Minggu, 29 Juli 2012

Saya Mengerti, Rabby...

Juli 29, 2012 0 Comments
Maafkan saya pernah bingung menjadi hambaMu.


Itu saat saya terjebak pada hitung menghitung pahala, mencurigai sesuatu yang dapat menjadi dosa lalu menjauhinya, saya lupa bahwa pahala tidak menentukan masuknya seseorang dalam syurga, dan saya juga keliru, bahwa dosa tidak selalu menyeret kita ke neraka. Maafkan hamba pernah lupa akan itu.

Saat kecil, seorang ustadzah tempat saya belajar mengaji di teras mejid tiap sore pernah bercerita tentang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ah, bodohnya saya baru bisa mengeja makna kisah itu belasan tahun kemudian. Yang ada dalam benak anak-anak saya saat itu hanyalah betapa beruntungnya pelacur itu, ia penuh dosa tapi dapat masuk syurga.

Kisah itu adalah tentang KeridhaanMu. Tentang bagaimana seorang hamba dapat membuatMu tersenyum karena perbuatan mereka, seperti saat Engkau tersenyum pada apa yang dilakukan seorang shahabiyah yang anaknya meninggal namun menyembunyikan itu dari suaminya dan malah menikmati malam mereka dengan cinta.


Ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar pahala dan menghindari dosa, itu adalah tentang apa yang seseorang lakukan dan dapat membuatMu Ridha. yah, bicara pahala dan dosa tak lain adalah  bicara tentang hasil, yang keduanya adalah hakMu memberinya. Tapi bicara pelacur yang penuh dosa dan masuk syurga, atau tentang sahabiyah yang “menipu” suaminya saat anaknya telah meninggal adalah tentang proses. P-r-o-s-e-s !


Itu yang saya lupa sebagai hambaMu. Sebuah Proses, saat di mana Engkau mengukur hambaMu dengan apa yang dapat mereka lakukan. Tentang kebaikan yang dilupakan orang karena terlalu tergesa-gesa mengejar pahala yang amat sempit dalam lingkar kepala mereka.


Seperti seorang yang berjalan terburu-buru karena takut  ketinggalan shalat jamaah di mesjid dan mengabaikan seorang nenek yang tertatih-tatih membawa sekeranjang beban di tangannya yang ia temui di jalan. Ia mengejar pahala (mungkin), tapi lupa bahwa Ridhamu adalah saat seseorang mengutamakan kebaikan terhadap sesamanya. Menjadi Hamba yang bermanfaat bagi banyak orang.


Ah, maafkan saya pernah lupa akan itu sebagai hambaMu.


Sekarang, Saya mengerti Rabby…

Sabtu, 21 Juli 2012

Berhenti

Juli 21, 2012 0 Comments
Saya ingin berhenti memikirkan itu, rasanya sakit sekali. Seperti menjebak diriku pada labirin yang tidak memiliki pintu keluar, hanya pintu masuk yang menggoda.
Terjebak dalam rasa takut, bukan pada keadaan, tapi pada diriku sendiri, yang mulai tenggelam dalam bayang-bayang sesuatu yang belum terjadi dan melupakan kenyataan hari ini.
Saya bertarung dengan diri saya sendiri, dan sungguh.... ini adalah pertarungan yang melelahkan.

Saya ingin berhenti memikirkan itu. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk merapas kebahagian yang ia bawa lari dari hidupku hari ini, menit ini, detik ini.

Saya ingin berdamai dengan ketidakpastian segala sesuatu yang akan terjadi hari esok, menarik diriku pada satu titik sadar : bahwa cukup Allah di hati saya, dan semua akan baik-baik saja.

Jumat, 20 Juli 2012

Bukan Sangkar Lagi

Juli 20, 2012 0 Comments

Suatu hari,

Saat kau menyuruhku tetap tinggal di sisi jalan ini, dan kau pergi melewati jalan lain setelah meyakinkanku bahwa kau mencintaiku, dan memintaku menunggu dalam sabar, saya tidak berjanji untuk melakukan itu.

Suatu saat,

Saat kau menatapku dengan tatapan rindu penuh luka, sebab tak dapat menemukan dirimu dalam hatiku, maafkan aku akan itu.

Jika hari di mana aku menanyakan tentang bagaimana 2 cinta kau kumpul dalam satu hati, aku tidak akan memintamu untuk memilih, mencintaiku atau mencintainya, sebab hatimu adalah milikmu, maka biarkan aku melepasmu. Mungkin tidak dengan air mata, semoga aku tersenyum hari itu. Sebab aku tidak ingin berada di satu hati dengan dua cinta seperti itu.

Jika saat untuk kita tak lagi berjalan dengan tangan saling menggemgam, biarkan kita berjalan membelakangi tanpa rasa sakit, sebab ada saat dimana cinta membutuhkan sayap. Bukan sangkar lagi.



Rabu, 18 Juli 2012

Nurani 10 Menit

Juli 18, 2012 0 Comments

Sudah besar kau sekarang, berapa umurmu? 20 tahun? Ah,,, sudah 22 tahun, cepat sekali waktu membawamu dari masa kanak-kanak, bagaimana perasaanmu menjadi seorang yang “dewasa” ...., hahah, dewasa? Kau belum dewasa, hanya bertambah tinggi dan besar saja... dan itu tidak cukup untuk mengatakan bahwa kamu dewasa.

Perjalanan hidupmu sudah begitu panjang, jauh... apa kau lelah? Atau apa yang membuatmu lelah, apa yang telah kau lakukan dalam hidupmu hingga kau pantas merasa lelah untuk kemudian beristirahat... biar kuberitahu jika kau tidak ingat apa yang telah kau lakukan....  sebab benar, kau belum melakukan apa-apa, kau tidak ingin dikatakan sedang berjalanan, itu sebabnya kau berlari, tapi kau lelah berlari sebab di ujung jalan, kau lupa jika tidak punya tujuan apa-apa,  kau tak ubahnya st.hajar yang mengejar fatamorgana.

Hei...

Kau sedih? Sudahlah... manusia memang seperti itu, bukankah kau manusia juga? Yah, manusia selalu mengira dirinya baik-baik saja, meski rayap-rayap nista menggrogoti dirinya.
Belum terlambat, menata diri tak pernah mencaci keterlambatanmu. Lihat jalan itu, masih panjang bukan? Yah.... jalanmu masih panjang, kau hanya harus mengisinya dengan kebaikan, tak usahlah merumitkan defenisi kesuksesan dalam hidup, kau hanya harus tahu tentang kebaikan....
Sebab kebaikan, tak pernah meninggalkan kesuksesan di belakangnya, kebaikan dan kesuksesan, sejak dulu, dulu sekali... jauh sebelum kau lahir,  telah menjadi saudara kandung. Allah menyaudarakan mereka.... hingga akhir zaman. 

Sudah sepuluh menit, aku harus pamit. Hiduplah dengan baik. Hm?

Selasa, 17 Juli 2012

Malam Dalam Sajak

Juli 17, 2012 0 Comments

Dua puisi ini kutulis di waktu yang sama, dengan durasi yang sesingkat-singkatnya… Alhamdulillah, ternyata layak dan terpilih dari sekian banyak puisi yang mengalir ke meja redaksi. Renungan yang menjelma sajak, adalah malam sebagai inspirasinya.
Silahkan dibaca ^_^


SERIBU MALAM MENASBIH CINTA

Tahukah  kamu malam  kemuliaan  itu?*

Pada tasbih jengkrik menyahut malam
Rindu mengalungkan pinta tanpa hujat
Merajuk dosa mengarat dalam waktu
Ampun dan  maaf
Beriku keduanya meski bersyarat, Rabbi…


Malam kemuliaan  adalah lebih baik dari seribu malam**

Semalam  menasbih cinta
seribu malam adalah  jenak waktu dalam  ruang milik Mu
ada hamba yang meneguk maaf padanya
ada hamba yang mengukir nista padanya
hamba adalah aku
nista mengemis maaf
pada seribu malam berhijab misteri

Merengkuh malamMu
Menemui dalam dzikir bersuara sunyi
Merapatkan kening pada sajadah hijau
Tasbih menekuk ruku’
Sujud mengulur asa
Cinta,
Adalah Engkau bertahta.

*QS. Al Qadr Ayat 2
**QS Al Qadr Ayat 3


MALAM MENDEKAP DOA


Demi malam apabila menutupi cahaya siang*

Meminang gelap dan sunyi, itulah malam
Oleh mahar sebuah waktu bertahta ijabah
Menggumam patah-patah doa
Dalam tangis tanpa air mata
Dalam senyum bertekekuk harap
Berpasrah penuh yakin.

Demi malam apabila menutupi cahaya siang*

Malam mendengar dalam bisu
Melihat hijab langitnya tersibak doa-doa hamba
Menyeru pada tidur yang melelap
“bangunlah, sungguh Tuhanmu sangat dekat.
Menanti pinta menyedia jawab”

Demi malam apabila menutupi cahaya siang*

Malam dan siang
Adalah kata tangis dan tawa dalam hidup
Menjejak hari agar tak melupa
Bahwa hamba dan doa
Adalah dua yang menyatu
Untuk harap dan takut
Mendekap dalam cintaNya.

            *QS. Al Lail ayat 1




Sajak Qawwam

Juli 17, 2012 1 Comments

Saya bukan pujangga, yang kutahu adalah mengenali kata lalu menuliskannya. kalau ingin mengatakan ini tidak begitu menarik, tak apa. ini yang kubisa saat ini. Bait sederhana yang kutulis dalam jenak bayang tentangnya. Qawwam yang memberiku banyak bahagia, meskipun jika bahagia adalah pilihanku, Ia juga memilih untuk membahagiakanku. 

Untuknya : "Bernama Syurga"

Melihat syurga, belum kujamah dalam tatap
Namun menemukannya dalam adamu
Merekat hati dalam cinta tanpa harga, tulus mengulur…
Mengikat segalaku.

 Hijau,  syurga berwarna seperti itu
Katanya…
Dan kau merumput tanpa ilalang
Kemarau dan hujan memusim di hati
Tanah rasaku menghijau, mencinta.

Angin wangi itu milik syurga,
Kudengar seperti itu…
Layaknya tatap dan kata milikmu
Menitip angin pada desember
Basah dipinang hujan dan mekar bunga-bunga.

Merendah pohon-pohon rindang,
Begitulah syurga menyanyangi kekasihnya
Hanya hendak tanpa kata
Memahami lalu menerima
Berteduh di sisi sepi
Dedaun menggumam lagu untuk ratu.

Sayang menyapa sayang
Syurga lapang karena itu
Dan sebuah tempat
Tidaklah bernama syurga,
Jika tanpa adamu
Sebab syurgaku, adalah senyum yang memahat arti di bibirmu.
Padaku.

#puisi ini terpilih sebagai salah satu karya terpilih dalam kumpulan puisi "Berbagi Kasih". Spesial moment dihari ultah pernikahanku.   



Ramadhan, Oase Tentang Mama

Juli 17, 2012 3 Comments
Mesjid Jami, Ramadhan Lima tahun yang lalu.

Ramadhan hari ketiga saat itu, matahari mulai terik, samar kulirik jam dinding mesjid, pukul 11.35,  aku baru saja mengusir lapar dengan tidur, dan berhasil. Aku bangun, menyandarkan tubuh pada salah satu tiang mesjid berdiameter besar itu, mataku terpaku pada seseorang yang masih duduk di tempat yang sama ketika aku tidur 2 jam yang lalu. Ia masih duduk disitu, di antara tubuh-tubuh jamaah yang tidur berserakan, tangan kanannya memegang Alquran, membacanya dengan lirih namun khusyu’. Sama seperti tadi. Aku teringat saat ia bertanya,

 “ophy, sudah ada target Ramadhan mubuat?”

 “ada…”

“target khatam Alquran, berapa?” tanyanya kembali.

“mm, InsyaAllah 3 kali…” jawabku. Ragu. “kalau kita?”

“Insyaallah 10 kali.”

Aku diam. Malu.

Dan pada hari-hari berikutnya, ia selalu ada di sudut kiri mesjid itu, shalat dhuha dan mulai mengaji hingga waktu dzuhur, lalu usai shalat Ia pulang ke rumah menyelesaikan pekerjaan yang ada. Aku pun selalu ada di belakang tak jauh darinya, menatap punggungnya, mengumam doa-doa untuknya.

“Ya Allah, Berkahilah Ia. Aku bersaksi akan kesungguhannya beramal, dalam Ramadhan maupun bulan-bulan selainnya, berkahilah Ia, berkahilah Ia”.

Sekarang, setelah 5 tahun kepergiannya,  saat berada di mesjid jami, aku selalu menatap sudut itu, tersenyum pada bayangannya yang duduk khusyu bersama lirih bacaan Alqurannya.

Membiarkan diriku kembali mengeja makna Ramadhan yang ia titipkan pada kenangan terakhirnya. Mama.

***

Entah Ramadhan yang menyisakan kenangan tentang mama, ataukah mama yang menyisakan oase Ramadhan tuk kukenang. Keduanya, mampu menerjemahkan rinduku pada kesungguhan menjalani Ramadhan.

Mama tidak pernah tahu tentu, dalam setiap tahun, di mana ramadhan terakhirnya, tempat ia mensucikan diri sebersih-bersihnya, tempat ia menghidupkan malamnya dalam ruku’ dan sujud, tempat ia merapal doa doa panjang untuk kebaikan dunia akhiratnya, mama tidak tahu bahwa ramadhan di mana Ia berhasil khatam 10 kali adalah ramadhan terakhirnya, sebab di tahun berikutnya, Ia pergi sehari sebelum Pintu Ramadhan terbuka.

Mama mengajarkanku tuk memperlakukan Ramadhan seolah ia adalah yang terakhir dalam hidupku.

***

Mama, seperti lalu lalu, tahun-tahun yang berputar, tak ada yang dapat kukenang darimu, selain kebaikan. Hanya kebaikan.

Berharap Ramadhan ini, seperti yang Mama wariskan.
Sangat merindukanmu.

Sabtu, 07 Juli 2012

Menjadi Rumah

Juli 07, 2012 3 Comments

Sesederhana apapun sebuah rumah, ia adalah tempat paling dirindu untuk pulang : pintu yang selalu terbuka menyambutmu, jendela-jendela kaca yang bingkainya terkadang menderit dipaksa menari oleh angin, dinding-dinding yang menyimpan kisah, atau lantai tempat merebahkan lelah, semuanya menyimpan rindu.



Aku ingin menjadi seperti itu untukmu.
Sebuah rumah.

Jika dunia telah melelahkanmu, pulanglah sejenak dalam ruangku, menghamba, meminta kekuatan dariNya. Aku ‘kan menemanimu di sana.

Pun jika kau pergi terlalu jauh, dan lupa untuk pulang, aku tetap akan di sini, menanti di atas tanah yang berganti kering dan basah oleh musim, dan saat akan pulang, kuharap kau tidak lupa jalannya, sebab telah kupahat kenangan pada tiap kelok jalan ke arahku, agar kau tidak tersesat, dan aku akan kembali menyambutmu dari balik pagar bambu yang mulai lapuk, seperti lalu-lalu.

Dan jika kau ingin, saat bersandar di ruang tengah, akan kuminta dinding-dinding itu berkisah tentang anak-anak kita yang beranjak meninggalkan kanak-kanak mereka, melangkah dari Alif, Ba, Ta, menjadi manusia dengan kesadaran diri yang mendewasa. Bukankah kau kehilangan banyak waktu bersama mereka sebab menggenapi keping bahagia selalu meniscayakan pengorbanan...

Menjadi rumah bagimu, adalah caraku mencinta.
Mengantar langkahmu, dan merindu datangmu. Kuharap kau pun rindu untuk pulang.




Malam larut, memikirkan menjadi apa diriku bagimu.

Musim Menyapa

Juli 07, 2012 0 Comments
 Mei masih basah tahun ini
rintik, rinai, dan guyuran derasnya
menyapa malu-malu
lalu berlalu tanpa kata
sebab kemarau mendengus di sana
di awal Juni yang diam

Tergugu di Juni
sesal pada mimpi yang lapuk
rapuh di dera musim tawa dan tangis
"kau masih cengeng... sudahlah..."
 
Lima tahun mengenang cinta
itu di Juli akan datang
biar basah..
kemarau mengering
musim tawa dan tangis menggantung
aku ingin menjemput hari...
mengenang pagi di senja sore
lalu malam menopang rindu

aku dan cintaku
datang menyapamu lagi
Qawwamku



*puisi 'jadul', kutulis dalam perjalanan pulang dari Mallawa, 
Mengingatnya. Qawwam itu lagi...

Lubang Yang Sama.

Juli 07, 2012 0 Comments
Terjatuh saat melangkah, awalnya biasa saja, kedua kali, akan terasa nyerinya, ketiga kali, kau akan mengeluh, keempat kalinya, kau benar-benar merasa lelah, lalu... jika kau masih saja jatuh, kau akan mulai menyadari, bahwa setiap luka yang kau dapatkan saat terjatuh dibayar oleh satu pengetahuan tentang kesalahan yang membuatmu jatuh, atau bagaimana kau dapat bangkit setelah jatuh... itu semua akan menguatkan langkahmu selanjutnya,... kecuali jika kau terjatuh dalam lubang yang sama. berulang kali. -mungkin- itu yang dinamakan kebodohan.

Rabu, 04 Juli 2012