Senin, 06 Januari 2014

Pulang Sebagai Hamba

Januari 06, 2014 0 Comments


Sore tergugu rindu, telah lupa aku jalan pulang. 

Disimpang jalan hidup, kupilih rawa-belukar titisan neraka sebagai jalan... Melangkah di sana, tersesat dalam gelisah.

Sore, hujan bersisa hayalan entah.
Di sudut waktu yang kelabu, kulamun wajah Tuhan.
Tempat aku pulang pergi dari dosa ke doa.

Bukankah Tuhan romantis? Dikalungkannya manusia seuntai hiasan kebaikan dengan liontin keburukan menggantung pasrah.

Agar tahu, tak lebih kita hamba.
Yang selalunya merindu pulang dalam karat dosa.


Minggu, 05 Januari 2014

Mengenang

Januari 05, 2014 0 Comments


Aku sangat pandai mengenang, ternyata. 

Di sebuah buku diary yang sejak santri telah menjadi bagian dari hidupku, aku menemukan sebuah kalimat yang mengesankan namun sedikit menggelikan. Aku ingat betul, mengapa menuliskan kalimat itu.

“Allahu Rahman…. Jika hamba tak lagi mampu menjaga hati ini, Kumohon… jagalah “ia” 
untukku….”

Doa di sisipan kalimat sederhana itu, aku menulisnya dengan hati paling galau. Yah, sepertinya saat itu aku sedang jatuh cinta. Tapi pada siapa, biarlah itu jadi milik waktu yang sudah selesai.

Kadang-kadang, aku menyukai diriku sendiri. Ya, kadang-kadang.

Saat membaca buku diaryku yang setengahnya mulai berwarna pink oleh tulisan tangan yang dipenuhi rona cinta, aku menyukai bagaimana diriku saat jatuh cinta dulu. Aku mensyukuri beberapa hal dari diriku yang lalu, tentang bagaimana Ia, (diriku) mampu tenang dengan didihan api masa remaja.

Aku membaca satu persatu, lembar demi lembar ketika aku mulai menyukai seseorang, dan aku tersenyum untuk itu.

“Ah, Rabb…. Bagaimana? bahkan dalam sujudku pun bayangnya hadir…”

Halaman lain..

“Aku memandangnya dari jauh saat ia melintas dengan motornya, itu sudah cukup. Benar-benar cukup…. “

Di lembar yang lain..

Mimpi semalam, benar-benar tidak masuk akal. Tapi sungguh, itu menyenangkan….”

Dan tulisan tanganku yang paling kusuka :

“ Allahu Rabby, lebih indah takdirmu dari apapun, jika Ia bukan takdirku, berilah aku yang lebih baik darinya. Dan dekap hati ini, agar tak ada kesia-siaan dalam cinta semu ini….”

Aku tidak cengeng saat jatuh cinta dulu. Kupikir seperti itu.

Bagaimana aku cengeng, sebab yang mencuri hatiku terlampau shalih dalam pendanganku. Siang malam aku sibuk bersaing dengan keshalihannya, saat kudengar ia hidupi malamnya dengan rakaat-rakaat tahajjud, aku pun melakukannya. Ia berprestasi di kelas, maka Kulahap buku-buku pelajaranku. Segala hal, aku bersaing dalam sunyi, diam-diam. Dan kini, aku menghargai diriku di masa lalu yang seperti itu. Tak ada surat cinta, tak ada janji ketemu, tak ada tatapan mata, dan tak ada umbar perasaan.

Satu-satunya yang kukenang dari cinta yang tak takdir itu, adalah keshalihan dirinya yang menjalari hari-hariku. Hanya itu.

***

Jika aku tertuduh sedang mengenang seseorang di masa lalu, biarlah sedikit kubela diriku, bahwa hatiku hendak bersyukur atas kehadiran takdir yang lebih baik darinya. Aku menghargai cinta yang hadir dahulu, dan mensyukuri cinta yang memenuhiku saat ini. sesederhana itu saja.

Rabu, 01 Januari 2014

Subuh Satu Januari

Januari 01, 2014 0 Comments


Adzan menyahut gelisah subuh ini. Di lorong-lorong kota, dari balik dinding-dinding kamar, lelap mengikat erat. Semalam, Iman di hati memakai topi krucut dan ledakan kembang api sedikit merubah warnanya.

Perayaan katanya. Atas apa sesungguhnya?

Diri yang masih lekat dengan kerak kebodohan. Waktu selalunya akan berjalan, berganti. Adakah dirimu telah berjalan, berganti?

Carilah Subuh tadi, Iman yang terbangun menekuk rakaat dengan khusyu. Bukankah dengan  itu harusnya Muslim memulai hari ???

Ataukah telah lupa kita pada muhasabah, hal yang lebih bijak dari hingar-bingar kesia-siaan sebuah tradisi.
Ah, Iman …