Senin, 27 Juli 2015

Ustadz Arham, Ayah Yang Telah Pergi.

Juli 27, 2015 0 Comments
Sebagian Ayah, hanya bisa menjadi orang tua bagi anaknya, sementara yang lain, mampu menjadi Ayah di hati banyak anak. 

Ustadz Arham, begitu saya sering menyapanya. Beliau menyisakan banyak wajah dalam ingatan saya. Di manado, tempat saya melewati masa kecil, tempat ingatan dan kenangan mulai terbentuk perlahan, dari tiang-tiang sekolah cabang Pesantren Darul Istiqamah, dinding yang berlubang, tangisan teman-teman tk, kotak makan warna biru, terbayang wajah beliau yang tersenyum. 

Juga setelah puluhan tahun kemudian, ketika beliau hadir dalam kelas Aliyah saya, menulis gurat-gurat angka dan rumus-rumus di papan tulis, saya tidak tahu bahwa saya akan menyukai pelajaran yang membuat saya selalu lari darinya : Matematika. Kesabaran beliau, senyum hangat, serta perhatian yang lapang, menjadi jembatan ilmu yang tak berliku.

Suatu kali, di akhir kelas 3 Aliyah saya, beliau dengan senang hati meluangkan waktu istirahat malamnya dan membuka pintu rumahnya untuk mengajari saya dan Amma beberapa rumus matematika yang agak sulit. Dengan tekun dijabarkannya rumus itu, ia tidak memaksa kami untuk memahami dan mengerti dengan cepat, penuh bijak beliau menuntun kami untuk tidak mudah menyerah, bukan hanya pada pelajaran matematika, tapi juga pada hidup.

Ia mewariskan ilmu tidak hanya sebagai guru pada muridnya, tapi juga sebagai Ayah pada anaknya. Dan itu, mengapa ia akan dikenang di hati setiap kami.

Hari ini, Senin 27 Juli 2015, beliau tutup usia. 

Allah Maha Mengatur, pun cara kematian yang bagaimana. Namun doa-doa yang berbisik di antara air mata yang tumpah adalah ketulusan dari rasa kehilangan yang sangat. 

Entah saya, entah sesiapa yang lain, tapi beliau telah menyisakan kami wadah amal jariyah untuknya, dari ilmu yang bermanfaat dan doa seorang anak yang shalih.

Selamat Jalan Ustadz, Guru, dan Ayah ...

Segala ilmu, Setiap kasih sayang, serta ruas-ruas kebaikan yang engkau berikan, semoga diterima di sisiNya. 

Sementara doa, adalah cara kami menyayangimu di alam sana.

___________

Pukul 01.45 dini hari, ketika wajah beliau terbayang dengan hangat. 

Minggu, 05 Juli 2015

Tentang Menua Bersama.

Juli 05, 2015 0 Comments

Aku mulai suka mangamati pasangan tua. Suami Istri yang rambutnya memutih uban, wajahnya kriput, kadang-kadang batuk, dan suaranya gemetar saat berbicara. Aku memperhatikan mereka saling menatap saat berbicara, bagaimana mereka menukar senyum, atau tertawa dan saling memamerkan gusi tak bergigi.

Itu pemandangan yang hangat.

Sepasang yang menua bersama, mungkin tak lagi banyak kenangan yang bisa diingat karena pelupa adalah memang penyakit tua, tapi untuk mereka waktu seperti sungkan menyembunyikan cinta.

Hari ini 8 tahun kita. Selepas matahari terbit kukalung doa di pergelangan takdir untuk menua bersamamu. Tidak di dunia saja, semoga hingga di nafas akhirat kita.

"Dan Allah itu dekat. Mintalah padaNya, pasti dikabulkanNya."

________________
Perjalanan ke Pinrang
5 Juli 2015, Di 8 tahun pelayaran bahtera kita.