Selasa, 27 November 2012

Aku Seutuhnya.

November 27, 2012 0 Comments

Aku  sering melupakan sesuatu, mungkin karena aku tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Menyimpan emas di tumpukan jerami, dan menyimpan besi karat di sebuah kotak hias penuh hormat.
Emas itu, adalah anak-anakku. Dan besi tua itu, adalah ambisi buta hidupku.
Aku lupa telah berapa lama menelaah kata anugrah terindah tentang kehadiran seorang anak. Aku lupa mereka amanah termulia, bukan sebuah batu sandungan yang mendengung di otak dangkalku. Pun sama sekali bukanlah beban seperti yang dikeluhkan pundak rapuhku…. Mereka adalah aku.

Aku seutuhnya.

Seperti hidup yang tidak bisa memberi segala yang kuharapkan, tentang cita, mimpi, harapan dalam satu zaman waktu yang berputar …. Berapa umur yang kumiliki dalam satu kesempatan hidup seperti ini?

Mungkin 30, 40,… 50 ataukah takdir sekaratku bahkan mungkin telah di depan mata.
Aku melupakan satu hal penting tentang jejak, generasi, seorang yang meneruskan hidup kita bahkan saat kita tidak lagi bernafas.

Yah, mereka anak-anak. Kehidupan yang bermula dari rahim kita, dan akan hidup untuk kita.

Mungkin iya, aku tidak bisa mendapatkan segala yang kuimpikan dalam hidup ini, tapi mereka akan mendapatkannya untukku. Karena mereka, aku akan hidup lebih lama,,,,, dalam nafas mereka, dalam bahagia dan duka mereka.
Dalam diri mereka.

Mungkin benar, tersebab kebodohan ini aku belumlah menjadi ibu yang baik

Sabtu, 24 November 2012

Tepi Maaf

November 24, 2012 0 Comments

Maaf …


Aku tahu layaknya itu kukata dengan mulut, bukan bait-bait kata, tapi inilah pengecutnya diriku. Kubiarkan kau mengetahuinya… sebab setelah ini, akan banyak lagi nelangsa yang kau temui dari diriku.


Maaf …

Semalam aku mengintip di kedalaman hatimu. Kutemui diriku dengan sebilah pisau menyayat dinding rasamu. Aku tidak percaya sekejam itu perempuan yang selalu mengumbar berupa-rupa kata cinta padamu. Aku tidak percaya itu aku. Tapi sungguh, benar adanya.


Maaf …


Bukan dirimu jika biarkanku berlalu dengan diam. Tapi diammu tetaplah cinta bagiku…. Ah, bisakah kau hukum aku dengan lebih keras ? agar aku tahu apa itu sakit, agar diammu tak selalu cinta bagiku… tapi seperti itulah dirimu. Itulah mengapa aku bahagia dalam penjara hatimu.



Maaf … Maaf … Maaf …

Aku  tahu tak lama lagi cintaku mati di tepi maaf. Tapi aku akan kembali hidup untuk meminta maaf, lagi dan lagi. 





Ta'aruf Pertama

November 24, 2012 2 Comments


Hanya ketika kita saling membisu, aku seperti membaca berlembar catatan kosong. Peluh juga tak mengalah menemani dua bibir terkatup kelu. 

Bisakah kita lebih menyederhanakan dua jalan tempat kita berpijak, menginjak jejak yang sama seolah berjalan namun tidak.

Kita masih di sini, sesungguhnya.

Tak beranjak dari ta’aruf pertama di suatu pagi lima tahun yang lalu...

Saat engkau bertanya tentang cinta,
Dan aku menjawab cinta itu adalah Kau.

Lalu mengizinkan waktu menemukan kita bergandeng tangan berpuluh tahun lagi....
  


Jumat, 23 November 2012

Denganmu ...

November 23, 2012 0 Comments

Aku ingin terbangun di pagi hari dan mendapatimu berada di sisiku

Aku ingin siang di musim panas kita menyeruput air kelapa dari satu tempat yang sama di tepi pantai

Aku ingin saat musim hujan tiba mengenakan baju hangat hadiah pernikahan kita belasan tahun yang lalu

Aku ingin tiap senja menyeruput secangkir teh hangat dan menikmati sepiring gorengan hasil tangan keriputku

Aku ingin di malam hari saat kita telah menerima kabar-kabar bahagia dari anak-anak kita yang telah dewasa, sekulum senyum saling melempar dari wajah kita.

Aku ingin seperti itu.....

Lima puluh bahkan seratus tahun lagi, dengan orang yang sama.

Denganmu. 



Rafiah. H
Memintal masa tua.



Kunci

November 23, 2012 0 Comments
 

Kau pernah memberiku sebuah kunci, katamu itu kunci hatimu. Tapi aku sungguh takut membukanya, jika di dalam sana ternyata tidak ada aku.

Aku kemudian memakai kunci itu untuk hatiku. Sebab di hatiku ada cinta untukmu, kuharap tak ada yang mencurinya.

Untuk Ibu Ainun....

November 23, 2012 0 Comments

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE
# Dan aku, mengharap berakhir dengan cinta seperti itu... 

Kamis, 22 November 2012

Kelak ...

November 22, 2012 0 Comments


 Jika istana tempatmu bertahta telah menjadi dua
Aku akan pulang pada gubuk tempat rindu memeluk waktu.

Dan di subuh gerimis yang hening
Aku tetap kalungkan doa untukmu

Selalu…
Seperti yang telah berlalu.






Rafiah, H.
Meminjam kemungkinan masa depan...

Kamus Dari Tuhan

November 22, 2012 0 Comments






















Cintamu,

Seperti aksara asing yang terpahat di bebatuan berabad silam.

Tuhan memberiku kamus untuk dapat membacamu.

Kau tahu, berlembar kertas sepuh itu hanya menulis satu kata,...
Bersabarlah.





Rafiah, H.
Malam beku, memeluk kamus.


Rinduku

November 22, 2012 0 Comments




Pernah, 
Rinduku tersesat  diruang waktu yang kosong.
 Hingga air mata sekarat mencarinya.

Kuharap kau tidak sepertiku.  




Rafiah, H
Menunggu rindu pulang.