 45 tentunya, menamai diri kita "ArRuhul Jadid", senada dengan kelompok nasyid yang lagunya tengah tenar di kampus kita, yang kasetnya jadi benda wajib acara, yang semua mulut asyik menggumam menyanyikannya, dan yang paling saya ingat, kita mendendangkannya diiringi hentakan pukulan tangan Salma di meja guru setiap kali waktu keluar main, atau sambil menunggu guru yang terlambat masuk ngajar... ah, Salma... mungkin rindu kita sama kawan...

17 Agustus kita.

Lomba gerak jalan, kita selalu kompak dan juara untuk ini. Sayangnya, saya tidak begitu tertarik berada dalam barisan, menghentak kaki seirama, berlatih siang malam sambil tawaf di setiap tapak jalan kampus putri, berulang-ulang, sampai hari 17 Agustus tiba.  Ah, saya benar-benar bukan tipe prajurit, apalagi pahlawan, berbaris saja saya tidak suka... heheh..

 Tapi diam-diam, saya suka melihat kalian berlatih, apalagi saat melakukan variasi gerakan,... wuuuiiihhhhh,,, kalian keren semesta! TerrrrBaikkkkk....

Yah, setiap kali melihat adik santri berlatih gerak jalan beberapa hari ini, saya terbayang wajah kalian, Cutty sang Komandan, Bita, Salma, Iffah, Nia, Ana, Ima. M,Ina,Cica, uly, zainab, dila.i, iyla, ciko, rara, jannah, lia, hikmah, lula, amma,  entahlah... kalian semua... saya merindukan kalian semua....

Ketika kalian di penuhi semangat berlomba, saya hanya mengambil peran yang kalem. Saya menghidari lomba fisik : lari karung, lari kelereng, lari maraton, kasti, volly, de el el... aih, saya paling anti yang begituan. Saya tahu tempat saya di mana, dan kalian mengenal saya dengan baik kawan, itulah mungkin saya hanya selalu ada di lomba baca puisi, lomba cipta puisi, lomba cerdas cermat, atau lomba membuat kaligrafi. Iya, saya hanya mengikuti lomba yang dekat dengan tempat duduk,santai, dan hanya membutuhkan bakat dan keterampilan.Tapi sungguh sebenar sungguh, saya bangga berada bersama kalian dalam merayakan kemerdekaan Negri kita,rasanya, bersama kalian justru adalah makna kemerdekaan itu sendiri. Merdeka dalam ukhuwah, tanpa persaingan ýang menjatuhkan dan tanpa ego yang dipaksakan. Kita merdeka dalam kekompakan yang selalu manis dikenang, aih, melankolisma lagi ini...

17 Agustus kita.

Mestinya, tak habis jadi kisah, sejarah kita dan kumpulan kenangan begitu banyak di hari ini. Mungkin kalian tidak banyak mengingat, tapi cobalah jika kalian jadi saya, yang masih di sini, di titik segala kenangan terbentuk, kampus putri kita. Kadang-kala, saya duduk di gazebo dan serbuan ingatan seperti anak panah dalam perang yang menghujani perasaan saya. Tetiba saja saya jadi melankolis begini, yah, rasanya baru kemarin.... benar benar baru kemarin...

Kita membagi diri mencari tenda, mencari bambu buat kemah, lalu memasang kemah dari terpal itu, menikmati malam-malam bernyamuk nan dingin di tenda, memasak apa adanya bahan buat makan teman teman, membagi-bagi peran untuk setiap lomba, bersorak sorak ketika pengumuman juara, ...

Tidak akan ada lagi yang berulang tentunya. Halaman Kisah 17 Agustus kita sudah usai. Hari ini, saya ingin berterima kasih pada kalian semua, sekaligus menggenapkan syukur saya pada Allah.. yang menakdirkan saya terlahir tahun 1990, kemudian masuk sekolah dan mendapatkan kawan seperti kalian, melewati Agustus dengan kenangan yang hangat, kalianlah kawan, tempat saya belajar kemerdekaan sejati. Kemerdekaan untuk menjadi manusia berarti, yang tidak di jajah penyakit hati, egoisme, dan kepentingan diri sendiri. Sesiapapun kita, pastilah pernah menjadi pahlawan dalam hidup orang lain dalam makna yang seluas-luasnya. Hari ini, saya ingin memberi hormat pada para pahlawan dalam hidup saya, kalian semua, Pahlawan bergelar arRuhul Jadid.















Salam hangat, untuk seluruh waktu tentang kita kawan. 

Senin, 27 Juli 2015

Ustadz Arham, Ayah Yang Telah Pergi.

Juli 27, 2015 0 Comments
Sebagian Ayah, hanya bisa menjadi orang tua bagi anaknya, sementara yang lain, mampu menjadi Ayah di hati banyak anak. 

Ustadz Arham, begitu saya sering menyapanya. Beliau menyisakan banyak wajah dalam ingatan saya. Di manado, tempat saya melewati masa kecil, tempat ingatan dan kenangan mulai terbentuk perlahan, dari tiang-tiang sekolah cabang Pesantren Darul Istiqamah, dinding yang berlubang, tangisan teman-teman tk, kotak makan warna biru, terbayang wajah beliau yang tersenyum. 

Juga setelah puluhan tahun kemudian, ketika beliau hadir dalam kelas Aliyah saya, menulis gurat-gurat angka dan rumus-rumus di papan tulis, saya tidak tahu bahwa saya akan menyukai pelajaran yang membuat saya selalu lari darinya : Matematika. Kesabaran beliau, senyum hangat, serta perhatian yang lapang, menjadi jembatan ilmu yang tak berliku.

Suatu kali, di akhir kelas 3 Aliyah saya, beliau dengan senang hati meluangkan waktu istirahat malamnya dan membuka pintu rumahnya untuk mengajari saya dan Amma beberapa rumus matematika yang agak sulit. Dengan tekun dijabarkannya rumus itu, ia tidak memaksa kami untuk memahami dan mengerti dengan cepat, penuh bijak beliau menuntun kami untuk tidak mudah menyerah, bukan hanya pada pelajaran matematika, tapi juga pada hidup.

Ia mewariskan ilmu tidak hanya sebagai guru pada muridnya, tapi juga sebagai Ayah pada anaknya. Dan itu, mengapa ia akan dikenang di hati setiap kami.

Hari ini, Senin 27 Juli 2015, beliau tutup usia. 

Allah Maha Mengatur, pun cara kematian yang bagaimana. Namun doa-doa yang berbisik di antara air mata yang tumpah adalah ketulusan dari rasa kehilangan yang sangat. 

Entah saya, entah sesiapa yang lain, tapi beliau telah menyisakan kami wadah amal jariyah untuknya, dari ilmu yang bermanfaat dan doa seorang anak yang shalih.

Selamat Jalan Ustadz, Guru, dan Ayah ...

Segala ilmu, Setiap kasih sayang, serta ruas-ruas kebaikan yang engkau berikan, semoga diterima di sisiNya. 

Sementara doa, adalah cara kami menyayangimu di alam sana.

___________

Pukul 01.45 dini hari, ketika wajah beliau terbayang dengan hangat. 

Minggu, 05 Juli 2015

Tentang Menua Bersama.

Juli 05, 2015 0 Comments

Aku mulai suka mangamati pasangan tua. Suami Istri yang rambutnya memutih uban, wajahnya kriput, kadang-kadang batuk, dan suaranya gemetar saat berbicara. Aku memperhatikan mereka saling menatap saat berbicara, bagaimana mereka menukar senyum, atau tertawa dan saling memamerkan gusi tak bergigi.

Itu pemandangan yang hangat.

Sepasang yang menua bersama, mungkin tak lagi banyak kenangan yang bisa diingat karena pelupa adalah memang penyakit tua, tapi untuk mereka waktu seperti sungkan menyembunyikan cinta.

Hari ini 8 tahun kita. Selepas matahari terbit kukalung doa di pergelangan takdir untuk menua bersamamu. Tidak di dunia saja, semoga hingga di nafas akhirat kita.

"Dan Allah itu dekat. Mintalah padaNya, pasti dikabulkanNya."

________________
Perjalanan ke Pinrang
5 Juli 2015, Di 8 tahun pelayaran bahtera kita.