Sabtu, 28 April 2012

Megalomania-kah kita?

April 28, 2012 0 Comments
Ketika seseorang telah menelurkan suatu karya, melabuhkan mimpi-mimpi di dermaga kenyataan, memerdekakan diri dari kesulitan, atau memenangkan tantangan kehidupan, ia secara alami akan tiba pada sebuah pengakuan tentang kehebatan diri, sebagian membingkainya dengan kerendaha hati, dan sebagian yang lain kemudian mengidap penyakit kejiwaan. MEGALOMANIA.

 


 Untuk mudah dipahami, ini defenisinya : Megalomania, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri.

Bedanya dengan kesombongan, Megalomania melangkahi kenyataan yang ada dan membesar-besarkan kehebatan diri.

"bagaimana sebuah hak "mengakui kehebatan" diri disebut penyakit kejiwaan?

Itu mungkin terjadi karena ketidak-seimbangan antara objektifitas dan godaan pengakuan dalam menilai diri.

Setiap keberhasilan yang kita dapatkan dalam perjalanan hidup kita, baik itu keberhasilan kecil maupun besar, akan slalu menuntut suatu perbandingan dengan keberhasilan yang dicapai orang lain dalam hal yang sama yang telah kita capai.

Lalu ketidak-mampuan kita mengakui "keunggulan" orang lain akan menjelmakan kita menjadi "pemburu" pengakuan, memaksa orang lain memandang kita hebat meski nyatanya kita tidaklah sehebat yang kita katakan, Megalomania pun akhirnya  menjangkiti kejiwaan.

“Ada tiga kelompok orang yang nanti pada hari kiamat Allah tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka, dan Allah tidak akan memandang mereka, serta mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja (penguasa) yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.”.

 -(HR. Muslim)-

"orang miskin yang sombong" adalah poin yang mewakili buruknya penyakit Megalomania di hadapan Allah. Nah!

Tapi nyatanya, Megalomania tak hanya bagi si miskin, ia juga adalah penyakit kronis yang diidap para penguasa. Simaklah....

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan".Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.   

-(Al Baqarah 258)-

Menilai diri dengan jujur adalah keterampilan jiwa yang amat berharga, ia adalah seni yang membuat kita tidak mudah menginjak orang lain, dan enggan untuk meninggikan diri lebih dari kenyataan.  

***
# Bisakah penyakit ini disembuhkan? heheh.... tentu saja. jika pengidap penyakit ini sadar bahwa dirinya sedang sakit. Tapi kebanyakan tidak menyadarinya.....

Menjadi hebat adalah kemanusiaan diri yang membanggakan, namun tidak semua yang kita miliki dan lakukan meniscayakan sebuah pengakuan, biarlah ia menjadi bekal saja, bekal yang akan meringankan langkah kita di titian akhirat.     

Selasa, 24 April 2012

Hanya mampir

April 24, 2012 0 Comments


Lama tidak melihat "rumah" ini membuatku rindu juga, apa yang kurindukan di sini? huruf yang berserakan? potongan kata? atau kenangan yang telah kuikat dalam kalimat.... ah, mungkin ini bagian dari eksistensiku...

hahah, :-D hanya rindu, lalu mampir. itu saja.

Minggu, 15 April 2012

Topeng dan pernikahan.

April 15, 2012 0 Comments

“ sungguh sesuatu yg mengejutkan, semua itu di luar batas dirinya sebagaimana yang ku kenal…”

Ku baca sms itu, aku tersenyum meski kutahu kawan yang mengirim sms itu sedang merapikan hati, mungkin ia terluka, entahlah…

Ada yang menjadi tidak sederhana ketika topeng seseorang terbuka di hadapan kita, menyuguhkan nyata yang jauh dari keindahan dan kebaikan yang selama ini berpendar di mata kita. Mungkin itulah Islam tidak menyimpan hubungan lelaki dan perempuan dalam kata pacaran, pada betuk  dan bahasa apapun, sebab semuanya hanyalah kepura-puraan yang selalu berakhir dengan klimaks kecewa dan kata…  “begitu ji ple orangnya…”.

Dan tentu, remah-remah dosa selalu ada di sana….

Saat aku memakai mahkota istri di usia yang belum genap 17 tahun, aku sempat menggugat, rasanya tidak adil jika pernikahan harus memenjarakan diriku dalam bilik rumah saat aku hendak menyulam mimpi dalam perjalanan hidupQ…

Allah Maha Tahu, dan aku pun tahu diriku, mungkin sebabnya aku tidak mampu menjaga diri dari pergaulan yang kian melangkahi nurani, untuk itulah cincin pernikahan memerdekakanku dari dosa di tepian jalan masa remajaku…

Tak ada kesia-siaan dalam Takdir Mu Rabby…


Kini, aku melihat satu satu temanku menemukan arti cinta saat mereka lelah mengelana dari satu topeng ke topeng lelaki yang lain, apakah mereka  tidak tahu, atau lupakah mereka… jika satu-satunya lelaki tanpa topeng di dunia ini adalah yang bernama SUAMI.

Yah, suami, tak pernah menyembunyikan udang di balik batu, (hanya sering lupa hari ulang tahun istri  dan tanggal lahir anaknya… heheh, curhat sedikit… :-) ) Ia mengatakan cinta ketika hatinya diluapi kasih, menyusun marah sebatas perlunya, tak merasai lelah saat peluh dan penat merajainya, menyimpan harapan tak terhingga tentang kebahagiaan istri dan anak-anaknya meski kata-kata cinta terkadang pecah berserakan tak mampu ia himpun dan nyatakan dalam bahasa romantis.

Sesungguhnya, lelaki baik-baik hanya untuk wanita baik-baik, dan wanita baik-baik hanya untuk lelaki baik-baik.

Lelaki bernama Suami itu, yang dihalalkan Allah untuk merenda cinta di sisinya. Agar perasaanmu tak lubang oleh luka, dan cinta tak kehilangan sisi sejatinya.

Dan jika kalian belum mampu melaksanakannya (menikah), maka berpuasalah, dan mintalah pertolongan Allah lewat shalat dan sabar…   

# di sapa inspirasi oleh Fakhirah Rizka Selfianti. Semoga tulisan ini menjawab inspirasi itu, kutulis sesaat setelah menerima sms galau mu itu... heheh..

Sabtu, 14 April 2012

Mengucap Doa

April 14, 2012 0 Comments

“Barakallahu Laka”

Gemerincing do’a menarikan tasbih di hamparan awan
Mengantar malaikat mengalungkan Mitshqan ghaliza
Padamu yang menjumpai belahan rusuk di pagi Juli yag teduh
Padaku yang menjadi makmum Kisra bertahta cinta

“wabaaraka ‘alaykuma”

Ini tak lagi tentang mu atau tentang ku
Ini adalah tentang ombak yang menjelma badai di timur jingga
Merumputkan cinta di tanah basah hati kita
Meyimpan mawar dalam ruang berdinding kisah-kisah

“wajama’a bainakumaa fii Khair”

Menjadi utuh bersama waktu
Basah dengan air mata
Mengering di tepi maaf
Bukan senyum yang menyembunyikan palsu tanpa kata



 













# Dear Qawwam ku: meminta diriku mencintaimu tanpa syarat.

Selasa, 10 April 2012

Mencintai Kesederhanaan

April 10, 2012 0 Comments
Akan melelahkan bagi kita untuk mengejar sesuatu berlabel “keinginan”, jika itu untuk mengukur kepantasan diri antara kita dan orang lain.


 














Mungkin, atau jangan sampailah diri kita seperti ini… 
  •  Pakaian, Engkau akan diterima jika berpakaian blink-blink penuh pesona, kita kemudian menjadi sulit untuk tampil cantik dengan apa yang kita miliki. 
  • Uang, kau di sebut kaya dengan uang melimpah, lupakah kita jika kekayaan itu adalah merasa cukup dengan apa yang kita miliki. 
  • Cantik, berupa-rupa krim berlapis bedak ini itu, menjadikan wajah kita warna-warni untuk di sebut cantik, sedang hati kita mengemis kebaikan pribadi yang kian hari kian koma.

Untuk waktu sekarang, menjadi sederhana itu mahal, dan di cari..
Mengapa? Karena sudah langka.

Aku mengenali seseorang yang langka itu, tak usahlah ku sebut siapa..
Ia seorang istri, ia, masih dapat bersyukur, penuh senyum tanpa sedih, meski hampir sebulan ia belum di beri uang dapur oleh suami, sehari-hari, untuk makan sayur, ia memetik segala jenis daun yang tumbuh tak beraturan di halaman rumahnya, daun singkong, daun kelor, daun kangkung di halaman belakang tetangganya, rebbung daun katuk, daun kara-kara (gak tau nama ilmiahnya,,, heheh), di olahnya menjadi menu sederhana, sesederhana dirinya yang selalu mampu melapangkan kehidupan rumah tangganya meski keadaan selalu terlihat sulit untuk orang lain.

Ke acara pernikahan pun, ia tidak lah sesibuk tetangganya yang kiri kanan ngutang, kredit, ataupun cicil untuk selembar baju yang akan membuatnya tampak “wah” di pesta nanti, kawan ku ini cukup memilih baju terbaik yang ia punya, menyetrika hingga rapi, dan mengahadiri pesta untuk menyampaikan do’a demi kebahagiaan kehidupan baru sang pengantin, buka untuk remeh-temeh memamerkan keelokan pakaian.

Bersedekah, itu hal utama yang ia ajarkan pada Putra-Putrinya, “jangan pernah takut miskin nak, Rabb kita Maha Kaya..” begitu yang berulang-ulang kali terucap dari mulutnya.

Hm, itu mah miskin! bukan sederhana…
Mungkin begitu pikir kalian,… ah, bukan salah kalian berfikir seperti itu, mengingat betapa tipis makna kata sederhana itu bersanding dengan kesan miskin,

Sebetulnya, si istri tersebut dapat membeli pakaian mewah sebanyak yang ia inginkan, ia juga bisa sehari-hari makan di restoran dan tak usah repot-repot memetik daun-daun sayur di balik pagar halaman rumahnya, hanya saja, ia memilih untuk bahagia melihat orang lain bahagia dengan harta yang di sedekahkannya,  memilih untuk memakai yang ia miliki hingga lapuk dari pada menumpuk harta yang memberatkan perjalanan akhiratnya kelak, memilih untuk tidak mengukur diri dengan apa yang di miliki orang lain, memilih…. UNTUK SEDERHANA.

Itulah mengapa kesederhanaan amat di cintai, sebab yang memilikinya enggan menjadi beban bagi kehidupan orang lain, atau menjadikan kehidupan sebagai beban di pundaknya.

Minggu, 08 April 2012

Diary & Lukisan diri

April 08, 2012 0 Comments











  Mengingat sesuatu, tak selalu mudah jika itu hanya hal kecil yang telah lapuk di makan waktu. Tapi terkadang kita lupa bahwa banyak hal-hal kecil dalam hidup kita yang ‘kan menjadikan kita besar di kemudian hari saat kita mengingatnya.

Aku menyadari itu jauh setelah setumpuk buku diary menjadi ‘sesuatu’ paling ku cintai dalam hidup ku. Diary, aku mengenalnya ketika aku mulai mengenal hidup yang tidak lagi sederhana seperti saat kanak-kanak. Seingat ku, sejak duduk di bangku kelas 5 SD, aku mulai menuliskan diriku, pikiranku, hatiku, perasaanku, pada lembaran kertas, saat itu belum ada buku khusus yang ku punya, hanya menuliskannya di halaman terakhir buku-buku sekolah, atau dilembaran buku tua yang tidak terpakai.

Jika saja kusadari sejak awal jika tulisan-tulisan itu amat berharga, bahkan untuk sebait kata bahwa “hari ini aku di hukum di kelas karena terlambat datang ke sekolah”, aku akan menyimpannya dengan penuh hormat.

Diary, Kutayyib (buku kecil), catatan harian, atau apalah namanya…
Biar kuberi tahu pada kalian kawan, betapa ‘mereka’ adalah benda yang tidak bisa dianggap mati meski tak memiliki nyawa….

Menuliskan riak hati dan kelumit pikiran bukanlah hal sederhana, itu membutuhkan kejujuran tak berbatas antara kita dan diri kita seutuhnya, jika kalian pernah menulis catatan hati, atau jika memang kalian maniak buku diary sepertiku.. rasakan-lah rumitnya membaca diri kita sendiri, itulah mengapa setiap huruf yang menyusun kata lalu ber-metamormofosis menjadi kalimat dalam buku-buku diary kita adalah sebuah peta keberadaan diri kita yang paling jujur, tak ada sekat kepura-puraan, apalagi kebohongan.

mengenal persahabatan dan bertualang dalam suka-dukanya, kebahagiaan dihari lulus ujian, mendapat peringkat satu setelah sekian lama karatan di bangku peringkat 4, dihukum karena kenakalan selama menjadi santri arafah, dibenci, di kucilkan, dianggap pahlawan, di sebut pemimpin, di remehkan, menikah, ditinggal pergi mama, jatuh cinta pada suami, menjadi istri yang disayang, menjadi ibu yang mengasihi, sendiri, dan bersama....

Yah… kisah kita tak pernah sama persis dengan kisah manusia lain, kita hidup dengan scenario kita sendiri, kita pernah bahagia, tapi bentuk kebahagiaan kita tak sama, kita pernah kehilangan, tapi rasa sakit kehilangan itu kita yang dapat mengukurnya, kita manusia, merasai hal yang sama yang manusia lain rasakan, tapi berbeda dalam tiap kisahnya, dan menuliskan kisah itu, tak ubahnya melukis diri di dinding kehidupan, jika kita tak ingin orang lain melihat lukisan diri kita, cukuplah kita yang melihat lukisan diri  kita yang jujur itu, merapikan bagian yang salah, menambahkan keindahan di bagian yang lain, agar kita mampu mengukur diri, mendewasakan sikap, dan bijak memandang hidup.  

yang masih tersimpan baik




Seperti itulah yag kurasakan, kawan…


 _Mengajak kalian mengenali diri dengan menulis… 

Sabtu, 07 April 2012

Siapa Yang Ingin Hidup Miskin?

April 07, 2012 1 Comments






Pernah terpikir mengapa do’a orang terzhalimi menembus langit ketujuh tanpa batas, sekat dan ruang? Ia sampai di sisi Allah, mengetuk keadilanNya dan meminta hak Kemanusiaan nya.

Aku, tidak pernah terpikir hal itu kecuali sebatas janji Allah pada HambaNya yang terzhalimi. Itu saja. Tapi tiba di hari ini, hari di mana aku mendapat kesempatan tuk sekedar mengobrol dengan 
 “tukang timbang”, yang sehari-hari mengelilingi satu kampug ke kampung lain, rumah ke rumah, mencari sepotong rongsokan untuk ia timbang dan tukar menjadi beberapa lembar uang seribuan.

“sudah berapa lama?” tanya k’miftah yang menemaniku menimbang pemanas nasi yang sudah rusak sejak 2 tahun lalu.

“sudah hampir sepuluh tahun pak..”

Wah, lama juga, kataku dalam hati.

Tukang timbang berbaju lusuh dengan lubang-lubang sebesar lingkar kelereng yang tidak ku tahu namanya itu kemudian berbagi banyak pengalaman hidup, merantau dari jawa ke sulawesi, mencoba kerja ini dan itu, lalu berakhir dengan pekerjaan sebagai tukang timbang, hingga tiba pada pengalaman pahit saat ia diusir seperti anjing oleh seseorang.

“wuih mas! Sakit luar biasa hati saya, menangis saya mas! Meski kerja kotor begini, niat saya putih, untuk makan anak istri, saya pantang minta-minta mas, lebih baik kerja kotor begini dari pada ngemis, saya juga pengen sedekah banyak-banyak, malu saya mas kalau bersedekah dari hasil ngemis, Allah senang dengan hasil keringat hambaNya, bukan begitu kan mas…”

Aku dan K’miftah diam mengangguk angguk.

“kalau di beri pilihan, saya juga mau kaya mas, punya pekerjaan yang terhormat, siapa sih yang mau hidup miskin!”

Aku tersentak.

Yah! Siapa yang ingin hidup terzhalimi karena miskin. Siap yang ingin hidup miskin? Allah-lah yang mengatur hidup, menjadikan seseorang kaya dan miskin dengan kehendaknya.

Itulah sebabnya, Allah menenggelamkan Qarun dan hartanya karena mengatakan bahwa ia Kaya dengan usahanya sendiri, ia lupa bahwa Allah-lah yang menghendaki kekayaan itu untuknya.
Lalu orang-orang yang terzhalimi? Doa mereka diijabah karena kebanyakan yang menzhalimi lupa akan keberadaan mereka yang bukanlah keinginan mereka, tapi kehendak Allah.   

Jika terkadang kita befikir bahwa kesuksesan kita hari ini adalah karena jerih payah, peluh keringat dan lelah derita kita di masa lalu, mungkin kita benar,  tapi salah besar.  Allah… Ia ada di tepi usaha kita, agar kita tidak lupa, untuk menghargai orang di sekliling kita, yang juga telah berpeluh keringat, tapi tetap berada di bawah langit derita, mereka juga berusaha hidup dengan baik, hidup dengan sukses, jika pun mereka seperti itu, itu bukan pilihan mereka.

hujan jatuh satu-satu, Ia pun meminta diri, memohon maaf telah banyak bicara hal yang tidak penting dan mengganggu waktu kami, “owh, tidak, kami yang terima kasih sudah diingatkan banyak hal…” jawab k’miftah.

Melepas tukang timbang yang melanjutkan pencarian rongsokan di bawah guyuran hujan membuat hatiku basah disiram kesadaran arti menghargai.

Ya! Siapa yang ingin hidup seperti itu. mereka hanya menerima takdir di ujung usaha mereka. Itulah mengapa Doa mereka tak sungkan diijabah langit.

# berbagi bait kesadaran yang mengetuk kealpaanku.

Senin, 02 April 2012

aku dan subuh

April 02, 2012 0 Comments
Masih subuh,
Aku menghawatirkan diriku yang menderit-derit di antara kokok ayam pagi puta
 Tersesat di bukit safa marwah, berlari dari salah ke sesal
Menghukum diri yang tak kunjung bermetamorfosis
Hanya sebentuk ulat di tepi hijau
Menggigit mimpi di tinggal remah-remah waktu

Masih subuh,
Menunggu gelap di ujung malam
Tak ingin orchestra biru tua meminang jingga di ufuk timur
Di rampas lelap tanpa doa
Beri ku syukur untuk hidup yang selalu indah ini
Lalu sabarkan aku di sisa deritanya.

Masih subuh,
Merindui Mu dalam patah kata.