Rabu, 31 Januari 2018

Mengingat Hakikat


sumber : Pinterest

Belakangan ini, saya mulai memikirkan tentang waktu yang begitu banyak berlalu tanpa hal yang berarti. Selain mungkin hanya status-status di medsos yang dipaksakan nampak berarti dan kerap kali diperbaharui, tapi iman, apa kabar ???

Saya bertanya pada diri saya, untuk usia 28 tahun ini, apa yang paling ingin saya capai.
Jawabannya kembali pada satu hal yang bahkan telah belasan tahun hanya menjadi impian : seorang penulis. Dengan karya.

Semoga tahun ini, InsyaAllah.

Beberapa waktu dalam sunyi seperti ini, (malam saat semua orang tertidur dan saya masih harus bertatap muka dengan laptop dan serangkaian perangkat pembelajaran serta tesis) pikiran saya berkelana pada keghaiban-keghaiban.
Pada alam kubur, padang mahsyar, syurga dan neraka.

Seringkali saya menatap laptop dengan tatapan kosong, membiarkan isi kepala saya dipenuhi semua hal-hal itu. Lalu saya beristighfar, dan rasanya dunia tidak berarti lagi.

Sepertinya saya sedang berada pada wilayah kesadaran akan hakikat. Pada sebuah buku yang pernah saya baca, berada pada kondisi ini sebaiknya harus kuat pemahaman pada ‘Tawazzun”-Keseimbangan.

Bahwa pemahaman pada keseimbangan hidup menjadikan kita tidak pincang mental dalam menghadapi gejolak pergerakan hidup.  Syukurilah jika tetiba hati dan pikiran kita diingatkan akan akhirat dan kita kembali tersadar tentang pejalanan kita yang hanya sementara, lalu ibadah kian baik tanpa melepas dunia tempat kita masih berpijak saat ini.

Bahkan jika esok telah kiamat, bukankah kita masih saja disuruh menanam hari ini?
Saya kemudian mencerna nasihat untuk menjadi sebatas musafir dalam hidup. Bahwa  sesingkat-singkatnya perjalanan sebagai musafir, kita akan bertemu teman dalam perjalanan ( Suami, anak, saudara, sahabat, keluarga, tetangga) maka berbuat baik pada mereka adalah bekal. Itulah mengapa islam mengatur hak dan kewajiban dalam ukhuwah, muamalah, juga dalam membina keluarga.

Menjadi musafir juga akan membutuhkan makan dan pakaian.  Lalu Allah SWT mengatur hukum halal-dan haram, agar kita tidak membawa pulang bekal yang berat dari kezhaliman memakan harta yang bukan hak kita.

Keterampilan hidup juga sangat penting bagi seorang musafir. Maka Allah mengaruniakan bermacam-macam bakat pada diri hambaNya, agar ia hidup dengan memaksimalkan diri sebab tanggung jawab khalifah fil Ardh telah menjadi takdir penciptaannya.

Sungguh, memikirkan semua itu membuat saya kembali luruh dalam cinta pada-Nya. Allah. SWt menciptakan hambaNya tanpa sedikit pun kezhaliman. Ditanamkannya fujur dan taqwa dalam diri tiap insan agar mereka mampu mengenali yang benar dan salah dengan alami sehingga lebih mudah untuk mengenali penciptaNya.

AllahuRahman.

Bimbing hamba untuk senantiasa berlaku seimbang dalam hidup. Ketika Akhirat menjadi tujuan tapi tidak membuat kami lalai dari hak-hak kehidupan dunia yang telah Engkau Atur, dan jadikanlah dunia ini hanya di tangan kami, bukan di hati.
________________
Ummu fathi,
larut malam. Sendiri. Hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar