Sabtu, 23 Februari 2013

Malam yang Sama

Februari 23, 2013 0 Comments

Malam itu hujan menderas lagi. Seorang perempuan berjalan kalut mengelilingi rumah. Mungkin ia sedang mencoba mengubah rindu jadi bayang yang terlihat di pelupuk matanya. Ia mencari bayang lelaki yang dicintainya sedang menyesap kopi buatannya depan tv sambil menonton berita malam. Di dapur, ia nelangsa mengingat lelaki itu sering memasak mie instan dengan resep special kesukaannya untuk ia nikmati bersama. Dan kembali ke ruang kamar, hatinya di gigit rindu pada bayang yang lain. Anaknya. Jendral kebanggaannya.


Dan malam telah menggenap sejumlah putaran minggu.


Pukul 12 lewat entah…


Perempuan itu kembali mengambil baju yang sama untuk dipeluknya. Sebuah kaos merah yang menyisa jejak dari lelaki yang dirindunya. Sengaja ia tidak mencucinya.


Hujan yang menderas- dan malam larut menghembus dingin.

Sebuah kaos merah menghangatkannya hingga ruas-ruas mimpinya.


Ahhh…

Perempuan itu, aku. 




Melipat Rindu

Februari 23, 2013 0 Comments



Mengingatmu, aku melipat rindu.

Saat puisiku bisu di bait terakhir dalam lamun
 tentangmu.

Hujan luruh lagi.  Dari hatiku yang nelangsa.

Sebabmu, aku menguliti kenangan dengan hati abu.

Lalu pulang pada luka.

Diriku.

Minggu, 17 Februari 2013

Januari_ 3 Buku

Februari 17, 2013 0 Comments
Alhamdulillah, Januari kemarin menghabiskan 3 buku sekaligus.


Hal yang telah lama menjadi bagian dari peraturan hidup yang kubuat, membaca buku-buku inspiratif di awal tahun.

Sebenarnya, ada beberapa daftar buku wajib yang harus dibaca pada Januari kemarin, ini dia :


*      On Writing _ karya Stephen King
*      Quatum Ikhlas _ karya erbe Seantanu
*      Sang Alkemis _ karya PauloCoelho (rekomendasi kak Raidah… sayang belum dapat bukunya..)
*      Making Faces _ karya Kevyn Aucoin
*      Dan terakhir… Staying Young _ karya Mehmet C. Oz, MD

Hm, tapi tidak satupun dari target buku-buku itu yang berhasil kueja karena …. (lagi-lagi alasan tertentu). Akhirnya, agenda Januari itu, bergeser menjadi agenda untuk bulan Maret, sebab InsyaAllah di bulan ini akan banyak hari yang tersedia untuk mengenyangkan rasa lapar pada buku.


Tetap saja, meskipun tidak pada buku-buku yang telah di list itu, saya membaca buku pinjaman dari seorang ustad, teman dan tentu buku yang telah lama ingin kubaca tapi hanya terselip di jejaran rak.


Hm,ini dia… buku  yang pertama …



Saya selalu kagum pada pemikiran dan bahasa yang tertuang dari seorang Anis Matta. Berbicara masalah apapun, selalu menjadi mudah untuk dicerna, dipahami, lalu diterapkan. Idealisme, rasiaonalitas, dan pengalamannya adalah sebuah cermin bagi saya. Ah… menggambarkan seseorang bukanlah kemahiran bagi saya, tapi ini benar-benar sosok yang sangat inspiratif. Dan buku ‘serial cinta’ mempertemukan saya pada makna cinta yang jauh dari cengeng-melankolik.


Sedikit dari buku ini, bagaimana sang penulis menggambarkan cinta :

Seperti angin membadai.Kau tak melihatnya. Kau merasakannya.

Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun.
Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas.
Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan.
Begitulah cinta.
Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda.
Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.
Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya.
Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya.
Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang.
Demikianlah cinta.
Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun.
Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada.
Seperti itulah cinta.

Buku kedua yang khatam, masih karyanya : Delapan Mata Air Kecemerlangan…


###


Benar-benar beruntung rasanya menemukan buku ini di awal tahun. Sebab ia mengenalkan diri untuk meningkatkan kualitas diri melalui konsep yang sangat jelas dan menyeluruh. Layaknya Islam yang tidak pernah setengah-setengah dalam semua aspek kehidupan….


Delapan mata air itu bermula dari : konsep diri, lalu cahaya pikiran, kekuatan tekad, keluhuran sifat, menajemen aset fundamental, integrasi social, kontribsi dan yang terakhir  : konsistensi.


Sedikit pengantar :

Diawali dari kesadaran akan peran, Delapan Mata Air Kecemerlangan akan menegaskan bahwa tujuan hidup itu sudah given.
Yang harus kita lakukan adalah memilih peran. Tetapi memaksimalkan peran harus kita lakukan dengan memahami satuan waktu sebagai bekal untuk menghasilkan satuan amal. Selebihnya adalah bagaimana kita bermanfaat bagi sesama. “

Karya ini adalah jawaban dari kebingungan saya mengkonsep hidup. Mungkin bagi beberapa orang, mengkonsep diri adalah hal biasa, tapi sungguh,,,, bagi saya… itu pernah menjadi hal yang rumit. Tetunya, sebelum saya menemukan buku ini…


###

Dan terakhir….


Sudah sangat lama buku ini masuk daftar baca, yah… sejak diterbitkan tentunya.  Itu berarti sejak tahun 2008, tapi baru membacanya setelah cetakan ke 6-2011…


Apa jadinya? … saya menyesal !


Harusnya buku ini kubabat habis sejak ia di terbitkan. Sebabnya, setiap kali saya membaca sebuah buku, saya selalu menuliskan hal baru yang saya dapatkan dari tiap halamannya, entah mengcopy-paste kalimatnya lalu menuliskan kalimat inspiratif itu dari siapa, atau menyusun ulang pemahamanku dari apa yang sudah kubaca dengan bahasaku sendiri. Dan buku ini…. Membuat tanganku kriting menulis hal-hal baru di dalamnya…. Sangat menggugah.


###


Nah...


Ada begitu banyak buku berisi hal-hal baru yang mungkin mengejutkan, tapi lebih banyak menyadarkan. Yah, sebab kita telah mengetahui banyak hal dari yang tertulis di buku tersebut sejak dulu, tapi karena kita manusia, maka lupa adalah bagian dari kemanusiaan itu.

Membaca, menemukan yang terlupa dan mengembalikannya pada kita. Dalam bentuk yang baru.

M-e-m-i-l-i-k-i.

Februari 17, 2013 0 Comments


Ini agak berat sebenarnya, mungkin karena terlalu sepi, terlalu hening.

Sebenarnya, satu sisi saya sangat mencintai sepi. Hanya karena lama tak menjamahnya, kemudian asing merasainya. Padahal ia adalah waktu di mana aku dan diriku, hatiku, pikiranku menyatu tanpa sekat. ‘kami’ semua berkumpul… memikirkan dan merasai hal yang sama tanpa ada yang hilang. Ah, rumit menjelaskannya.

Tapi aku tiba pada titik ini : Memiliki.

Sepi membuatku memikirkan apa yang sebenarnya aku miliki.

Pagi ini, terbaring senyap di ruang kamar, tak ada gaduh di dapur, denting kaca dan sendok sarapan pagi, deru mesin cuci yang berputar, desisan minyak panas bertemu ikan berlumur asam, percakapan spongebob di tv, teriakan fathi yang berlari sambil meminta izin untuk bermain, tangisan angga mencari coklat bem-beng kesukaannya, dan tentu… nasyid ‘harokah’ favorit Qawwamku.

Sudah sangat lama, aku dan ‘hal-hal’ itu bersama hingga sepi enggan berkunjung dalam hidupku. ini adalah pagi (yang seingatku) pertama kalinya, sepi datang menjengukku setelah kurang lebih lima tahun pernikahan dan riaknya membersamaiku.

Lalu aku memikirkan tentang semua yang telah kumiliki.

Bukan pada materi. Pada abstraknya sebuah keberadaan. Suami. Anak. Cinta. Kebahagiaan.
Apa aku benar memiliki semuanya??

Ah, ternyata tidak. Aku tidak memilikinya. Aku, bahkan diriku tidak saling memiliki. Hubungan kami adalah sebentuk titipan seorang tuan kepada sahayanya. Yang berhak Ia ambil sekehendak inginnya.

Pun pada Qawwam, juga anak-anak yang telah lama mengusir sepi itu. Mereka adalah titipan yang tidak pernah menjadi hakku memilikinya. Kami adalah titipan pada masing-masing hidup kami. Untuk saling memberi yang terbaik hingga tiba waktunya Tuan mengambil miliknya.

Maka, yang benar-benar kumiliki dalam hidup ini adalah apa yang telah kuberi. Sejak dulu, dulu sekali… aku menyadari akan ini. Hanya saja, semua titipan itu menggodaku untuk memiliki sepenuhnya. Membuatku lupa untuk menyediakan sebuah ruang di mana waktu datang dengan takdirnya untuk mengambil.

Harusnya, di ruang itu pula, kelak, aku dapat menghadirkan senyum. Bahwa aku telah menjaga titipan itu dan memberikan apa yang aku bisa dengan sebaik-baiknya. Hingga (mungkin) sang Tuan rela jika titipannya kembali padaku. Menjadi milikku. Di negri lain bernama syurga, yang luasnya seluas langit dan bumi.


# Merenda sepi, sepulang mengantar kepergian Qawwam yang kucinta dan Jendral kecilku di bandara menuju Bima.