Selasa, 20 Maret 2012

me n' maple

“Jangan mawar,
 beri aku selembar daun maple saja.
 Itu adalah cinta yang  jingga di hatiku,
 seperti aku mencintai  senja dalam rinai rinai hujan,
 yang selalu mengingatkan ku padamu.”
_sebait cinta untuk Qawwam'Q_
 
Yah, jika saja aku mengenal daun maple sejak kecil, mungkin aku akan menyukainya sama seperti aku menyukai senja, rinai hujan, dan tulisan-tulisan dari susunan kata yang ajaib sejak dulu. (jangan bilang kalau gak suka uang!! Heheh) ^^v.
But, kesukaan ku yang satu ini, hanya ada di Negara dengan 4 musim, maka dalam rincian mimpi yang ku tulis, telah ku pahat kata pohon maple di dalamnya. Tidak cukup itu saja, kiri kanan aku bertanya pada google di Negara mana saja daun kuning keemasaan ini ada, dan jawaban yang paling kusuka adalah bahwa ia ada di jepang! Dan jepang adalah pahatan lain dalam mimpiku. 
 Jepang, kenapa lagi ?
The temple of the golden pavilion
Itu karena  sebuah tempat indah bernama kinkaku-ji,  kuil / pavilion emas yang dikelilingi pohon cemara dan halaman air dengan bebatuan yang tertata rapi. Ah, sebenarnya, terlalu banyak alasan untuk kesana, biarkan saja maple jadi titik alasan itu.
Bicara alasan, maple mempunyai alasan paling indah untuk ku menyukainya. Meski tidak berbuah, pohon ini cukup memberikan kesejukan bagi orang yang berteduh di bawahnya. Jika berguguran, dan berada di bawahnya, akan merasakan sensasi bintang-bintang yang berjatuhan, nah, saat luruh di hembus angin itulah yang paling ingin ku nikmati dari maple ini.
Selain keindahan-keindahan yang mewah itu, maple punya sisi melow juga…. _(hasil penelitian siapa? heheh)_ atau sebut saja filosofinya, ia adalah lambang lain dari kesetiaan, kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, dan keromantisan, … (ophy banget kan? ^^)…
tempat yang menunggu ku

Suatu hari dalam hidupku, aku ingin menikmati senja di bawah pohon itu, menikmati waktu yang meliuk malu-malu karena enggan mengusik kebahagianku, tidak melulu dalam bilik rumah bercat hijau dengan pagar dedaun hijau menghutan…  
*Belive my dream… much.

1 komentar: