Kamis, 25 Juli 2013

Nyata Paling Jujur Tentangku

Juli 25, 2013 0 Comments



Harusnya, hari ini kita berbahagia. Ah, bukan kita, tapi kamu. Maksudku, harusnya, hari ini aku bisa membuatmu bahagia, lebih bahagia dari sebelumnya.

Kita saling mengenal di usiamu yang masih 25 tahun, aku masih mengingatnya dengan baik, hari itu, dengan hati yang masih semalu seorang pangantin baru, aku menyerahkan sebuah kado di hari ulang tahunmu. Sederhana memang, hanya sebuah baju koko putih. Aku senang melihat seoarang lelaki dengan pakaian seperti itu, itu sebabnya aku memberikan itu padamu.

Tentulah, dapat kau lihat keegoisanku hanya dari sebuah kado.

Aku memberikan yang aku suka untuk kau pakai, bukan yang kamu suka. Tapi aku berterima-kasih, sebab keegoisan yang bertahun membersamai di antara kita, kau mafhumkan dengan alasan usiaku yang memang masih ... ( aku tidak tahu mengatakannya apa) –kukira kata kekanak-kanakan tepat untukku. Kau selalu memaafkan dan memaafkan, telah cukup bertahun untukku melihat di kedalaman hatimu yang amat sangat lapang itu, bahwa benarlah : kau seorang penyayang. Aku mengagumimu.

31 tahun.

Kau seorang lelaki dewasa sekarang. Sekali waktu, aku mencandaimu dengan olokan lelaki berumur, dan kau selalu menjawab dengan senyum lebar dan semangat, : ” dulu muda, sekarang masih muda”.  Ah, sekali ini dengan sangat jujur ingin kukatakan.... aku mencintaimu. Seluruhnya. Sedalamnya.

Semangat, kerja keras, tanggung jawab, dan kasih sayang... bagaimana aku akan merasa cacat dari seorang pendamping hidup sepertimu. Aku bahkan mengira, syurga-pun akan hampa tanpamu. Itulah mengapa, aku ingin kau ada untukku, dunia akhirat.

Tapi, tahun ini, aku tidak memiliki apa-apa untuk kuberikan padamu, selain sebuah kejujuran. Kenyataan paling jujur tentangku.

#

Aku ini, dalam hal mencintai tak ubahnya bani israil pada Nabi Musa. Butuh namun munafik. Kau tahu bani israil itu, ia mengikuti Nabi Musa dalam kesenangan, meminta ini dan itu sebagai bukti kenabian, lalu ketika Nabi Musa akan menghadapi perkara besar, ia memilih untuk tinggal duduk di luar. Tidak mau tahu.

Aku takut mengatakan perihal ini padamu, tapi ini aku. Sejujurnya.
Doakan aku tak tenggelam bersama kaum fir’aun.

#

Barisan kalimat kering dari goresan tintaku.

Kau selalu memuji itu, katamu aku hebat berkata-berkalimat. Kukira, kini kaupun tahu sisi lain dari kata-kalimatku : ucapan serapah. Aku pandai menyumpahi, mengutuk dengan kata paling durhaka yang pernah kau dengar.
Sederhana kalimat adalah : aku menulis kebajikan saat lidahku menyumpah serapah.

Adakah yang lebih menakutkan dari memiliki diri seperti itu? Sekali lagi, aku takut mengatakan ini. Tapi ini aku, sejujurnya.

Doakan aku tak merasakan api neraka dari kebajikan dan serapah kata yang saling menghianati.

#

Kata seseorang, kejujuran itu adalah hal yang baik, tapi kado ini pastilah tak lebih baik dari kenyataan buruk tentangku.

Kuharap, kau masih akan menerimanya. Lalu memaafkannya. Seperti lalu, yang sudah-sudah.

*25 juli 2013
catatan hati di hari ulang tahunmu, lelaki terbaik dalam duniaku. Dalam hatiku.

Selasa, 23 Juli 2013

Mencintai Penanda Dosa

Juli 23, 2013 0 Comments

Hendak berbagi renungan, semoga bermanfaat.
( Ditulis sedalam makna, oleh : SALIM A. FILLAH )





“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Sumber Tulisan :
 -salim a. fillah, www.safillah.co.cc-

***


Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan, Yang Kita Jejak Bersama.

Juli 22, 2013 0 Comments
Ada yang ganjil pada Ramadhanku kali ini, tersebab sekat ruang dan waktu, pun keadaan. Tapi benarlah, hanya ketika kehilangan kita tahu apa itu ada. Kebersamaan.

  
Seperti telah menjadi sebuah tradisi untuk menghabiskan Ramadhan dengan ngumpul tuk berbuka bersama, meski itu hanya sesekali waktu, atau duduk bersama sambil tilawah untuk kemudian saling mengukur diri dalam fastabiqul khairat…. Duduk berjejar mendengar kajian ba’da subuh, lalu yang paling sederhana, pulang dan jalan bersama.

Ramadhan kemarin, meski tak seramai masa santri, tapi cukuplah untuk menjadi kenangan yang hangat. Siapa yang akan mengira jika di antara kita telah mendapat karunia merasai Ramadhan di tanah para Nabi, ( selamat Mace :) ), Marwah yang beberapa bulan sebelum Ramadhan menyempurnakan separuh agamanya, Amma yang kemudian hamil dengan anugerah bayi kembar yang dikandungnya, pun teman-teman lain yang mendapat apa yang mereka dapatkan tahun ini, hingga Ramadhan menjadi sunyi dengan waktu yang tak lagi menjadi milik teman.

Biarlah, kawan…

Kalian tahu aku. Selalu melankolis merindui hal-hal yang mungkin tak penting bagi kalian. Beginilah aku, sekali waktu disandra kenangan dan menjadi galau. Heheh…

Ramadhanku tahun ini berlalu di rumah saja sambil terus merindu suasana lalu. Tak seistimewa saat kita duduk melingkar menunggu buka puasa sambil membaca ma’tsurat dan tilawah, berebut sepiring kamblas sambil tertawa-tawa, dan saling melempar senyum saat duduk mendengar ceramah subuh lalu di antara kita ada yang tertidur duduk.

Yah,… selepas menulis ini, aku rasa akan sedikit baikan. Kalian tahu, merindukan kalian seperti bermain di bawah guyuran hujan yang deras. Dingin tapi menyenangkan….


Ramadhan ini, seperti sebelum-sebelumnya, selalu tersisa kekakugaman pada teman kita Lula, yang selalu istiqamah dengan target Ramadhannya, :)   


Meski tak bersama, kuharap dalam doa-doa kita tak pelit menyelip nama-nama saudara kita, agar meski tak di dunia, kelak di akhirat, doa-doa itu mengumpulkan kita dalam SyurgaNya. (kembali menikmati kamblas yang jauuuuuuuuhhh lebih yummy…. Ahahah … )

 

Ah, ya, sebelum beranjak dari tulisan ini, teriring salam special untuk sahabat kita, iyla…. Yang selepas Ramdhan juga _insyaAllah_ kan segera menggenapkan separuh agamanya, semoga yang terbaik untuk kita semua.





#sun kangen, ophy….
 
Maros, 23 juli 2013
Pukul 02.15, sejenak sebelum shalat lail...