Rabu, 05 September 2012

Seorang Adik.

Adik.

Sudah lama tidak melihatnya. Seorang adik yang kesepian nun di tanah Manado sana, kabar terakhir kudengar ia sedang mengukuhkan diri sebagai lelaki... tak ingin jadi beban hidup lagi, maka ia mulai menyadari arti tetesan keringat seorang lelaki.. bahwa lelaki tanpa jerih payah akan dicampakkan kehidupan. Itu pasti... tentu.

Masihkah saya kakaknya? Saya tidak selalu bisa mengingat hari ultahnya, ah... bahkan bodohnya, saya tidak tahu berapa umurnya kini, yang kutahu... ia sedang beranjak dewasa, melangkahi kelabilan masa remajanya.
Ada sebersit ngilu saat membaca pesan yang ia kirim lewat FB, baru saja...

“Saya tidak akan pulang kecuali 2 hal kak, pulang dengan cita-cita, atau dengan jasad tanpa nyawa. Panggil saya pecundang jika pulang tanpa apa-apa...”

Sedikit saja, sebelum saya mulai akut pada sisi melankolis diriku...

“Sebesar apapun kesalahan yang pernah kau perbuat, Kasih sayang Allah dan AmpunanNya, sungguh lebih luas dari langit dan bumi... tetaplah melangkah, setiap kali matahari terbit, itu adalah hari baru untukmu, jangan kotori ia dengan salah masa lalu...”

Ah, adikku, semoga Allah senantiasa menjagamu, seperti nama yang dengan penuh cinta diberikan Bapak dan Mama. Hifzullah.

0 komentar:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Advertisement

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sahabat Ruang Ini

Labels

BTemplates.com

Blogroll

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template

Follow Me On Instagram

About

Copyright © Ruang Tengah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com