Sabtu, 07 November 2015

Hati Seorang Suami

November 07, 2015 0 Comments

Niatnya, malam ini mau bersantai saja. Tapi si “White” tidak berhenti bunyi dan nyaris meraung-raung…saya mulai curiga, pasti ini grup RJ di whatsapp.  Benar saja, ternyata ada topik panas di sini. Pantas… emak-emak dari segala penjuru bumi berkumpul “marukka” di grup… oh, ternyata… ini tentang poligami. Dan saya tersenyum saja membaca satu-satu percakapan di grup ini, senyum seorang wanita dewasa. (jiaaaaaaahhhhhh….. hahahah.. )

Habis baca-baca itu, tangan langsung gatal mau menulis. Tapi ini bukan poligami yah, terlalu berat bahasannya klo itu. Lagi pula saya bukan pakarnya…  tapi saya slalu berdoa semoga saya bukan korbannya.  ; )

Jadi ini tentang sebuah kalung emas dan hati seorang suami…

Beberapa tahun yang lalu, saya mampir di toko emas di Maros, niatnya mau ngecek-ngecek harga emas, (nanti klo saya tulis mau beli emas dibilangnya somboooooong…) heheh…  

Di toko emas itu terjadi percakapan yang entah mengapa, tersimpan begitu saja di memori saya, meninggalkan kesan manis dalam hati saya.

“tinggal di manaki?” tanya bapak penjual emas mulai akrab.

“di Pesantren Darul Istiqamah Pak…”

“oh.. beberapa hari yang lalu ada juga ustadz dari pesantren datang ke sini beli emas, nambilkan istrinya kalung 10 Gram,  nabilang “35 tahun ma hidup sama istriku na belum ada kukasi apa-apa, lamami juga kodong hidup menderita sama saya, lama mi kuniatkan mau belikanki sesuatu na baru kesampaian. Biarmi kubelikanki ini, supaya senang-senang tong kodong perasaannya, kapan-kapan besok matika, bisa na jual lagi untuk kebutuhannya…”

Glek!

Mungkin tidak semua, tapi hati seorang suami kurang lebih seperti ustadz yang membeli emas 10 gram dengan sepenuh hatinya itu. Iya, itu adalah hati yang menunggu sekian puluh tahun untuk bisa berterima kasih dengan layak kepada istri yang telah setia kepadanya. Dan kita, (saya nunjuk diri sendiri sajalah..) terkadang menuntut bertubi-tubi kepada suami, menuntut perhatiannya yang terkadang tidak lagi hangat, menuntut waktunya yang habis mencari nafkah untuk hidup kita yang lebih layak, menuntut hatinya yang saban waktu kita curigai tidak setia, menuntut begitu banyak hal yang sebenarnya…. Sungguh sebenarnya, sangat ingin ia berikan bahkan sebelum kita memintanya. Hanya saja, ….. kita kurang sabar memberinya waktu.

Hati seorang suami, mungkin tidak serumit hati istri.

Di sana ada kesederhanaan dalam perasaan, tidak seperti hati istri yang bisa berganti 4 musim dalam satu waktu, tapi percayalah, dan cobalah tetap percaya, dalam kesederhanaan perasaannya, ada letupan kejutan yang ia simpan.

Menunggu waktunya tiba.
______________________________________________________________________________

kawan-kawan RJ, pada akhirnya…. setelah materi poligami yang kita bahas itu sampai mengeluarkan emoticon bom, pisau, dan pistol….. semoga tulisan  ini bisa membuat kita tersenyum lebih manis pada suami kita yak!