Selasa, 02 Juni 2015

Kakak Fathi, Dalam Doa Yang Berbisik.

Juni 02, 2015 0 Comments



Tujuh tahun kita bersama nak. 
Dan kau adalah segala defenisi tentang keajaiban. 


11 April 2008, Kau lahir dan itu adalah saat pertama aku menjadi Ibu. Mungkin karena menjadi Ibu adalah pijar kenangan yang tak kan habis, Allah sediakan ingatan yang luas tuk mengenangnya.

Nak, ada banyak maaf yang ingin kuminta darimu. Untuk semua hari-hari yang terlubangi oleh kelabilanku, naifku, juga ketidak-tahuanku tentang menjadi ibu yang baik. Tetapi kau, tetap jua tumbuh mendewasa dalam kanak-kanakmu.

Tahun ini, aku melihat begitu banyak “Abi” dalam dirimu. Ketika hari pertama kau injakkan kaki di ruang kelas 1 SD, dengan malu-malu, kau meletakkan tas merahmu dan duduk di bangku mungil itu. Aku memandangimu lama di pintu, melihatmu melempar senyum pada kawan yang tak kau kenal di seberang meja, aku tahu, kau akan menjadi anak yang ramah. Seperti Abi.

Sebulan kemudian, kau pulang dari sekolah dan bercerita bahwa kau menjadi Imam shalat dzuhur memimpin teman-teman di kelas, katamu tak ada teman yang berani, jadilah kau maju. Hm, itu juga sifat Abi.

Beberapa kali, aku mendapati pensil baru di kotak pensilmu. Saat kutanya tentang pensil itu, jawabmu membuatku malu. “itu toh ummi, kubeli di toko dekat sekolah pake uang jajanku, karena pensilku sudah pendekmi”. Ah... aku selalu lalai menyediakanmu alat belajar, dan kau dengan sendirinya menggunakan uang jajanmu untuk menutupi kelalaianku. Seperti juga sepatu yang sampai lubang alasnya kau pakai dengan sabar. Nak, ajari ummi untuk tak mengeluh sepertimu....

Suatu siang sepulang sekolah, dengan bersemangat kau mengatakan : “Ummi, bukami celenganku. Mau semua kusumbangkan untuk Palestina”. Dengan kata apa kutuliskan haru yang meliputiku saat itu? Sungguh kata tak lagi cukup. Aku benar bangga padamu.

Kau juga tidak malu berjualan di sekolah. Jika aku ke pasar, kau selalu menitip “agar-agar jelly” untuk kau jual, dan senyummu lebar saat untung Rp.2000 kau masukkan dalam celengan mobilmu. Kau anak yang bersemangat. Menyala seperti Abi.

Kakak Fathi...
Tahukah kau nak, kadang aku takut kau tumbuh begitu cepat, ketika waktu dan takdir membawamu pada hidup yang jauh dariku. Aku masih ingin memelukmu seperti bayi. Duduk berdua di atas sajadah sehabis shalat maghrib dan mengulang hafalan surah-surah pendekmu, mendengarmu mengucap salam dengan suara besar saat kau pulang dari sekolah, juga mendengarmu bercerita tentang teman-temanmu. Aku akan merindukan semua itu di hari tua nanti, bahkan mungkin jauh sebelum aku tua, aku akan merindukan semua waktu itu.

Jadilah anak yang baik, Sebaik Abi, atau Lebih baik dari Abi. Tidak usah seperti ummi yang masih labil ini...

Kami menyayangimu. Penuh. Utuh.  

4 Bulan
1 Tahun
2 Tahun


6 Tahun

*Catatan di hari ulang-tahun ke-7, tanpa balon, tanpa kue dan kado ulang tahun. Kelak kau akan tahu, ada bahagia yang tersusun dalam sunyi.  Dalam doa yang berbisik, Anakku.    

Malam Yang Tidak Ada Luka.

Juni 02, 2015 0 Comments


Pukul 21.25.

Aku baru saja selesai dari rutinitas rumah tangga, hal seperti mencuci, mengepel, melipat, memasak, menyuapi anak, mencuci piring, dan semacamnya. Ketika sedang rebahan melepas lelah, janji yang batal hari ini untuk datang mengunjungimu karena kakak fathi sedang demam tiba-tiba saja mengusikku.

Di suatu siang ketika kau bercerita tentang lelah yang menghabisi rasa dan pikiranmu, juga air mata yang kau redam di balik bantal guling, serta rasa mual dari kehamilan yang tak henti mengguncang tubuhmu, sungguh, aku ingin menelan kembali semua nasehatku padamu saat itu. jika mengingat apa yang kukatakan padamu, rasanya aku sedang mengunyah batu.

“Tempat menggantung bahagia ...........”

Ya, kau ingat yang kukatakan itu? aku menasehatimu tentang tempat menggantung bahagia.
Kita ini, atau kebanyakan istri (sebut saja), menggantung bahagia pada suami. Jika seluruh kerja rumah tangga yang kita rampung dihargai, kita bahagia. Jika suami lupa menghargai,  menjadi berat bagi kita untuk bahagia.

Tapi kau bukan istri seperti itu tentunya. Kau tegar. Kau bijak. Aku belajar banyak darimu. Hal sebenarnya yang membuatmu menumpahkan air mata_meski kau sembunyikan di balik jilbabmu_ adalah sesuatu yang lebih berat dari sekedar harga-menghargai hak dan kewajiban. Itu adalah tentang hatimu, tentang istanamu yang ingin dimasuki tanpa izin, dan kau tak berdaya mengusir. Lalu kau menangis, dan aku mengunyah batu menasehatimu tentang bahagia. ah... maafkan naifku....

“Jika kau lebih memahami tentang bahagia, bahwa Allah adalah satu-satunya tempat menggantung bahagia,  tentulah kau akan tabah pada apapun .....”

Ah. Benarkah aku mengatakan itu padamu?
Mungkin aku harus menabung banyak malu untuk bekal menasehatimu, kau lebih baik dariku dalam hal mengahadapi perih. Sedang aku, yang sering kali kau minta datang mendengar keluhmu, tak lebih baik dari yang kau pikirkan.

Masalah kita mungkin tidak sama. Tapi yang terbayang dalam sunyi ketika air mata mulai membasahi tidurku,  adalah dirimu.

Aku mengingingat kau bercerita segala perihmu, dan kau menangis seperti biasanya kau menangis di hadapanku, tapi esok kemudian, kau tersenyum melanjutkan hidup. Benarlah, memang seperti itu harusnya. 

Kawan, buatlah bahagiamu sendiri. Jangan lagi menungguku datang dengan topeng bijak yang lusuh itu sekedar mengajarimu tentang bahagia. Tiba saatnya nanti, kaulah yang akan menunjukkan makna bahagia pada derita orang-orang.

Karena yang menelan banyak perih, paling tahu rasa bahagia yang nyata. Dan kaulah orangnya. 
______________________
Selamat tidur. Semoga malam ini tak ada luka.