Jumat, 30 Maret 2012

Hanya Waktu

Maret 30, 2012 0 Comments


Aku tak perlu membaca inginMu,
Saat mimpi ku patah-patah tak menyisa bentuk

Sekali,
Aku pernah mengintip di langit tujuh Mu..
Engkau bermain dengan puzzle mimipi-mimpi
Menukar nasib ke nasib
Mengaduk segelas air mata dan sesendok riak bahagia
Lalu menjawab prasangka di tepi asa
Tersisakah yakin itu di bilik hati kiri dan kanan?

Tanpa henti, tidak tidur,
Mati memejam mata juga bukan Engkau.

Ragu itu adalah kemanusiaan ku
Sebelum firaun yang tak kenal KuasaMu lahir di sisi ragu ku
Aku besaksi….
Tak ada jeruji mimpi di tiap lapis bumi dan langitMu
Sekeping puzzle menunggu di belahan jari-jariMu
Tersisa waktu yang belum indah
Untuk mimpi itu nyata menyapa.

Sedikit lagi,
Hanya waktu.

Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang engkau dustakan?

Rabu, 21 Maret 2012

Wedding Dress.

Maret 21, 2012 1 Comments


Jika sedang jalan-jalan bersama k’miftah ke MTC,  tempat yang tidak boleh tidak harus ku datangi adalah toko kaset, dan tanganku dengan lincah akan memilih-milah kaset yang ku anggap seru dan menarik untuk mengisi waktu yang kusebut “duniaku” dari kesibukan yang tak habis-habis.

Karena awwam, aku memilih kaset hanya dari sampul dan synopsis cerita yang kurasa berhasil menculik perhatianku, selebihnya sutradara, actor dan aktrisnya bukan masalah bagiku. _heheh, buta film_

Satu lagi, aku lebih suka genre drama keluarga, lebih dekatlah dengan kehidupan nyataku, dan film korea selalu mampu menggodaku, lalu……… yeaaaa! ku temukan film ini!


Kisah haru dengan sedu-sedan alami yang menghanyutkan. _menurutku…_
Mengangkat cerita hubungan anak dan ibu yang di perankan Go eun ( Song Yun Ah) sebagai ibu dengan  status single parent , dan  Jang So Ra (Kim Hyang Gi) _sejak kapan aku melek actor? Hehe.._ anaknya yang selalu sendiri namun menampilakan pribadi kuat, mandiri, meskipun agak kurang pandai bergaul karena phobia nya terhadap barang-barang sisa pakai orang lain yang menurutnya menjijikkan dan bisa membuatnya muntah. _anak ini maniiiiiiiis sangat!_

 
Alur ceritanya yag pelan mulai menguat ketika jang Sora mengetahui ibunya sakit dan mungkin tidak akan selamat meskipun di depan Sora, ibunya selalu menguatkan diri agar sora tidak khawatir padanya.

Sukses! Yap, film ini cukup sukses nguras air mata, menontonnya membuat kita terperangkap dalam kehidupan ibu dan anak tersebut, dan merasai emosinya. _lebay?_sama sekali tidak, tanyakan saja pada kawan ku bita manshur yang tak mampu menahan tumpahan air matanya yang selalu meleleh saat menonton film “haru”. _yaah, emang dr sononya… hehe.._

 

Yang mempesona ku di film ini adalah kemampuan acting Kim Hyang Gi (jang so ra), natural namun kuat! Sepertinya ia terlahir untuk menjadi bintang. Memukau, sungguh! Pun dengan Go eun ( Song Yun Ah), karakter ibu yang menyuguhkan memoriku ingatan tentang iffah nafsiyah, sahabatku. _glek! Masihkah aku sahabat setelah setahun tak tahu kabarnya dan enggan menghubunginya?,,, hiks-hiks…- entah fisiknya yang langsing dan tinggi, atau memang karakternya, tingkahnya yang bersemangat, cara bertuturnya yang blak-blakan dan ekspresif,, atau apalah… tapi ia seprti iffah-ku. _iffah siapa?! Hm_

Ah, pokoknya, menonton film ini tidak akan membuat menyesal, kalau pesan moralnya sih masih tentang kebaikan, yah… sebab tak selamanya orang disisi kita selalu ada untuk kita, lakukan saja yang terbaik yang kita bisa untuk nya, untuk siapa pun. _plok plok plok_

  Terakhir, posting yang terkesan berantakan dan terburai ini (bicara film atau sahabat? hehe) masih sangat jauh dari kehebatan film nya, hanya sekedar rekemondasi yang suka ngisi waktu luang dengan suguhan drama, sepertiku.  

# Yang penasaran, dan gak punya waktu apalagi money tuk beli kasetnya, silahkan mampir ke rumah pinjam kasetnya, aku orang dermawan yang suka menolong dan senang berbagi kok…. _huuuu,,, ambil semua mi! bungkus! Bungkus! Hehehe_  

Rumah Peradaban

Maret 21, 2012 0 Comments










”Seorang wanita belumlah dikatakan ibu jika ia "hanya" melahirkan anaknya,”

Itu sepenggal kalimat dari film a moment to remember yang ku nonton 3 tahun lalu dan mengiang ngiang dalam ingatanku. Mungkin benar, mungkin juga tidak, tapi bagaimana seorang wanita di sebut ibu jika ia membuang bayinya di bak sampah sebab ia ada karena perzinahan, atau di teras-teras mesjid, depan pintu panti asuhan, atau yang lebih heroik, di rumah orang kaya yang tak memiliki keturunan agar anaknya kelak hidup bahagia. Yah,…. Seorang wanita layak di sebut ibu jika dengan hati, tangan dan pikirannya berpeluh-peluh ‘membesarkan’ anaknya. Maka –‘membesarkan’- disini bukan lah melepas waktu menukar umur disatu tahun ke tahun berikutnya, namun membesarkannya hingga menjadi pribadi yang tak sekedar benalu dalam kehidupan. Dan pendidikan adalah keniscayaan.

Lalu kapan di mulainya pendidikan anak tersebut?

Tentu! Pendidikan anak dimulai sejak kita, (laki2 & perempuan) memilih pendamping hidup.
Inilah bahasa luas yang di maksud Rasulullah SAW dalam sabdanya : Seorang wanita itu dinikahi karena 4 hal; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka utamakanlah yang baik pengetahuan agamanya niscaya kamu menjadi orang yang beruntung. Sebab tak lagi diragukan, bahwa madrasah pertama bagi anak adalah ibunya.

Dalam banyak buku, artikel, dan pengalaman mendidik anak dari ummahat2 lain, saya kemudian mendapat 3 hal penting yang paling mendasar dalam membentuk pribadi anak. PRINSIP adalah hal pertama.
Mengapa prinsip? Karena hidup adalah kumpulan pilihan, dan prinsip akan memegang anak dalam menentukan pilihan nya.  Ketika kelak anak dihadapakan pada paramaeter yang berbeda-beda mengenai suatu ideologi, baik itu ideologi “kebebasan” maka tetaplah keyakinan itu harus terbingkai dalam perinsip yang diajarkan Allah dan Rasul Nya, bekal prinsip inilah yang senantiasa akan membimbing generasi kita ‘tuk tidak menyimpang dari jalan fitrahnya, sebab pada hakikatnya prinsip-prinsip Allah SWT dalam agama ini tidaklah tercipta melawan sifat dasar/fitrah manusia.

 


Hal kedua yang menjadi penopang kesempurnaan pendidkan anak dalam keluarga adalah qudwah/ keteladanan. Kehadiran Rasulullah SAW dalam proses menerbitkan cahaya agama islam tidaklah semata berupa teori dan rumus-rumus kehidupan, beliau hadir dengan kepribadian yang  digelari Allah sebagai ‘Uswatun hasanah’. Faktor qudwah ini demikian penting bagi proses pendidikan anak, sebab anak membaca prinsip dan nilai-nilai islam melalui keteladanan yang ia dapatkan dari madrasah keluarganya, mereka lebih terkesan pada apa yang mereka lihat dari pada yang didengar. Seperti halnya tradisi-tradisi yang terbangun dalam keluarga, tak lepas dari pola yang membentuknya. Seorang anak yang gemar membaca, sedikit banyak terbangun dari kebiasaan orang tua yang bersahabat dengan buku.
Penyempurna yang ketiga adalah lingkungan. Sebuah film berjudul ‘Tarzan’ yang menceritakan kehidupan anak manusia yang tertinggal di hutan, sehingga bertingkah laku layaknya hewan-hewan hutan sebab ia dibesarkan oleh mereka, merupakan gambaran tersendiri bagaimana lingkungan amat berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak-anak kita. Bagaimanapun kerasnya orang tua dalam menerapkan prinsip dan menanamkan qudwah dalam diri anaknya, jika tidak diimbangi dengan lingkungan yang sefikrah dengan prinsip dan qudwah tersebut, maka akan sulit mencapai klimaks penyempurnaan pendidikan anak seperti yang kita harapkan. Kalaupun anak tidak mengikuti keburukan yang berjejal dalam lingkungannya, paling tidak ia telah terbiasa melihat keburukan yang dapat melemahkan kepekaannya terhadap hal-hal yang buruk.





Lalu pada akhirnya, ketika prinsip dan qudwah berbentur pada lingkungan yang tidak mendukung, disinilah da’wah kita memperjuangkan keberadaannya, saat bagi kita tuk keluar dari rumah peradaban kita, mewarnai lingkungan namun tidak terwarnai hal-hal buruk lingkungan, sehingga tak hanya generasi rabbani yang terbentuk, namun masyarakat madani pun terwujud.


#  retensi peran istri & ibu dalam keberadaanku.

Selasa, 20 Maret 2012

3 days before expired

Maret 20, 2012 0 Comments
 
Terlalu banyak hari yang terlewat, sesekali indah, sesekali berair mata. Tapi sebelum dingin dalam kenangan, menuliskannya akan membuat hari-hari itu hangat dalam ingatan. ,

 Sabtu-ahad 10-11 februari’12, Final semester 3 di mulai.

Dalam sms info, tertulis pukul 7.30 di mulai,,, tapi karena saya orang Indonesia, jam 8 baru berangkat, itupun menunggu 1 jam lagi pengawas ujian datang barulah ujian final di mulai. Indonesia sangat!

Bhs. Arab, pendidikan nilai dan etika, filsafat pendidika islam, bhs. Inggris, ilmu taswuf, membuat waktu berjalan lambat.  Tapi yang menyenangkan adalah bahwa rata-rata soal ujian tidak berpatok pada konsep, tapi pandangan kita sendiri terhadap materi itu, maka mengarang bebas pun tak terhindarkan, heheh...

Pukul 15 lewat sedikit, waktu ashr menjelang, kami bubar. Tangan keriting, otak cenat cenut, dan sorak2 perut kelaparan sebandinglah dengan kemerdekaan untuk sabtu yang panjang ini. Dan rezki bagi si penjual kue beroncong dengan harga hemat tradisional : 1000/ 4 biji.. (murah kan?..) yang melintas di depan kami begitu keluar ruangan. Meskipun sedikit ragu karena keterbatasan uang, jannah memutuskan berteriak memanggil pak broncong yang terus melangkah menjauh,,, paaaaak, paaaak, broncooooong… 

Setelah mengucap terimakasih pada bapak broncong, kami pun sibuk mencari tempat yang pas untuk memakannya dan Tepi jalan pun menjadi pilihan terakhir. _indah.._

 Namun begitu, broncong bukanlah klimaksnya, masih ada besok yang semoga lebih baik dan mudah dari hari ini.

Esok nya…

Psikologi agama, tafsir, perkembangan peserta didik, sejarah pendidikan islam, menajemen pendidikan. Sambung menyambung tanpa nafas, tapi keahlian mengarang bebasku menyikat semuanya,,, (lebay,, heheh ). Sebelum pulang, kusempatkan mengambil gambar teman-teman ku, dan inilah yang membuatku menyukai mereka : “dalam keadaan apapun mereka tetap piiis depan kamera”.  _like so much_

Hari ini benar-benar melelahkan dan melegakan.

---

 Senin, 12 februari 12

Seorang teman datang mengetuk pintu pagi-pagi sekali, sesuai janjinya kemarin.  Masrurah. (temanku ini, adalah spesies langka orang Indonesia yang masih bisa tepat waktu).. heheh..


"baruko bangun?" tanya nya spontan melihatku brantakan dengan mata merah.
"he'eh, heheh..." _malu_
 Tangannya menenteng sekantong lontong yang telah ia siapkan, hari ini mungkin adalah klimaks dari sabtu ahad yang panjang. Dengan semangat, Lula melumat semua rempah2 yang telah kusiapkan sejak kemarin. Mengupas bawang, memasak sayur, menggoreng ayam, menumis bumbu, mamanaskan air, memotong jeruk nipis, mengiris daun bawang dan daun sup, memotong dadu agar-agar, menncabik daging ayam yang telah digoreng dan memisahkan tulangnya, merendam ‘lassa’…  semua dikerjakan lula tanpa ba-bi-bu. Di mataku, ia menjelma seorang Chef ahli. Dan kami pun siap menyambut teman2 yang lain dengan menu “soto banjar ala chef lula”. ­_(ssstt, sampai suamiku yang notabene agak kritis soal rasa makanan, memuji soto banjar buatan nya loh,,! Iri !)_

Tidak lama iyla datang, menyusul yada, jannah, imace, amma, bita, cica, lia, cikko, ima’m dan nanda.. rumahku penuh warna hari ini. Tawa dan rasa kenyang teman2 adalah kepuasaan dan kenangan yang mengesan kan bagiku.

-me and chef lula-
sebelum semuanya basi dalam ingatan, berharap setiap kata membuatnya hidup dalam episode ku.
oh! hampir lupa, terimakasih ku yang sangat tuk chef lula yang telah menemaniku membuat klimaks yang indah hari ini.
 
_sering-sering aja_  

lapisan kepribadian

Maret 20, 2012 0 Comments


















Dalam saat di hari hidupku, aku mengerti bahwa 
Bukanlah pilihan kita tuk menemuai siapa yang ingin kita temui dalam hidup ini, lalu lalang orang-orang di bawa oleh “kebetulan” yang tidak lain adalah kehendak bernama takdir.  Yang kemudian menjadi pilihan kita adalah bagaimana membina hidup dengan mereka.
Menjumpai manusia lain lalu kemudian menyebutnya sahabat, adalah proses yang dalam. Sebab tak semua yang datang dan pergi itu menyisakan percik hati untuk kelak masih dapat mengatakan padanya  “uhibbuk fi llah”.

Maka dalam keterbatasanku memahami mereka, aku mulai membaca diriku dalam diri mereka. Mencurigai keberadaanku sebagi benalu dalam hidup mereka.  Untuk orang melankolis sepertiku, kenangan adalah hal lain yang bernafas  di sisi hidupku. ia terkadang hadir begitu utuh saat tak ada teman lain kecuali rongga sepi di ujung sore. Lalu membuka album foto menjadi  hal sakral bagiku, itu tak lain adalah mantra bisu yang menghidupkan kenangan yang tertidur beberapa saat sebab kenyataan kenyataan baru tak memberinya ruang untuk hadir, jadilah tawa dan tangis Q  drama tersendiri bagi sepasang cicak yang menunggu nyamuk bernasib tak baik hari ini melintas 2 cm darinya.

Takjub. Selalu itu yang kurasakan saat kembali menyadari bahwa kami bukanlah dari darah yang sama, namun kami tak henti saling mencari dalam basa basi hidup. 

“eh, manai itu amma nah, nda pernah kuliat…” tanya imace suatu hari.

“ kemarin ku telfon, katanya lagi sakit q kodong, kelelahan mungkin.” Jawabku setahuku.

“ ayo pale pi liat q deh,, sudah lama ka juga nda ketemu..” 

 Aku tersenyum. _ Persahabatan itu selalu dilakoni rindu dengan klimaks ingin bertemu._
----

Klise sudah jika hanya sekumpulan paraghraf kisah tawa dan air mata dalam persahabatan yang ingin ditulis, ada yang lebih menggodaku dalam persahabatan ini, yaitu diriku sendiri.
Lebay? Tidak juga,,, yang ingin kukatakan adalah tentang kepribadian.
 
Itu karena sebuah penggalan kalimat yang tertulis dalam Manhaj At tarbiyah Al islamiyah oleh Muhammad Quthb yang berbicara tentang lapisan kepribadian manusia; ada orang yang bisa mempesona kita dalam pertemuan pertama , tapi kemudian menjadi tidak menarik dalam pertemuan selanjutnya, karena seluruh pesonanya adalah pada fisiknya. Sebaliknya , ada orang yang biasa-biasa saja dalam pertemuan pertama, tapi semakin dalam kita mengenalnya, semakin jauh kita tertarik.

Dalam dinamika hubungan yang ku bangun dengan orang2 di sekelilingku, lapisan kepribadian yang manakah aku? itu mengusikku hingga menjelma curiga-curiga tak beraturan yang kekanak-kanakan. 

“ah, mungkin sebenarnya nda nasukaka’,, pura2 baik ji itu di depanku..” 


Nah ? Kanak-kanak bukan? Tapi seperti itulah pikiran melankolis yang bermain-main denganku. Lalu keinginan menyederhanakan maksud dari “kepribadian” mempertemukan ku dengan kalimat “ bahwa kepribadian itu adalah nama lain dari kebiasaan-kebiasaan kita.”
Aku mengerti. Bagaimana kebiasaanku jika bersama mereka, itulah aku bagi mereka. 

 Namun begitu, tetaplah inginku tuk menjadi lapisan kepribadian dalam opsi yg kedua bagi mereka,  sebab terkadang aku tidak bisa memberi kesan di pertemuan pertama, maka semoga di kesempatan lain, kepribadianku yang lain tidak membuat mereka menyesal karena mengenalku.
----

me n' maple

Maret 20, 2012 1 Comments
“Jangan mawar,
 beri aku selembar daun maple saja.
 Itu adalah cinta yang  jingga di hatiku,
 seperti aku mencintai  senja dalam rinai rinai hujan,
 yang selalu mengingatkan ku padamu.”
_sebait cinta untuk Qawwam'Q_
 
Yah, jika saja aku mengenal daun maple sejak kecil, mungkin aku akan menyukainya sama seperti aku menyukai senja, rinai hujan, dan tulisan-tulisan dari susunan kata yang ajaib sejak dulu. (jangan bilang kalau gak suka uang!! Heheh) ^^v.
But, kesukaan ku yang satu ini, hanya ada di Negara dengan 4 musim, maka dalam rincian mimpi yang ku tulis, telah ku pahat kata pohon maple di dalamnya. Tidak cukup itu saja, kiri kanan aku bertanya pada google di Negara mana saja daun kuning keemasaan ini ada, dan jawaban yang paling kusuka adalah bahwa ia ada di jepang! Dan jepang adalah pahatan lain dalam mimpiku. 
 Jepang, kenapa lagi ?
The temple of the golden pavilion
Itu karena  sebuah tempat indah bernama kinkaku-ji,  kuil / pavilion emas yang dikelilingi pohon cemara dan halaman air dengan bebatuan yang tertata rapi. Ah, sebenarnya, terlalu banyak alasan untuk kesana, biarkan saja maple jadi titik alasan itu.
Bicara alasan, maple mempunyai alasan paling indah untuk ku menyukainya. Meski tidak berbuah, pohon ini cukup memberikan kesejukan bagi orang yang berteduh di bawahnya. Jika berguguran, dan berada di bawahnya, akan merasakan sensasi bintang-bintang yang berjatuhan, nah, saat luruh di hembus angin itulah yang paling ingin ku nikmati dari maple ini.
Selain keindahan-keindahan yang mewah itu, maple punya sisi melow juga…. _(hasil penelitian siapa? heheh)_ atau sebut saja filosofinya, ia adalah lambang lain dari kesetiaan, kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, dan keromantisan, … (ophy banget kan? ^^)…
tempat yang menunggu ku

Suatu hari dalam hidupku, aku ingin menikmati senja di bawah pohon itu, menikmati waktu yang meliuk malu-malu karena enggan mengusik kebahagianku, tidak melulu dalam bilik rumah bercat hijau dengan pagar dedaun hijau menghutan…  
*Belive my dream… much.