Assalmaulaykum wabarakatuh..

Nak… MasyaAllah, sudah sejauh ini perjalanan kita.


Ummi menulis ini ketika sedang mendalami jurnal berbahasa turki yang beberapa hari ini menjadi “makanan” sehari-hari ummi. Di antara spasi bahasa asing yang membuat ummi sakit kepala dan terus menerus ingin ngemil karena stres, ummi teringat bahwa sebentar lagi, anak pertama yang saat bayi membuat ummi selalu begadang karena tidak mau tidur kecuali dipangkuan ummi, kini akan menjadi seorang mahasiswa…


MasyaAllah.

Kemana semua waktu itu ya nak?

Ummi bahkan masih mengingat semua motif baju bayi yang dulu kamu pakai, masih mengingat merk parfum yang selalu ummi gunakan untukmu, dan wangi minyak telon yang setiap hari ummi balur di tubuh mungilmu setelah mandi. Yah, kemana semua waktu itu? sungguh, rasanya ingin kembali ke sana…


Nak,

ummi selalu mengatakan bahwa segala hal ada waktunya, iya kan? Seperti ketika pada akhirnya kamu tumbuh dan mulai memiliki peta hidupmu sendiri. Dulu, Ummi pernah menjadi duniamu. Yang kamu cari pertama kali ketika bangun dari tidur. Yang kamu panggil ketika mimpi buruk. Yang kamu tangisi ketika pergi mengisi kajian dan tidak membawamu. Yang selalu ingin ada disisimu. 

Namun kini, … waktu dan takdir membawa kita bertemu hanya di tikungan-tikungan singkat perjalanan hidup. Betapa perasaan seperti ini begitu menyesakkan untuk hati seorang perempuan sekaligus ibu. 


Nak, 

Perjalanan hidupmu selanjutnya akan luar biasa. Percayalah….

Namun, kamu akan kesepian dengan rasa rindu yang timbul tenggelam. Pada Abi, Ummi, Saudara, Keluarga dan teman-teman masa kecilmu. 

Kamu akan mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidupmu.

Sesekali kamu mungkin merasa tersesat dengan pilihan pilihan yang telah kamu ambil.

Kamu akan bertemu orang-orang baik yang memberimu kenangan indah, atau orang-orang yang memberimu pelajaran berharga dengan sikap mereka yang tidak menyenangkan.

Dan juga, beberapa malam dalam hidupmu, kamu mungkin akan tidur dengan mata sembap karena luka yang tidak ingin kamu ceritakan pada siapapun. 

Begitulah perjalanan hidupmu berikutnya nak…

Ummi dan Abi tidak lagi akan ada di dekatmu untuk selalu menopang perasaan dan masalahmu, tapi … semuanya akan baik baik saja nak.

Karena doa Abi, doa Ummi…

selalu penuh untukmu. Dimanapun kamu berada.


Hanya saja, mulai saat ini, kamu harus belajar untuk menyayangi dirimu sendiri. Belajar untuk menghargai dirimu sendiri tanpa harus mengemis pengakuan dari orang lain.

Kamu harus belajar mencintai luka yang hadir di hidupmu sebagai pelajaran berharga, belajar menghapus air mata dan menghibur diri tanpa menunggu orang lain untuk melakukannya.

Kamu harus tegar nak, 

Sebab dalam dirimu, ada sejarah besar yang harus ditunaikan. 


Nak, 

Hari ini, Abi dan Ummi ingin berterimakasih padamu…

Terima kasih untuk tumbuh sebagai anak yang sholih, yang telah melalui begitu banyak hari-hari sulit namun tidak menyerah..

Terimakasih karena telah memaklumi begitu banyak kekurangan kami sebagai orang tua yang juga masih belajar menjadi orang tua..

Terimakasih karena masih selalu menelfon kami di sela kesibukanmu…

dan terimakasih, untuk semua hari-hari di mana kami menjadi orang tua untukmu.


Nak, 

kelak nanti mungkin kamu akan malu menelfon kami untuk bercerita tentang masalah-masalah hidupmu,

mungkin tumbuh menjadi lelaki dewasa membuatmu tidak ingin berbagi kesulitan dengan Abi dan Ummi,

Tapi nak, Ummi dan Abi akan selalu tahu apapun tentang mu.

Jika kehidupan terlalu keras untukmu, pulanglah sejenak di pelukan kami. 

Sebab sampai kapanpun, Sebesar dan sedewasa apapun dirimu…

Bagi kami, kamu tetap balita kami yang menggemaskan. 


Peluk sayang nak, 

Abi dan Ummi.







***



Catatan untuk Kakak Fathi yang akan menjadi Mahasiswa. 

Larut malam, Istanbul musim panas, 04 September 2026.