Kamis, 29 Agustus 2013

Wasiat Paling Menakjubkan dari Syuhada Rab'aa

Agustus 29, 2013 0 Comments


Di Mesir, sejak kudeta yang dilakukan As sisi (Boneka Israel  yang lebih hina dari boneka sawah ) itu... begitu banyak kejadian yang dapat dijadikan ibrah, renungan inspirasi dan yah.... semuanya adalah cermin untuk mengukur diri.

Dan untuk semua kisah dari kenyataan yang terjadi hari ini di Mesir, saya akan lebih rajin untuk meng-Copas berita-beritanya ke “Ruang Tengah” ini, agar siapaun dan di waktu kapanpun seseorang mengunjungi Ruang ini dan membacanya, cukuplah itu menjadi bagian dari ‘serendah-rendahnya’ iman untukku menyampaikan perihal kebenaran agar mereka tak lagi membekukan hati untuk tidak peduli pada bagian tubuh mereka yang terluka nganga : SAUDARA SEIMAN.

Bacalah kawan ....




Kairo - Masih ingat gambar ini? Gambar ini memperlihatkan salah seorang korban luka yang sedang dievakuasi oleh seorang demonstran yang lain. Ini terjadi saat militer dan polisi membantai demonstran di Rab’ah 14 Agustus yang lalu. Tak ada yang mengira, banyak pelajaran di balik gambar ini.Korban terluka bernama Muhammad Utsman. Berasal dari kota Abul Mathamir, propinsi Buhaira. Beliau adalah pengantin baru, umurnya 27 tahun, hafal Al-Qur’an, dan berasal dari keluarga ulama.
Wajih Shabah, seorang saksi mata yang merupakan guru bahasa Arab dari desa yang sama menyampaikan kesaksiannya, “Muhammad Utsman terkena peluru pada pembantaian di Rab’ah. Maka ada seorang demonstran lain yang berusaha mengevakuasinya. Tapi sniper kudeta dengan tanpa ampun menembak orang yang menolong itu juga. Sehingga banyak orang memberi judul “syahid membopong syahid”.
Begitu terjatuh dari orang yang membawanya, Utsman memanggilku dengan histeris. Dia berusaha sekuat tenaga membisikkan sebuah wasiat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Anehnya, yang beliau bisikkan bukan wasiat menitipkan orangtua dan isterinya. Wasiatnya, “Aku berhutang pulsa 3 pounds kepada vodafone. Tolong kamu bayarkan ya…” Vodafone adalah sebuah perusahaan jaringan telepon selular.
Ketaqwaanlah yang membuat syahid ini mengingat hutang pulsanya yang tidak mencapai setengah dollar itu. Padahal media-media Mesir menyebarkan isu bahwa demonstran Rab’ah berdemo karena dibagi-bagi uang. (msa/dkw/islammemo)

Sumber: Dakwatuna

Dari ; http://www.pkspiyungan.org/2013/08/wasiat-paling-menakjubkan-di-dunia-dari.html

Jumat, 23 Agustus 2013

Pengantin Baru-- Pengantin Syurga dari Mesir.

Agustus 23, 2013 0 Comments

Foto diatas adalah salah satu syuhada diantara ribuan yang gugur pada pembantaian junta militer Mesir saat pembumihangusan Medan Rabi'ah Al-Adawiyah (14/8/2013). Dengan membawa mushaf, sang istri memeluknya untuk yang terakhir kali. Foto ini oleh Reuters disebut foto pengantin baru yang paling menyedihkan di Mesir.

Para syuhada telah menunaikan dan membuktikan janjinya dihadapan Allah, mereka hidup disisiNya dengan penuh kebahagiaan. Yang ditinggal pun tetap tegar dengan keyakinan bahwa kelak mereka akan dipertemukan kembali di jannahNYa.

Berikut, salah satu ungkapan istri syuhada, Asmaa Hussein, yang suaminya Amr Mohammed Kassem diantara ribuan syuhada Mesir. Gambarannya mirip dengan foto diatas...

Suamiku, Amr Mohamed Kassem kembali ke pangkuan Tuhannya pada usia 26 tahun.
Ia ditembak peluru tajam di dagunya hingga menembus leher. Ia gugur ketika mengikuti unjuk rasa di Alexandria, untuk menuntut keadilan bagi semua yang telah dibantai secara biadab oleh pasukan militer pada hari-hari dan pekan-pekan sebelumnya di seluruh penjuru Mesir.


Kemarin pagi aku pergi menuju ruang jenazah di rumah sakit terdekat di Alexandria untuk melihat Amr, sebelum ia dimandikan dan dimakamkan.

Ketika saya tiba di sana, banyak sekali orang menunggu di depan pintu untuk melihat anggota keluarga mereka yang juga terbunuh pada hari yang sama.
Teman-teman dan kerabat Amr juga berada di sana. Setelah menunggu beberapa lama, aku masuk ke dalam ruangan tempat Amr dibaringkan di atas meja, tertutup selimut panjang. 


Aku berdiri di sisinya dan membuka kain yang menutupi wajahnya, dan di sanalah ia, suamiku, kekasihku, rebah dalam dingin; padahal kurang dari 24 jam sebelumnya aku masih menyaksikan ia begitu bugar dan bahagia dan penuh senyum.

Lalu aku mencukur jambangnya, sebagiannya masih terasa lembut, sebagiannya lagi terasa kaku bersama simbah darah yang telah mengering. Hidungnya juga berdarah-darah dan ada goresan luka di sisi sebelah matanya, tapi ia begitu indah, bahkan sekalipun dalam kematian - bergeming seolah sedang tertidur. Lalu aku raba kedua bibir dan pipinya, dingin terasa.


Aku berdiri di sana agak lama, menatap wajahnya dalam-dalam, dan merasa seakan hatiku terlindas truk berulangkali. Aku tidak mau menangis keras-keras namun air mataku mengaliri pipi, dan aku lirihkan kepada kasihku
 

"Aku mencintaimu Amr. Aku tahu engkau selalu menginginkan gugur sebagai syahid, dan engkau telah memperoleh apa yang selalu engkau citakan, insya Allah, dan aku sangat bangga denganmu. Ya Allah ampunilah segala dosanya dan terimalah ia sebagai syuhada dan persatukanlah kami kembali di jannah-Mu kelak. Ya Allah sabarkanlah aku, karena aku tahu itulah waktu yang sudah Engkau tetapkan baginya, dan karena aku tahu bahwa dengan kehendak serta kasih sayang-Mu, ia hidup di sisi-Mu sebagai syahid."


Aku tidak beranjak seinchi-pun dari sisinya sampai aku merasa benar-benar siap.Aku bahkan tak tahu persis berapa lama aku berdiri di sana. Hingga kemudian, aku mencium pipinya dan mengatakan kepadanya bahwa aku akan bersua lagi dengannya insyaAllah, lalu aku menutup kembali wajahnya dan meninggalkan ruangan.


Dalam shalat Jenazah yang dilangsungkan setelah shalat Ashar, kulihat ada ratusan orang ikut serta - sahabat-sahabatnya, teman-temannya semasa sekolah, dan sanak famili.

Ia merupakan sosok yang dicintai banyak orang. Semuanya basah oleh air mata, kata-kata baik terungkap, dan orang-orang mengatakan syukur alhamdulillah karena Allah SWT telah menjemputnya dengan cara kematian terbaik di muka bumi ini.


Kami bersama menshalati dan mendoakannya. Kemudian aku beranjak keluar menyaksikan kerumunan ratusan orang membopong tubuhnya yang terbalut kafan menuju ke pemakaman. Para muslimah tidak ikut, kami menunggu hingga ia dimakamkan dan doa dipanjatkan. Setelah beberapa waktu, ibundanya, aku, dan kerabatnya yang perempuan berjalan hendak keluar menuju pemakaman ke tempat ia dikuburkan.


Namun tiba-tiba aku menyadari orang-orang di sekitarku berteriak kepadaku untuk pergi, lari melalui pintu samping. Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu tapi seketika mulai terdengar desing keras di belakangku, batu-batu dilemparkan ke arah kami, dan orang-orang berteriak agar para perempuan segera lari.


Maka aku lari dan berlari tanpa menoleh ke belakang. Ketika berlari itu, aku terkena sebongkah batu besar di bagian pipi, tapi alhamdulillah, teman-temannya Amr melihatku dan menyuruhku untuk berlari di depan mereka sehingga mereka berada di belakangku dan menjaga agar tidak terjadi apa-apa terhadapku.


Gerombolan orang yang menyerang kami itu ialah berandalan preman yang sebelumnya mendengar kabar bahwa di sana ada pemakaman anggota Ikhwanul Muslimin (padahal suamiku bukan anggota Ikhwanul Muslimin, ia semata pria relijius yang meyakini adanya haq dan bathil). Banyak orang terluka, diantaranya terkena luka tusukan, tetapi sejauh yang saya tahu, Alhamdulilah tidak ada korban jiwa.


Sebegitu bencinya gerombolan preman itu, bahkan dalam proses pemakamanpun mereka menyerang kami.
Namun kebencian mereka tak berarti apa-apa bagiku, jika musuh Allah membenci anda, maka itu adalah tanda bahwa Allah ridho, kita di jalan yang benar.


Wahai kawan, hatiku serasa sakit dan aku tak tahu bagaimana hati ini bisa begitu sakit. Aku merindukannya setiap kali aku terjaga dan mimpi tentang dia ketika aku tertidur. Dia adalah suami terbaik dari seorang wanita. Dia tak  pernah berharap banyak, dia sangat baik, murah hati, lembut dan penuh kasih, tetapi juga kuat dan berani.


Bajunya masih terpaku pada kait di kamar kami, seolah-olah dia akan berjalan melalui pintu dan mengganti bajun piama sebelum dia tidur. Temannya memberi saya dompet Amr dan ponsel, tapi hadiah pernikahan yang hilang,  masih tidak tahu di mana itu.

 Namun melalui semua ini, aku tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali Innalillahi wa inna ilayhi raji'un, dan terus berdoa untuknya.
 

Aku menolak untuk meratap dengan dengan protes kepada-Nya "mengapa" Ia membawanya atau berpikir "kalau saja dia tidak pergi ke protes pada hari Jumat, ia akan hidup."
Tidak, itu sudah takqdir bagi Amr untuk kembali ke Allah, aku tahu bahwa di luar bayangan keraguan. Dan meskipun aku berharap aku punya lebih banyak waktu dengan dia di dunia.

Aku dengan tulus berharap untuk bersatu kembali dengannya dan menjadi istrinya, jika Allah mengijinkanku, di surga. Dalam jannah waktu tidak berakhir, tidak ada takut terpisah dari orang yang Anda cintai. Aku percaya dengan setiap inci, bahwa cinta kita benar-benar cinta yang bisa bertahan dari dunia ini ke dunia berikutnya. Ya Allah, Engkau persatukan kembali Musa dengan ibunya setelah dia menempatkannya di sungai, ya Allah persatukan kembali Yaqoub dengan anaknya tercinta Yusuf setelah bertahun-tahun berpisah. Ya Allah Engkau lah yang mampu menyatukan hati kami kembali di akhirat nanti.


Semalam setelah kami pulang, aku menerima telepon dari seorang teman kerabat - seseorang yang telah menyaksikan pertama kali apa yang terjadi pada Amr setelah dia ditembak.


Dia mengatakan kepada kami bahwa pada kejadian itu Amr tidak langsung meninggal, dia masih hidup untuk beberapa saat. Tangan kirinya memegang dagunya di mana peluru itu masuk, dan jari telunjuk kanannya naik, dan dia berkata dengan jelas "Ashhadu anna la illaha ilAllah, wa ana ashhadu Muhammadun Rasulullah" dan ia memiliki senyum lebar di wajahnya, seolah-olah itu adalah hari pernikahannya.
Wahai kawan, kata-kata dorongan tidak begitu saja. Aku tak punya apa-apa selain cinta dan hormat untuk Anda semua, dan sekarang aku tahu jauh lebih banyak daripada sebelumnya bahwa sebagai umat Islam, meskipun kami memiliki kesalahan dalam komunitas kami, ketika kami bersama dan bersatu, kita benar-benar menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan.
 

Dukungan cinta dan doa telah menyentuhku. Aku pasti akan perlu doa dan dukungan ketika ku kembali ke Kanada insyaAllah. Aku memohon kepada Allah semoga tetap dikuatkan di jalan-Nya dan tidak menyimpang dari jalan-Nya, demi aku, anak-anak dan juga demi Amr - untuk menghormati dia di jalan yang Allah yang telah meridhoinya.
 

Ya habibi ya Amr... Duhai kekakasihku Amr... Kuberharap bahwa sekarang jiwamu berada dalam burung hijau dan terbang ke Jannah-Nya, makan dan minum dari ketentuan dan dekat kepada Allah, di mana kau tidak akan pernah meneteskan air mata lagi atau pernah merasa rasa kehilangan atau penderitaan.
 

Kau adalah cintaku di dunia ini dan insyaAllah setelahnya, kau ada di hatiku selalu, Doa-doaku akan terus teriring untukmu.


Asmaa Hussein


*sumber: islamedia, dll


Copas : http://www.pkspiyungan.org/2013/08/syuhada-rabaa-foto-pengantin-baru.html

Kau Harus Hidup! You Have to Live! (a poem for Egypt)

Agustus 23, 2013 0 Comments
Kau harus hidup!
Ibu mendoakanku
Bukan karena aku tua, dan kau anakku tercinta


Kau harus hidup!
Ayahku berkata
Bukan karena aku tua, dan karena engkau adalah mataku

Kau harus hidup!
Abangku berkata, melindungi tubuhku agar selamat
Bukan hanya karena kita sedarah dan kau adikku

Kau harus hidup!
Bukan karena aku istrimu
Sekalipun, aku demikian mencintaimu

Aku harus hidup!
Kukatakan pada diriku berulangkali
Kulihat ayahku tewas

Ibuku tewas
Abangku tewas
Juga istriku tewas
Seluruh kesaksianku berada dalam kameraku

Aku harus hidup!
Bukan hanya karena aku putra kesayangan ibu
Tapi aku putra dari negeri ini

Aku harus hidup!
Bukan karena aku mata ayahku
Tapi aku adalah mata dunia

Aku harus hidup!
Bukan karena aku suadara dari abangku
Tetapi aku adalah saudara bagi kemanusiaan

Aku harus hidup!
Bukan karena cinta istriku
Tetapi karena aku menikahi kejujuran, lebih dari menikahi dirinya

Aku harus hidup!
Sebesar keinginanku untuk mati saat ini, berada bersama orang-orang yang kucintai
Sebesar rasa sakit yang membunuhku

Tapi aku harus hidup
Untuk menceritakan pada dunia
Kebiadaban, kenistaan ini

Kupersembahkan:
Pada rakyat, jurnalis, seluruh kru berita
Yang telah memeluk dahsyat kematian
Meninggalkan orang-orang yang dicintai
Merasakan keperihan fisik dan emosional yang demikian dalam
Untuk tetap menceritakan pada dunia apa yang terjadi
You’re not alone, Egypt!


Puisi Karya Ganjar Widhiyoga, mahasiswa program doktoral Hubungan Internasional di New Castle, Inggris
(didedikasikan utk rekan2 wartawan, jurnalis, kamerawan & semua yg gugur dlm tragedi kemanusiaan)


###

“You have to live,”
She prayed for me.
“Not because I am old,
and you are my beloved son.”

“You have to live,”
He said to me.
“Not because I am blind,
and you are my eyes.”

“You have to live,”
He pushed me into safety.
“Not because you are my blood
and my brother.”

“You have to live,”
She shielded me.
“Not because you are my love,
eventhough I love you enough.”

I have to live!
I told to myself repeatedly.
When I saw my father died,
when I saw my mother died,
when I saw my brother died,
when I saw my beloved wife died…
All I witnessed behind my camera.

I have to live!
My mother had prayed for me.
Not because I am her son,
but because I am
the son of this land.

I have to live!
My father had said that to me.
Not because I am his eyes,
but because I am
the world’s eyes.

I have to live!
My brother had guarded me.
Not because I am his brother,
but because I am
the brother of humanity.

I have to live!
My wife had sacrificed herself for me.
Not because she loved me,
But because I am married to truth
Even before I met her.

I have to live,
I whispered to myself.
As much as I want to die
and be with those that I love…
As much as this pain
is killing me…
But I have to live…
Just to tell the world
about this massacre.

A tribute to:
All citizens, journalists and news crews
who have embraced the danger of death,
left their loved ones,
and are feeling terrible physical and emotional pains
to open the world’s eyes.
You have to live!

Copas : http://sintayudisia.wordpress.com/2013/08/23/kau-harus-hidup-you-have-to-live-a-poem-for-egypt/

Surat Muhammad Beltaji Pada Putrinya, Asmaa, yang Syahid di Rabaa Al- Adawiyah

Agustus 23, 2013 0 Comments
Letter from Dr Mohamed Beltaji to his martyred daughter

























Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, "Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk" dan kukatakan "Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga."

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, "Apakah ini malam pernikahanmu?" kau menjawab, "Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam". Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia... aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan.


__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab'ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.


*diterjemahkan oleh @nastarabdullah dari http://www.middleeastmonitor.com/news/africa/7007-letter-from-dr-mohamed-beltaji-to-his-martyred-daughter


Copas : http://www.pkspiyungan.org/2013/08/surat-muhammad-beltaji-pada-putrinya.html

Jumat, 16 Agustus 2013

Hari Ini Kami Untuk Mesir

Agustus 16, 2013 0 Comments




Hari ini, kami untuk Mesir....

Sejauh jarak yang memetak peta tempat kaki memijak bumi ini, kita saudara, sungguh kalian tidak sendiri.

Seperih luka-nganga di basah merah darah tubuh-tubuh syahid kalian, sesakit itu raga kami meski tak seiris luka menyentuh, hati kamilah yang lebam membiru duka.

Hari ini, kami untuk Mesir...

Di jalan-jalan dengan serak suara getir kami untuk mengutuk tiap nyawa yang terenggut nista dari kalian.

Di ruas-ruas langit kami himpun doa-doa lirih bersimbah air mata, agar mereka yang menghitamkan langit hatimu di kutuk, agar tiap darah mendapatkan haknya, agar tiap kehilangan diganti dengan yang lebih baik, agar kalian tabah, dan agar kami menyusul kalian.... dalam kesyahidan.

Hari ini, Kami untuk Mesir...

Di bawah terik matahari yang sebulan kalian nikmati sengatnya di Medan Raba’ah, kami mencicip sedikit dari manisnya perjuangan kalian....

Hanya sedikit, sungguh.

Sebab tak kami tahu, tentang nikmat apa yang kalian lihat di ujung maut... hingga wajah kalian berseri senyum hangat dalam kematian.

Hari ini, ah... harusnya bukan hari ini saja... kami ada untuk kalian di tiap simpul waktu yang retak oleh derita. Kami merasakannya, saudaraku.

Hari ini, Kami untuk Mesir...  Mengantar para syuhada. 


_foto aksi solidaritas untuk Mesir di Makassar yang sempat sy abadikan_







 Dan,
 Allahumma Ya Rahman... Karuniailah kami pemimpin yang dapat kami cintai dengan segenap hati, sepenuh jiwa, seperti saudara kami mencintai pemimpin mereka,
 Muhammad Moursi.




# Maros, jum'at untuk Mesir. 16 Agustus 2013.
RAFIAH. H



Kamis, 15 Agustus 2013

Luka dan Cemburu, Pada Syuhada Mesir

Agustus 15, 2013 0 Comments
Pagi hari saat terbangun, buru-buru kuraih hp untuk mengetahui perkembangan kondisi di Mesir. Ini telah menjadi kebiasaan sejak berita tentang presiden terpilih Muhammad Moursi digulingkan militer dalam sebuah kudeta. Sejak pertama mengikuti berita tentang mesir, saya selalu membaca dengan rasa sesak, meski kadang dalam beberapa tulisan yang mengulas keteguhan mereka ada rasa haru yang diselubungi iri, betapa mereka sangat yakin pada prinsip mereka dan betapa Allah menyayangi mereka dengan kesyahidan.

Pembantaian pertama, ( 8 Juli 2013), yang dilakukan militer pada saat demonstran sedang melaksanakan shalat subuh sungguh sangat menyayat hati. Kukatakan, mereka yang melakukan itu bukanlah manusia, tapi binatang.

Lalu kini, hari ini, pembantaian biadab itu kembali dilakukan, hanya dalam sehari lebih dari 4500 syahid dan tidak kurang dari 15000 korban luka-luka.

Menggambarkan kejadian yang menimpa mesir hari ini tak akan pernah cukup dengan jejaran kata dan lapis-lapis kalimat. Beberapa kali saya hanya bisa membisu dan tangan menjadi kaku untuk menuliskan sesuatu, sebab dalam hati ini, ada perih karena luka yang tak merah sebab darah.... luka ini ada pada ujung peluru tajam yang menembus tubuh mereka, pada darah yang membasah di pakaian mereka, pada gas beracun yang menyesakkan nafas mereka, pada panasnya api yang membakar mereka hidup-hidup, ....

Tapi entahlah.... aku mungkin salah mengira, tetapi adakah mereka menangis?

Saya tersenyum saat membaca berita tentang syahidnya putri pemimpin Ikhwan Dr. Muhammad Baltaji yang berumur 17 tahun, Asma' binti Baltaji.



Sesaat setelah gugurnya putri beliau, Dr Baltaji diwawacarai Al Jazeera. Beliau menyatakan, "Saya tidak butuh bela sungkawa untuk putriku Asma'. Sekarang dia sudah di Surga Firdaus".

Dan senyum itu berganti kecemburuan yang menampar di hati ketika kubaca tentang Dokter Abdurrahman Eldeeb yang bertugas sebagai tim medis di Rab'ah yang sebelum syahidnya telah mencium bau syurga.



Maha benar Allah dalam Firmannya, bahwa mereka tidak mati. Mereka ( yang syahid itu) hidup disisi Rabb-nya, dalam Rahmat dan Karunia yang besar.

Selamat jalan saudara-saudariku, Allah SWT sungguh menyayangi kalian hingga memilihkan kesyahidan bagi akhir hidupmu, berbahagialah di sisi Rabb bahwa darah kalian telah menjadi bahan bakar jihad dan dakwah yang panjang ini. Dalam luka perih di hati ini, sungguh kecemburuan adalah yang paling kami rasakan... kalian adalah yang terpilih.

Ramadhan terakhir kalian begitu khusyu’. Dalam jihad dan ukhuwah terbaik. Hari idul fitri kalian juga adalah yang terbesar di dunia dengan ratusan ribu jamaah. Dan akhir hidup kalian adalah yang terindah.

Hari ini, sejarah akan mencatat dengan tinta yang tak kan pernah dilupakan oleh peradaban manusia. Ke-biadab-an yang menimpa Mesir hari ini, kemarin dan esok, adalah luka seluruh umat islam. Begitu pun pada tiap nyawa muslim di dunia lainnya.

Ini adalah gambar (kenangan ) suka duka para demonstran mesir dalam keteguhannya di medan Raba'ah Al adawiyah yang saya kumpul dari media online : 

Demonstran damai memenuhi Raba'ah al dawiyah sejak hari pertama di gulingkannya priseden terpilih Muhammad Moursi

Pembantaian pertama oleh militer (8/7) sekitar 250 syahid dan tidak kurang 2000 luka-luka

setelah pembantaian, demonstran justru semakin bertambah, dan keteguhan mereka untuk tetap tinggal di medan Raba'ah Aladawiyah semakin kuat

memasuki bulan Ramadhan, buka puasa bersama di tenda


bahkan salah seorang demonstran telah menyiapkan kafan untuk menyambut karunia syahid

seorang istri di sisi jasad suaminya


shalat berjamaah memenuhi ruas-ruas jalan

dalam kondisi seperti ini tetap ada kebahagiaan, beberapa dari demonstran melaksanakan pernikahan mereka

bayi pertama yang lahir di medan Raba'ah, namnya Mu'tashim lahir pada 27 Ramadhan :)..... namun bayi ini menjadi salah satu korban pada pembantaian berdarah kedua.
Si kecil Mu'tashim tanpa nyawa.....

Suka cita Ummahat menyambut hari Idul Fitri :)


Pembantaian kedua 
dalam sehari lebih dari 4500 syahid dan 15000 lebih korban luka-luka

Sungguh demikian..... kalian adalah pemenang jihad ini.


Selamat Jalan Syuhada, Semoga kami menyusul kalian dengan kesyahidan pula...Allahumma amiiin.

















Selasa, 13 Agustus 2013

Dua Potong Mimpi

Agustus 13, 2013 1 Comments


Bismillahirrahmanirrahim...

Menuliskan ini dengan sepenuh khayal dan harap, seseorang yang dikaruniai kemampuan menafsir mimpi (seperti hal-nya nabi Yusuf) “terdampar” di blog ini dan membaca dua potong mimpi anehku ....

###

Malam, sepulang shalat isya di mesjid jami’, satu-satu tangga mesjid kulangkahi saat tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit.

Kupandangi langit hitam malam itu dengan tatap paling takut yang dimiliki wajahku. Sebuah kilatan putih mengiris langit –seperti silet mengoyak kertas- lalu langit hitam itu terbelah menjadi dua. Sangat jelas kulihat lapisan langit tergulung seperti halnya kasur yang digulung.... lalu nampak langit lapisan kedua.... (aku tidak tahu apa yang ada di tiap tingkatan langit) tapi yang kemudian terlihat di lapisan langit kedua itu adalah planet-planet lainnya.

Aku mengenali semua planet-planet yang mencul itu, sebab saat kelas 6 SD aku jatuh cinta pada pelajaran IPA tepat pada BAB TATA SURYA. Aku melihat venus mulai bergerak lambat, tak lama, dengan kecepatan penuh ia menabrak mars, lalu merkuri mulai menyerang planet lain. Mereka saling bertabrakan, dan mataku tertuju pada pluto yang seolah berlari mengejar bumi. Aku tahu pluto akan menghantam bumi, ................. kupikir : Dunia Kiamat.

Lalu aku berlari pulang dan kulihat semuanya telah hancur....

*sepotong mimpi ini saat aku kelas 1 Tsaniwiyah.

###

Siang hari di bawah sinar matahari, aku sedang bermain di halaman rumah. Sebuah kayu kutancapkan di tanah, aku ingin bermain bayangan. Tapi ada yang aneh dengan bayangan kayu yang kutancapkan tersebut, di tanah tidak hanya satu bayangan yang muncul, tetapi 8 bayang. Dan rasa heranku segera terjawab saat orang-orang mulai berlarian dalam kepanikan dan raut wajah pucat ketakutan dengan satu teriakan yang sama : “kiamaaaaaaat!!!”

Aku memandangi langit sebelah barat, dan 9 matahari muncul di sana, siap melumat bumi.

* aku terbangun dari tidur siangku dengan keringat dingin, kulihat jam dinding, pukul 2... aku belum shalat dzuhur.

Dan potongan mimpi ini tak berselang lama dari mimpi aneh yang lalu.

###

Aku benar-benar penasaran pada 2 potong mimpi ini, begitu jelas dalam ingatanku, tak sedikitpun ada yang hilang dari rincian kejadiannya, tidak seperti mimpi-mimpi yang lain, yang samar dan mudah terlupa dengan sendirinya. Mimpi ini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku mengingatnya sama seperti saat aku terbangun dengan keringat yang membasah dan degup jantung yang tak beraturan.

Lalu tiap kali mengingat ini, kukira : “memang kiamat sudah dekat”.