Jumat, 09 Februari 2018

Pendidikan Mahal dan Harga Moral yang Hilang.

Sumber Gambar : SPIDI

Saya seorang Guru di sebuah sekolah berbasis Islamic Boarding School, Sekolah yang juga tempat saya menempuh pendidikan Tsanawiyah/SMP dan Aliyah/SMA.

Di sekolah ini, saya telah mengahbiskan 3 tahun pengabdian sebagai Pembina Program Tahfidzul Quran sejak  tahun 2013-2015, lalu di tahun 2016 hingga sekarang saya mengabdikan diri di kelas regular dengan mata pelajaran Bahasa Arab dan PAI.

Tulisan saya kali ini hanyalah remah kecil dari persoalan dunia pendidikan yang… MasyaAllah. Tulisan ini juga adalah respon dari begitu banyak pertanyaan tentang Sekolah Islam yang mulai memasang harga tinggi.

Belakangan ini, di banyak tempat, sekolah-sekolah Islam mengalami transformasi yang luar biasa. Para cendikia Islam melakukan banyak renovasi dalam bidang pendidikan, secara garis besar tujuan utama meraka adalah merubah paradigma pendidikan islam (yang dalam hal ini pesantren) sebagai sebuah tempat pelaksanaan pendidikan yang tradisional, kumuh, dan terbelakang menjadi sebuah lembaga pendidikan yang  maju, modern, dan layak menjadi pilihan utama (bukan lagi altenatif).
Timbal-baliknya adalah : Sekolah Islam Terpadu, Islamic Full Day,  dan Islamic Boarding School atau apapun namanya,  mendapat kesan sebagai   sekolah yang Mahal. Pendidikan Mahal.
Sekolah tempat saya mengajar termasuk salah satu yang mengalami transformasi tersebut. Lingkungan sekolah ditata demikian rupa, fasilitas, sarana-prasarana diupayakan untuk diberikan yang terbaik, guru-guru diberikan ruang lebih luas untuk menggali potensi diri dan pengalaman mengajar yang lebih mengesankan dengan menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya. Seluruh Transformasi tersebut akhirnya tidak lagi bisa ditawar dengan harga yang murah.  Lagi-lagi : Pendidikan Mahal.

Baiklah, mari kita hitung Pendidikan yang Mahal itu lewat sebuah pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri.

Salah satu orang tua murid, mengeluarkan anaknya dari sekolah ini. Ia mengaku jujur  alasannya adalah  mahalnya biaya pendidikan yang ada. Sebagai Pembina saat itu, jujur kami melepasnya dengan rasa yang berat, karena proses pembinaan masih sedang berlangsung, anak tersebut belum utuh memahami tentang hakikat agamanya, jalan hidupnya, dan prinsip-prinsip yang harus kokoh ia pegang.  Kami melepasnya seperti melepas sebuah ladang amal sholeh yang demikian besar.

Berlalu waktu, sang Ibu datang kepada kami. Ia bercerita tentang anaknya dengan sekolah barunya dan tuntutan yang banyak. Anak itu  meminta dibelikan sepeda motor, tentunya yang masuk kategori keren di mata teman-teman sekolahnya. Ia juga meminta smartphone, tentunya juga yang keluaran baru biar terlihat kece’. Pakaiannya harus slalu gaya, pergaulan menuntut itu semua.

Nah, berapa banyak biaya yang habis untuk setiap permintaan anak tersebut ? itu belum termasuk harga dari kegelisahan orang tua tentang apa yang anak perempuannya kerjakan di luar sana dengan teman-temanya, tentang sholat yang tidak lagi terjaga, tentang al-Quran yang dilupakan, tentang sopan santun dan rasa hormat yang kian menipis, tentang MORAL YANG HILANG.

Sungguh, bukan pendidikan yang mahal, tapi konsep pembentukan karakter.

Di Islamic Boarding School yang kesannya mahal itu, sama sekali bukan tentang adanya AC di ruang-ruang kelas, banyaknya fasilitas yang tersedia, atau gedung-gedung asrama yang seperti hotel,  tapi adanya PEMBENTUKAN KARAKTER dan KETERJAGAAN MORAL yang sedang diupayakan. Adanya rasa aman bagi orangtua bahwa anak yang dirindukannya tengah bangun shalat tahajjud berjamaah bersama teman-temannya, ia tidak melewatkan hari tanpa shalat wajib,  dhuha, dan tilawah. Bahwa ketika orang tua tersebut melihat anak tetangga hamil di luar nikah, atau berkata kurang ajar pada orang tua, atau tidak lagi pernah terlihat shalat, ia tahu bahwa anaknya sedang berada di sebuah sekolah, dengan teman-teman yang baik, dan Guru serta Pembina yang menyanginya dengan penuh, yang meluruskan langkahnya, yang membentuk sikap dan tutur katanya, yang menyadarkannya akan hakikat penciptaannya.

Adakah harga yang mahal untuk Shalat yang terjaga, untuk setiap hafalan Qur’an yang ia tartil, untuk tahajjud yang mengangkat derajat ?

Saya pernah bertemu dengan seorang Ibu yang menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Gaji suaminya jauh dari cukup untuk biaya sekolah yang harus dibayar, dan sang Ibu berjualan kue tradisional untuk membatu suaminya. Alhamdulillah, anaknya menamatkan sekolah bahkan menjadi siswa dengan prestasi terbaik di hari penamatannya.

Si Ibu berkata : "niat saya adalah menjaga anak ini. Memberinya pendidikan yang terbaik."

Saya kira, dari niat itulah Allah melapangkan rezkinya untuk bisa membayar rupiah-demi rupiah biaya pendidikan anaknya. Allah memberi jalan yang baik bagi setiap niat yang baik, Lupakah kita tentang itu?
Silahkan berhitung tentang Pendidikan  Mahal, dan Harga Moral yang hilang.
_____________
Tulisan ini murni sudut pandang saya sendiri, tanpa membawa nama Lembaga.

Pilihan untuk menyekolahkan anak di tempat yang mahal atau di tempat yang “terjangkau” adalah murni hak setiap orang tua, yang menjadi hak anak dan kewajiban bagi setiap orang tua adalah : memberikan pendidikan yang terbaik.
Dan Allah-lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki.

 ( QS. Surah Al-Isro : 30)
____________
Ujung Malam. Di halaman ke 78 tesis pendidikan karakter berbasis Islamic Boarding School., dan saya membuka halaman blog dan menulis ini.   

1 komentar:

  1. sejuk sekali membacanya menambah semangat lagi untuk paksa diri betah di spidi belum lagi yang kulihat memang pemandangan paling mahal saat ini ketika ade2 sholat malam meminta dengan khusyuk kpd Allah dengan segala macam pintanya kepada Allah... yang bagiku ini mahal sekali

    BalasHapus