Kamis, 20 September 2012

The Place

September 20, 2012 0 Comments
Berpijak di tempat ini. Menyebutnya syurga, dan akan benar-menjadi syurga untukku.

Jumat, 14 September 2012

Mengatar Dengan Ini.

September 14, 2012 0 Comments
Tulisan ini, heheh… entah mengapa ingin membuat tulisan ini. 

Allahumma yassir..@ bandara sultan hasanuddin,menuju jakrta..

Sebuah rasa syukur tiba-tiba hadir di hati saya membaca statusmu itu,,,  syukur juga sesal. Sehari sebelumnya saya masih melihatmu duduk di Ga’de Daeng bersama Male, Mama, dan juga entah siapa… sayang saya melihatmu dari balik kaca mobil, bahkan untuk menyapa sebelum kepergianmu juga tidak kulakukan.


Rasa syukur itu bukannya karena tidak akan melihatmu lagi,( saya benar-benar jahat jika seperti itu… ), rasa syukur itu seperti sebuah kelegaan dari memahami  tahun yang kamu lewati hanya berdua dengan cha-cha, huah… itu adalah hal terberat dalam versi saya sebagai seorang istri. Dan kamu melewatinya dengan sabar, mungkin itu adalah bagian dari anugrah suami bernama Sabar… heheh..

Sejujurnya, saya kaku jika menuliskan sesuatu secara khusus untuk seseorang, laku melankolis saya kambuh dan hampir membekukan seluruh yang ingin saya ucapkan, tapi sungguh, saya ingin menulis ini… secara khusus, dari dalam hati saya… untuk seorang teman yang menempuh hidup baru “kedua” dalam hidupnya. Sebab  saya tidak dapat memberikan hal yang lain, saya tidak tahu bagaimana menjadi teman yang baik, bahkan untuk melepas kepergian sementara seorang teman karib… :(

Saya sangat tahu, atau mungkin saya sok tahu, ima yang saya kenal tidak suka cara lebay seperti ini… tapi hanya ini yang benar-benar bisa saya lakukan untuk mengantarmu menjejaki hidup baru di negri orang,…

Mungkin akan ada kesulitan di sana, orang-orang asing, tempat tinggal asing, bahasa asing… tapi keberuntungan menjejaki sebuah negri lebih besar dari keterasingan yang biasa itu. Tidak akan lama ketika kamu menjumpai sahabat yang seolah telah lama mengenalnya, saudara yang merasakan sakit ketika kita terluka, dan yang ikut tersenyum jika kita bahagia. Lebih dari apapun, segalanya akan terasa lapang dan baik-baik saja jika bersama suami… :) Allahu ma'ak...

Ah, bagian terpenting dari tulisan ini sebenarnya adalah harapan besar saya, bisa merasa dekat meski jarak itu membelah waktu dan ruang kita. Saya akan selalu menunggu kabar dari hidup indahmu di sana, kembalilah menulis seperti saat santri dulu, (menulis ini saya kembali pada kenangan saat mencungkil buku diary yang selalu kamu simpan semberono itu.. hehe), yah, saya rindu untuk kembali membaca hidup sahabat-sahabat saya. Itu lebih mengesankan dari membaca kehidupan sepuluh (??) murid Belitung yang di tulis Andrea Hirata, bagiku, kisah seorang sahabat adalah bagian terbaik yang pernah saya baca, itu karena kalian amat dekat. Tak jauh untuk saya mengukur diri sebab kita telah menghabiskan berpuluh tahun dalam ruang kelas yang sama dan menjejak tanah kanak-kanak, remaja dan “hampir” dewasa juga bersama…

Saya menunggu kabar. Selalu.
Salam untuk Kak Sabar dan Cha-Cha, semoga adiknya cepat nyusul.. ^^

# catatan kecil, mencoba mengantarmu dengan layak... 
Madinah, tempat dengan jejak sejarah yang tak habis, semoga sejarah hidupmu pun tercipta indah di sana...

Minggu, 09 September 2012

Mimpi

September 09, 2012 0 Comments
Sebuah mimpi, terkadang adalah tali yang mengikat hamba pada Rabbnya... membentuk sebuah simpul bernama Ikhtiar dan Tawakkal. Dua nafas panjang yang akan selalu membuatmu hidup. Tidak ada gagal bersimbah air mata. yang ada adalah "terima kasih " untuk segala takdir terbaik dariNya.

(Rafiah. H 10'9'12)

Rabu, 05 September 2012

Seorang Adik.

September 05, 2012 0 Comments
Adik.

Sudah lama tidak melihatnya. Seorang adik yang kesepian nun di tanah Manado sana, kabar terakhir kudengar ia sedang mengukuhkan diri sebagai lelaki... tak ingin jadi beban hidup lagi, maka ia mulai menyadari arti tetesan keringat seorang lelaki.. bahwa lelaki tanpa jerih payah akan dicampakkan kehidupan. Itu pasti... tentu.

Masihkah saya kakaknya? Saya tidak selalu bisa mengingat hari ultahnya, ah... bahkan bodohnya, saya tidak tahu berapa umurnya kini, yang kutahu... ia sedang beranjak dewasa, melangkahi kelabilan masa remajanya.
Ada sebersit ngilu saat membaca pesan yang ia kirim lewat FB, baru saja...

“Saya tidak akan pulang kecuali 2 hal kak, pulang dengan cita-cita, atau dengan jasad tanpa nyawa. Panggil saya pecundang jika pulang tanpa apa-apa...”

Sedikit saja, sebelum saya mulai akut pada sisi melankolis diriku...

“Sebesar apapun kesalahan yang pernah kau perbuat, Kasih sayang Allah dan AmpunanNya, sungguh lebih luas dari langit dan bumi... tetaplah melangkah, setiap kali matahari terbit, itu adalah hari baru untukmu, jangan kotori ia dengan salah masa lalu...”

Ah, adikku, semoga Allah senantiasa menjagamu, seperti nama yang dengan penuh cinta diberikan Bapak dan Mama. Hifzullah.

Sabtu, 01 September 2012

Kakak.

September 01, 2012 0 Comments
Kakak.


Bagi adikku, saya kira itu bukan lagi aku.
Mungkin baginya aku adalah ibu. Sejak ibunya dan yang kusebut mama telah pergi.

Adik.
Kukira kau bukan lagi adikku.
Mungkin adalah anak-anakku. Juga.

Agar tak ada yang menyebutmu piatu.
Kutahu sebutan itu selalu menyisa perih di sudut hatimu

"Kakak"

Jangan sebut aku seperti itu jika kau merasa tak sempurna sebagai seorang anak.
Sebut aku ibumu, adikku...
Agar tak ada kehilangan dalam hidupmu.

Sebab yang engkau butuhkan bukanlah seorang kakak
Tapi, Ibu. Selalu.

# Sakit, sangat sakit melihat kalian merindu mama, adik-adikku...