Minggu, 23 November 2014

Adik Perempuan Disisa Kenangan.

November 23, 2014 0 Comments

Kuharap, sehari tidak begitu terlambat untuk tulisan seperti ini di hari perayaan hidupmu. Sejujurnya, terlalu banyak jeda saat menulis ini. Beberapa kali, sebaris kalimat kuhapus, rasanya bukan itu yang ingin kutulis. Tak lama, sepotong paragraf kembali kuhapus, sepertinya ada yang salah dibalik huruf-huruf kecil ini. Cukup lama tanda koma menggantung di ujung kata hingga aku menyerah pada kenyataan sebenarnya, tentang :
"Aku kakak perempuanmu yang tidak tahu banyak tentangmu".

 Ya, saat aku menyadari itu, aku tahu, aku sedang berdiri di wilayah melankolis perasaanku. Sebagian diriku mulai melangkah pulang pada masa lalu, pada waktu yang entah terasa hanya seperti bayang-bayang mimpi. 

Dulu itu, apakah kita terasa seperti kakak beradik? Aku tidak banyak peduli tentangmu, duniaku terlalu ramai oleh orang lain. Dan kupikir, kau baik-baik saja. Kau punya banyak teman, mereka menyayangimu, aku tahu itu. Di kehidupan ketika kita masih santri, kau berada dalam kelas yang dipenuhi kawan yang heroik dalam hal melindungi teman. Kalian kompak, Satu menangis dan yang lain membalas. Satu dianggap salah, dan semua menerima hukuman. Satu berprestasi, dan kalian menyebut diri kalian hebat.

Yah, Kau berada di kelas yang tepat untuk seorang adik perempuan yang memiliki kakak yang rumit sepertiku. Apa yang bisa kuingat tentangmu? sungguh tidak banyak. Kecuali hal sederhana, tentang kecintaanmu pada masakan mama.

Mungkin kau lupa, di suatu malam kau menjelajah tiap-tiap kamar asrama yang teramat panjang itu untuk mencariku yang sebenarnya sedang duduk santai di teras masjid putri. Aku melihatmu dari jauh, mengetuk tiap pintu asrama dan bertanya "ada ophy di situ? belumpi makan, basi lagi ini nanti makanan." 

Saat melihatmu berhenti di sebuah kamar dan tidak keluar dalam waktu cukup lama, aku tahu, kau telah mempersilahkan teman-temanmu menyantap habis jatah makan malamku sambil mengomel tentang bagaimana aku sering mengabaikan makanan yang dikirim mama dan membiarkannya basi, tentang aku yang tidak tahu mengahargai jerih payah mama yang tiap hari membawakan makanan untuk kita.

 Aku tahu itu, sebab pagi esoknya, teman-temanmu memuji masakan mama, dan bilang : "kak ophy, besok-besok jangan mki lagi makan malam nah, supaya na bawa ke asramaku lagi uty makananta."

 Waktu di antara kita benar singkat. Tak banyak kenangan yang bisa kuingat dengan baik, aku tidak tahu apa kita pernah tertawa bersama di saat itu? Aku tidak bisa mengingat dengan jelas, apa aku pernah membuatmu merasa disayangi sebagai seorang adik, kita terlalu sering bertengkar, kadang kala aku merasa kau benalu, dan bisa kupastikan, aku jarang sekali tulus padamu.

 Saat kau berangkat ke jakarta untuk melanjutkan SMA di sana, sesekali aku masuk ke kamar tempat kita menghabiskan waktu istirahat bersama selama sekian tahun. Aku mengusap-usapkan tangan ke sprei bermotif bunga yang warnanya kian kusam itu, dan aku merasakan butiran pasir. Aku tersenyum sesaat, aku ingat bagaimana kau begitu gelisah jika mendapati tempat tidur yang dihinggapi butiran kotoran. Kau akan sibuk mengibaskan sarung untuk membersihkannya dan tidak peduli aku sewot mengataimu "beh, de'e, samanna tuan putri mau tidur." Detik itu, aku merindukanmu.

Tapi aku tidak pernah menelfonmu, aku terlalu sibuk menyalahkan takdir yang membuat hidupku pecah berantakan.

 Saat mama kembali ke sisiNya, kau beruntung sekali. Kau berada di dekatnya. Melihatnya di saat-sat terakhirnya, itu adalah hal yang menguras habis penyesalan dalam diriku.

 Hm, dek.
 Aku tidak tahu akan menulis sebanyak ini, Usiamu 22 tahun, dan aku seperti hidup denganmu hanya beberapa hari saja. Sama sekali tidak benar aku hanya peduli pada fakihah saja, kalian berdua adik perempuan terbaik yang pernah kumiliki. Hanya saja, kau tahu, cinta dan kasih sayang punya wajah dan bentuknya sendiri. Ada cara yang tidak bisa sama untuk menyatakannya.

 Kau adik perempuan yang kuat. Kau tabah dalam menuntut ilmu di perantauan. Kau pandai menjaga derita hingga bapak ataupun aku tak pernah ingin kau buat khawatir.

 Itulah dirimu, kau tahu bagaimana selalu tampak baik-baik saja.

 Maaf,
 Tidak banyak yang kuberi sebagai seorang kakak. Tapi tetaplah jadi adik perempuanku yang baik. Di usiamu ini, kedewasaan adalah keniscayaan. Semoga.
 ___________________________

Sehari, di sepenggal usia yang menggenap bijak. 23 November 2014. 21:53.

Seluruh kenangan : Ophy- jeng Uty..

Kamis, 06 November 2014

Dari Rasa Pagi Ini.

November 06, 2014 0 Comments
Bilakah,
Kuikat jarakjarak jauhmu dalam simpul rinduku
Jadi satu, jadi erat
Seperti kau dan bayangmu di musim panas tahun lalu
Yang kupandangi dengan rasa tersesat.

Bilakah,
Izinkan aku untuk itu.