Minggu, 19 Februari 2017

Bertetangga

Februari 19, 2017 1 Comments
Sumber gambar

Saya sedang menggoreng ikan mairo yang dibalur tepung dan bumbu dasar bawang putih, merah, merica dan garam saat ingatan saya pulang pada tahun 1990-an ketika saya masih kanak-kanak. 

Ikan yang diolah seperti ini, -dulu ketika masih kanak saya sebut "ikan kambing-kambing" yang kemudian ketika saya telah menjadi ibu berganti nama menjadi ikan krispy biar anak-anak tertarik makannya,-  adalah ikan yang paling sering membuat saya bolak-balik membagikannya ke rumah tetangga. Bapak adalah seorang pecinta ikan, di hari-hari tertentu ia berpagi-pagi ke tempat pelelangan ikan, membeli banyak ikan, Mama mengolahnya dan kemudian memerintahkan saya, anaknya yang telah dipercaya tidak akan ceroboh menumpahkan ikan itu di jalan ketika mengantarnya ke tetangga. 

Jadilah saya saat itu kurir jasa pengantar. Ikan goreng, ikan masak, sayur bening, sayur santan, tempe, tahu, bassang, bubur kacang ijo,kolak,pisang goreng, ubi goreng, kapurung, barobbo... apa yang mama masak diantar ke tetangga, apa yang tetangga masak, saya antar ke rumah. Apa yang kami makan, tetangga juga makan. Apa yang tetangga makan, juga kami makan. Terkadang saat sedang bermain di pekarangan dengan anak -anak sekitar, ibu tetangga melongok dari jendela dapurnya.... 

"Rafiaaaaahhh.... lagi masak sayurka' ini nak, ke sini ki sebentar ambil sayur nah, bawakan mama ta'..."

Wuihh. Bahkan sebelum  sayur masak, saya sudah dikapling antar makanan..

Di masa itu juga, tetangga benar-benar jadi keluarga. Mama yang habis lahiran baru pulang dari rumah sakit bersalin, sudah dinanti sama tetangga di rumah. Mau apa? Tetangga itu membersihkan rumah saya dengan suka cita, seprei kamar diganti, ngepel, bahkan cucian kotor mama dari rumah sakit mereka cuci. 

Tetangga yang lain menyusul datang dengan membawa ikan dan sayur yang siap santap, kalau mengingat semuanya sekarang ini... masyaAllah, masa-masa itu indaaaahhh sekalii.

Sejak saya masih kecil, Mama sudah ngisi pengajian di mana-mana, kita anaknya yang sudah agak besar kadang ditinggal di rumah main sama anak anak tetangga. Pas waktu makan tiba, ibu-ibu tetangga yang memanggil anak mereka pulang untuk makan juga sering memanggil saya bersaudara yang ditinggal pergi pengajian sama Mama. Waktu itu, makan di rumah tetangga, seperti makan di rumah sendiri. 

Allahumma ya Allah...

Bagaimanapun, kebaikan yang Mama ajarkan pada kami adalah amal jariyah bagi beliau sekarang di alam sana. Nilai kebaikan yang dulu mama ajarkan tentang bertetangga harus tetap hidup meski di tengah krisis bertetangga saat ini yang membuat jarak bahkan lebih tinggi dari pagar rumah tetangga itu sendiri.

Semoga Allah melindungi kami dari keimanan yang ditolak karena menyakiti tetangga, dengan lisan dan prilaku, juga dari membiarkan mereka lapar saat perut kami kenyang.

Sabtu, 18 Februari 2017

Yang ke-Empat

Februari 18, 2017 1 Comments
Sudah pukul 00.00 ...

Mata belum bisa merem. Efek susah tidur karena tidak ketemu posisi nyaman buat tidur. Alhmdulillah, Allah ngasih rezeki lagi buat hamil anak keEmpat. Moga sehat ... moga juga kali ini si sholihah..

Saya sering mengingat-ingat dan membandingkan kondisi hamil anak pertama, kedua, dan ketiga... kok kehamilan yang keempat ini rada berat ya. Baru juga jalan 3 bulan, sudah berasa payahnya. 😵

Waktu hamil pertama, si kakak fathi, alhmdulillah.. anteng bawaanya.  Mual tidak, morning sick jarang, makan lancarrrr... yang kedua si kakak rangga juga demikian, pas yang ketiga si ayyash baru merasakan yang namanya mual berat. Itupun lewat trimester pertama sudah aman. 

Tapi yang keempat ini, masyaAllah... 
Lidah bawaannya pahiiitttt, tidak mual juga, masih bisa masak di dapur cuma jarang mau makan buatan sendiri, sering ngantuk, duduk bentar punggung pegal, berdiri bentar nungguin lauk yang digoreng juga kaki sudah keram. Bawaannya pengen bariiiing cantippp terus.. nempel sama si guling. Jadi jatuh cinta saja lihat Abi bolak-balik dapur masak, mencuci,dan menjemur. 😙😙😙

Oh ya apa kabar bunga-bungaku di teras dan halaman ya?  Belakangan jarang disiram, selalu ngandalin hujan yang turun sekali-kali..

yah, bagaimanapun payahnya kehamilan yang keempat ini, insyaAllah dijalani dengan syukur dan tawakkal saja. Kakak sepupu saya yang sudah punya 6 anak cerita kalau umur dan kehamilan juga berpengaruh besar. Beda katanya hamil anak pertama sama anak keenam... pokoknya makin kesini, kehamilan makin payah. Ya Allah.

Prediksi persalinan tanggal 8/8/2017, kurang lebih 6 bulan lagi. Tapi sudah gatal mau beli stelan sama perlengkapan bayi lagi.. 😁😁😁 ini termasuk hal paling menyenangkan selama proses kehamilan. Berburu pelengkapan bayi...

Alhmdulillah ala kulli hal... tidak boleh banyak ngeluh, ini jihad seorang perempuan. Peluk cium Abi yang sudah banyak meringankan kerja-kerja rumah, rajin mijit-mijit punggung yang selalu pegal, rutin buatkan susu,dan banyakkkk lagi. Sebaik balasan dari Allah Azzawajall ya sayang... 

*Kangen nulis di ruang tengah ini saja... makanya mampir dan curhat dikit.... 
Kebersamaan ini  sampai di syurga insyaAllah...