Jumat, 28 Oktober 2016

Perempuan Oktober

Oktober 28, 2016 0 Comments
Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kata Weh. Laki-laki uzur ini memiliki indra keenam untuk membagi lapisan langit menjadi halaman-halaman ilmu. Aku mengerti, itulah konstelasi zodiak! 
Pada iris kesepuluh ia berpaling padaku.

"Anak Muda, dirimu, lelaki Oktober. Sambaran api Mars dan dingin Pluto akan menjebakmu...."

Napasku tercekat.

"Engkau, laki-laki zenit dan nadir..."

_______________
Halaman 10 Edensor-nya Andrea Hirata telah membuat saya dilanda rasa istimewa karena terlahir di bulan Oktober. Meskipun saya tidak begitu dalam memahami keistmewaan salah satu bulan Masehi ini, tidak juga tertarik pada hal nonilmiah tentang ramalan zodiak, atau pencocokan karakter yang telah melalui beberapa penelitian psikologi, atau apalah....

Sebenarnya, hal sederhana yang mungkin terlalu dipaksakan untuk dikatakan istimewa tentang Oktober, adalah di sana lahir orang-orang mengagumkan -yang secara pribadi menurut saya-, merupakan sekian dari makhluk Allah yang keren. Termasuklah seorang penulis menakjubkan yang berhasil memahamkan saya tentang kedalaman hikmah islam dari berbagai aspeknya dengan bahasa selayak seorang ayah. Anis Matta. Semoga beliau senantiasa sehat, dilimpahi kebajikan dan kebijakan dalam hidup. 

Alasan berikutnya mungkin sedikit melankolis : Hujan. Iya, Oktober adalah saat tanah bumi yang tadinya kering, retak, sekarat, tetiba basah, hijau, dan hidup. Mungkin inilah titik iris dari zenit dan nadhir pada pergantian musim, dan di moment dua kutub musim ini saling beririsan,lahirlah saya ini,Perempuan Oktober : yang katanya terjebak di antara sambaran api Mars dan dingin Pluto... "wah, puistik sekali... hihi"

Saya mengira-ngira makna "sambaran api Mars dan dingin Pluto" adalah keadaan saat 2 hal yang saling berlawanan bertemu di satu garis dimana saya berdiri tepat di tengahnya. Apakah itu berarti saya adalah orang yang tertakdir bisa merasakan 2 hal yang berbeda dalam satu waktu? Semisal bahagia dan sedih bersamaan, menyukai sekaligus membenci, memaksa diri melupakan saat rindu berada di ubun-ubun, juga tersesat dalam paradoks keadaan. Ataukah ini sebab-musabab saya menyukai hal-hal tengah pada warna, rasa, dan aroma. Termasuk cinta saya yang abstrak pada pagi dan senja karena keduanya adalah titik temu pergantian malam dan siang. Hm....sepertinya butuh research lebih lanjut tentang korelasi antara bulan kelahiran dan karakter pribadi seseorang. Sebagaimana sifat dan karakter yang juga dipengaruhi oleh golongan darah. Sungguh ya, Fatabārakallahu ahsanul khālqiin... *merasa spesial. 

Oktober tahun ini adalah yang ke-26 dalam putaran hidup saya. Doa yang paling sering dirapal selalu adalah tentang kebaikan. Baik dalam agama, pada akhlak, pun  keluarga, dan kehidupan dunia akhirat. 

Terlahir di bulan manapun, tetap kita yang memutuskan menjadi apa. Berkarakter seperti apa. Berakhlak-bersikap seperti apa. Kecenderungan emosi dan gen bawaan telah dibingkai dalam fitrah oleh  sang Pencipta. Bukankah fujur dan taqwa pada diri tiap manusia ditanam sepaket dengan akal, hati dan jiwa, untuk mengenali mana baik dan buruk.  Karena pilihan selalu kembali pada kita, hendak jadi apa...

___________
Menutup Oktober. Salam. 




Jumat, 21 Oktober 2016

Menjaga Perasaan Istimewa Seseorang

Oktober 21, 2016 2 Comments
Manusia hidup dengan takdir sebagai makhluk sosial adalah sebuah hakikat. Setiap orang membawa takdir makhluk sosial dalam dirinya dengan bekal nalar dan perasaan yang Allah anugerahkan sama pada setiap diri. Nalar dan perasaan inilah yang menjadi batas sikap dalam membangun "hablumminannas"- hubungan sesama manusia. 

Sifat-sifat terpuji berupa saling menghormati, saling menghargai, saling tolong menolong sesungguhnya bermura pada satu titik dasar dalam diri seseorang, yaitu perasaan. Bahwa setiap orang ingin diperlakukan dengan dasar rasa yang sama. Persis halnya ketika kita sedang bercermin, pantulan apa yang ingin kita lihat seharusnya adalah apa yang kita tampilkan pada cermin tersebut. Sikap apa yang ingin kita terima dari orang lain adalah buah dari sikap kita kepadanya. Maka menjaga perasaan seseorang-tidak merendahkannya- merupakan salah satu prinsip dasar dalam membangun sebuah hubungan. 

Hal yang niscaya ada pada diri setiap orang adalah rasa ingin diistimewakan. Sesederhana apapun profesi, kedudukan, maupun strata sosialnya, setiap orang adalah istimewa. Kita bisa menemukan keistimewaan itu meskipun dari hal kecil yang ada padanya, lalu kemudian menjaga perasaan istimewa itu tetap ada. Jika kita mampu menjaga ini, maka hubungan baik berkepanjangan bukan hal yang rumit lagi. 

Tentang menjaga perasaan istimewa ini, sebuah kisah menakjubkan datang dari Mu'awiyah ibn Abi Sufyan,Sahabat Nabi SAW  yang amat terampil dalam hal kepemimpinan dan menjalin hubungan. Suatu ketika terjadi penyerobotan lahan 'Abdullah ibn Zubair di Hijjaz oleh budak dan pekerja Mu'awiyah. Tidak terima dengan perampasan itu, 'Abdullah ibn Zubair kemudian menulis surat untuk Muawiyah.

"Bismillahirrahmanirrahim. Dari 'Abdullah, putra dari sang hawari, penolong setia Rasulullah SAW, Azzubair Ibn Al-Awwam. Juga putra Dzatun Nithaqain, wanita yang bersabuk dua ketika membantu hijrah Sang Nabi, Asma binti Abu Bakar ; kepada Mu'awiayh ibn Abi Sufyan, anaknya Hindun, perempuan yang mencincang dan mengunyah jantung Hamzah, Paman Rasulullah. Ketahuilah! Tukang kebunmu telah memasuki kebunku. Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, kalau engkau tidak segera melarang mereka, aku akan punya urusan denganmu!" 

Di Damaskus, Muawiyah membaca surat itu sambil tersenyum pahit. Ditunjukkannya surat itu pada putranya, Yazid Ibn Mu'awiyah. "Bagaimana menurutmu, apakah kita perlu menjawabnya?"

Wajah Yazid memerah membaca surat tersebut kemudian berujar : "Menurutku, Ayah harus mengirimkan pasukan dengan kekuatan besar yang barisan terdepannya ada di Madinah dan ujung terakhirnya ada di di Damaskus. Mereka harus datang kembali dengan membawa kepala Ibnu Zubair!" 

Yazid melemparkan surat itu ke lantai,tapi Mu'awiyah dengan anggun segera memungutnya kembali.

"Aku memiliki sesuatu yang lebih baik dari itu,"  kata Mu'awiyah sambil tersenyum. Diambilnya pena dan kertas, lalu dia mulai menulis jawaban untuk Abdullah ibn Zubair dengan Khath-nya yang indah.

"Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan kasihNya tiada memilih. Yang Maha Penyayang, dan rasa sayangNya tak terbilang. Dari hambaNya, Mu'awiyah ibn Abi Sufyan, kepada Abdullah ibn Zubair, putra penolong Rasulullah yang setia, dan putra Dzatun Nithaqain yang mulia."

"Assalamu'alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh," kalimat pembuka tersebut ditulis Muawiayah denga cermat dan teliti. "Saudaraku," lanjutnya, "Sesungguhnya, jika ada bagian dari dunia ini yang menjadi milikku dan milikmu, lalu engkau meminta bagianku untukmu, pasti akan kuberikan semuanya padamu. Jika surat ini telah engkau terima, maka dengan demikian seluruh kebunku itu telah jadi milikmu. Demikian pula, semua tukang kebunku yang telah melanggar hakmu itu kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda maaf dariku. Wassalalmu'alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh."


Menerima surat itu, Abdullah ibn Zubair menitikkan air mata. Bergegas, disiapkannya kuda dan para pengiring perjalanan. Dia berangkat ke Damaskus untuk menemui Muawiyah. Begitu sampai di hadapan sang penguasa, Muawiyah segera membentangkan tangan dan berjalan tergopoh menyambut Ibnu Zubair. Mereka berpelukan. Ketika itu, Abdullah Ibnu Zubair mencium ubun-ubun Mu'awiyah lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Semoga Allah menjaga akalmu!" ujarnya, "Sungguh Allah telah memilihmu di antara orang-orang Quraisy untuk menduduki jabatan kepemimpinan ini!" Kisah ini ditulis oleh Ustad Salim A. Fillah dalam bukunya berjudul : Dalam Dekapan Ukhuwah, hal. 443.

_________

Kisah tersebut begitu dalam mengajarkan pada kita arti dari menjaga perasaan istimewa padi diri orang lain serta dampak besarnya bagi keberlangsungan sebuah hubungan. Sebab krikil masalah sudah menjadi sunnatullah sekaligus dinamika dalam setiap kebersamaan, maka kita butuh diri yang pandai menata sikap dan hati untuk dapat menjaga hubungan tersebut tetap utuh. 

Merasa diri lebih baik sesungguhnya adalah benalu dalam hubungan. Keterampilan menjaga perasaan istimewa seseorang selalu berbanding lurus dengan rasa hormat orang lain terhadap kita, sebagaimana merendahkan orang lain membuat kita juga nampak hina.

Jikapun kemudian persoalan yang timbul dalam kebersamaan tersebut kian rumit adanya, maka semoga kita masih memiliki kejernihan nurani untuk menyelesaikannya. Salam Ukhuwah. 

****
 Baca-baca, lalu menulis. 😊













Rabu, 05 Oktober 2016

Mengulang Rasa Kenangan

Oktober 05, 2016 0 Comments
Sumber gambar indah ini

Kurang lebih 16 tahun yang lalu, Dua gadis SD berusia 10 tahun yang belum tahu banyak tentang persahabatan berjalan bersama menuju Poleko,di siang hari yang terik, dengan bekal sebungkus Mie instan yang paling populer di masa itu ; Megah Mie. 

Poleko, mungkin adalah garis batas Pesantren tempat dua gadis itu tinggal. Di sana ada sawah yang di masa itu benar-benar luas. Untuk ukuran mereka yang masih kanak-kanak, melihat hamparan hijau sawah sejauh mata memandang adalah sebuah pemindahan objek dari gambar di kertas kepada realita sungguhan. Dan itu sangat menyenangkan. Buku pelajaran seni "menggambar" saat SD dulu selalu penuh dengan komposisi yang itu-itu saja : dua gunung, matahari di tengah, jalan berkelok menuju gunung, dan sawah di sisian jalan. Sudah. Itu saja. Ketika Dua gadis kanak itu memutuskan melihat sawah bersama, setelah sekian tahun menggambarnya, bisa kalian bayangkan.... bagaimana bahagianya... 😁😁😁

Tibalah mereka di sana. Sawah Poleko, pukul 1 siang lewat beberapa menit. Keduanya berjalan-jalan mengitari sawah di atas gundukan tanah yang juga adalah pijakan jalan bagi para petani. Mereka ribut melihat siput dengan mata bertonjolan lagi panjang,mereka riuh dihempas angin, dan mie instan yang dimakan mentah di rumah-rumahan petani saat itu, masih dapat mereka rasakan nikmatnya setelah 15 tahun berlalu. Tentu saja itu bukan rasa mie-nya, tapi rasa kenangan. 

Begitulah. Saat itu salah satu dari keduanya membuat janji, bahwa perjalanan mengesankan siang ini akan mereka ulangi kembali dan dengan bekal makanan yang lebih banyak,keduanya sepakat. 

Tapi setelah negara api menyerang dan kasus kopi sianida menjadi sinetron unggulan..... *eh,😅  setelah ujian akhir SD, kemudian masa pubertas SMP dan kerumitan masa-masa SMA berlalu, janji itu seperti menghilang. Tak ada yang mencarinya, meski kadang kenangan tentang liburan kecil siang itu selalu menyisakan senyum ketika mengingatnya.

Siapa yang tahu, kalau ternyata Tuhan menyimpan janji kedua gadis kecil itu dan memberikannya kembali untuk ditunaikan 16 tahun kemudian. Bukan di sawah Poleko. Dan bukan hanya mereka berdua. Tapi dengan anak-anak mereka. Sudah pasti, kehendak Tuhan-lah, 16 tahun kemudian si gadis kecil yang membawa mie instan itu telah memiliki 5 anak, dan temannya yang paling ribut saat melihat siput di sawah waktu itu telah memiliki 3 anak. 

Di sinilah janji itu tunai. Hari saat Tuhan mengizinkan keduanya mengulangi rasa kenangan di sawah poleko saat itu. Mengizinkan Saya dan Amma. 

Kami mengulanginya dengan melakukan perjalanan ringan ke kota,hanya sekedar melatih kaki saya menginjak pedal gas dan rem mobil, serta memutar stir kiri dan kanan. anak-anak ikut, tapi tidak dengan para bapaknya. Ini perjalanan yang real "Me time" buat kami. Sepanjang jalan kami bicara hal apa saja, rumah tangga, anak-anak, pendidikan,lalu kami menertawakan nasib sambil mengunyah cemilan. Makan siang hari itu Amma yang bayar, saya senyum-senyum saja mengingat dia juga yang membawa mie instan di sawah Poleko puluhan tahun silam. Sudahlah, dia memang terlahir sebagai dermawan, tapi karena dia wanita mungkin disebutnya Dermawanti. 😊

Dan saya, tidak lagi seribut saat melihat siput di sawah waktu itu. Mungkin terlalu banyak garam kehidupan yang saya cerna, membuat keceriaan yang dulunya pecah menjadi asin, lalu kemudian asing. Tapi bagaimanapun, seperti kata para bijak ; kebahagiaan adalah pilihan.



Mereka 16 tahun kemudian... 😁


Jadi, bahagialah dikehidupan yang hanya sekali ini. Bahagia yang sederhana. Seperti dua gadis yang mengelilingi sawah kala itu, yang berpikir bahwa hidup adalah hijau yang lapang.