Senin, 11 Januari 2016

Bertahan dengan Sederhana.

Januari 11, 2016 0 Comments


Pernikahan.

Itu tidak selalu mudah, kau tahu. Seperti juga akad "mitsaqan ghaliza" yang terambil sebelumnya. Itu juga sebabnya Arsy berguncang bila terputus ikatannya. Karena pernikahan, sekali lagi, bukan sesuatu yang mudah, tapi Allah menginginkan kita bertahan.

Bagaimanapun, kita akan sampai di hari ketika mendung menggelayuti langit-langit rumah kita. Berbicara seperti tidak lagi ada maknanya, hanya ocehan tidak jelas, nada-nada yang meninggi dari keegoisan yang tak pernah ingin dikata salah, dentuman pecah benda-benda dapur, dan hentakan keras daun pintu.

Kita akan tiba di hari itu, meski sejujurnya, kita tidak pernah ingin menjumpai hari sedingin itu, tapi tetap saja...

Kau tahu,bukan hanya kita, sesiapapun, seromantis apapun seseorang, semenarik bagimanapun foto-foto mesra yang mereka pajang di foto profil dan beranda facebook mereka, sesumringah bagimanapun senyum yang mereka pamerkan ketika sedang berdua, dan sedalam apapun kekata puisi yang mereka tulis tentang cinta, tetap saja, kita dan mereka akan tiba di hari itu.

Mungkin,pernikahan telah membuat janji dengan air mata, bahwa sesiapapun yang mengambil pernikahan, juga harus membawa airmata bersamanya.

Tiba di hari itu, cobalah untuk mengambil spasi. Mulailah memikirkan kebaikan-kebaikan, meski lazimnya, kemarahan selalu berhasil membakar kebaikan dalam apinya. Berangkatlah dari ingatan sederhana tentang kebaikan kecil yang pernah membuatmu tersenyum manis kepadanya, tentang kejutan kecil yang membuatmu terpesona, tentang ucapan terimakasih yang membuat hati lapang, tentang kain basah yang ditempelkan di kening ketika demam, tentang sms "semoga urusannya dimudahkan Allah" yang membuat kerja menjadi ringan, tentang apapun... yang hanya kita berdua yang tahu.

Satu lagi, jangan menaruh kata maaf terlalu tinggi. Cukup simpan di celah jemari, saat kalian saling menggenggam tangan, semua salah dan beban telah terlepas.

Mungkin itu cara berdamai yang terlalu sederhana untuk pertengkaran yang sangat panas. Tapi percayalah, pernikahan hanya menjadi rumit untuk harga diri yang terlalu tinggi. Kita tidak selalu benar, dan dia punya kebaikan yang belum tentu dapat kita balas.

Mulailah tersenyum. Dan dia akan memelukmu.
__________

Selasa menjelang siang,
saat menunggu Rangga pulang sekolah.