Jumat, 09 September 2016

Tidak Mengenalmu (lagi)

September 09, 2016 0 Comments
Sumber Gambar

Setelah sekian luka, aku lupa cara menangisinya. 
Dan setelah habis cinta, aku tidak lagi tahu cara memulainya. 

Aku pulang saja, 
Diriku yang abu-abu telah pandai berpura-pura.
Sudah lama derita aku bawa dengan senyum.
Sekian waktu tawa hanya tuk menutupi luka.

Aku pulang saja,
Kau tidak mengerti aku.

Aku pulang saja,
Aku tidak mengenalmu. 

Saya Diam Saja.

September 09, 2016 0 Comments

Sekian waktu, saya memakai mulut saya lebih banyak dari tangan saya untuk mengeluarkan kata. Itu artinya, saya mulai lebih banyak bicara daripada menulis. Apa yang saya dapat? Rasa sakit bertubi-tubi.

Dahulu, menulis bisa jadi hal paling melegakan dari sederet masalah hidup yang lalu-lalang dikeseharian saya. Menulis sama dengan melepaskan, hanya saja tanpa suara. Tidak berisik. Tapi kemudian saya mulai bicara banyak hal, dan lupa tentang pribahasa dari kelas SD bertahun-tahun lalu : "Tong Kosong Nyaring Bunyinya".

Saya selalu menulis, untuk seseorang. Saat saya menyadari apa yang saya tulis tak pernah sampai -hanya sekedar melepas rasa yang menyesak di dada- saya kemudian mulai bicara. Ketika bicara, kata-kata seperti muntahan kotor keluar dari mulut saya. Itu menyakiti orang yang mendengarnya, dan saya pun mendapat rasa sakit yang lain. Dan karena bicara itulah, saya dan dia mulai saling menyakiti dengan cara masing-masing diri.

Saya tidak tahu mengapa juga menulis ini. Mungkin ini bagian akhirnya. Ketika seorang penulis menutup klimaks novelnya dengan satu tarikan kesimpulan. 

Sedang saya, inilah kesimpulannya : Saya diam saja. 

Minggu, 04 September 2016

Menjadi Sepasang Mahasiswa

September 04, 2016 3 Comments
Prinsip hidup no.26 : Realistis pada impian dan fleksibel pada kenyataan. 

Dari banyak prinsip sederhana berbahagia dalam hidup, salah satu yang paling saya suka adalah prinsip tentang "bersahabat pada ketidakpastian", karena dalam hal ini,sungguh menyatu 3 unsur penting rasa dekat dengan Allah AzzaWajalla, yaitu :  Khauf, Raja' dan Tawakkal.

Iya, saat ketidakpastian membelokkan alur dalam hidup saya,unsur kekhawatiran(Khauf) berselimut harapan(Raja') tiba-tiba saja mesra dengan Tawakkal dan prasangka baik padaNya. MasyaAllah,... saya tidak tahu mengapa, tapi mungkin itulah cara kerja hati yang selalu ingin percaya pada Rahman-Rahimnya Allah. 

Tahun lalu, saya mencoba mengusahakan pendidikan di luar negri dengan beasiswa. Setelah doa dan usaha tapi belum rezeki, saya mensyukuri satu hal : saya sudah mencobanya. Dan itu berarti saya tidak diam saja -berpura-pura menutup hati pada keinginan sendiri-. Saat seseorang menyerah sebelum mencoba, bukankah itu menyakitkan ??

Tiba di tahun ini, saya masih saja akan mencobanya. Berjuang itu tidak sekali tapi berulang-kali,itu prinsip saya yang lain. Tapi seseorang yang saya percayai dengan sangat,yang telah berjanji meletakkan bahagia dalam hidup saya, yang telah menghabiskan hampir 10 tahun hari-harinya bersama saya,tetiba saja menawarkan sesuatu yang manis : "Menjadi Sepasang Mahasiswa, di satu tempat yang sama, berangkat dan pulang kuliah bersama, serta saling menjaga tentu". 
Saya luruh. Dengan basmalah,saya ikhtiar menjalani alur ini dengan baik, InsyaAllah. 

Ada rasa galau ? Iya. Pasalnya kami memulai ini bukan dalam kondisi berlebih. Kadang-kadang saya menghitung angka-angka rupiah yang harus kami bayar selama 2 tahun akan datang. Tapi saya selalu percaya doa malaikat di langit dan di bumi pada mereka yang keluar menuntut ilmu. Indah pasti. 

Agustus kemarin kami telah memulai jalan kami. Ketidakpastian masih akan selalu ada,saya tahu itu. Tapi Allah selalu pasti dengan kemurahanNya, dan tidak ada alasan bagi saya untuk meragukanNya.
__________ 

Ah ya, seorang sahabat menanyakan tentang ingin jadi apa saya ini? Entahlah,jika saya menjadi tempat seseorang menemukan jawaban dan merasa nyaman, itu pun sudah cukup.

Ambisi berpendidikan tinggi ? Tidak juga. Tapi terkadang kita bisa menjawab ketidakpastian dengan memanfaatkan kesempatan yang lapang sebelum datangnya yang sempit. 

Namun hal paling mendasar tentang "menjadi apa" adalah kemanfaatannya.  Bagaimanapun, inilah prinsip yang diwariskan Rasulullah berabad-abad silam : Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak memberi manfaat. 
__________

Ujung malam. Refleksi diri. Membaca alur hidup. Kamar dingin. Anak-anak terlelap. Deru motor Rossi di Tv. Diam-diam saya menulis. Begitu saja.