Sabtu, 24 November 2012

Tepi Maaf


Maaf …


Aku tahu layaknya itu kukata dengan mulut, bukan bait-bait kata, tapi inilah pengecutnya diriku. Kubiarkan kau mengetahuinya… sebab setelah ini, akan banyak lagi nelangsa yang kau temui dari diriku.


Maaf …

Semalam aku mengintip di kedalaman hatimu. Kutemui diriku dengan sebilah pisau menyayat dinding rasamu. Aku tidak percaya sekejam itu perempuan yang selalu mengumbar berupa-rupa kata cinta padamu. Aku tidak percaya itu aku. Tapi sungguh, benar adanya.


Maaf …


Bukan dirimu jika biarkanku berlalu dengan diam. Tapi diammu tetaplah cinta bagiku…. Ah, bisakah kau hukum aku dengan lebih keras ? agar aku tahu apa itu sakit, agar diammu tak selalu cinta bagiku… tapi seperti itulah dirimu. Itulah mengapa aku bahagia dalam penjara hatimu.



Maaf … Maaf … Maaf …

Aku  tahu tak lama lagi cintaku mati di tepi maaf. Tapi aku akan kembali hidup untuk meminta maaf, lagi dan lagi. 





0 komentar:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Advertisement

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Sahabat Ruang Ini

Labels

BTemplates.com

Blogroll

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template

Follow Me On Instagram

About

Copyright © Ruang Tengah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com