Rabu, 30 April 2014

Aku Baik-baik Saja

April 30, 2014 0 Comments
Dalam mimpi,  ada yang menanyakan kabarku...

Entah, boleh kutahu siapa kau yang menanyakan kabarku? Tak banyak orang yang butuh tahu bagaimana kabarku, dan kau bertanya,  aku senang. :)

Entah kau,  
Tapi aku,  beberapa hari lalu baru saja menambah beberapa huruf di belakang namaku. Orang menyebutnya gelar. Aku merasainya beban. Ah, untunglah aku seorang ummi, profesi mulia seumur hidup. Jadi meski tak menjadi apa,  aku bebas dari jerat kata pengangguran. 

Rafiah. S.Pd.I...

Tertawakan saja jika kau merasa lucu. Aku tidak keberatan, kurasa diriku juga belum banyak bermanfaat,  untuk apa pula gelar itu jika tidak dengan manfaatnya.. :)

Entah kau, 
Aku punya kebiasaan baru sekarang. Duduk di teras menekuri senja. Gesekan daun bambu oleh angin di depan rumah selalu berhasil mencuri senyumku. Aku duduk sambil mengamati anak-anak berlarian-bermain di sekitar rumah,  kadang sambil menyelesaikan beberapa lembar halaman al-Quran hingga menggenapi 1 juz,  kadang ditemani novel Hosseini yang belum selesai kubaca karena kesibukan skripsi yang menguras semuanya. Duduk seperti itu, seperti pulang pada diriku. Nyaman.

Entah kau, 
Tiba-tiba saja aku terobsesi pada Turki. Aku ingin ke sana,  rencana S2. Tapi mungkin belum saat ini,  formulir online pendaftaran untuk masuk telah tutup tanggal 31 Maret bulan lalu. Aih,  Kak miftah mengizinkanku menjejaki pendidikan S2 sambil berujar begini :"rasanya tidak nyaman kalau ade tidak ada di rumah" .... yah. Aku mencintai kejujurannya. Aku juga mencintai rumah. Dan dia mencintaiku berada dalam rumah... ahaha.. betapa banyak cinta... :)

Entah kau, 
Belakangan,  rindu pada Mama membekukanku. Ada sesuatu yang menyala dalam hatiku,  sesuatu yang bernama warisan. Aku ingin mewarisi karir hidupnya. Sebagai Daiyah,  Murabbiyah. Beberapa kali,  di tempat yang tak kusangka dan waktu yang kebetulan,  aku bertemu ummahat yang saat tahu aku putri Ibuku,  mereka memelukku. Matanya berkaca. Lalu terucap kalimat yang sama dari bibir yang berbeda-beda : "Nak, MasyaAllah,  Baik sekali itu Mamata, Tidak bisa kulupa itu Ibu." Hm,  akupun,  demikian. :)

Entah kau, 
Aku selalu membayangkan sebuah istana di syurga. Aku membayangkannya lengkap dengan kamar pribadiku,  kamar anak-anakku, gorden jendela yang menjuntai  berwarna krem berpadu hijau muda,  halaman depan yang hijau, sebidang kebun yang dipenuhi berbagai macam buah di bagian samping,  dan halaman belakang tempat aku menghabiskan waktu bersama suami dan anak. Lalu aku tertawa sendiri,  Masihkah aku satu istana dengan anak-anakku? bukankah mereka akan memiliki istana sendiri bersama bidadarinya? Oh,  bukankan di syurga semuanya menjadi muda dan sebaya? ..... ????

Entah kau, 
Tapi aku merasa sedang hidup dengan kehidupan yang sungguh.



Bagaimana denganmu?

Senin, 28 April 2014

Bertamu di Istana Kalian.

April 28, 2014 0 Comments

Demi cahaya di pelosok senja-syurga nanti,  aku di sini. Adik...
Menemani rintih ayat yang kalian lantun terbata, ikhlas.

Seperti bata-bata merah, istana kalian terbangun di hari-hari dunia
Saat pagi kalian dudukkan diri di teras putih masjid, lalu basah lidah kalian dengan ayat-ayatnya...

Hari ini,  
Kudekap kalian dalam diri seorang kakak..
Kelak,  terimalah aku
Sebagai tamu di istana mulia hafalan Quran kalian.

Tunggulah,  aku pasti bertamu.


Kampus Arafah,  29 April 2014. 09.35

Minggu, 27 April 2014

Mimpi ke-18

April 27, 2014 0 Comments
Aku belum juga selesai bermimpi , Tuhan. Beberapa, tak apalah Engkau sisa untukku di hari yang tak pasti. Tapi ini, mimpi yang ke-Delapan belasku sejak 6 tahun yang lalu... Bahagia bersamanya. Pastikan itu setiap hari. Setiap hari, Tuhan. Setiap hari. Memeluk Bahagia, 22 April 2014. 19.46.