Selasa, 12 Juli 2016

Memahami Medan Pernikahan, Bukan Kegagalan.

Sumber Gambar


Ini tahun ke-9 kami. Saya dan suami. Bagaimanapun banyaknya bahagia yang kami rasa, ada saat di mana perasaan gagal begitu dalam menelan diri saya pribadi. Pertemuan dari rasa gagal yang saya rasakan dengan begitu banyak kenyataan pernikahan membuat sudutpandang tersendiri dalam pikiran saya. Perspektif yang mungkin masih jauh dari hakikat, tapi saya tetap mencoba memahaminya...

Setiap pernikahan akan punya masa "sakit", dan saya bahkan pernah "kritis". Saat Ibu Ainun meninggal dunia dan Pak Habibie begitu terpukul karena kehilangannya, saya memandangi foto Pak Habibie yang menangis lemah memeluk batu nisan istrinya sambil bertanya dalam diri saya : apakah Habibie dan Ainun juga pernah bertengkar hebat? Apakah mereka pernah merasa gagal menjalani pernikahannya? Apakah mereka pernah berpikir untuk menyerah? Bagaimana setia itu ada?

Ketika saya akan menikah, saya tidak tahu apa-apa kecuali bahwa pernikahan adalah riak tak berkesudahan. Iya benar, pernikahan punya defenisi jelas dan ilmu yang telah banyak menjadi kata-kalimat dalam buku-buku panduan hidup berumah tangga dengan ratusan-ribuan judul. Tapi hakikat pernikahan tidak akan kau dapatkan jika tidak menjalaninya. Karena pernikahan punya pola medan yang berbeda, seperti sidik jari manusia,setiap tangan memilikinya, tapi dengan bentuk pola yang berbeda. Mungkin itu disebut nasib,pun sebagian orang menamainya takdir. 

Riak ini, saban waktu hanya berbentuk ombak kecil, dan di waktu yang lain bisa berwujud tsunami. Di sinilah kadang segala teori pernikahan habis dihempasnya dan hanya menyisakan pilihan-pilihan sulit. Salah satunya adalah perceraian.

Jadi, apakah perceraian adalah kegagalan? 

Bagi saya, tidak. 

Karena pernikahan bukan Game. Pernikahan bukan permainan yang bisa kau hentikan di tengah pertarungan atau kau ulangi dengan "nyawa" baru jika kau gameover. Pernikahan adalah saat kau tetap melangkah dalam kesulitan, dan bertahan sampai akhir. Tidak satupun orang yang menikah yang tahu akan apa yang bakal dihadapinya. Semuanya melangkah menjalani medan takdirnya yang misteri. Maka perceraian bukanlah kegagalan, hanya jalan keluar dari medan yang tidak lagi dibingkai tujuan pernikahan : untuk Sakinah, agar Mawaddah, juga senantiasa Rahmah. Adakah disebut kegagalan bagi hal yang dihalalkan Allah sekalipun dibenciNya? Perceraian sungguh bukan kegagalan, sebab ia adalah pilihan terakhir, bukan rencana di awal.

Medan pernikahan setiap orang berbeda. Pola masalah dan kerumitannya juga tidak sama. Itulah mengapa tidak ada hak sedikit pun bagi kita untuk menuduh dan menghakimi setiap orang yang "terlihat" gagal dalam pernikahannya, karena kita tidak tahu medan yang ditempuhnya, mungkin di sana terjal, curam dan berbatu. Mungkin di sana ada musim kemarau panjang yang telah mengeringkan airmata atau musim dingin yang telah membekukan rasa. Kita tidak tahu itu.

Maka letak kegagalan itu sesungguhnya adalah bagi mereka yang menjadikan pernikahan sebagai permainan : yang tak berniat setia dalam suka dan duka, yang menyerah sebelum mencoba bertahan. Hanya bersenang-senang saja, persis ketika sedang bermain game. 

9 tahun dalam ikatan ini. Saya telah melihat banyak kejadian sekaligus kenyataan tentang pernikahan, yang kemudian membuat saya memikirkan banyak hal. Memikirkan banyak kemungkinan. Semoga Allah menjaga saya dan suami dari menjadikan ini sebagai permainan. 

Dan Allah adalah sebaik-baik penjaga. 

__________________________

Catatan 9 Tahun Pernikahan. 





2 komentar:

  1. 'musim kemarau panjang yang telah mengeringkan air mata atau musim dingin yang telah membekukan rasa'.
    keren rafiah....

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah kak, semoga tulisan ini bermanfaat...

    BalasHapus