Saya sering mendengar cerita-kisah orang-orang yang mengalami hal-hal baik —bisa dibilang ajaib—, ketika sedang melaksanakan ibadah di tanah suci. 


Adalah orang buta yang terijabah doanya di depan ka’bah dan tetiba bisa melihat, pernah pula saya mendengar orang tuli yang ia bisa mendengar suara adzan ketika sedang di Makkah. Ada yang sedang merasa kesulitan lalu kemudian rezeki dari arah tidak terduga datang, dan lainnya.


Saya pribadi melihat keajaiban itu seperti nikmat yang digambarkan Nabi Muhammad Saw terhadap penduduk syurga, bahwa salah satu diantara begitu banyak bentuk kenikmatan untuk penghuni syurga adalah terkabulnya segala keinginan bahkan yang masih terbesit dalam hati dan belum keluar sebagai ucapan di lisan. 


Di tanah haram itu, saya mencicipi nikmat seperti itu.

Hampir seluruh yang terbesit di hati —makanan, tempat ziarah, benda-benda, kesempatan—, alhamdulillah terijabah bahkan sebelum saya mengucapkannya sebagai doa. 


Pada satu momen, ketika saya dan suami sedang mabit dan mengambil posisi di pelataran Ka’bah, saya memandangi Ka’bah dan tertegun karena mengingat diri saya pernah memandang gambar Ka’bah di sebuah dinding mushola rumah makan dengan sangat khusyu’, sambil berbisik lirih…. “Ya Allah, saya mau ada di sana, duduk di pelataran dan memandanginya dari dekat, hingga luruh seluruh rindu ini…” 

Ketika berbisik doa itu, ada keyakinan utuh dalam hati saya bahwa itu akan terjadi. Bagaimanpun keterbatasan diri saya, itu akan terjadi. 


Yap, pada akhirnya, prasangka baik kita pada Allah Swt, tentang semua doa-doa yang telah kita rapal, akan berlabuh di satu titik; Happy ending.

Ada satu konsep pikiran dan semesta yang pernah saya baca; bahwa setiap kali pikiran kita menghendaki sesuatu, semesta bergerak mewujudkannya. 


Sebagai Muslim, kita memiliki Pemilik Semesta. Allah ar-Mulk. Pemilik Semesta ini kemudian menjelaskan diriNya bahwa; KehendakNya ada pada prasangka hambaNya. Itu artinya, apa yang berlaku dalam kehidupan kita, bergantung bagaimana kita menaruh prasangka pada Pemilik Semesta itu. 


Bahkan dalam keadaan buruk atau terpuruk, prasangka baik kita kepada Pemilik Semesta yang akan menentukan akhir keadaannya. Itulah sebabnya orang-orang mukmin mampu melihat hikmah pada setiap kejadian, karena prasangka baik itu tidak akan lahir kecuali dari rahim keimanan yang kokoh. 


Saya kemudian bertafakur, mengapa di syurga, salah satu bentuk nikmatnya adalah disegerakannya apa-apa keinginan yang terbesit di hati bahkan sebelum diucapkan oleh lisan?


Mungkin itu adalah balasan Allah untuk hambanya yang selalu berprasangka baik ketika di dunia. Allah Ar-Rahman tidak lagi menunggu keinginan itu menjadi permintaan yang diutarakan dalam kata, cukup prasangka baik bahwa Allah akan memberinya, sebagaimana dahulu di bumi ia meyakininya selalu. 


***

Catatan Hati Melihat Keajaiban Prasangka Baik Ketika Diijabah 

Makkah, 17 November 2023.


Mabit depan Ka'bah
Selepas Umrah Badal untuk Almarhumah Mama

Tahallul rame-rame... 
Selepas Tawaf, MasyaAllah Alhamdulillah..
Ketua Rombongan kita, Dek Amjad. Semoga Allah Swt limpahi keberkahan dalam keluarganya, dalam usahanya, dalam umurnya, dan dalam segala urusannya.