Rabu, 30 September 2015

Suatu Siang Di Desa Ampekalle.

September 30, 2015 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahim….

Bersama Keluarga Baru... :)
Kalau sudah terlanjur mampir di sini, saya harap kalian tidak merasa tersesat dan menyesal… heheh, jadi, selamat membaca…..

Kali ini tulisan ringan saja, tapi karena secara pribadi ini mengesankan, jadilah saya abadikan di ruang ini.

Beberapa minggu lalu, yang minggunya sudah agak kelamaan sebenarnya, sebelum Idul Adha-lah, Suami saya yang penyayang dan baik hati itu mengajak jalan-jalan ke sebuah Dusun tempat penelitian *S3-nya. (yang pake bintang itu mengandung dusta pemirsa) heheh..

Waktu mengajak katanya : ” tempatnya cantik de, ada dermaganya, ada rumah-rumahan bisa duduk-duduk santai, lautnya bersih, sekalian silaturrahmi ke ketua kelompok Bakko Lestari, sudah lama itu nasuruhka ajakki ke sana jalan-jalan…”

Dari hal-hal yang dipaparkan dalam bujukannya, saya sebenarnya lebih tertarik ke pemandangan yang menjanjikan itu ketimbang silaturrahimnya… ups! Dan jadilah, saya bersiap-siap dengan sepenuh hati. Memilih baju biru muda dengan motif  polkadot dan dipadu jilbab biru muda polos, niatnya sih biar lebih berpadu sama latar lautnya kalau nantinya berfoto di sana. (Ketahuankan, niatnya memang mau pergi menghabiskan memori kamera) -_-‘

Rencana berangkat pagi-pagi bergeser ke  jam 10.20, karena rapat di kampus. Kami berangkat dengan motor milik kakak ipar, hari itu udara panas sekali, tapi di hati rasanya adem dan berbunga-bunga. Begitulah saya kalau di ajak kemana-kemana, Sukkaaaaaaaa skaliii….

Di jalan, kami mampir beli cemilan-cemilan untuk teman santai nanti di sana, Kak Miftah juga tidak lupa beli oleh-oleh buat ketua kelompok Bakko Lestari. Setelah perjalanan yang cukup lama, di bawah terik matahari yang menyengat, tibalah kami memasuki perkampungan pesisir.

Kak Miftah mulai melambatkan laju motornya, sesekali ia turun dari motor untuk ambil gambar sebagai dokumentasi penelitiannya, saat melihat pemandangan perkampungan di sana  rasanya mulai agak sedikit curiga, jangan-jangan tempat yang katanya cantik itu bakalan jauh dari harapan.

Sepanjang jalan, karena ini musim kemarau yang sangat,  inilah yang saya lihat : Sawah-sawah kering kerontang, ternak-ternak kurus dan kelelahan, bapak-bapak masyarakat banyak yang duduk bertelanjang dada berteduh di bawah rumah panggung mereka sambil mengibaskan kipas ala kadarnya untuk mengusir panas, kolam-kolam ikan mengering, dan bau amis bangkai ikan benar-benar membuat layu bunga-bunga yang tadinya bermekaran di hati saya. Rasanya benar-benar fatamorgana………

Tibalah kami di tempat tujuan. Dusun Binanga Sangkara Desa Ampekalle Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.  Untuk  pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat ini setelah 25 tahun saya hidup di Maros,  padahal ini masih bagian Maros, tapi rasanya jauuuuuuuuuuuuhhh skali, tiap kali motor berbelok, saya kira sudah sampai! ternyata masih ada belokan lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Seperti saya sedang datang ke “Negri Far Far Away” dalam serial kartun Shrek. Hahahah…

Setelah memarkir motor di kolong rumah warga, kami menuju dermaga. Kapal-kapal nelayan banyak yang bersandar karena air laut surut, bahkan sampai di ujung dermaga semuanya kering. Pupuslah harapan saya untuk berpose cantik dengan latar belakang laut, kenyataannya yang saya dapati hanyalah anak-anak kepiting yang sedang bermain petak umpet dari satu lobang ke lobang yang lain, saya melihat mereka dan membayangkan Mr. Krabs dari Bikini Bottom sedang menikmati musim panas, yah, mungkin semacam inilah sebenarnya.

Ini beberapa gambar saja yang saya ambil, sekedar jadi kenangan kali pertama menginjak kaki di “negri Far Far Away” dusun Ampekalle itu…

kering..



Kering lagi...

Masih kering...

Kering Juga...

Lumayanlah...

Hm, yang di atas itu sebenarnya tulisan pembuka saja. Inilah Kesannya…

Setelah puas bersantai di dermaga, kami menuju rumah ketua kelompok Bakko Lestari. Ia-nya seorang ibu, namanya ibu Jamilah. Begitu kami datang, MasyaAllah, sambutannya, kami bersalaman dan ia langsung saja terasa hangat bagi saya. Wajahnya tak henti berbinar, kami dihidangkan makan siang dengan menu kepiting hasil budidayanya.  Hari itu, ada beberapa ibu-ibu yang sedang mengerjakan kepiting, mereka memisahkan daging dari cangkangnya untuk diolah selanjutnya. Sambil memilah kepiting, Ibu Jamilah bercerita, katanya “Alhmdulillah sekarang jalan sudah bagus, dulu itu, waktu Pak Miftah dan Bang Cawi masuk ke sini untuk melatih kita-kita, jalanan itu masih jelek. Alhamdulillah, ada orang yang mau jauh-jauh datang ke sini kasi’ kita ilmunya untuk olah kepiting jadi kripik, ajar kita cara membibit bakau juga”.

Yah,  beginilah orang-orang yang mensyukuri kehadiran kita dalam hidup mereka. Saya mengerti mengapa suami saya lebih suka kerja-kerja lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ketimbang jadi PNS atau karyawan kantoran, ternyata,  pekerjaan seperti ini lebih menghidupkan kehidupan. Pekerjaan yang lebih banyak mengundang doa-doa dari orang-orang yang berterima kasih atas ilmu yang sebenarnya tidak banyak tapi bersedia diajarkan, pekerjaan yang membuat hidup orang lain lebih memiliki arti, nilai, dan martabat. Benarlah yang dikatakan Rasulullah, sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat.

Sepulang dari sana, di atas motor, saya memikirkan tentang pekerjaan suami saya. Bahwa nafkah, ternyata tidak selalu adalah materi. Nafkah juga, adalah saat suami memiliki waktu untuk membahagiakan istri, (seperti mengajak saya jalan-jalan, heheh), juga, mengajari makna dan arti kehidupan dengan cara yang lembut, atau lebih dari itu, nafkah adalah ketika doa-doa mengalir untuk kita dari orang-orang yang merasakan manfaat dari pekerjaan mencari nafkah itu sendiri.

Seperti hari itu, saya merasa mendapat keluarga baru, keluarga yang akan saling mendoakan dalam kebaikan. 


                                 

Bersama bu Jamila


Semoga senantiasa dilimpahi keberkahan untukmu, bu Jamilah dan keluarga. 
Dari kami, Sekeluarga.
 

Selasa, 08 September 2015

Antara Hokage dan Pesawat Tempur.

September 08, 2015 0 Comments
Impian tak terbatas itu

Anak-anak kita mulai banyak bertanya, hal biasa yang sepele juga hal rumit yang kadang hanya bisa dijawab dengan senyum. 

Beberapa hari yang lalu, kakak fathi bertanya sesuatu, tentang "apa itu mimpi tak terbatas?"

Sebenarnya, saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. "Mimpi tak terbatas" adalah hal yang kupunya tapi belum juga menjadi nyata. Iya, masih begitu banyak mimpi, tapi juga begitu banyak batas yang belum terurai. Mungkin belum banyak ikhtiar dan amal yang bisa mengangkat doa-doa tentang mimpi itu, mungkin...

Tapi, pertanyaan kakak fathi, adalah satu titik menakjubkan dari usianya. Ketika saya hanya menjawab dengan senyum, ia kemudian menimpali... 

"Ummi, itu mimpi tak terbatas seperti Naruto yang mau jadi Hokage?"

Mmm, Naruto yang mau jadi Hokage. Itu contoh sederhana yang paling mengena baginya. Saya sadar, saya terlambat mengenalkan mimpi tak terbatas dari Shalahuddin Al Ayyubi yang merebut kembali al Quds dari tangan Salibis,tentang Muhammad al Fatih sang penakluk Konstantinopel,tentang mimpi sang mujahid syeÄ·h Ahmad Yasin yang benar tak terbatas cacat fisik dirinya, tentang sesipapun dalam sejarah cahaya islam telah mengukir mimpi mereka menjadi tak terbatas. Saya benar benar merasa terlambat untuk itu. 

"Ummi,..."

"Iye...."

"Mimpi tak terbatasku saya mau buat pesawat tempur.."

Hm, nak... semoga kau bisa mewujudkan apapun mimpimu. Sudah lama doa-doaku dirajai namamu,hingga  lupa berdoa untuk diriku sendiri. 

"Ummi, apa kita mimpi tak terbatas ta'?"

Ah... Sekali lagi, saya hanya bisa tersenyum. 
Kiranya, impian tak terbatasku adalah segala impian besarmu nak... 

 Hiduplah dengan baik. :)