Rabu, 05 Oktober 2016

Mengulang Rasa Kenangan

Sumber gambar indah ini

Kurang lebih 16 tahun yang lalu, Dua gadis SD berusia 10 tahun yang belum tahu banyak tentang persahabatan berjalan bersama menuju Poleko,di siang hari yang terik, dengan bekal sebungkus Mie instan yang paling populer di masa itu ; Megah Mie. 

Poleko, mungkin adalah garis batas Pesantren tempat dua gadis itu tinggal. Di sana ada sawah yang di masa itu benar-benar luas. Untuk ukuran mereka yang masih kanak-kanak, melihat hamparan hijau sawah sejauh mata memandang adalah sebuah pemindahan objek dari gambar di kertas kepada realita sungguhan. Dan itu sangat menyenangkan. Buku pelajaran seni "menggambar" saat SD dulu selalu penuh dengan komposisi yang itu-itu saja : dua gunung, matahari di tengah, jalan berkelok menuju gunung, dan sawah di sisian jalan. Sudah. Itu saja. Ketika Dua gadis kanak itu memutuskan melihat sawah bersama, setelah sekian tahun menggambarnya, bisa kalian bayangkan.... bagaimana bahagianya... 😁😁😁

Tibalah mereka di sana. Sawah Poleko, pukul 1 siang lewat beberapa menit. Keduanya berjalan-jalan mengitari sawah di atas gundukan tanah yang juga adalah pijakan jalan bagi para petani. Mereka ribut melihat siput dengan mata bertonjolan lagi panjang,mereka riuh dihempas angin, dan mie instan yang dimakan mentah di rumah-rumahan petani saat itu, masih dapat mereka rasakan nikmatnya setelah 15 tahun berlalu. Tentu saja itu bukan rasa mie-nya, tapi rasa kenangan. 

Begitulah. Saat itu salah satu dari keduanya membuat janji, bahwa perjalanan mengesankan siang ini akan mereka ulangi kembali dan dengan bekal makanan yang lebih banyak,keduanya sepakat. 

Tapi setelah negara api menyerang dan kasus kopi sianida menjadi sinetron unggulan..... *eh,😅  setelah ujian akhir SD, kemudian masa pubertas SMP dan kerumitan masa-masa SMA berlalu, janji itu seperti menghilang. Tak ada yang mencarinya, meski kadang kenangan tentang liburan kecil siang itu selalu menyisakan senyum ketika mengingatnya.

Siapa yang tahu, kalau ternyata Tuhan menyimpan janji kedua gadis kecil itu dan memberikannya kembali untuk ditunaikan 16 tahun kemudian. Bukan di sawah Poleko. Dan bukan hanya mereka berdua. Tapi dengan anak-anak mereka. Sudah pasti, kehendak Tuhan-lah, 16 tahun kemudian si gadis kecil yang membawa mie instan itu telah memiliki 5 anak, dan temannya yang paling ribut saat melihat siput di sawah waktu itu telah memiliki 3 anak. 

Di sinilah janji itu tunai. Hari saat Tuhan mengizinkan keduanya mengulangi rasa kenangan di sawah poleko saat itu. Mengizinkan Saya dan Amma. 

Kami mengulanginya dengan melakukan perjalanan ringan ke kota,hanya sekedar melatih kaki saya menginjak pedal gas dan rem mobil, serta memutar stir kiri dan kanan. anak-anak ikut, tapi tidak dengan para bapaknya. Ini perjalanan yang real "Me time" buat kami. Sepanjang jalan kami bicara hal apa saja, rumah tangga, anak-anak, pendidikan,lalu kami menertawakan nasib sambil mengunyah cemilan. Makan siang hari itu Amma yang bayar, saya senyum-senyum saja mengingat dia juga yang membawa mie instan di sawah Poleko puluhan tahun silam. Sudahlah, dia memang terlahir sebagai dermawan, tapi karena dia wanita mungkin disebutnya Dermawanti. 😊

Dan saya, tidak lagi seribut saat melihat siput di sawah waktu itu. Mungkin terlalu banyak garam kehidupan yang saya cerna, membuat keceriaan yang dulunya pecah menjadi asin, lalu kemudian asing. Tapi bagaimanapun, seperti kata para bijak ; kebahagiaan adalah pilihan.



Mereka 16 tahun kemudian... 😁


Jadi, bahagialah dikehidupan yang hanya sekali ini. Bahagia yang sederhana. Seperti dua gadis yang mengelilingi sawah kala itu, yang berpikir bahwa hidup adalah hijau yang lapang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar