Sabtu, 31 Mei 2014

Namanya Sabariyah

Mei 31, 2014 3 Comments

Bismillahirrahmanirraahim...

Bila tiba dirimu pada tulisan ini, bacalah dengan baik. Carilah bahasa yang lebih indah dari yang bisa kutuliskan, sebab sungguh, ini adalah tentang seseorang yang keindahannya tidak lagi dapat kukata dengan bahasa-bahasa...

***
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, 
“Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)


***

Namanya Sabariyah.

Ia gadis manis dengan alis mata hitam yang bersembunyi malu di balik kaca-matanya. Senyumnya menawan, tidak ada yang akan meragukan itu. Tiap kali melewati kebun satu- tempat ia setiap harinya menghasbiskan paruh waktu dengan sapu lidi dan tong sampah yang hampir seukuran dirinya- aku selalu memilih jalan yang bisa melewatinya dalam jarak dekat, sekedar untuk memberi salam.

Kurang lebih Enam bulan aku menghabiskan pagi di kampus, menerima lembar-lembar hafalan Qur’an santri, kecuali Najwah- yang Alhamdulillah dapat menghafal 7 lembar al-Quran dalam sehari dan Nadwah yang telah khatam menghafal dan sedang muraja’ah 5 juz- aku menemukan kekaguman yang lain, pada seorang gadis cleaning service berusia 16 tahun.
Namanya Sabariyah. Kukatakan sekali lagi, semoga kalian mengingatnya dengan baik.

2  hari lalu, usai menyapu dedaun kering di sekitar Gazebo –rumah-rumahan tempat aku menerima hafalan santri- ia duduk istirahat di dekatku. Ia melempar senyum, dan memperhatikan bagaimana adik-adik santri menghafal ayat-ayat al-Quran. Kami berbicara sebentar sampai ia mengutarakan niatnya untuk ikut menghafal, dan ya, siapa aku sehingga layak menolaknya? Kujawab iya, dan dia tersenyum manis. Sangat manis...

Pagi ini, belum selesai ia dengan sampah daunnya saat ia melihatku datang dan langsung beranjak menghampiriku. Kupikir ia ingin aku men-tahsin bacaannya dahulu sebelum ia menghafal sebagaimana  adik santri lain, kupikir bacaan al-Qurannya masih perlu perbaikan, tapi seketika ia mulai menghafal, aku takjub. Saat kukira ia hanya akan menghafal beberapa ayat saja, aku tertegun ia menghadapkan 2 halaman utuh dengan bacaan yang fasih. Lalu aku menatap sapu yang ia simpan di dekatnya, tiba-tiba saja aku malu pada diriku.

Hingga aku menulis ini, tak henti senyumku. Aku memikirkan bagaimana aku menghafal dulu, sambil mengurus Fathi yang masih berusia 3 bulan, tiap tiga kali sepekan, pada pagi atau sore hari, aku menggendong fathi kecil berjalan menuju kampus, demi menghadapkan beberapa lembar hafalanku. Saat melihat gadis ini menyapu sampah-sampah sambil mengulangi ayat yang akan ia hafal yang telah ditulisnya pada selembar kertas, aku dibakar cemburu. Bagaimana Allah tidak mencintainya?

Namanya Sabariyah. 
Gadis yang mengingatkanku tentang bidadari syurga dari kehidupan bumi.







  Malam, Melepas Mei dengan senyum, 31 Mei 2014.
Rafiah. H

Senin, 19 Mei 2014

Poin Tarbiyah #1

Mei 19, 2014 0 Comments
•Janganlah bosan dalam jln dakwh ini,  pengorbanan kita masih jauh dr pd pengorbanan org sebelum kita.

•Hal sedikit yg kita lakukan dalam dakwah ini haruslah terpelihara niatnya, jngn sampai yg sedikit itu pun luruh pahalanya krn niat yg tidak murni krn Allah,.

•Kita perempuan,  sebagai ibu, daiyah,  murabbiyah,  lebih khusus sebagai kader PKS,  haruslah memiliki perbedaan dengn wanita lain,  bukan berarti perbedaan yang membuat kita ekslusif sehingga tdk dpt tersentuh,  melainkan berbeda karena keshalihan diri kita yang menerapkan utuh konsep keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Kita adalah wanita yang berislam dengan kaffah sehingga menjadi cahaya bagi kehidupan di sekitar kita.

Sebagai kader dakwah, wanita shalihah hendaklah ;
-Rabbaniyah
-Telah mewakafkan diri di jalan dakwah ini
-senantiasa memperbaharui niat.

Murabbiyah: Um. Madya. Regency maros,  19 Mei 2014.

Jumat, 16 Mei 2014

Munafik, Aku?

Mei 16, 2014 0 Comments
SG : Pinterest


Tentang Tuhan,  seberapa sering aku memikirkannya? Tidak selalu,  itulah mengapa lantas kukira diriku si munafik yang disalah satu ayat dikatakan akan diberikan berita "gembira" tentang pedihnya azab mereka.

Tuhan,  adalah tempatku menumpuk curiga,  prasangka-prasangka,  dan doa yang dirapal buru-buru,  seolah menyerahkan Tuhan untuk memilih mengabulkan atau tidak dan semuanya tidak apa-apa.

Pagi,  siang,  sore,  ketika waktuku dikafani kesibukan tak berjeda,  aku takut berbohong bahwa dalam shalat aku lebih sibuk tentang kesibukanku,  daripada memikirkan tentang Tuhan, bahwa aku dengan mukena yang tidak sewangi baju pesta itu,  sedang berdiri,  ruku', sujud di hadapnNya. Sedang rasa malu tak menghinggapiku dalam pertemuan wajib itu.... bilakah kusebut diriku beriman?

Lalu aku,  tentangku,  Tuhan tentulah tahu segalaku. Bahkan nafas yang dihembuskan barisan huruf-huruf rapuh ini,  Tuhan tahu, dari hati mana ia dirangkai, hati yang munafik atau beriman.

Sedang,

Tak jua kunjung dapat kujawab dengan jujur, hati apa hatiku?

Sabtu, 10 Mei 2014

Setelah 6 Tahun

Mei 10, 2014 0 Comments
Aku tahu seseorang yang kau temui dari getar suaramu.

Sudah kukatakan,  aku mengenalmu. Sangat.

____cemburu.  mungkin tidak,  tapi iya.
>_< 

Kamis, 08 Mei 2014

Perempuan Tua

Mei 08, 2014 0 Comments

Jika kau beruntung,  itu salah satunya karena kau memiliki teman tempat bertanya(bagi kebanyakan orang) hal tidak penting yang bagimu cukup penting. Dan syukurnya,  aku memilikinya. :)

Aku ingat betul waktu itu,  sepulang kuliah di kampus UMI,  kami berjalan santai, lebih tepatnya setengah lelah. Aku bertanya padanya tentang hal apa yang kadang menakutkan baginya sebagai perempuan. Sebelum ia menjawab,  aku sudah memberi jawabanku sendiri,  seolah aku tidak ingin kami memiliki jawaban yang sama,  ketakutan yang sama.

Kataku : "aku takut menjadi perempuan tua".

Katanya :"aku takut menjadi penyakitan"

Saat itu,  aku lebih memahami jawabannya dibanding jawabanku sendiri. Kurasa ia lebih rasional memilih ketakutannya. Penyakit. Benar,  apa yang menyenangkan sedang kau berpenyakitan,  tak punya daya,  dan hanya menyusahkan orang lain. Sudah kukatakan bukan,  memiliki teman tempat bertanya sekaligus yang dapat memberimu jawaban yang sekejap membuatmu berpikir ulang tentang sesuatu adalah keberuntungan. :)

Malam ini, aku memikirkan tentang jawabanku sendiri. Menjadi perempuan tua. Kurasa,  aku tahu mengapa aku takut akan itu.

Menjadi perempuan adalah hal yang penting. Terlebih saat telah menjadi Ibu. Setiap hari dipenuhi suara-suara memanggil namamu, itu adalah panggilan KEBUTUHAN. Ya, perempuan adalah titik kebutuhan. Tapi saat kau tua,  butuh banyak adaptasi. Anak-anak yang beranjak dewasa tidak lagi banyak mengeluarkan suara meminta pertolanganmu,  kadang-kala bahkan kalimat nasehatmu tak ubahnya dengungan serangga yang menggangu telinga. Melakukan sesuatu pun sering kali disalah-pahami maksudnya,  dan kebanyakan... perempuan tua tidak lebih dari beban dalam rumah(terlebih jika itu rumah anak lelakinya yang telah menikah).

Yah, kuharap, aku jauh dari ketakutanku saat tiba takdirku menjadi perempuan tua. Aku masih bisa menikmati hujan sambil menulis puisi dengan tangan kriputku yang sedikit bergetar menahan usia, menghabiskan sore membacai buku-buku, sesekali mengunjungi anak-cucu demi menunaikan rindu mereka,  dan yang paling kupinta dalam do'a,  adalah saat rabun mataku tak menghalangi lidahku basah mentilawahi lembar-lembar Al-Quran.

Perempuan tua yang mandiri. Bukan benalu,  tidak juga beban.
Kuharap begitu. :)
___________________________________

Dan rasanya lega aku memahami mengapa aku menjawab :"menjadi perempuan tua".

Bima,  Malam,  8/5/2014_20.52

Rabu, 07 Mei 2014

Cinta Lelaki Baik

Mei 07, 2014 0 Comments
Kumpulan cerpen karya Chitra Banerjee, pinjam dari kak Atun :)

Waktu aku beranjak dewasa di Calcutta,  ibuku punya satu ungkapan yang sangat disukainya: Cinta seorang pria baik bisa menyelamatkan hidupmu.*

Untuk beberapa saat, saya tertegun di paragraf ajaib itu. Saya berhenti membaca, novel di tangan saya terkatup pasrah, saya menarik nafas pelan,  dan sedikit berhati-hati,  mata saya bergerak melirik lelaki yang duduk tak jauh dari saya sambil bermain ringan dengan anak-anak. Saya tersenyum,  tidak lagi dengan lirikan,  saya menatapnya lama. Dalam. Sampai saya tiba pada satu kesadaran manis: Dia lelaki baik dengan cinta yang menyelamatkan hidup saya. Qawwamku.

Cinta pria baik.
Saya tidak banyak tahu tentang itu, meski saya beruntung memilikinya. Sejak awal saling mengenal,  bukan ketergila-gilaan yang ada di antara kami, terlebih untuk dikatakan mabuk,  aih! Kami menjejaki diri dengan pelan,  membuka satu-satu topeng di antara kami,  kadang dengan kecurigaan, tapi kepercayaan selalu punya porsi yang besar,  selebihnya, kami biarkan waktu mengambil peran inti. Bukankah waktu sangat pandai dalam hal cinta?

Maka tak terhingga syukur saya,  atas diri yang belum jua lurus-dewasa ini,  Allah genapkan diin saya dengan lelaki baik itu. Hati saya, belum juga sempat melangkah berkelana, doa-doa saya belum pantas disebut khusyu', dan lagi,  saya terlalu banyak lubang nganga kepribadian. Tapi dari lelaki baik, (saya beritahu padamu) selalu ada kehidupan yang baik.

Terpujilah nasihat bijak Umar ibn Khattab:

"Pilihlah yang memiliki iman (kebaikan), jika ia mencintaimu,  ia akan memulikanmu,  dan jika ia tidak mencintaimu,  ia tidak akan menghinakanmu."

Satu lagi kenyataan :
"kehilangan cinta,  meski bukan dari laki-laki baik,  bisa membunuhmu."**

________ Bima,  7 Mei 2014. 21.47

*  Buku The Unknown Errors of Our Lives,  Chitra Banerjee, h. 96
** Ibid, h. 98 (masih dihantui skripsi) :D

Jumat, 02 Mei 2014

P-A-L-S-U

Mei 02, 2014 0 Comments

Kau sedang bahagia, bukan? yah,  orang-orang bahagia dengan cinta. Itu pasti. Kita pun pernah bahagia dengan itu. Dulu sekali.

Tak mengapa meski bukan aku lagi,  cinta punya hak memilih dengan siapa ia hidup. Begitu pun hatimu. Tapi bolehkah aku memohon satu hal sederhana setelah semua yang kita jalani? Berbahagialah,  tapi jangan katakan cinta yang telah lalu di antara kita adalah kepalsuan.
Kuharap,  kau bisa mengingat sebaik aku mengingat semuanya.

Di awal pernikahan,  setiap kali aku mengeluh tentang beratnya hari-hari yang kujalani,  kau selalu memelukku dan berjanji akan membahagiakanku,  katamu: bersabarlah,  hanya masalah waktu. Apa itu palsu?

Setiap kali kita berboncengan di malam hari,  kau selalu mengusap-usapkan tanganmu ke tanganku yang melingkar di perutmu,  agar aku tidak kedinginan. apa itu palsu?

Saat aku sakit dan kau merawatku dengan gelisah,  tak henti kau pijat kakiku yang pucat dingin,  berulang kali kau usap keningku yang demamnya tak kunjung turun,  dan kau menatapku lama seolah aku akan pergi, apakah itu palsu?

Saat terlambat pulang karena terjebak hujan di jalan,  kau segera menjemputku,  menembus deras dan dinginnya hujan,  apa itu palsu?

Katamu suatu kali,  kita akan pergi umrah dan haji berdua,  lalu kita jejaki belahan-belahan bumi,  kau katakan itu sambil menggenggam erat tanganku. Apa itu palsu?

Saat anak pertama kita lahir,  kau menciumi keningku haru. Lalu bisikmu pelan, "terimakasih sayang,  aku mencintaimu", Apa itu palsu?

Saat dengan bangga kau gendong anak kita, kadang-kadang melemparnya ke langit seolah menerbangkannya, mengajarkannya tapak-langkah di usia satu tahunnya,  matamu berulang kali melirikku memastikan aku tersenyum melihatmu. Apa itu palsu?

Dihari ulang tahun anak kita,  kau berjanji akan menjadi ayah yang baik,  lalu doamu semoga anak kita menjadi pribadi yang lebih baik darimu. Apa itu palsu?

Jika semua itu palsu bagimu,  bagaimanakah cinta yang jujur itu? Apakah ketika hatimu meng-ingini perempuan lain dan lalu kau rela tinggalkan semuanya, berdalih kehidupanmu sebelum hadirnya perempuan itu adalah palsu,  dan inilah yang sungguh?

Tak ada takdir yang palsu. Kita bertemu bukan kepalsuan. Kita saling mencinta jua bukan kepalsuan. Kita berpisah tanpa kepalsuan.

Berbahagialah,  dan jangan anggap palsu masa lalu,  juga aku. Karena aku,  baik-baik saja tanpamu.



***
Seorang perempuan yang kukenal,  menulis status "Aku baik-baik saja" di hari ketika suaminya(mantan) menikah dengan perempuan yang katanya adalah cinta sesungguhnya.
Lalu aku menulis ini karena terbawa perasaan. *MelankolisAkut -_-'