Senin, 26 Januari 2015

Allah Punya Cara.

Gambar

Bismillah.....

Ada beberapa kali kejadian yang buat saya haru. Pertolongan Allah itu, betul dekat. Sangat dekat...

Ini kejadian 3 tahun lalu, tapi kesannya selalu hangat.

Hari itu ada agenda rapat LEMSOS di DPD, tepatnya pukul 2 siang. Tapi ba'da shalat dzuhur saya  sudah uring-uringan, pasalnya ketika saya buka dompet ternyata yang tersisa di dalamnya hanya 3000 rupiah. Tidak kurang tidak lebih.

Sambil menyiapkan Fathi dan Rangga yang sengaja saya ikutkan karena tidak ada yang jaga di rumah, saya terus mikir, dapat uang dari mana ini buat naik angkot? Abi masih di makassar dan pulang sore. Sementara benar-benar tidak ada simpanan lain selain yang ada di "celengan" anak-anak. Tapikan tidak enak nyungkil celengan anak...

Mulailah saya mengatur strategi.

Rp.3000 cukuplah buat naik angkot sampai DPD. Anak-anak kan tidak bayar. Untuk pulangnya nanti biar saya telfon Abi agar dijemput saja.

Pas mau keluar rumah, saya akan menelfon suami untuk izin keluar rapat sekalian minta dijemput sore nanti. Tapi pemberitahuan "pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini" membuat saya pias. Pulsa pun tak ada, Ya Allah....

Semangat saya keluar rapat perlahan terkikis. Saya duduk sejenak memikirkan cara lain untuk pulang nanti. Sudah pukul 13.20. Setengah jam lagi dari jadwal rapat. Ketua Lemsos yang tidak lain adalah Murabbiyah saya waktu itu adalah pribadi tepat waktu, itu sungguh berpengaruh pada anggota LEMSOS, kami jadi pantang telat hadir rapat.

Tiba-tiba saya tersadar, loh, kan nanti bisa pinjam hp nya teman Lemsos pas sampai di DPD buat nelfon. Saya kembali bangkit, anak-anak sudah menunggu di luar rumah, sambil mengunci pintu rumah hati saya berbisik pelan : "Ya Allah, saya keluar rumah bukan untuk diri pribadi saya, insyaAllah ini bagian dari dakwah, mudahkanlah Ya Allah..." habis itu, hati rasanya tenaaaang sekali.

Jarak dari rumah ke jalan raya cukup jauh, meski Rangga sudah bisa berjalan sendiri tapi sengaja saya gendong biar lebih cepat. Fathi mengikut sambil berlari-lari kecil, wajahnya ceria, selalu seperti itu tiap kali ikut, mungkin itu semacam rekreasi kecil untuk anak-anak sepertinya.

Tiba di pinggiran jalan raya, di bawah panas terik saya menunggu angkot. Tidak berapa lama, sebuah mobil angkot berhenti di depan saya. Saya naik, langsung duduk dan mengatur posisi duduk anak-anak, tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya. Saya menoleh, dan MasyaAllah, Ketua Lemsos!

Ia tersenyum, sambil mengusap-ngusap kepala Fathi ia berucap sesuatu yang terdengar seperti do'a : "MasyaAllah, mujahidnya Ummi ini, masih kecil sudah ikut ummi berjuang ya. Jadi penerusnya Ummi-Abi nanti ini...."

Jadilah perjalan di atas angkot itu menjadi moment sang ummahat militan itu berkisah tentang dirinya saat dulu anak-anaknya masih se usia anak-anak saya. Katanya, sudah lumrah bagi seorang daiyah menenteng anak kesana-kemari. InsyaAllah itu tidak membebani dunia anak, justru itu adalah bagian dari pembelajaran untuk mereka. Malah, sejak kecil, anak-anak yang selalu ikut umminya dalam agenda-agenda dakwah akan lebih menegenal dakwah ini, pola pikir mereka terbentuk secara alami. Perlahan tapi pasti, mereka akan menjadi generasi dakwah selanjutanya.

Senyum saya tak henti. Benarlah seorang Murabbiyah, di manapun, yang dibicarakan adalah kebaikan.

Tiba di DPD, Saya benar bersyukur. Beliau membayar uang angkot saya. Berarti, 3000 rupiah di dompet saya bisa buat pulang nanti. Alhamdulillah, pertolongan Allah benar dekat.

Selesai rapat Lemsos, Ukhti Inna yang bagian bendahara menyerahkan selembar amplop. Katanya itu dana operasional pas kegiatan pelatihan minggu lalu yang baru sempat dia berikan.

Alhamdulillah.... rezeki lagi. Allah SWT tidak hanya menolong saya dalam hal uang angkot yang sedari tadi saya khawatirkan, Allah bahkan memberi saya lebih.

Dan sempurnalah pertolongan Allah saat saya keluar dari DPD, dan mendapati suami duduk "anteng" di atas motornya menunggui saya. Padahal saya lupa menelfonnya karena langsung rapat.

"Abi, tau dari mana saya di DPD?"

" Yeah... insting suami... " jawabnya merasa hebat karena berhasil menemukan anak-istrinya. Heheh (Padahal kan memang sudah jadwal rapat tiap hari selasa di DPD).

Sesampai di rumah, saya membuka amplop pemberian di rapat tadi. Lalu saya pandangi lama uang 3000 rupiah yang masih utuh di dompet.

Ya Rahman Ya Rahim....
Engkau memiliki cara yang sempurna dalam menolong HambaMu.

____________

Kiranya punya kisah yang sama?  Tentulah..... :)


1 komentar: