Rabu, 26 Februari 2014

Januari, Sajak Gelisah

Februari 26, 2014 0 Comments

Menanti Januari,
Ada khianat menumpang resah di pundakku
Harapan seumur bayi telah dikafan putih
Mimpi diyatimkan kenyataan
Kurasa, Aku harus pergi.

Januari selalu adalah gadis bening pemikat mimpi-mimpi indah,
Tapi seperti halnya kehormatan, Ia adalah harga.
Ada mahar dan janji, Akad untuk memiliki.

Seperti hari yang kau sumpah dengan serak suara.
Bersahabatlah dengan kesabaran,
ia tahu segala jalan.
Ia kendara yang tak merugi.

Rafiah.
Larut, 26 februari 2014. 23:54

Selasa, 04 Februari 2014

Mencuri Kenangan.

Februari 04, 2014 0 Comments

Aku ingin meletakkanmu sejenak di sini. Dalam hatiku. Mencakapi rupa-rupa kenangan, mengajaknya pulang pada waktu yang sisa.

Aku selalu berfikir, Tuhan juga pandai mencanda. Dengan Maha Baiknya, Ia tulis namamu dalam takdirku jauh sebelum adaku. Siapalah aku ini, hingga pantas sebahagia ini dengan kehadiranmu. Kalaulah Tuhan sedang bercanda, aku tentulah mainan yang memang suka dimainkan kalimat "Kun"-nya yg sakti itu.

"Kun!" ..... Kau ada.
"Kun!" ..... Kita bahagia.
"Kun!" ...... Ada yang pergi.

Lalu bersisa pilihan untuk kita, seperti cinta yang selalu hanya menyisakan dua hal : saling mengenang atau melupakan.

Tapi, bagaimana aku melupa, segalaku adalah kertas bertuliskan dirimu yang lebur dalam genanganmu. Aku bukanlah aku jika tidak denganmu. Sedang segala kata memuntahkan tinta, tetaplah bukan hakku memaksamu mengerti....

Aku takut, kadang....

Takut pada hatiku yang dipenuhimu. Sementara pertemuan selalu meniscayakan perpisahan, dan juga hati, tak pernah menjamin cinta duduk setia disisinya. Ah...

Satunya hal yang mungkin dapat dilakukan hati adalah setia mencintai kenangan. Bagaimanapun takdir, hanyalah goresan pena Tuhan dalam lembar-lembar hidup. Masih selalu bersisa pilihan bagi cinta untuk hidup seperti apa...

Tibalah, jika cinta menjadi lebih rumit dari derita, aku akan mencuri dirimu dari kenangan. Mengajaknya rebah bersisian denganku, menikmati angin pertengahan musim.

............... Mensyukurimu, mensyukuri takdir, mensyukuri bahagia, dan mensyukuri kenangan.
Dengan itu, aku akan hidup lebih lama...

¶ Dari cintaku yang buncah, 5 Februari '14.

Janji Sederhana.

Februari 04, 2014 0 Comments

Sandal.
Itu benda paling menyesakkan untukku, ada kelebat kenangan Mama padanya.

***

Suatu siang, sebelum berangkat mengisi taklim, mama kebingungan depan pintu. Sandal lusuhnya yang telah beribu-kali ia injak dalam tapak langkahnya nampak memprihatinkan. Sandal yang telah dijahit itu nyatanya telah sekarat, Ia bingung, antara memakainya dan menerima resiko putus di tengah jalan atau memakai sandal milikku yang tentunya sempit untuk ukurannya.

Mama putuskan memakai sandalku, dan tiba saat pulang, genap deritanya. Sandalku yang dipakainya putus, dan lagi, tumitnya perih dihimpit.

Kala itu, ada janji sederhana dalam hatiku. Dekat ini, dari uang tabunganku harus berbuah sandal untuk mama. Tapi itu masih tetap janji sederhana yang (mungkin) tak akan pernah tunai. Rencana pernikahanku mengundang banyak kebaikan, beberapa anggota taklim memberi apa yang dapat mereka beri. semuanya terpenuhi, bahkan sandal..... itu tak lagi masalah.

Aku lupa janji sederhana itu. Mama jua pulang dengan cepatnya. Entah langit yang terlampau rindu padanya hingga memintanya kembali segera. Semoga itu alasannya. Berlalu hari kelabu dalam kehilangan, dan suatu malam aku memimpikannya.

Mama terlihat buru-buru, ia harus pergi. Aku menahannya depan pintu, kubujuk ia tinggal sebentar lagi, aku akan keluar membeli sepasang sandal untuknya, seperti janjiku kala itu.

Ia tersenyum. Orang-orang mengatakan, seorang yang telah neninggal tidak dapat berbicara dalam mimpi kita. Tapi mama, ia berbicara padaku, tulus......

"Sudah nak, cukup semua kebaikanmu selama ini... itu saja..."

Aku menangis melihatnya pergi. Saat terbangun, air mata membasahi duniaku. Aku kehilangan dirinya, berulang kali. Dalam mimpi, dalam rindu. Dan sakitnya tetap sama.

Hanya, apakah janji sederhana itu telah tunai, Mama?

***

Malam di puncak gelap, menjelang hari berganti 5 Februari '14