Minggu, 11 Januari 2015

Merawat Cinta, antara Memiliki dan Melepaskan.

Seorang perempuan pernah datang padaku, dan berkata terus terang :

"Aku mencintai suamimu"

Aku tersenyum. Pahit.

"Kalau begitu, mintalah ia pada Allah. Karena dia milik Allah bukan milikku". Jawabku.

Lalu aku pulang, dalam tawakkal.
_______________
Sumber gambar

Di tingkat bijak itu, tentulah saya belum. Percakapan itu adalah percakapan seorang sahabat saya dengan seorang perempuan yang sedang menggilai suaminya. Dan kukira, sekarang dia sedang tersenyum mendapati aku menulis sepotong kisahnya.

Ya kawan, izinkan saya menulis sesuatu tentang kebijaksanaan seorang istri.

Saat menjadi istri, seluruhnya suami adalah kita. Makan, pakaian, masalah, pandangan, dan hati. Semuanya adalah kita. Sejak ijab kabul di ucap, istri memulai hari sepenuhnya hanya tentang insan baru dalam hidupnya : suami.

Hal sebenarnya yang dilakukan Istri adalah merawat 2 hal sekaligus. Merawat keluarga dan merawat cinta.

*Di atas itu cuma prolog ya...
Mari kita masuk inti...

Merawat keluarga, usahlah kita bahas ini. Ada pakar yang telah banyak menulis dan membicarakannya.

Saya hanya tertarik pada hal merawat cinta yang dilakukan sahabat saya.

Usia pernikahannya 10 tahun. Itu sama artinya ia merawat cinta 10 tahun. Tidak kurang tidak lebih. Maksud saya, mereka menikah tanpa pancaran, jadi tidak ada "plus" waktu di antara mereka dalam cinta. Semua berangkat dari nol tepat ketika ijab-kabul terucap.

Cinta di antara keduanya lahir sempurna. Tentulah, embrio cinta mereka sehat, dan tumbuh dalam rahim yang diberkahi. Bukan macam embrio cinta yang lahir dari rahim maksiat semisal pacaran, yang akhirnya berbuah cinta "buta", cinta yang cacat.

Jadi, sahabat saya sedang merawat cinta yang "melihat", tidak buta, tidak cacat. Dirawatnya pun tidak mudah, semua tahu itu, pernikahan selalu punya riak.

Lima tahun berlalu, mereka memiliki 2 anak.

Sepuluh tahun kemudian, 4 anak.

Sahabat saya masih merawat cinta.

Kemudian tiba hari ketika seorang perempuan datang berterus terang, katanya ia cinta pada sang suami.

Karena yang dirawat adalah cinta yang sehat, sahabat saya tidak langsung mencak-mencak sambil mengutuki perempuan itu. Di dengarnya semua alasan, penjelasan, dan harapan-harapan si perempuan.

*aih,! klo saya kuamba'mi... :(

Senja itu, sahabat saya menutup pertemuannya dengan perempuan itu sambil mengucap kebijaksanaannya. "Mintalah pada Allah, karena dia milik Allah".
_________

Kebijaksanaan yang lahir dari merawat cinta sepuluh tahun lamanya. Saya tertegun ketika mendengarnya bercerita. Orang-orang menyebut cinta adalah memiliki seutuhnya, sepenuhnya. Tapi sahabat saya memahami jauh lebih dalam dari cinta yang dipahami kebanyakan orang.

Ia mencintai, merawatnya, tapi tak pernah lupa hakikat memiliki. Bahwa bahkan diri kita, bukan jua milik kita, kita milik Allah. Ia tidak menyuruh perempuan itu berhenti mencintai suaminya, ia juga tidak menantang untuk dilangkahi mayatnya. Ia hanya menyuruhnya berdoa, meminta orang yang dicintainya pada Allah.

Sahabat saya, telah sampai pada makna cinta yang dirawatnya.

Bahwa dalam cinta mulia yang lahir dari pernikahan, "hak memiliki" kita adalah kesempatan untuk saling mengisi kebaikan. Bukan hak memiliki hati, rasa, dan diri sang suami sepenuhnya.
_________

*Ada yang penasaran endingnya "si perempuan" ???

Ehehhehe.....
_________

Seluruh tulisan ini terinspirasi sahabat saya, yang kiranya baik jika cukup saya dan dia yang saling tahu.
Itulah pemirsa, berkawanlah dengan si baik, seumpama kau berkawan dengan penjual minyak wangi. Jika kau tidak dapat parfum gratis, cukuplah jika kau dihinggapi wanginya.

Terima kasih "wangi" inspirasi hidupnya sahabat. Uhibbuki fillah....

2 komentar:

  1. Siiippp InsyaAllah,
    Is, kangen ka de. Betulannnn..... :)

    BalasHapus