Sabtu, 28 Desember 2013

Aku dan Bait Desember

Desember 28, 2013 0 Comments

Desember, telah selesai ia tulis baitnya pada waktu. Tapi enggan dilepasnya pena yang tintanya bersisa seruas jari. Butuh sebait lagi mungkin, meski masih berlembar baris-baris kosong dalam buku, tapi ia hanya butuh sebait lagi. Hanya....

Kata kian pandai menyembunyikan maksud, Desember hanya ingin jujur pada huruf terakhir sebelum titik menyudahinya.

Kecuali Aku.
Desember tak tahu sesuatu. Kali terakhir ia berkisah tentangku, rahasia kecil bersembunyi di spasi kecil halaman 23.

Dosa yang manis.

Berlalu menit-menit. Penat, Desember membuang titik.
Aku tersenyum.

Senin, 23 Desember 2013

Sajak Jalanan #1

Desember 23, 2013 0 Comments

 Kaca terbuka, sedikit.

Di jalan, tempat hidup lalu lalang, kulihat sepi lahir.
Pada wajah tirus seorang kakek pengemis. Lumpuh.

Mungkin kehidupan renta menghianatinya,
Tapi dahulu, setiakah ia pada hidup mudanya?

Aku bertanya pada nasib.

Minggu, 22 Desember 2013

Fakihah, Kulminasi Cinta Mama

Desember 22, 2013 0 Comments
Fakihah :)


Adik...
Genap kebaikan yang kau jejak saat lembaran ayat Alquran kau semat pada ingatan. Biar sedikit kukisah tentang suatu malam, di bilangan hari sebelum Mama pergi, katanya, tak lagi ada yang lebih makna dalam hidupnya lebih dari anaknya hafidz-hafidzah. Tak perlu sayap, rasanya Ia bahkan telah melayang di awang. Ah.... Tidak akan lupa aku pada kala itu, dek.

Saat berdiri di hadapan orang-orang pada hari ketika telah rengkuh julukan Hafidzah padaku, sedikit saja, sebentar saja, kuharap ada Mama di sana. Duduk haru memandangiku, dan akan kusuguhkan itu sebagai bakti.

Ingin sekali kubisik padanya " Ma... sudah, terbanglah, melayanglah.... kelak kan ada mahkota untukmu. Khusus untukmu, di hari ketika semua di bangkitkan untuk hisab.

Kadang kala sesal pun harus dengan bijak, saat dengan perih kulangkahkan kaki pulang dari acara penamatan Tahfidz itu, aku memikirkan waktu yang kuhabiskan untuk menghafal, 9 bulan. Ya, mengapa tak ada 9 bulan itu di hari-hari ketika nafas masih menghidupi paru Mama, bukankah itu waktu yang singkat. Mengapa tak lekas mimpi Mama wujud sebelum takdir menjemputnya?

Ah, tentulah... pada masa lain. Pada kehidupan yang lain.

Adik,
berbahagialah, ketika kelak di atas rerumputan taman syurga bisa dengan bangga kau katakan bahwa kau lebih dariku, menjadi hafidzah hanya dengan 6 putaran bulan. Ah, tentulah... kau selalu yang istimewa...

Masih dalam kenang, seminggu sebelum Mama jatuh sakit, tak henti Ia membanggakanmu, katanya, kaulah satu-satunya putri yang tak sekatapun bantah padanya, tak selaku pun menyakiti rasanya. Kaulah dik, kau orangnya. Tak cukup itu, pada keluarga, padaku, Ia titip dirimu penuh. Untuk menjagamu, memperhatikanmu, menyayangimu, mungkin sebisa yang dapat Ia lakukan jika saja lebih panjang usianya.

Hari ini, dimana orang-orang meluapkan kasih pada ibu mereka, Kulabuh syukur padamu.

Terima kasih telah menjadi putri Bapak dan Mama, yang tak hilang kebaikannya, ada dan tiada keduanya.

Kaulah orangnya.
Pelipur lara Mama. Dulu. Semoga selalu.
Terima kasih.

Kak Rafi'ah, yang sayang padamu, penuh.
22 Desember 2013

Sabtu, 21 Desember 2013

Rindu Rebah

Desember 21, 2013 0 Comments
Telah rebah rindu ini, Ma.

Tersesat dihela nafas takdir yang meniadakanmu begitu
cepat, luka dan mimpi berkelindan tak urai lagi di hariku.
Hingga gelap, hingga lelap.

Tak ada tepi selain hati, tempat kembali doa-doa yang
tak henti berkata. Agar kita jumpa, ketika waktu tiba.

Rebahlah Ma, serupa rinduku.

Takdir selalunya pulang walau tak berulang. Di atas
dipan syurga kukisahkan dunia selepas pergimu.
Kelak.

Semoga.

Penggalan Malam

Desember 21, 2013 0 Comments

Gambar
 Orang-orang yang lelah, pulang  dengan peluh dan harap yang menyatu sebagai penyakit harian yang katanya, obatnya  hanya ada di rumah. Pun dirimu, saat pulang dan dari balik pintu yang belum sempat kau ketuk itu terdengar  teriakan girang anak-anak menyambutmu, berlomba membukakan pintu, memanjati tubuh lelahmu sekedar melepas manja yang tertahan jenak waktu, sehat sudah penatmu.  Atau bila, terlalu larut agenda rapat dan-apalah namanya-menahanmu pulang, dan saat kau tiba anak-anak telah terlelap, kau akan langsung menuju kamar mereka,  menggangguinya, sedikit memaksakan mereka bangun dan mencicipi sekotak oleh-oleh yang kau bawa, mereka akan bangun dan memakannya sedikit, kecuali Angga, Ia akan melahap meskipun dengan mata yang tertutup karena kantuk, dan rasa sayangmu buncah padanya. Katamu, “makan nak, semoga panjang umur nak, berkah hidupmu….”, ucapmu dengan senyum mengembang dan tangan membelainya lembut.

Perempuan sepertiku, sudah cukup itu sebagai kenangan paling kilau tentangmu. Malam, saat menunggumu pulang, telah lekat dalam pikirku bahwa saat datang nanti, tanyamu selalu adalah tentang anak-kita, sebelum tidur aku akan bercerita hal-hal berkesan juga menarik tentang mereka hari ini meski kau tak pernah memintanya, aku bercerita dan bercerita. Sampai saat aku menoleh padamu, kau telah pulas menutup mata.

Aku selalu memandangimu saat tidur pulas, rahasia kecil yang mungkin sebagian  istri lakukan tanpa sepengetahuan suaminya. Entah sejak kapan aku mulai suka melakukannya, memandangimu tak ubahnya menggaris ingatan di titik-titik rasi bintang kenangan, sebuah bentuk takdir, aku tak pernah mengenalmu sebelumnya, hingga Allah mengikat tali nasib kita dan kau di sampingku kini, lelap. Indah.

Inilah penggal malam perihal dirimu yang kurindu dalam bisu. Tapi tahukah sayang, sejak mencintamu, tak ada bahagia yang selamat dari lubang pori ketakutanku, tentang suatu waktu, dimana tak ada aku di sisimu, adakah kau mengenangku hangat?

Maka  maafkan, jika ternyata hanya serpih luka yang kau ingat dariku…. Sementara telah habis kusesap bulir cinta darimu.
Maafkan…..

#Untuk setiap malam yang tak habis kukenang....