Senin, 24 Juni 2013

Asing

Juni 24, 2013 0 Comments

Aku sudah berjalan cukup jauh saat ini, dalam lalu lalang kehidupan yang lain. Bising dan senyap hanya sedikit mengusikku, aku lebih suka diam saat berjalan, atau tepatnya tidak peduli.

Seorang lelaki memanggilku di tepian jalan, aku melihatnya, lalu mengacuhkannya.

Di sebuah sudut, seorang wanita kembali memanggilku, kali ini dengan seulas senyum.

Aku bisu. Kutinggalkan ia.

Pada langkah kesekian, aku mendengar isak seorang anak yang menyisakan sesak di dadaku. Tapi kakiku tak hendak berhenti melangkah.

Saat ini,

Aku hanya ingin pulang, pada diriku yang asing.  

  

Senin, 10 Juni 2013

Menitipmu Pada Hujan

Juni 10, 2013 0 Comments

Aku penasaran.... bagaimana aku akan menikmati hujan di umur tuaku, itu jika aku akan tua sebelum pulang padaNya.

Hari ini, di bawah guyuran hujan aku seperti serangga yang terjebak jaring. Perangkap kenangan yang mengayunkanku dari hari lalu ke mimpi masa depan. ah... hujan selalu baik padaku. Ia menyimpan segala hal tentangmu dengan sangat baik.... maka jika ia mulai merinai menyentuh bumi, ia kembalikan semuanya padaku. Dan aku selalu bisa menemukan bayangmu -utuh- dalam derainya.

Kuharap hujan akan selalu seperti itu, hingga saat wajahku dipenuhi garis tua, rambut memuram sebab uban, dan ingatan yang tak lagi mampu menyimpan banyak kenangan.... aku berharap masih menemukanmu dalam derainya saat aku berdiri menyandar tepi jendela menatap hujan.

Menemukanmu utuh. Menemukan diriku dalam cintamu.

Tetaplah seperti itu, hujanku. 

Jumat, 07 Juni 2013

Kesalahan

Juni 07, 2013 0 Comments
Saya menuliskan ini dalam rasa paling-paling bahagia. 

Saya pernah berpikir tentang sebuah kesalahan dalam memijak pilihan, tentang menghianati mimpi-mimpi yang pernah kupahat, tentang takdir apakah Tuhan pernah salah mengaturnya, dan tentang akhir… bagaimana saya akan berakhir.


# kesalahan.

Ini saat saya memikul mitsaqan ghaliza di umur yang belum genap 17 tahun. Kupikir, itu adalah kesalahan  terbesar dalam hidupku. Saat itu, saya berharap sedang bermimpi saja, dan akan segera bangun. Mendapati diriku dalam bayang impian yang kulukis sesempurna kehidupan masa muda yang kudambakan. Saya  mencintai buku, pena, tas yang dipenuh sesaki benda-benda seorang pelajar, bangku sekolah, gedung sekolah, guru-guru…. Lebih dari semuanya, saya mencintai ilmu. Dan saya masih ingin belajar. Sungguh…. Saya masih ingin mengabiskan waktu bersama benda dan hal-hal  seperti itu.

Sebenarnya, saya sudah mengatur semuanya, merencanakan semuanya, plan A dan plan B dalam setiap list hal yang saya rencankan telah tersusun apik. Saya menuliskan semuanya bahkan sebelum  meninggalkan bangku Tsanawiyah.
Setelah selesai Aliyah akan lanjut kuliah S1 di universitas mana, jurusan apa, kemudian S2 di mana, setelah itu apa… kemudian apa…. Dan apa……  

Tapi pernikahan yang saya tuliskan (insyaAllah) akan terjadi pada umur 25 tahun ternyata terjadi 7 tahun lebih cepat. Dan itu mengaburkan semua rencana hidup yang telah kubuat. Dan kemudian, kenyataan membuat saya belajar  menyederhanakan idealisme yang mulai  menjadi “muluk-muluk”  itu.

Saya mulai membuat garis dasar baru tentang kebahagiaan saya yang sesungguhnya.

KELUARGA.

Saya menempatkan itu pada garis dasar, sumbu utama kebahagiaanku.

Allah sungguh telah memberiku segalanya dalam keterbatasanku sebagai seorang hamba. Qawwam yang amat teramat sangat baik. Anak-anak yang sehat nan qurrata a’yun. Kupikir, saya telah sempurna dengan memiliki keduanya. Aku istri, aku Ibu. Dan semuanya kudapatkan di usia yang masih muda.

Alhamdulillah…..
Syukur hamba atas kesempurnaan karunia yang Engkau berikan.

Aku akan menjaganya…. Benar-benar akan menjaganya. Menjaga mereka.

Dan jika yang terjadi ini -benar-  adalah sebuah kesalahan, biarkan saya terus berada dalam kesalahan yang indah ini. Dan biarkan kesalahan ini berulang di kehidupan selanjutnya, dalam istana dan taman-taman syurgaMU.

Sungguh, aku telah jatuh cinta pada kesalahan paling besar dalam hidupku.