Minggu, 17 Februari 2013

M-e-m-i-l-i-k-i.



Ini agak berat sebenarnya, mungkin karena terlalu sepi, terlalu hening.

Sebenarnya, satu sisi saya sangat mencintai sepi. Hanya karena lama tak menjamahnya, kemudian asing merasainya. Padahal ia adalah waktu di mana aku dan diriku, hatiku, pikiranku menyatu tanpa sekat. ‘kami’ semua berkumpul… memikirkan dan merasai hal yang sama tanpa ada yang hilang. Ah, rumit menjelaskannya.

Tapi aku tiba pada titik ini : Memiliki.

Sepi membuatku memikirkan apa yang sebenarnya aku miliki.

Pagi ini, terbaring senyap di ruang kamar, tak ada gaduh di dapur, denting kaca dan sendok sarapan pagi, deru mesin cuci yang berputar, desisan minyak panas bertemu ikan berlumur asam, percakapan spongebob di tv, teriakan fathi yang berlari sambil meminta izin untuk bermain, tangisan angga mencari coklat bem-beng kesukaannya, dan tentu… nasyid ‘harokah’ favorit Qawwamku.

Sudah sangat lama, aku dan ‘hal-hal’ itu bersama hingga sepi enggan berkunjung dalam hidupku. ini adalah pagi (yang seingatku) pertama kalinya, sepi datang menjengukku setelah kurang lebih lima tahun pernikahan dan riaknya membersamaiku.

Lalu aku memikirkan tentang semua yang telah kumiliki.

Bukan pada materi. Pada abstraknya sebuah keberadaan. Suami. Anak. Cinta. Kebahagiaan.
Apa aku benar memiliki semuanya??

Ah, ternyata tidak. Aku tidak memilikinya. Aku, bahkan diriku tidak saling memiliki. Hubungan kami adalah sebentuk titipan seorang tuan kepada sahayanya. Yang berhak Ia ambil sekehendak inginnya.

Pun pada Qawwam, juga anak-anak yang telah lama mengusir sepi itu. Mereka adalah titipan yang tidak pernah menjadi hakku memilikinya. Kami adalah titipan pada masing-masing hidup kami. Untuk saling memberi yang terbaik hingga tiba waktunya Tuan mengambil miliknya.

Maka, yang benar-benar kumiliki dalam hidup ini adalah apa yang telah kuberi. Sejak dulu, dulu sekali… aku menyadari akan ini. Hanya saja, semua titipan itu menggodaku untuk memiliki sepenuhnya. Membuatku lupa untuk menyediakan sebuah ruang di mana waktu datang dengan takdirnya untuk mengambil.

Harusnya, di ruang itu pula, kelak, aku dapat menghadirkan senyum. Bahwa aku telah menjaga titipan itu dan memberikan apa yang aku bisa dengan sebaik-baiknya. Hingga (mungkin) sang Tuan rela jika titipannya kembali padaku. Menjadi milikku. Di negri lain bernama syurga, yang luasnya seluas langit dan bumi.


# Merenda sepi, sepulang mengantar kepergian Qawwam yang kucinta dan Jendral kecilku di bandara menuju Bima.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar