Rabu, 09 Maret 2016

Setelah Maaf.

Maret 09, 2016 0 Comments
  

Saat menulis ini saya masih saja berfikir, mengapa saya menulisnya dan untuk apa. Tapi seperti biasa, saya hanya ingin menulisnya, alasan-alasan akan datang di belakang, seperti hikmah yang seringkali nampak ketika kabut badai berlalu. 

Terkadang saya mengira, umur sebuah pernikahan mempengaruhi suatu hubungan. Ini tahun ke-9 pernikahan, dan kami masih saja bertengkar. Kadang-kadang saya yang memulainya, alasan sepele seperti kurang perhatian, kurang memahami, kurang waktu, dan kurang-kekurangan lainnya, lalu kami bertengkar, saling mendiamkan, beberapa hari kemudian memaafkan, lalu berdamai. Tapi tidak ada yang menjamin, bulan depan kami tidak bertengkar lagi.

Lalu sebulan kemudian, terulang lagi. Pertengkaran seperti rutinitas  pernikahan yang menjadi biasa. Kadang-kadang selesai begitu saja dengan mengajak saya ke PTB makan mie pangsit, atau membeli roti bakar bandung, atau sekedar menggodai saya cantik kalau saya sedang marah -meskipun saya tahu itu kebohongan paling besar sekaligus paling manisπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚-. Kecuali pertengkaran besar, tentu saja tidak cukup dengan itu semua. 

Tapi dalam setiap pertengkaran itu, saya kemudian memahami hal lain dari sebab banyaknya wanita masuk ke dalam neraka. Karena dalam kemarahan, sulit sekali mengingat kebaikan, serasa lelaki yang berada di depan mata adalah orang yang tidak ada baiknya sama sekali. Demikian saya, tetiba saja semua kekurangannya, kesalahannya, dan keburukan dirinya nampak begitu jelas, seperti sebuah tayangan bioskop yang memenuhi mata saya. Begitu jelas. Lalu saya dengan mudah menuduhnya tidak baik. 

Tapi hari ini, saya memikirkan ketika kami saling memaafkan setelah semua riak-riak itu berlalu. Tiap kali berdamai, kami saling memaafkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Seperti semua kesalahan adalah memang karena diri kami. Tapi kemudian kami bertengkar lagi, lalu semuanya terulang lagi.

Beberapa hari yang lalu, Ia mengatakan sesuatu yang membuat saya hangat. Katanya, 

Dek, seharusnya ketika kita saling memaafkan, tidak lagi layak bagi kita untuk mengungkit kesalahan yang telah kita maafkan dari pasangan. Itu sudah selesai. Meskipun esok hari tidak ada yang menjamin kita tidak melakukannya lagi, kita mengulanginya lagi, biar saja, memang itulah bunganya pernikahan. 

Benar saja. Kami sepasang yang tidak sama, pertengkaran adalah warna bagi kami.  

Hei hei, jangan berpikir pernikahan kami tidak harmonis. 😊. Kami baik-baik saja. Bahkan malah, setelah pertengkaran rasa sayang itu semakin bertambah saja. Saya tidak tahu mengapa, tapi mungkin itulah cinta. Semoga.










-Sekian. Salam-